First My Love

First My Love
Menyelamatkannya



Sebuah ruangan terdapat kedua adik kakak yang sangat panik melihat kondisi sahabatnya yang sudah lemas terkulai. Detak jantung yang begitu lemah,dan Vani sahabatnya tidak berhenti menanggis memanggilnya untuk segera sadar namun semua itu butuh waktu yang lama.


"Abang cepat bangunkan putri! aku tidak ingij kehilangannya" sambil terus menangis


"Mengapa dia bisa pingsan? "tanya kakaknya heran.


"Semua ini atas kejadian Kakak kelasku dan akhirnya kondisinya melemah, Aku tidak akan membiarkan sahabatku dengan bersama kalian walaupun hanya sekedar menyapa"


"Ayolah kakak buatkan dia nafas buatan, Andaikan aku bisa pasti akan aku lakukan untuk menyelamatkan sahabatku"


"Tapi ini pengalaman pertama bagiku dek, dan aku laki laki normal bagaimana jika semua lepas kendali"


"Tenang bang, ada aku disampingmu"


Verel dengan hati yang berkecamuk mendekati wajah gadis yang sudah pucat pasi dan seluruh tubuhnya dingin dan tanpa pikir panjang ia memejamkan mata dan menciumnya untuk memberikan nafas buatan, dan Verel bodohnya malah terbawa suasana dan sangat mendalami.


Tiba tiba Putri batuk dan terbangun lemas


"Air.. Air.. aku haus" ucap putri sambil memengang tenggorokannya.


"Kakak tolong ambilkan air ya? "


"Baiklah tunggu disini, dan kamu dek jangan banyak bertanya dulu ya? biarkan dia untuk Memulihkan kembali tenaganyam" Verel


"Siap laksanakan dan" sambil memberi hormat.


putri begitu bahagia melihat keluarga mereka yang saling menyanyangi satu sama lain.


...........................


Di sebuah tempat yang dimana ia persembahkan untuk seseorang yang ia sayangi dan kini dia sedang menangis diatas rumah pohon sambil menatap kosong kedepan.


"Kenapa gue bodoh banget!!! "


"Kalau gue gak kebawa emosi semua ini tidak akan terjadi"


Saat sedang marah tiba-tiba hp Farel berdering..


Tuhan..


Jagakan dia..


"Assalamualaikum nak farel" ucap dengan nada khawatir


" wa'alaikumsalam tan, ada perlu apa menelpon farel? "


"Nak dari tadi siang putri belum juga pulang dan hujan tadi begitu deras. ibu khawatir terjadi apa -apa dengan putri" Bunda putri sambil terisak.


Bukankah siang dia pulang bersama Vani? lalu mengapa mereka beluk sampai rumah? Aku harus mencarinya namun nihil aku tidak memiliki nomornya.


"Bunda tidak perlu khawatir, putri sedang bermain bersama sahabatnya karena farel berpapasan saat di sekolah"


"Terimakasih nak Farel informasinya" dengan perasaan lega.


Farel langsung berlari kedalam mobil dan melacak lokasi Putri sekarang berada lewat GPS nomor hpnya.


"Kenapa ini seperti menuju rumah sepupu ku?? Jangan jangan dia keponakanku? " tanya Farel heran saat gps mengarahkan ketempat


yang begitu ia kenal


[Sihlahkan belok kanan, Jalan lurus kedepan, sihlakan belok kiri] ucap gps mengarahkan.


Farel kaget bahwa ternyata pikirannya benarlah bahwa ia sudah berada di rumah dokter Verel. Sepupu dari keluarga Ayah. Farel melangkahkan kakinya masuk dan menekan bel.


Dibalik jendela kamar atas ada yang memandang seseorang yang begitu ia benci dan langsung turun menghampiri orang tersebut.


"Bik, biarkan saya saja yang buka.bibi boleh kembali berkerja lagi" ucapku tersenyum.


"Baik non" ucap pelayan dan pergi meninggalkan Vani yang sudah di depan pintu.


"Ngapain kakak kesini? apa belum puas semua yang udah kakak lakukan kesahabat aku? Lebih baik kakak pulang karena aku tidak akan membiarkan dia berbicara dengan pria brengsek sepertimu! "


"Maafkan aku van, kakak melakukan ini semua hanya untuk melindunginya"


"Kakak bukan melindunginya tapi hanya menyakitinya, paham!! Jadi sihlahkan kakak keluar dari rumahku sekarang juga!! "


"Ayolah beri aku kesempatan untuk berbicara padanya"


Vani menghiraukan ucapannya dan menutup pintu kembali dan pergi menuju kamar tempat Putri beristirahat.