
Pertarungan sudah terjadi selama ber jam jam, matahari mulai terik dan satu per satu Warrior sudah memastikan diri naik ke Warrior Class II. Pertandingan antara Regina dan Erika sedang berlangsung, keduanya tampak saling balas serangan dan tampsk kelelahan dari keduanya.
"Kalau dia sama lelahnya sepertiku maka dia pasti akan melakukan serangan terakhir kali ini, kalau begitu yang kubutuhkan adalah fokus" gumam Regina dengan pelan sambil terus menggenggam pedangnya dengan kedua tangan.
"Sialan Regina. Ternyata dia hebat juga, kalau begitu serangan ini akan menjadi penentu, lagipula sudah hampir lima menit, tidak ada cara lain." Batin Erika dengan tatapan seriusnya.
Seketika Erika mengangkat pedangnya dan kembali memancarkan energi sihir lalu menciptakan ombak disekeloling pedang yang ia bawa. Penonton mulai bersorak takjub melihat kedua orang itu bertarung dengan sangat baik, Regina merasa termotivasi dan tidak ingin kalah, pedang merahnya seketika mengeluarkan kobaran api yang lebih besar dari sebelumnya, ia memasang pedang itu diatas bahu kanannya dengan kedua tangan
"Regina kuakui kau memang hebat, tapi kita lihat saja siapa yang lebih hebat setelah duel ini...!!" Triak Erika dengan semangat
"Majuu....!" Saut Regina yang kemudian segera melakukan serangan pada Erika.
Slayer warrior yang menyaksikannya sangat kagum dan belum dapat menentukan siapa pemenangnya, mereka berdua maju bersamaan dan akan terjadi tabrakan pedang sangat hebat, namun tiba tiba dari atas muncul Master Rast yang mendarat di depan Regina dan Erika kemudian menghentikan serangan mereka dengan tombaknya yang membuat mereka terpental karena ledakan hebat.
"Waktu kalian habis."
"Tunggu Master...!!" Paling tidak setelah duel terakhir kami selesai dan kita akan tau siapa pemenangnya!" Erika bersikeras merasa tidak terima dengan hasil pertandingan.
Penonton ikut kecewa karna pertandingan belum usai dan mereka sudah dihentikan.
"Jadi aku tidak naik Class ya?" Batin Regina tampak sedih.
"Jika diteruskan tempat ini mungkin akan runtuh, lagipula peraturan pertandingan tidak boleh menciderai lawan dengan fatal bukan?" Begitulah kira kira penjelasan Master Rast
"Erika kemudian bangun lalu menghampiri Regina yang masih terduduk lemas, ia menjulurkan tangannya dengan wajah tersenyum
"Trimakasih Erika, kau hebat!" Saut Regina setelah menerima jabat tangan Erika lalu berdiri tegak
"Tidakk.. kita yang hebat, kupikir tidak masalah kita Class I, jadi ayo kita berjuang naik Class bersama!" Ujar Erika dengan penuh perasaan
"Yaaa... kau benar" saut Regina dengan tersenyum
"Tidak juga" ujar Master Rast yang srketika membuat mereka kaget"
"Ha...?"
"Master...?"
"Kqlian memang kehabisan waktu, tapi kalian punya potensi, srbuqh kesalahan besar jika membiarkan kalian terus di Class I. Sudah kuputuskan kalian akan naik ke Class II
"Benarkah...?" Bingung Erika
"Tapi peraturannya jika dalam lima menit tidak ada pemenang berarti kami tidak naik Class?" Bantah Regina dengan bingung
"Disini aku yang memutuskan, lagipula tujuan duel ini adalah mengukur kemampuan kalian sebagai penwntu Class, kalian hebat, jadi kalian Naik Class II
Semua orang bersorak untuk mereka, tampak raut wajah gembira dari Erika dan Regina
Di Kelas Shooter epulan asap menutupi keberadaan Jery setelah terjadi ledakan, tembakan ketapel itu sepertinya sangat kuat, teman teman yang lain mengira bahwa pertandingan berakhir begitu saja. Sayangnya hal itu tidak terjadi, pertandingan harus berjalan lebih lama karena Jery tidak ingin tidak naik Class, dari lengan kanannya terlihat dinding petir segi delapan yang dapat melindunginya tepat waktu, teman teman Shooter yang lain kebingungan melihat prisai yang dapat digunakan seorang Warrior Class Shooter. Jery sendiri juga tidqk begitu paham dengan kekuatan yang ia miliki, namun sepertinya hal itu akan cocok dengan kepribadiannya
"Menggeluarkan prisai sihir ini sepertinya membutuhkan banyak tenaga, mungkin saja serangan yang lebih kuat akan menghancurkanku" batin Jery dengan tatapan tajam
Pertandingan sesungguhnya baru akan dimulai, Jery tanpa segan menarik busurnya lalu mengeluarkan tembakan ke arah Yasha, orang itu tidak mencoba menghindar namun ia memilih membalas serangan itu dengan klereng sihir, menakjubkannya kedua objek itu bisa saling bertabrakan walau kemungkinannya sulit, ledakannya menimbulkan lengkingan yang cukup mengerikan. Yasha kembali menarik pegasnya dengan terburu buru, klereng sihir berwarna hijau terang itu melesat kearah Jery namun dapat dihindari dengan mudah.
Pikiran Jery terganggu, terdengar suara pantulan keras yang mungkin saja benda itu memang tidak meledak
"Yang benar saja...?" Kaget Jery setelah berbalik badan lalu memasang prisainya untuk menghindari pantulan klereng itu
"Ini gawat juga, dia bisa dengan asal asalan membidik dan kemungkinan akan memantul dan mengenaiku, sialan juga, hal seperti itu tidak berlaku untukku, aku perlu fokus dan konsentrasi tinggi untuk bisa membidik, sepertinya ini gawat" gumam Jery sambil terengah engah
"Mereka berdua hebat, tapi walaupun klereng sihir itu lebih diunggulkan, tapi mungkin ada celah untuk melakukan serangan balik" ujar Wizy yang tampak menikmati pertandingan
Jery mencoba menganalisis kekuatan prisai sihirnya, jika dipikir pikir setelah melihat Master Wizy bertarung kemarin ia menyadari sesuatu yang mungkin akan mengubah keadaan
Yasha kembali membidik lalu melepaskan serangan yang tidak dibalas Jery sama sekali, klereng itu melesat kencang lalu dengan cepat dapat dihindari Jery yang sudah bersiap, benar saja, klereng itu memantul namun dapat diredam oleh prisai sihir berwarna biru transparan yang dibuat Jery, satu hal yang berbeda ternyata prisai itu dapat diarahkan kesegala arah, posisi dan tingkat kekuatan prisai itu juga tergangung pengendalinya, orang orang mulai kembali bersorak karena sepertinya Jery dapat mengatasi masalahnya.
"Heyyy kau orang yang sangat tidak asik, emm... sepertinya kau mirip Bang, Tapi....! Sekaramg giliranku...., Burst Lightning...!!" sebuah pancaran anak panah melaju dengan kecepatan kilat
Serangan itu dapat dihindari dengan cepat sehingga panah itu menabrak dinding yang berhasil meruntuhkan sebagiannya dan menciptakan ledakan kuat sehingga menyebabkan Yasha kehilangan keseimbangan, ia tertatih tatih kemudian melompat dan salto untuk menjauh, ditengah kepanikannya setelah diserang dengan kekuatan sebesar itu tiba tiba punggungnya menabrak dinding sihir yang dibuat Jery tepat ditempat Yasha tuju.
"Heh... kena kau," ujar Jery dengan pelan yang tanpa berpikir lama ia langung menarik panahnya dan hendak melakukan serangan terakhir
"Yasha tampak kewalahan dan tidak sangup untuk menghindar, ia hanya bersender di prisai itu dan mungkin akan menerima kekalahan. Teman teman yang lqin bersorak dan sangat menikmati pertandingan mereka
Panah Jery melesat dengan kencang tepat menuju Yasha yang terlihat lemah, namun sepertinya serangan itu tidak berhasil mengenai Yasha karena dengan tiba tiba pula dihalau oleh bola energi dari Master Wizy
"Haa...?" Kaget Jery
"Astaga, dasar payah, pertandingan ini bukan untuk menghukum lawan, jadi pertandingan berakhir atas kemenangan Jery..." triak Master Wizy tanpa berpindah dari posisi awalnya.
"Aku berhasil Bang" batin Jery sambil menengok langit dengan pancaran terik matahari
Di Class Fighter Bang sama sekali belum mendapat giliran bertanding, dari para Fighter Fighter lain iatelah mengamati kekuatan teman temannya, ia sama sekali tidak terkesan ataupun sepenuhnya menikmati pertandingan itu, ia hanya merasa mengantuk, sampai tiba tiba giliran bertandingnya tiba. Lawannya kali ini adalah seorang kakak kelasnya dulu bertubuh besar dan berotot kekar, tampak orang itu pernah belajar bela diri yang membuat Bang sedikit merasa semangat.
"Jangan main main kau bocah, jika kau tidak mau terluka maka menyerah saja?" Gertak orang besar yang bernama Poul itu dengan mulut besarnya.
Mereka saling berhadapan, tatapan Poul sangat tajam dengan hati kesal melihat sikap cuek Bang. Pertandingan dimulai, Poul mengepalkan tangannya lalu pancaran sihir berwarna kuning terang menyelimuti bahkan seluruh tubuhnya, kemeriahan dirasakan seisi arena pertandingan, para Fighter lain merasa ragu dengan kemenangan lBang, namun mereka sangat antusias
"Orang ini...!!" Batin Master Mics menyaksikan pertandingan itu, ia terus mengingat ingat bagaimana Bang mwnghajar Dark Falis dengan satu hantaman, dirinya meyakini bahwa orang itu akan menjadi murid terbaiknya
"Maju..." triak Poul dengan brutal dan melesat kearah Bang sambil mengayunkan tangan besarnya
Pukulan demi pukulan dilesatkan , Bang terus terpental dan dirinya selalu dikejar Poul habis habisan, tangannya berusaha menangkis dengan disilangkan, penonton bersorak memuji kehebatan Poul melakukan serangan dengan sangat kuat.
"Tapi, ini sama sekali tidak sakit ya?" Batin bang tanpa ekspresi apapun walau sudah berkali kali terhempas keberbagai penjuru arena
Poul mulai kewalahan dan berusaha mengakhirinya dengan satu pukulan, waktu sudah hampir habis dan tak satupun serangan brutalnya itu yang bisa menumbangkan Bang, tanggannya bersinar cerah lalu dengan sekali hentakan mumukul dan meledakannya kedinding arena
"Serangan itu cukup hebat mustahil jika dia tidak terluka" gumam Master Mics dengan kagum
Mata Poul terbuka lebar, nafasnya terengah enah dengan wajah kaget, Bang dengan kedua tangannya masih saja dapat menangkis serangan itu dengan baik, bahkan walaupun dinding yang dihantamnya telah terkikis, tubuhnya masih berdiri dengan kokoh
Bang coba mengayunkan tangannya seperti sedang melakukan peregangan, hal itu membuat Poul terlihat sangat marah, ditambah lagi para Fighter lain yang menyaksikan itu mungkin akan1 berfikir bahwa dirinya lemah.
"Astaga, Bang benar benar membuat pertandingan ini tidak seru, termyata aku salah jika hanya menempatkannya di Class Warrior II, tapi yasudahlah" batin Master Mics dengan tenang
Pertandingan belum usai, Poul kembali memancarkan energi sihir lalu berlari dengan kencang dengan memusatkan energi sihir di kedua tangannya, seketika ia menyerang Bang tertubi tubi tanpa jeda, serangan itu mendorong Bang menghantam dinding yang dengan brutal terus dihajar oleh Poul atas nama amarahnya. Penonton mulai takjub dan mata meraka tak sangup lagi berkedip agar tidak ketinggalan apapun, dinding itu mulai retak dan bahkan hampir jebol,
"Peraturan mengatakan bahwa Warrior yang keluar arena dinyatakan kalah!" Triak Master Mics dengan keras dari tempat ia mononton
Setelah mendengar hal itu, semangat Poul seketika tersulut dan membuat kobaran energi sihir di tangannya bertambah terang
"Selesai sudahhh... aku yang akan naik Class..."
Triakan Poul itu membuat Bang teringat Akan apa yang dikatakan Jery dan Regina tadi pagi bahwa mereka akan naik Class bersama. Mata Bang seketika terbuka kemudian berubah menjadi tatapan tajam, kedua lengannya yang disilangkan tiba tiba memunculkan ring sihir berwarna hijau toska yang awalnya menyatu lalu terbagi menjadi dua yang akhirnya memutar di pergelangan tangan dan lengannya, ring itu memancarkan cahaya yang menyilaukan mata semua orang, lalu dengan kuat menahan serangan Poul
"Aaa... aku takkan menyerah, aku tidak terima kalah dari orang sepsrtimu, musnahlah kau..." triak Poul yang amarahnya sedang berada dipuncak
Seketika kaki Bang dialiri cahaya sihir hijau toska miliknya yang membuatnya berhasil menghindar dengan melompat
Tangan Poul mulai memunculkan asap dengan nafas yang sangat terengah engab, dinding itu hamipr saja ambrol sepenuhnya dan Bang belum jadi kalah
"Kau benar benar sialann... dasar tidak berguna...." triak Poul dengan keras
"Begitu ya?" Saut Bang dengan pelan
Tatapan tajamnya yang kelihatan sangat mengerikan itu membuat Poul merasa takut dan perlahan mundur, namun karena ia tidak ingin hargadirinya hancur karena nyalinya diciutkan oleh Bang, jadi dirinya dengan brutal mengluarkan seluruh kekuatan terakhirnya
Dengan tenang Bang dapat menghindar lalu melakukan serangan balik dan menendang perut Poul, seketika orang besar itu terpental kedinding terjauh dan meringia kesakitan, tidak sampai disitu, kini tangan Bang mulai mengeluarkan pancaran sihirnya, kedua ring sihir yang mengelilingi tangannya kini berputar lebih kencang lalu mengiringi langkah Bang untuk melakukan pukulan terakhir dengan tatapan dingin
"Ini gawat!" Master Mics seketika melompat lalu dengan kekuatan sihir sucinya ia menangkis serangan Bang yang membuat mereka terpental ke belakang dan membuat dinding yang mereka berdua tabrak menjadi roboh hingga melesatkan keduanya keluar arena, ledakan hebat terjadi, para Fighter lain hanya bisa heran dan kebingunan dengan situasi yang terjadi, tempat itu seperti akan runtuh, semua orang panik lalu bergegas keluar arena meninggalkan Poul yang masih kesakitan terkapar dipojokan
"Orang macam apa itu" rintih Poul yang seketika membuatnya ambruk pingsan
Suara gemuruh itu terdengar samai ke telingga orang orang di Class lain, yqng lebih mengejutkzn adalah keadaan Bang ataupun Master Mics yang masih berdiri tegap tqnpa luka sedikitpun,
"Pukulan biasanya sampai sekuat ini ya?" Batin Master Mics sambil terus memandangi Bang dari kejauhan yang tampak tenang tanpa exspresi
"Wahh... dahsat sekalii - hebat sekali diaa... - orang itu bisa menandingi Master" riuh para Warrior lain setelah menyaksikan Bang masih berdiri tanpa luka
"Aa... ini gawat, jika mereka tau sebenarnya bisa repot...!!" Bang terlihat panik dan gugup dirinya diperhatikan semua orang, tatapan tajamnya seketika menjadi tatapan konyol
Para Warrior dari Class lain berdatangan ke Class Fighter, kebingungan Bang semakin membuatnya panik yang mendorongnya melakukan hal tidak terduga. Tiba tiba ia memegangi pundaknya lalu dengan berpura pura kesakitan ia jatuh pingsan didepan semua orang.
Hari yang cukup melelahkan di IMS )Infinity Magic School) Rizen, karna kehebohan yang terjadi siang tadi, pertandingan harus mengalami jeda, sesuatu yang patut disyukuri Bang adalah kenyataan bahwa tipuan konyolnya dipercayqi orang orang, menurut mereka dirinya adalah orang yang kuat, namun masih dalam batas wajar sebagai seorang Warrior Class II karena dirinya sampai pingsan setelah menerima hantaman Master.
IMS Rizen kini kian sepi, orang orang mulai krmbali kerumah masing masing untuk menikmati soto dan lain sebagainya, tampak hari sudah sore, disebuah ruangan yang dulunya adalah ruang guru, kini dipertemukanlah para ketiga Master dengan Bang seorang. Dalam benaknya, Bang sudah tau apa yang akan mereka bahas,
"Kurasa tipuan itu tidak mempan pada mereka ya" batin Bang yang sedang bertatap muka serius dengan Master Masternya
"Jika dia memang punya kekuatan besar, biarkan saja dia menikmati itu, bukan begitu?" Tanya Master Wizy yang mulai melangkah maju untuk memberi penjelasan
"Lagipula sepertinya dia bukan orang sombong yang ingin tenar" saut Master Rast dari belakang Master Mics
"Kami hanya ingin memastikan saja, mungkin kekuatanmu itu jauh diatas teman teman yang lain, mungkin juga setara dengan kami..., tapi..., apa keputusanmu?" Tanya Master Mics dengan serius kepada Bang
"Kurasa menjadi kuat itu membosankan ya? Dengan kata lain, sepertinya aku akan berpura pura saja"
"Kami tidak kaget mendengarnya, dan kami akan menjaga rahasiamu"
"Yaa, kuharap begitu
"Tapi Bang, jika kau bersekolah di IMS Rizen, itu berarti kau murit kami, bantuanmu mungkin kami butuhkan"
"Kalau begitu, kau bisa memilih, mau naik ke Class II atau Langsung Elite?" Tanya Wizy dengan santainya
Sebenarnya tawaran seperti itu pasti akan ditolaknya, namun ia diam dan melamun sejenak seakan akan sedang mempertimbangkan jawaban, walaupun yang ia pikirkan sebenarnya adalah tentang sesuatu yang harus dibelinya nanti intuk makan malamn. Jam di sudut ruangan terus berdetik, cahaya matahari dari barat sudah cukup menerangi kqntor itu sambil memancarkan cahaya hangat menembus jendela