
Jika itu yang kau inginkan, baiklah." Kata Master Mics setelah mendengar pernyataan Bang
"Lalu, ada yang ingin ku tanyakan" ujar Bang dengan menyenderkan dagu di tangannya
"Katakan saja"
"Apa aku boleh pulang sekarang"
"Astaga, kukira akan serius, pulanglah"
"Kalian tidak pulang?" Jangan jangan kalian tidak punya rumah dibumi?"
"Sekarang kami punya akses kapanpun untuk kembali ke Alruz"
"Begitu ya?" Kata Bang yang seketika pergi meninggalkan ruangan itu
"Dia kuat tapi sepertinya bodoh"
"Justru itu bagus"
"Kalian berdua benar, tapi urusan kita disini sudah selesai, kita harus segera menemui Raja"
Sepertinya Bang adalah murit terakhir yang pulang dari sekolah, beberapa langkahn keluar gerbang ia sudah disambut oleh Jery dan Regina yang mencoba mengejutkannyaa dari belakang
"Hahh... kenapa kalian tidak pulang?" Tanya Bang
"Heee? Kami kawatir denganmu tau..." saut Regina yang tampak marah sambil mengacungkan telunjuknya kewajah Bang
"Yaaa... setelah usai dengan ujian, kukira aku akan menemukanmu di UKS usai melihatmu pingsan siang tadi, tapi sialnya disana malah ketemu cewek aneh ini" kurang lebihnya seperti itulah penjelasan Jery
"Heh, siapa yang kau bilang aneh ha?" Triak Regina dengan kencang seperti tidak punya malu
Sejak hari itu mereka tampak lebih akrab, tanpa disadari juga Regina merasa lebih nyaman bersama mereka dibanding dengan teman teman perempuan yang lain. Sore itu untuk pertama kalianya mereka berjaalan pulang bersama, ketiganya mulai membicarakan tentang hal hal Megic
"Ngomong ngomong, kudengar walaupun kau dibuat pingsan oleh Master Mics, kau menang melawan kakak kelas berbadan besar ya?" Tanya Jery
"Eemm, begitulah"
"Hey heyyy,,, kau tidak bertanya padaku Jery?"
"Ya baiklah baiklah, apakah kaau baik baik saja setelah kalah telak Regina?" Tanya Jery dengan nada mengejek
"Kurang ajar...!! Walaupun aku kehabisan waktu, tapi aku bertarung dengan baik, jadi aku dan Erika naik Class II"
"Jadi kau bertarung dengan Erika tadi? Jadi Erika yang cantik itu masuk Class Slayer ya?" Kata Jery dengan wajah konyol
"Jangan bilang Erika itu cantik didepanku dong, memangnya kau menang tadi?"
"Pasti...!!" Kata Jery dengan bangganya
Tidak terdengar sepatah katapun dari mulut Bang, bahkan obrolan mereka berdua tidak didengarkan sedikitpun olehnya, dalam benaknya, Bang hanya ingin bergegas membeli makanan untuknya dan Asami demi makan malam, perutnya juga sangat lapar
Pembicaraan Regina dan Jery terus saja berlanjut disepanjang jalan, mereka terkadamg saling ledek yang sebenarnya agak kekanak kanakan,
"Tapi..., teman teman yang lain ternyata kuat, ternyata tidak hanya berwujudkan elemen bumi, sihir juga terkadang memilimi kekuatan yang unik dan berwarna warni, senjata mereka juga bermacam macam"
"Kukira kau benar Jery, tadii..., seorang Slayer yang awalnya diragukan karena berpenampilan cupu, malah berhasil memenangkan pertandingan dengan sangat singkat, bahkan hanya dalam hitungan detik"
Cerita Regina itu menarik perhatian Bang, ia mulai mendengarkannya dengan cukup serius
"Kecepatannya luar biasa, dia hanya menggunakan dua buah pisau sihir kecil tapi bisa mengalahkan seorang pengguna kapak besar. Mungkin kau kenal Bang, dia juga seangkatan dengan kita, dan sepertinya sekelas denganmu dikelas satu, kalau tidak salah..., namanya Renki"
Renki adalah seorang pria culun berkacamata, dirinya kini sedang berjalan pulang dengan lemas, tiba tiba ia merasakan sesuatu yang aneh ditelingannya, ia berjalan bingung sambil menengok kanan kiri dan belakang, sampai sampai didepan sebuah gang ia menabrak seseorang bertubuh besar berwajah sangar.yang ternyata adalah Poul
"Heyyy... mau cari masalah ya?"
"Aa, aku tidak sengaja"
"Brengsekkk....!!" Triak Poul kemudian memukul Renki sampai ia terpental jauh yang membuat kacamatanya patah dan pecah
"Ternyata tidak sesakit yang kubayangkan, selain itu, pandanganku tidak kabur walau tanpa kacamata, mungkin ini salah satu kekuatan sihir" gumam Renki yang dengan tenang kemudian berdiri lalu menginjak serpihan kacamatanya
"Jadi kau tidak punya malu ya setelah kalah telak, walaupun mungkin kau senior, tapi sekarang aku Class II..., kau?" Ejek Renki dengan tatapan tajam
"Wajah itu lagi..., aku muak melihat orang seperti kalian... mati saja kau..." triak Poul dengan tangan mengepal besar dislimuti energi sihirnya yang coba dihantamkan kearah Renki
Kilatan merah terlihat menyala terang setelah Poul hendak menyerang, dengan kecepatan yang luar biasa ia membuat Poul serasa dipermainkan, tanpa berlama lama ia mengeluarkan dua buah pisau yang seketika ia serangkan keberbagai arah. Poul hanya bisa tercengang setelah menyadari kecepatan serangan orang itu sama sekali tidak dapat ia lihat karena terlalu cepat, tubuhnya tidak terluka, namun lagi lagi ia dipermalukan setelah pakaiannya terurai menjadi sobekan kain kain kecil, teknik yang sangat baik perpaduan antara kecepatan dan ketepatan gerak suatu senjata seperti itu mungkin lqyak masuk ke Slqyer Class Elite
"Ternyata bukan Bang yang terlampau kuat, tapi kau memang lemah sekali, tidak berguna" perkataan yang sangat kejam itu telah mendidihkan amarah Poul, tanpa pamit, Renki meninggalkan Ppul yang berdiri cengang tanpa memakai baju
Perasaan kacau dialami pria besar itu, dibalik tampangnya yang sangar dan tubuhnya yang kejar, ia mulai kehilangan kepercayaan dari teman temannya, tampak semua orang termasuk mereka yang selalu bersamanya berangsur menghilang setelah dikecewakan oleh orang seperti Poul. Ditengah kesedihan dan amarahnya, ia pun berjalan pelan tanpa tujuan, tak satupun yang memperdulikan pria gagah itu yang kini tampak seperti pecundang.
Ditempat lain, Bang, Regina dan Jery sedang berjalan pulang menuju rumah masing masing, langkah Bang terhenti disebuah pertigaan
"Kalian duluan saja, ada yang harus kubeli"
"Aa... begitu ya?"
"Tidak, aku tidak mau berjalan berdua dengan cewek brengsek ini"
"Siapa juga yang mau jalan bareng denganmu...! Yasudahlah, aku lewat jalan lain saja"
"Kalau begitu aku juga pulang dulu Bang
"Ya"
Mereka bertiga berpencar untuk menuju suatu tempat yang mungkin adalah rumah mereka, tapi seperti yang dikatakan Bang barusan, ia sebenarnya sedang khawatir tidak mendapat sesuatu untuk ia makan bersama adiknya
"Hahh... gawat juga kalau aku kehabisan, Asami pasti akan ngambek" batin Bang sesaat sebelum ia memutuskan untuk lari sebuah kedai
Ia sampai disebuah lapak jajanan pinger jalan lalu mulai berdiri dibelakang orang orang. Waktu tdrus berjalan, kakinya mulai pegal dan hari sudah hampir gelap
"Maaf sekali tuan tuan, karena hari ini sangat ramai, jadi hanya tersisa satu bungkus, sekali lagi saya minta maaf, datang lagi besok lebih awal ya" ujar seorang penjual roti bakar kepada tiga orang antrian terakhirnya
"Tunggu dulu, aku yang antri terlebih dahulu, berarti seharusnya itu milikku"
Tampak dua orang didepan Bang berkelahi untuk mendapatkan sebungkus roti bakar, Bang merasa kecewa dengan apa yang terjadi, ia hanya menghabiskan waktu untuk mengamtri sesuatu yang akhirnya tidak ia dapatkan.
"Mereka berdua ini ngapain sih?" Gumam Bang xengan wajah lesu sambil melihat kedua orang itu berebut makanan
"Heii... uang kalian jatuh tuh..."
"Haaa... - mana?"
Kebingungan mereka seketika dimanfaatkan Bang, ia langsung menjulurkan selembar dua puluh ribuan yang ia tukarkan dengan sebalok roti bakar yang dibungkus kertas minyak lalu dikantungi plastik. Tak lama berselang ia meninggalkan kedua orang yang masih berkelahi seperti anak kecil denga wajah konyol seakan akan tidak tau apa yang sedang terjadi
""Sudah habis, silakan datang lagi lain waktu" ujar penjual roti bakar dengan tersenyum menahan tawa
"Apaaa...?"
"Ini semua salahmu..!!"
"Tidakkk..."
Malam pun tiba, rembulan telah bertahta terang dibelakang segumpal awan, dosebuah rumah kecil yang tampak rapi tampak seorang pemuda bersama adiknya sedang makan malam, terlihat kehangatan didalam keluarga kecil itu yang entah masih bisa disebut keluarga atau tidak
"Emmm... trimakasih sudah membelikan roti bakar yang enak ini kakak..."
"Ahahah... itu sebagai ucapan maafku tidak bisa membangumu bersih bersih hari ini Asami, kau membuat rumah ini jadi rapi lagi ya, kerja bagus!"
"Hihi... oiya, besok sepsrtinya SMP ku juga sudah mulai masuk"
"Asami, ada yang perlu kau mengerti, kota Rizen sekarang menjadi satu satunya tempat yang terdapat Sekolah Magic, bumi sedang tidak aman entah sampai kapan, dengan kata lain mungkin Rizen akan sering kedatangan makhluk asing"
"Ohhh... benar juga, sekarang kakak pahlawan ya? Bagaimana kekuatanmu, tunjukan padaku!"
"Maksudku, saat aku sekolah atau berada dalam misi, mungkin aku tidak bisa melindungimu sepenihnya, jadi...-
"Tidak, aku tidak mau pulang, jika kakak berpikir mengembalikanku ke ayah dan ibu adalah cara yang aman, itu salah besar!"
"Tapi Asami-
"Kalau begitu, sudah kuputuskan taun depan aku akan mendaftar ke IMS Rizen!, tapi mungkin kakak bisa mengajarkanku sihir dari sekarang" ujar Asami dengan semangat menampakkan raut wajah senang dan oktimus, hal itu membuat Bang senang melihat adik jesayangannya seperti itu. Seketika ia mengelus kepala adiknya yang sangat imut itu lalu berkata "tentu!"
"Sepertinya hidup kakak lebih menyenangkan menjadi seorang Warrior ya? Bukyinya baru kali ini aku melihat kakak senang"
"Hee...?"
"Hihi..."
Aaaa... lupakan saja" kejadian itu sangat lucu, tanpa ia sadari, Bang mengelus kepala Asami seperti kucing yang sontak membuatnya malu sendiri.
"Yaaa walaupun tetap membosankan, tapi mungkin Asami benar, bagaimana pun hidup kami akan mulai berubah dari sekarang, seharusnya ada sesuatu yang tidak membosankan didalam dunia baru ini." Batin Bang sambil memandangi Asami yang tertawa tanpa henti
Fisuatu planet nan jauh disana seorang Raja yang tampak bijaksana mengumpulkan tiga orang Master yang bedtangung jawab atas keselamatan bumi
"Bagaimana keadaan planet itu?"
"Belum ada tanda tanda kemunculan Soul Eater di bumi, hari ini IMS mengadakan kwalifikasi" begitulah kurang lebih penjelasan L-Mics
"Tenang saja Yang Mulia, ternyata keputusan Mics memberikan anugrahnya ke makhluk bumi tepat sasaran, kita tidak perlu khawatir dengan mereka" saut L-Wizy
"Kuharap begitu, tapi..."
"Tigabelas Pilihan Iblis ya?" Saut L-Rast yang membuat suasana semakin serius
"Walaupun salah satunya sudah dikalahkan, tapi duabelas lainnya akan sangat berbahaya, selain itu, Legendaris of Warrior kita hanya tersisa L-Ripper dan L-Gyn, dan sayangnya mereka sedang berada dalam misi rahasia"
"Apa keputusanmu Yang Mulia?"
Mics, Rast, Wizy, bersiaplah kembali ke bumi, bawalah kristal pemanggil untuk berjaga jaga aku percayakan tugas ini pada kalian!!"
"Siap!" Saut mereka serentak setelah menegapkan badan
Disebuah hutan pinggiran kota, tampak seorang pemuda berotot besar yang tampak jelas karena tanpa menggunakan baju, wajahnya tampak menyedihkan sembari menatap api yang telah ia buat sebagai penerangan malam, kemarahan pria itu membuatnya menghancurkan segala sesuatu yang ada di situ seperti pohon pohon, tebing bahkan batu batu keras. Tidak dapat dipungkiri walaupun tampangnya sangar namun kejadian yang ia alami hari itu sudah membuatnya kehilangan muka didepan semua orang.
Hembusan angin tiba tiba bertiup, Poul mendengar suara aneh yang membuatnya mrinding, kepalanya terus menoleh kesegala arah sampai dari belakangnya muncul seseorang misterius dengan tampang mengerikan. Seluruh kulitnya berwarna putih seperti salju dan sekujur tubuh tak terkecuali wajahnya dipenuhi garis garis dan tato membentuk berbagai simbol beraturan
"Sss... siapa kau...?"
"Aku orang yang akan merubah hidupmu"
"Apa maksudmu?!"
"Jika sekarang kau merasa lemah dan tidak berguna-
"Banyak omonggg....!!" Perkataan makhul itu seketika dipotong Poul dengan melakukan pukulan keras
Makhluk itu tidak mencoba menghindar, ia berhasil meredam serangan kuat itu dengan mudah, tangan Poul yang besar dibuat kesakitan hanya dengan dipegang olehnya
Lepaskan..."
"Menyedihkan sekali bukan? Apa kau tidak mau kuat?"
"Bacccoot...!"
"Jadilah orang yang kuat, maka kau bisa balas dendam" ujar nya lalu melepaskan Poul hingga membuatnya mringis kesakitan
Makhluk itu menjelaskan bahwa ia adalah salah satu dari Tigabelas Pilihan Iblis yang dengan terang terangan ingin mengubahnya menjadi iblis jugq dengan menjulurkan sesuatu seperti buah manggis berwarna unggu pekat lalu berkata "tidak ada yang lebih menyenangkan dari kekuasaan, dengan memakan buah iblis ini kekuatanmu akan meningkat pesat dan kqu bisa melakukan apapun yang kau mau"
Wajah Poul seketika berubah merinding setelah menyadari bahwa ia sedang menghadari Soul Eater, giginya gemricik dengan kening yang mulai mengkerut, batinya ketakutan lalu berkata "jadi begini cara mereka mengubah makhluk lain menjadi iblis, tapi apakah jika aku menolak aku akan dibiarkan hidup"
"Tidak ada yang perlu kau khawatirkan, ingatlah wajah orang orang yang pernah mempermalukanmu, jadilah kuat dan balas dendamlahh...!!"
Perkataan itu seakan akan mudah terserap kepikuran Poul, hatinya seketika panas setelah mengingat ingat kembali caranya dipermalukan. Tangannya gemetaran namun ia tetap mengambil buah itu lalu melahabnya dengan sekali suap, setelah buah itu ditelan tubuh Poul mulai merasa kesakitqn, ia terus memegangi perutnya yang seperti ingin meledak, cahaya unggu mulai terpancar dari tubuhnya, triakannya yang amat keras menerbangkan gagak gagak ditengah malam, tubuh pria itu bertahap mulai berubah menjadi tampak lebih kuat, urat urat dibagian tubuh manapun mulai tampai timbul, rasa sakitnya sudah hilang, orang itu hampir kehilangan kesadaran namun ia bangkit lalu membuka matanya yang sekarang telah berubah warna menjadi merah terang.