First Attack

First Attack
Warrior Generasi Pertama



Nasip buruk sepertinya dialami Regina, dibangdingkan teman temannya yang hanya menghadapi zombie, dirinya harus menerima kenyataan bahwa harus berhadapan dengan tiga monster sekaligus sendirian. Walaupun kini ia telah mendapat anugrah, tapi dirinya belum tau sama sekali apa kemampuan sihirnya,


"Apa yang harus kulakukan, bagaimana aku harus bertarung?!" Batin Regina sambil menatap ketiga monster besar dihadapannya


"Heyy bocah, aku sendiri bisa langsung menginjakmu, ataupun mengubahmu menjadi soul eater, jadi berhentilah berusaha, karena putus asa adalah pilihan terbaik" ujar monster berkepala landak


"Ahh...? Mustahol... mereka bisa bicara?" Kaget Regina dengan mata terbuka


"Kalau dia memang lemah berarti dia akan mudah mati, tapi kalau dia kuat, mungkin kita bisa memakan jiwanya" kata monster bertanduk rusa


"Kalau begitu mungkin ini kekuatanku" bisik Regina sambil bersiqp memagang tongkat yang ia temukan


Kakinya mengambil ancang ancang, walaupun tidak pernah berlatih bela diri namun kuda kudanya kuat, muncul energi sihir merah dari genggaman tangannya, seketika membakar tongkat itu yang membuat Regina sangat kaget


"Hahh... sudah kuduga!" Sunyum Regina tampak bahagia


Dengan kencang Regina membawa tongkat api itu yang kemudian ia tebaskan ke monster yang berada ditengah, dengan sekali ayunan, tongkat itu melesatkan energi sihir api yang seketika membelah tubuh monster itu dan membakarnya sampai hangus


"Apa..?! Makhluk ini gila, beraninya kau...!!" Kejut monster landank yang kemudian balas menyerangnya


Dengan yakin dan percaya diri, Regina terus mengayunkan tongkatnya itu, gerakannya sangat cepat dan sangat mudah menghindari serangan duri duri landak itu, sesekali dengan senjatanya Regina juga menepis serangan serangan yang dilepaskan oleh monster Landak


"Menarik juga!" Ujar monster Rusa yang kemudian mematahkan tanduknya untuk ia jadikan senjata


Regina yang mendapatkan celah akhirnya bisa mengalahkan Landak Soul Eater dengan tebasan tebasan api mematikan


"Tinggal satu ya? Maju kau... eaaa....." triak Regina dengan semangat


Terjadi duel tongkat dan tanduk yang sama sama disinari cahaya sihir, mereka saling pukul, saling hindar dan berdiel dengan sengit. Walau monster itu berukuran sangat besar, namun Regina memanfaatkan kelincahannya untuk merambat ke tubuh Monster rusa kemudian menebas tangan dan tubuhnya yang lain, monster itu mulai runtuh, tumbang dan hancur terbakar.


"Hah.. akhirnya berakhir juga" ujar Regina sambil ngos ngosan lalu tongkat sihirnya berhenti mengobarkan api


Belum sempat Reegina menengok keadaan Bang, ia kembali mendapat serangan kejutan, monster monster mulai berdatangan dan jumlahnya lebih banyak, energi nya sudah banyak terkuras dan kini hidupnya dalam bahaya


Disisi lain Jery yang tadinya dihujani pisau sihir oleh monster kelelawar tampak baik baik saja,


"Fiuhh... untung aku selamat" lega Jery


Tampaknya tangan kirinya telah menyelamatkan hidup Jery dengan mengeluarkan energi sihir dan membentuk prisai segi delapan didepannya. Dirinya mulai menarik nafas, seketika penasaran dengan apa yang bisa dilakukan petir disaat seperti ini, dengan asal asalan ia memusatkan sihir di tangannya lemudian membentuk gumpalan listrik yang tidak stabil dan tidak beraturan, gumpalan itu memancarkan energi kuat, menyambar sekeliling dan mengarah ke Dark Ledina dengan cepat walaupun dapat dihindari.


"Wawawaww... ini hhebat sekali!!" Triak Jery dengan gembira


"Serangan payah tidak berseni mana mungkin bisa melukaiku makhluk aneh!" Ejek Ledina


"Bukannya yang aneh itu kau?" Saut Jery


Jery juga mencoba teknik petirnya, mengkombinasikan setiap sesuatu yang ia lempar dengan sihir petir yang ia terima dari Anugah makhluk L. Kedua makhluk itu saling melempar energi sihir, tabrakan energi itu menciptakan ledakan hebat, Ledina dapat terbang dan melesat dengan cepat, namun jery memiliki akurasi serangan yang baik sekaligus prisai kuat.


Ledina tampak kesal karna tidak bisa menghabosi manusia itu dengan cepat, seketika ia mengangkat tangannya, merentangkan sayapnya sehingga menjadi pusat berkumpulnya energi energi negatif yang sangat kuat. Disisi lain Jery telah bersiap dengan prisainya tanpa berniat membalas serangqn makhluk itu karna kehabisan sesuatu untuk dilempar. Namun ada satu hal yang baru saja ia sadari bahwa elemen petirnya bisa membentuk sebuah senjata


Dark Ledina bersiap untuk menyerang, gelak tawanya cukup lantang bagai hasrat ingin menantang. Jery melihatnya dengan khawatir, prisainya diperkuat hongga ledakan pun terjadi. Jery menutup matanya dengan takut tanpa merasakan tabrakan sedikit pun, matanya terbuka dan menyaksikan asap didepannya menylimuti seseorang


"Astaga nak, kenapa kau tidak berlari kalau kau tau akan mati?" Ujar Rast yang datang tepat waktu menghalau serangan Ledina


"Jadi maksudmu prisai ku tidak cukup kuat?"


"Apa menurutmu serangan seperti itu tidak lebih kuat?" Jawab Rast dengan dingin


"Jadi aku payah ya?" Tanggapan Jery sambil mengaruk kepala belakangnya


"Sudahlah, paling tidak kau tidak lari melihat makhluk sepertinya, kalau begitu ayo kita bekerja sama" kata Rast sambil menyiapkan Tombak panjangnya


"Baiklahh!!!". Triak Jery dengan sangat semangat.


Disisi lain Regina demgan segenap kekuatannya berusaha menghadapi monster monater aneh yang samgat kuat. Langkahnya mulai lambat, rambutnya mulai terurai indah, dirinya mulai terjatuh walau masih terus berusaha bangkit. Ditengah tengah lelahnya, ia melihat sebuah sinar anugrah berada dipingirnya, Regina coba menyentuhnya dan menyadari ia harus segera memberikannya kepada Bang, dengan harapan nyawa temannya itu bisa tertolong.


"Bang... bangun dan trima ini...!!" Triak Regina sambil melempar cahaya itu krarah Bang


Nafasnya mulai tersendat dan disaat itu ia harus menerima serangan telak yang membuatnya kehilangat tongkat api.


"Sial!! Aku belum mau mati" rintih Regina sambil tengkurep lemas diatas tanah, sampai tiba tiba


"Kau sudah bekerja keras Regina"


"Bang?" Syukurlah kau selamat" Regina sangat terkejut melihat Bang berdiri didepannya


"Apa aku juga harus mengendongmu?"


"Ja jangan bercanda!! Aku masih bisa bertarung" kata regina dengan wajah memerah


"Kalau begitu kau butuh ini" kata Bang sambil menjulurkan tongkat Regina yang tadi terpental saat ia diserang.


"Kalau begitu kau sidah punya kekuatan sekarang bikan, ayo kita bekerja sama!" Ujar Regina dengan serius


"Tidak""


"Hee?"


"Aku ada urusan, aku tau kau kuat dan bisa mengalahkan mereka sendirii"


"Baaang! Dasar kau ini...!


"Triak Regina setalah melihat Bang berjalan menjauhinya.


"Kalau begitu kalian akan kuselesaikan sebelum sempat menghitung "satu" monster jelek" triak Regina dengan tongkat apinya yang kini berkobar sangat besar


Dengan tiga tebasan kearah kanan, kiri, dan bawah monster monster itu dihabisi dengan mudah seperti hanya memukul bola air tanpa penutup mata. Regina berdiri dengan senyum indah dan rambutnya yang terus beterbangan tertiup angin diklilingi kobaran api.


"Kembali ke Jery yang tengah fokus menyiapkan serangannya, dari tangannya munvul panah petir yang hanya dengan ditarik pegasnya otomatis mengeluarkan anak panah. Dusisi lain Dark Ledina sedang disibukkan oleh Rast yang mencoba menlumpuhkan penyihir jahat itu dengan tombaknya. Ledina adalah penyihir yang menggunakan tipe serangan jatak jauh yang memungkinkannya menyerang siapapun tanpa harus bersentuhan fisik, srdangkan Rast adalah seorang warrior yang menggunakan serangan jarak menengah dengan senjata panjang berupa tombak.


Jika dipikir pikir seharusnya Ledina lebih diunggulkan, namun Rast adalah warrior dengan kelincahan yang baik, sehingga membuatnya mudah menghindari serangan serangan Ledina bahkan mulai bisa mendekat dan melakukan serangan dengan gerakan gerakan menakjubkan.


"Giliranmu sekarang...!!" Ujar Rast setelah menancapkan tombaknya ke arah Ledina.


"Ini dia... Lightning Burst...!!" Anak panah petir itu melesat kencang menuju arah Ledina, kilatanyaa menyilaukan mata semua orang taak terkecuali Jery sendiri,triakan Ledina yang menakutkan menandakan bahwa semuanya telah berakhir, kelelawar kelelawar yang meredupkan langit pun mulai menghilang.


"Hehe... trimakasih telah memberikan kami kekuatan" saut Jery dengan konyol


"Tapi... ada hal yang perlu kau kretahui, bahwa mungkin makhluk seperti mereka akan kembali dan mencuri bumi dari kalian, dengan kata lain tidak ada waktu untuk bersantai, trimalah takdir kalian karena kalian sekarang adalah Warrior!"


"Baiklah baiklah.."


"Ayo kita bantu yang lain"


"Okeyy."


Peperangan sepertonya akan srgera berakhir, keunggulan para pahlawan pahlawan baru sudah tampak jelas dirasakan, walaupun orang orang belum bisa memaksimalkan kemampuan yang mereka punya, namun paling tidak mereka punya kepercayaan diri yang baik.


Beralih ke L-Mics yang sedang melanjutkan duelnya dengan Dark Falis, memang benar saja bahwa kemampuan membuka fortql dengan kristal pemanggil membutuhkan tenaga yang cukup banyak dan memperlambat kemampuan dari Dark Falis. Mereka saling berhadapan dan sama sama berfikir keras bagaimana cara untuk menghabisa satu sama lain


"Aku yakin sekali kau ketakutan Dark Falis" ujar Mics dengan santai


"Cehh..."


"Mereka semua adalah orang orang yang ku yakini sanggup melindungi bumi ini, maka dari itu pastikan ini sebagai pelajaran untuk bangsa Demonic untuk tidak berani berani menempati planet ini lagi" gertak Mics dengan sangat serius


"Heh, hahahahah... bagaimana jika mulai hari ini Demonic akan mengerahkan seluruh kemampuannya untuk merebut bumi?" Saut Dark Falis denga senyum tajamnya


"Cehh... mustahil... jika itu terjadi berarti mereka sangat berniat menguasai planrt ini , tapi kenapa mereka melakukan hal sejauh itu?" Batin Mics


Ditengsh hembusan angin yang mengobarkan jubah mereka, tiba tiba dari arah samping belakang Mics datang seseorang dengan kecepatan tinggi, langkahnya disadari oleh Mocs dan berniat untuk berbalik dan menghentikan orang itu, tapi betapa terkejutnya Mics melihat seorang manusia berlari sambil mengepalkan tangan yang mengeluarkan cahaya sihir berwarna hijau toska berniat melakukan pukulan ke arah Dark Falis


"Heyy itu berbahaya...!" Triak Mics dengan khawatir


Tanpa menghiraukan kata katanya orang itu terus melaju dan dengan telak menghajar perut Dark Fallis. Ledakan energi sihir terjado, hembusan angin yang sangat kuat mengguncang seisi kota sampai radius ratusan meter yang bisa dirasakan Regina walau dari kejauhan


Mics terlihat sangat terkejut melihat pemuda didepannya berhasil mengalahkan Dark Falis dengan satu pukulan seperti itu.


"Astaga? Ini mustahil"


Orang itu menengok kearah Mics dengan tangannya yang masih mengepal bersinarkan cahaya sihir hijau toskanya, dan orang itu adalah Bang.


"Baguss... jadi paman..., dimana bosnya?" Tanya Bang dengan santai


"Aaaa? Dia baru saja kau kalahkan"


"Ha?"


"Iya"


"Astaga, apa yang telah kulakukan, ternyata dalam hal kekuatan pun aku masih tampak unggul, payahh..." Bang ambruk ketanah sambil mengeluh dan menyesali perbuatannya


"Ini sangat diluar dugaanku, apakah mungkin ada orang yang langsung bisa masuk ke kelas Elite of Warrior setelah mendapat kekuatan? Tidak bahkah mungkin dia sudah sekelas Master" Gumam Mics sangat terkejut


Awan gelap mulai tergeser, cerahnya langit mulai tampak dari setiap penjuru kota, munster monster telah tiada dan orang orang mulai keluar dari persembunyian. Kota memang hancur, akan tetapi mereka tersenyum lega melihat orang orang kesayangan mereka masih hidup,.


Beberapa saat sudah berlalu, senja pun tiba, tampak Bang terduduk membelakangi bayangan pohon sehingga tubuhnua tersorot sinar matahari secara keseluruhan, niatnya memang tidak ingin berteduh karena ia suka kehangatan. Dari kejauhan Regina tmelihat Bang duduk bersandar pohon lalu menghampirinya kemudian duduk disebelahnya


"Takkusangka lukamu akan langsung hilang ya? Ujar Regina sambil tersenyum


"Kurasa ini berkatmu, trimakasih"


"Seharusnya aku yang bertrimakasih, kalau bukan karnamu mungkin aku sudah mati"


"Hah..., takkusangka kemarin sore tampak baik baik saja dan hari ini sangat berbeda, bagaimana menurutmu?"


"Aku juga tidak menyangka akan terjadi hal seperti ini, tapi sepertinya ini akan kelihatan keren, benar kan?"


"Begitu ya?"


"Tentu saja, tapi dimana kau seharian? Kenapa kau membiarkanku mengalahkan belasan monster sendirian ha?" Tanya Regina dengan keras


"Maaf, tapi..., apa kau senang menjadi pintar atau kuat?"


"Tentu saja, orang itu bisa kuat dan pintar karena usahanya, aku merasa sudah berusaha dan aku pantas mendapatkan imbalanku, yaitu menjadi pintar"


"Begitu ya?"


"Tunggu dulu, jika dipikir pikir kau itu paling pintar dikelas kan, apa dalam hal kekuatan kau juga lebih kuat dariku?"


"Apa kau pernah melihat kekuatanku?"


"Tidak juga sih, mungkin saja aku lebih kuat darimu, kecuali yang mengalahkan Penyihir jahat Bernama Dark Falis itu kau, haha..." canda Regina dengan girang


"Itu benar sekai..., Tapi..., lebih baik jika aku tidak memberitahu semua orang, dan mungin aku akan berpura pura lemah saja, karna ini sangat membosankan" batin Bang


"Dasar kau ini memang jarang sekali tertawa ya?"


"Tida juga, hihi.." Bang tersenyum dengan sayangat payah


"Apa apaan wajahmu itu? Haahh... takkusangka sekolah kita mulai besok akan menjadi sekolah sihir,, berarti ujian nya mungkin juga akan ujian sihir ya?"


"Kurasa begitu, tapi aku juga tidak menyangka para makhluk L itu akan menjadi guru kita"


"Mereka sendiri yang bilang begitu kan? Dan kata mereka juga kita perlu pendidikan untuk mengasah kekuatan sihir, jadi sepertinya ini sama saja dengan srkolah kita kemarin, tapi beda hal yang dipelajari.


"Kau memang benar, mereka juga sepertinya orang baik, jika benar makhluk Demonic akan terus mengincar bumi berarti kita masih membutuhkan mereka.


Mereka berdua tampak akrab mengobrol bersama didepan mataharo yang sebentar lagi akan sirna.


Di dua planet yang berbeda tampak Dark Voss sang raja Demonic sangat kesal dan khawatir atas kegagalan mereka menguasai bumi dan kehilangan satu divisi perang. Sedangkan disisi lain sang raja Alruz, L-Kirgod sedang berhadapan dengan Mics, Rast, dan Wizy.


"Trimakasih atas kerja keras kalian, terutama padamu Rast, aku mengapresiasi keberanianmu dan pengorbananmu, sebagai, aku mengizinkan keputusan kalian untuk tinggal dan menjadi pelindung bumi bersama manusia, tapi suatu saat nanti aku pasti akan membutuhkqn bantuan kalian bertiga"


"Siap laksanakan." Saut Mics, Rast, dan Wizy dengan serentak


"Satu hal lagi, mungkin sekarang kau bukan lagi Legendaris of Warrior, tapi kau tetap muridku"


"Hahh? Trimakasih guru!!" Saut Rast dengan semangat.