
Perjalanan yang lumayan jauh dari sekolah dan sekarang aku sudah hampir tiba di tempat tujuan, tiba tiba motor Farel berhenti dan membuatku heran.
"Rel, kenapa berhenti disini?? Apakah masih jauh? " tanya putri dengan tatapan heran
" sebentar lagi sampai put, dan aku ingin kamu menggunakan penutup mata dan mengikuti langkahku". ucap Farel
"Bagaimana bisa aku berjalan apabila pandanganku gelap" ucap putri kesal
"Kamu hanya mengikuti aku dan pengang tanganku serta dengarkan suaraku. Paham?"
"Baiklah"
Penutup mata sudah terikat di kepalaku, pandanganku begitu gelap dan aku mengikuti langkah Farel hingga sudah sampai dan langkah kami terhenti
"Berbalik bandalah put, dan sihlakan buka penutup matamu"
Aku hanya pasrah mengikuti perintahnya, dan saat aku membalikan tubuhku begitu terkejut dan tidak menyangka dengan apa yang ia lihat di depannya.
"Bagaimana? Apakah kamu menyukainya? " ucap Farel dengan menaikan kedua alisnya.
"Apakah ini semua untukku? mengapa kamu masih ingat desain masa kecilku rumah pohon yang sederhana dekat tepi pantai" ucap Putri dengan masih terkejut
"Aku selalu mengingatnya dalam memoriku, dan 1 tahun yang lalu aku mendapatkan hadiah dari lomba memanah dan uangnya aku bangunkan rumah pohon impianmu" ucap Farel.
" Benarkah?? terimakasih rel kamu memanglah sahabat sejatiku" ucap Putri sambil memeluk Farel
Mereka berpelukan dan naik ke atas tempatnya bisa memandang pemandangan indah dan saling bertukar cerita karen sudah 3 tahun kami tidak saling bertemu sambil diiringin canda dan tawa.
"rel ayo kita pulang sudah mulai gelap, aku takut ayah dan bundaku marah" ucap Shalsa dan merasa dadanya begitu terasa sesak mungkin kelelahan.
"Kamu kenapa put, wajahmu pucat begini? apa kita ke klinik dulu baru kerumahmu?" Khawatir Farel
"Aku tidak apa apa rel, Ayo kita pulang" ucap Putri berusaha tegar
Sejak kecil memang mereka selalu bersama namun sahabatnya tidak mengetahui bahwa Putri mengidap penyakit jantung dan mudah kelelahan. Motor sudah sampai di halaman rumah putri dan telah disambut bunda .
Bunda begitu khawatir melihat wajah putrinya dan memintanya untuk tidak memberitahu temannya dan menyakinkan dia baik baik saja.
"Nak Farel, terimakasih telah mengantarkan anak bunda ya, maaf kalau dia merepotkan" ucap bunda mencoba tenang
" Sama sama tan, oh ya kalau boleh tahu kenapa putri wajahnya begitu pucat? apakah dia sedang sakit? tadi saya mau membawa ke klinik dia menolaknya tan. " tanya Farel penasaran
" Putri tidak kenapa napa nak farel, mungkin hanya kelelahan saja. Ayo sayang masuk kamarmu dan berganti pakaian jangan lupa makan malam" Ucap bunda Putri
" Siap bun, rel ayo mau sekalian makan malam bersama? " tanya Putri
" Terimakasih tawarannya tan, tapi maaf bunda pasti sudah menungguku di rumah. lain kali saya pasti mampir bun. pamit dulu ya" ucapnya sambil menyalankan kembali mesin motor dan melanjukan motornya menuju rumah Farel, namun perasaannya masih dihantui beribu pertanyaan dalam benaknya yang tidak bisa ia temukan jawabannya sekarang juga.
Sebenarnya apa yang mereka sembunyikan dariku, mungkin aku belum mengetahui semuanya namun pasti akan aku cari samoai aku menemukannya. dari wajah bunda putri uang begitu khawatir dan putri dengan wajah pias aku yakin terjadi sesuatu terhadapnya.
Sebenarnya sakit apa sahabatku"
Farel hanya melamun dengan semua pertanyaan dibenaknya di balkon kamarnya