
Embun embun berkilauan indah meluncur dari atas daun daun, kehangatan mentari pagi sudah dapat dirasakan semua orang, Bang terbangun dari atas kasurnya, menikmati segarnya udara pagi dengan membuka tirai dan jendela.
"Kelihatannya aku terlambat" ujarnya dengan santai
Derap langkah keluar rumahnya terlihat dari kejauhan, jalan kaki adalah aktivitasnya tiap pagi jika ingin kesekolah, lagipula jarak dari rumahnya cuma sekitar 300 meter menuju SMA Rizen. Tampak semua orang sibuk pada pagi itu, terlihat jalan jalan retak, kaca kaca pecah bahkan rumah rumah pun ikut runtuh membuat para pemiliknya melakukan perbaikan sebisa mungkin, walaupun keadaan tampak kacau namun kebersamaan tolong menolong mereka sangat baik
"Jika dipikir pikir, kenapa sekolah justru tidak hancur ya, kalau hari ini libur mungkin aku juga bisa membantu Asami membereskan rumah" batin Bang
Satu satunya bangunan yang masih kokoh berdiri adalah sekolah Bang, ia menyadari bahwa luar gedung sekolahnya sudah sepi pertanda kelas sudah dimulai. Ia menyusuri lorong lorong dan hanya menemukan kesenyapan pagi yang aneh
"Jangan jangan memang hari ini libur?" Dirinya bertanya tanya kebingunan sampai ia masuk kekelasnya sendiri
"Astaga... dua hari kau terlambat" sambut Regina yang tampak sendirian terduduk dikursinya
"Aaa... dimana yang lain?"
"Kau lupa ya?"
"Tidak juga, hari ini kamis, aku ingat"
"Ayo ikut aku" saut Regina sambil menggandeng tanggan Bang lalu menyeretnya kesuatu tempat
Mereka berjalan cepat kearah belakang, Bang tidak habis pikir apa yang sedang terjadi, dari kejauhan terdengar keramaian dari lapangan belakang sekolah yang membuat Bang penasaran. Semua irang berkumpul di sebuah tanah lapang sambil mengobrol keras yang jelas menciptakan kegaduhan sangat ramai.
Dari atas fodium tampak tiga orang makhluk yang sebenarnya mirip manusia namun berpakaian aneh layaknya ksatria
"Siapa orang orang bodoh itu?" Tanya bang berpura pura tidak tau untuk mwnyangkal bahwa dirinya lupa bahwa sekolah ini adalah sekolah sihir sekarang
"Diamlah." Gertak Regina
"Slamat datang dihari pertama sekolah sihir! Namaku L-Mics akan menjadi kepala sekolah baru disini, kami bertiga akan menjadi pembimbing, sekaligus pengajar kalian untuk menjadi seorang Warrior!" Ujar Mics dengan lantang
"Seperti mimpi saja ya"
"Ini keren"
"Akhirnya aku punya kekuatan..." riuh para murid yang merasa gembira menjadi seorang Warrior
"Kalian adalah generasi pertama Warrior di bumi, aku tidak tau akan ada generasi selannutnya atau tidak, tapi bersiaplah untuk ditempa disini" triak Wizy dengan semangat
"Dalam sekolah sihir ini kalian akan belajar memunculkan potensi potensi sihir dalam diri kalian, setiap saat monster datang kebumi, maka itu akan menjadi misi kalian untuk menghabisinya. Ketentuan misi ditentukan oleh tingkatan class kalian" Rast menerangkan dengan aerius
"Class Warror dibagi menjadi Warrior class I, Warrior class II, warrior class III, Elite of Warrior, dan Master of Warrior seperti kami. Kalian bisa memanggil kami Master, sekarang kalian berada di warrior class I" Mics melanjutkan keterangan Rast yang belum usai, kemudian mengangkat tangannya lalu kembali memancarkan bola energi sihir persis seperti cahaya anugrah, energi itu juga terpancar kesemua orang
"Apa kita diberi kekuatan lagi?" Tanya orang orang dengan polos
"Tanda apa ini?" Ujar Jery yang kaget melihat cahaya itu membuat tangannya memiliki tanda seperti tato
"Tapi ini keren" saut Regina di sebelahnya
"Tanda itu akan menunjukan identitas kalian sebagai warrior, itu adalah tanda class 1, jika sudah waktunya kalian naik class maka tanda itu akan memperbarui logonya.
Waww... hebat!"
"Aku harus bisa mencapai Master" gumam semua orang dengan gaduh yang menunjukan kesenangan dalam hati mereka
"Astaga, mereka tampaknya senang ya? Padahal menjadi warrior bukan hal yang menurutku mudah" ujar Wizy kepada kedua temannya
"Selagi ada semangat dalam diri mereka itu akan baik, mereka akan baik baik saja" saut Mics dengan tatapan tajam
"Walaupun sebenarnya mereka payah, tapi apa kau yakin mereka akan kuat Mics?" Tanya Rast
"Kita lihat saja nanti.
"Kita bertiga berarti akan menjadi Master mereka ya?"
"Yaa, kelihatannya merepotkan tapi ini tugas! Kau sudah memikirkannya bukan? Rast?
"Tentu saja..., Semuanya dengarkan aku baik baik! Kalian semua akan dibagi menjadi tiga klompok Warrior, setiap klompok akan menggunakan ruang kelas yang sudah diatur di bumi, ruang kelas 1 akan digunakan oleh kalian para Warrior tipe serangan jarak jauh atau Shooter yang akan dibimbing oleh Master L-Wizy
"Ruang kelas 2 akan diisi para Warrior jarak menengah atau Slayer yang akan dibimbing oleh Master L-Rast" saut Mics
"Dan sisanya berarti Warrior jarak dekat atau Fighter yang akan ditanggung jawabi oleh Master L-Mics" sambung Wizy yang tampaknya juga bisa serius
"Kalau begitu aku tidak sekelas dengan Bang lagi ya?" Batin Regina tampak sedih
"Kalau begitu teman teman, mari kita tunjukan kalau kita adalah warrior terbaik dikelas kita masing masing!" Kata Jery dengan samgat semangat lalu pergi meninggalkan mereka bersama rombongan ke kelas satu
"Kalau begitu Regina...,"
"Tunggu Bang, apa kita bisa pulang bareng nanti?" Tanya Regina setelah menyela perkataan Bang
"Tidak masalah, jaga dirimu ya!" Saut Bang lalu pergi meninggalkan Regina untuk menuju kelas tiga
"Kalau begitu aku tidak akan kalah...!!" Gumam Regina yang kemudian bergegas menyusul rombongan ke kelas dua
Beberapa saat telah berlalu, mereka semua dikumpulkan disebuah ruangan luas, kelas satu dikumpulkan disebuah lapangan belakang sekolah, kelas dua dan tiga dikumpulkan di ruangan yang sebelumnya menjadi tempat rapat yang berbeda. Masing masing kelas diberi tahu kalau temlat itu akan menjadi tempat latihan inti mereka.
"Takkusangka tempat yang dulunya dipenuhi meja kursi sekarang menjadi kosong dan sangat luas, menarik juga" batin Bang dengan sangat santai
Rast , Wizy, dan Mics telah berada di hadapan para murid muridnya, mereka menyambut para Warrior untuk memberikan motivasi, akhir pembicaraan antara guru dan murid itu adalah
"Kalau begitu, sudah saatnya" ujar Wizy
"Ujian pertama kenaikan class" saut Rast ditempat lain
Walaupun para Master tidak berada dalam satu tempat, akan tetapi mereka memiliki satu tujuan yang sama.
"Aaa... apa?"
"Dihari pertama sekolah...??
"Bertarung satu lawan satu?" Semua siswa dikelas manapun seketika kaget bukan main, mereka masih tidak mengerti dan berpikir bahwa itu adalah hal buruk
"Master Rast! Apa maksudnya srmua ini?" Tanya Regina dengan nada tinggi
"Seperti yang kukatakan barusan, diujian pertama kenaikan Class kali ini kalian akan bertarung satu lawan satu, lawan kalian akan ditentukan secara acak, jadi bersiaplah
Dikelas satu Wizy juga menjelaskan hal yang sama
"Pemenang pertarungan akan otomatis naik ke Class 2, dan yang kalah akan tetap di Class 1"
Penjelasan itu juga disambung Master Mics di kelas tiga
"Jika kalian kalah itu tidak masalah, tujuan kami membuat Class adalah untuk mengukur kemampuan kalian guna menentukan misi yang akan kalian hadapi. Yang menang akan naik ke Class 2 dan akan masuk ke kelas A, B, dan C, dengan begitu yang kalah akan masuk kelas D, E, dan F. Semuanya mengerti?"
"Yaaa..."triak semua orang dengan semangat.
"Kurasa ini tidak adil, tapi sudahlah" batin Bang
Sebelum memulai pertandingan para Master memberikan arahan kepada murid muridnya. Dikelas Shooter yang dipimpin oleh Wizy, ia berkata
"Berdiri ditempat masing masing, buka telapak tangan kalian lalu alirkan energi sihir dengan diiringi fokus
"Jangan jangan?"
"Mungkin kah?"
Gumam para Warrior yang seketika mulai mengangkat tangan mereka. Satu per satu pancaran energi sihir berbagai warna muncul, ditangan mereka kini tercipta berbagai senjata yang berbeda beda, mulai dari senjata laras panjang, pistol, meriam, bahkan bumerang juga tampak digenggam para Warrior muda itu
"Kurasa panah memang senjata terbaikku" ujar Jery yang tampak biasa saja karena tempo hari pernah menggunakannya untuk menghabisi Dark Ledina
Hal serupa juga terjadi di kelass Slayer, Rast juga memerintahkan murid muridnya menentukan senjata mereka. Karena Slayer adalah Warrior jarak menengah, jadi senjata mereka didominasi oleh pedang, pisau, clurit, kapak, bahkan tombak. Dengan menggenggam sebuah pedang yang berkilauan dan tampak sangat tajam Regina merasa sangat bangga
"Berbeda dengan Slayer dan Shooter, Fighter adalah Warrior yang mengandalkan kekuatan fisik ditambah kekuatan sihir Fighter itu sendiri, kalian tidak perlu menggunakan alat apapun untuk bisa bertarung ataupun membela diri. Pejamkan mata kalian dan rasakan energi yang kalian miliki, satukan dengan tangan atau kaki terkuat kalian kemudian rasakan energi sihir itu memberikan kekuatan" ujar Mics di dihadapan murid muridnya.
""Jadi begitu ya?" Gumam Bang sambil melihat kepalan tangannya memancarkan aura hijau toska sama seperti waktu itu, dalam benaknnya ia berfikir kalau dia adalah penguasa elemen angin, walaupun tampak aneh dan tidak seperti yang ia bayangkan. Disisi lain tangan teman teman lain juga memancarkan energi sihir, tapi ia tau dan dapat membedakan elemen api, air, dan petir, ada juga yang memiliki elemen angin tapi tidak seperti miliknya
"Bang benar benar unik, dia memiliki kekuatan yang spesial, aku harus terus memperhatikannya" batin Master Mics melihat Bang yang tampak kebingungan demgan sihirnya.
Peraturan pertandingan kenaikan Class antara lain, tidak boleh menciderai lawan dengan fatal, jika dirasa tidak mampu diperkenankan untuk menyerah atau mengakui kekalahan, durasi pertandingan maksimal 5 menit, jika dalam waktu 5 menit tidak ada yang menang maka keduanya dinyatakan gagal atau kalah.
"Pertandingan pun dimulai, semua kelas menjalankqn peraturan dengan baik. Slayer, Shooter, maupun Fighter saling menunjukan kebolehan mereka masing masing yang diamati oleh Master mereka. Satu per satu dari mereka kalah, dan satu per satu dari mereka juga menang. Terkadang para Warrior itu harus melawan teman mereka, melawan kakak kelas mereka dulu, namun semua orang tampak serius melakukan serangan mereka demi naik Class.
Di Class Slayer sedang berlangsung pertandingan antara Regina penguasa teknik pedang api melawan Erika penguasa teknik pedang air
"Takkusangka kau akan menjadi lawanku ya Regina?
"Yaa, lama juga kita tidak mengobrol Erika, dulu dikelas satu kita rival dalam hal mata pelajaran ya, tapi sayang sekali kita harus berpisah kelas sekarang"
"Benar juga, tapi kurasa sekarang kita tidak bisa jadi rival lagi, karna air tentu saja dapat dengan mudah memadamkan api bukan?
"Astaga, kenapa aku harus melawan orang sombong sepertimu ya?"
"Di Class Slayer ini sebenarnya rata rata diisi laki laki, tapi kita justru dipertemukan, jangan menahan diri Regina...!!"
"Yaaa... akan kutunjukan bahwa api tidak selamanya kalah dari air"
Mereka berdua sama sama maju dengan pedang mereka masing masing yang memancarkan energi sihir, tampak keduanya cukup berimbang, ayunan pedang mereka tampak cepat dan bisa ditangkis satu sama lain,
"Teknik pedang air, Wave Puncture..." seketika Erika mengkukuhkan pedangnya, energi sihir kuat berkumpul membentuk aliran air yang menabjubkan lalu dengan satu gerakan membentuk garis lurus ia menusukkan pedangnya ke arah Regina
Regina terpental dan terhempas ke dinding arena pertarungan, getaran itu membuat para penonton bersorak ramai melihat pertandingan yang menegangkan itu.
"Aduh aduhh..., sakit ya?" Tanya Erika dengan nada mengejek
""Owww...? Begitu ya?" Emosi Regina tersulut dengan erat ia memegang pedangnya yang membuat energi sihirnya tampak menguat
"Menarik juga Regina"
"Bersiaplah Erika! Teknik pedang api Fire Loop" Regina melaju dengan pedang berkobaran api, ia berbalik badan lalu berputar hingga membentuk cincin api yang seketika ia tebaskan kearah Erika sehingga membelah glombang air dipedangnya. Triakan penonton yang takjub melihat kehebatan kedua Slayer itu sangat ramai, mereka salah beranggapan bahwa perempuan itu lemah, tapi sekarang mereka harus menarik kata kata mereka karna Regina dan Erika adalah Dlayer yang hebat
"Fiuhh... sakit kah Erika?" Saut Regina melihat Erika yang kine dibalasnya dengan telak.
"Lumayan juga, tapi ini belum berakhir." Gumam Erika dengan semangat kembali melaju kearah Regina
Mereka berdua terus berduel, lengkingan pedang mereka sangat keras, jika orang orang berpikir air akan dengan mudah mengalahkan api itu salah besar, dalam elemen sihir semua kemungkinan dapat terjadi dan hal itu sangat mengejutkan Erika maupun Regina.
Beralih ke Class Shooter, kini giliran Jery yang melakukan ujian pertandingan, diluar dugaannya, lawannya kali ini adalah seorang laki laki dingin yang tidak terlalu ia kenal karena tidak pernah ia lihat sebelumnya. Wajahnya tak tampak ekspresi apapun, ia berjalan dengan lemas dan pandangan kosong, orang itu bernama Yasha
"Aku ragu dia murid sekolah ini"
Pertandingan dimulai, Jery menggenggam panahnya dengan erat lalu mulai menarik pegas itu, seketika anak panah petir muncul dan bersinar terang berwarna biru. Pertandingan class Shoter memang tidak seramai pertandingan lain, hanya sering terjadi ledakan karrna tabrakan antar peluru.
Melihat Jery ingin melepaskan tembakan, seketika Yasha memanggil sebuah senjata dari tangannya, alih alih senapan atau yang lainnya, justu ia mengeluarkan senjata yang kokoh berbentuk huruf Y yang tidak salah lagi adalah ketapel.
"Menarik juga, jadi ini akan menjadi duel pegas ya?" Ujar Jery setelah membatalkan serangannya.
Dengan dua buah jarinya Yasha mengeluarkan butiran kecil seperti klereng berwarna hijau pekat kemudian ia bidikkan kearah Jery dengan santai, tanpa menunggu momentum orang itu langsung melepaskan tembakan yang seketika membuat semua orang kaget melihat tembakan itu bersinar sangat terang menuju tepat kearah Jery