
Suasana hati putri sedang kacau, sekarang ia bersama Vani mau mencari udara segar untuk merefreshkan pikiran ini. Saat aku hendak naik motor Vani tiba tiba suara Familiar memanggilku.
"Putri!! "
Putri hanya menoleh dan ternyata dia adalah seseorang yang telah membuat hatinya hancur berkeping-keping.
"Van ayuk jalan" ucap Putri menghiraukan suaranya.
" Siap Bos"
Farel mendekatkan tubuhnya di depan motor mereka sambil merentangkan tanganya
"Put,pliss dengerin penjelasan aku" Farel.
" Rel cukup tidak ada yang perlu dijelaskan, dan persahabatan kita gak ada harganya dari ego kamu, sekarang juga pliss kamu minggir motor kami mau jalan"
"Kalau mau tabrak aku gpp put, aku ikhlas asal kamu tidak kecewa lagi denganku"
tiba-tiba hujan turun begitu deras.
"Pliss rel, jangan membuat aku semakin kecewa terhadapmu. berikan aku waktu sendiri" ucapnya sambik menangis di rintai hujan.
Vani hanya bisa diam dengan pertengkaran antar dua sahabat.
"Aku melakukan ini semua ada alasannya put.. " ucap Farel memengang tangan putri.
"Alasan apa yang menjadikan sahabatnya bahan taruhan, Apa kamu butuh uang? atau mobil mewah? " kesal Putri.
"Sihlakan kalau kamu mau mencaci maki,aku ikhlas put. Aku melakukan ini semua hanya ingin melindungi kamu " ucap Farel sungguh-sungguh
"Kalau kamu mau melindungi aku, bukan begini cara rel" ucao Putri Frustadi dan kepalanya sangat pening
"Van, Ayo jalan. kepala aku pusing banget" dengan menahan sakit.
"Kamu kenapa put?? " ucap Farel dengan khawatir.
"Sudah ini bukan urusan kamu rel, pliss sekarang juga pergi jangan membuatku semakin menangis" ucapnya air mata yang sudah mengalir beriringan dengan Air hujan.
Farelpun akhirnya menepi dan terjatuh kebawah dengan duduk lemas, berharap semua ini tidak terjadi dengan rintaian hujan.
Vanipun akhirnya membawa putri kerumahnya yang dimana pakaian sudah basah kuyup terkena hujan. dan begitu kagetnya putri pingsan di tengah jalan sambil bersandar dibalik punggung Vani.
"Put?? kamu gak apa apakan"
"Put jangan buat aku khawatir"
"Put jawab"
"Kalau sampai terjadi apa apa sama sahabat gue, jangan harap hidup kalian akan tenang" marah Vani.
^Rumah Vani^
Vani membawa sahabatnya ke kamar dan semua keluarga menatapnya heran.
"Nak temanmu kenapa? dia pingsan? " bunda
"Iyah nih bun, bagaimana ya? "
"Apakah kamu telah menghubunginya? "
" Dia tidak pernah membawa handphonenya bun"
" Kak Varel kan dokter, bagaimana kalau dia yang periksa bun" khawatir.
"Kamu bantu dia berganti pakaian dan Bunda memanggilkan kakakmu kemari dan membuat ramuan jahe merah"
"Siap bun"
Putri sudah berganti pakaian dengan punya vani karena badan mereka sama.
"Dek, siapa ini?? kok ada dikamarmu? "
"Kak cepat periksa dulu, kalau aku cerita panjang kaka dari awal"
"Baiklah, kamu bisa diam gak. kakak gak konsen nanti"
Verel pun memeriksa kondisinya Putri namun ternyata detak jantungnya sangat lemah dan membutuhkan nafas buatan untuk mengembalikan kembali kondisinya agar ia tersadar.
'Bagaimana kak? ' Vani.
"Dia bisa koma dek kalau sampai gak diaksih nafas buatan"
"Apa?? aku gak bisa kak melakukannya. " bingung Vani
"Lalu siapa yang bisa menolang kita" Verel
"Kakak aja kan kaka sudah tahu tekniknya" memohon kepada Verel agar tidak kehilangan sahabatnya.
"Apa?"
Mengapa aku harus menciumnya, apalagi ini adalah pengalaman pertamaku. bagaimana ini? jika tidak aku lakukan ia akan koma.