First Attack

First Attack
Kedatangan Soul Eater



Sudah hampir satu jam tangannya menulis, digerakkannya pena sehingga menghasilkan huruf demi hurut yang perlahan memenuhi bukunya, sesekali matanya berkedip untuk istirahat, selain itu pandangannya juga terkadang harus menoleh untuk membaca isi buku tebal disebelahnya sebelum menulis sesuatu.


Beberapa saat kemudian dirinya mulai menutup beberapa buku kemudian mematikan lampu belajarnya, diraihnya sebuah ponsel dari sudut meja, tampak beberapa chat dari grup kelas yang sepertinya membahas hal kurang penting, selain itu satu chat dari temannya setengah jam lalu sudah dapat ia prediksi


"Bamgg, aku tau kau orang baik, jadi bagaimana kalau kau berbagi jawaban denganku?"


Dengan lemas dirinya kembali menghidupkan lampu kemudian membuka buku tugasnya, dipotertenya tiga halaman jawaban yang baru saja ia selesaikan kemudian mengirimnya ke Jery tanpa meninggalkan sepatah katapun untuknya, helaan nafasnya tanpak dengan jelas menunjukan kepenatan setelah beraktivitas seharian yang membuatnya langsung melempar HP nya ke kasur tanpa menunggu ucapan terimakasih dari Jery.


Malam yang sepi bagi Bang tatkala dirinya mencoba untuk beristirahat, kenyataan pahit yzng harus dia terima bahwa kehidupannya sangat membosankan, bahkan dia sudah hapal bahwa saat itu mungkin sekitar jam sembilan seperempat. Dipembaringannya pun ia selalu berharap semoga saat ia bangun tidur besok akan ada hal menarik yang dapat ia lakukan.


Keesokan paginya ia merasa sangat biasa, karena membosankan, Bang memutuskan untuk datang terlambat kesekolah walaupun sebenarnya ia tidak terlalu menyukai masalah, niatnya seakan percuma saja ketika dirinya masuk ke kelas, walaupun dirinya datang terakhir namun kelihatannya tidak ada yang berubah dari kemarin, kemarinnya lagi dan kemarinnya lagi.


"Bangg? Tumben sekali kau datang terakhir, untung saja pengajarnya belum masuk kelas ya, hahaa"


"Sayang sekali"


"Eh, apanya yang sayang sekali, oiya terimakasih untuk contekanmu tadi malam, kau memang selalu baik"


"Sayang sekali ya"


"Hehe, besok aku akan membantumu, tenang saja!"


"Ya baguslxh"


Hari mulai siang, sudah berjam jam mereka berada didalam kelas yang sangat ramai, Bang merasa sangat heran melihat semua orang dikelasnya bisa tertawa lepas dengan teman temannya.


"Hey Bangg, apa yang kau lihat?"


"Aa, siapa kau?"


"Apa maksudmu siapa kau, sudah hampir setengah tahun aku duduk dibelakangmu, dan sekarang kau tanya siapa aku!?"


"Ee, emm, begitu ya? Ada apa"


"Apa apaan raut wajahmu itu, aku tidak pernah melihatmu belajar atau serius dalam pelajaran, tapi kenapa kau selalu merebut rengking satu ku? Kau tidak mengerti perasaanku yang setiap hari pergi keperustakaan untuk belajar dan berusaha menjadi murit terbaik dikelas ini! Aku tidak terima!"


"Oww, maaf"


"Cehh, orang ini benar benar menyebalkan" kira kira begitulah percakapan yang terjadi antara Bang dan Regina yang disaksikan semua teman teman mereka dengan seksama, dimata semua orang, Bang memang orang yang samgat hebat, dirinya selalu mendominasi segala hal walaupun dirinya kurang banyak bersosialisasi namun ia samgat disegani.


Lagi lagi hari yang membosankan untuk Bang, meskipun tak pernah mengeluh, tapi Bang lumayan jarang merasakan kesenangan dimanapun dan kapanpun.


Wajahnya tak henti  henti melihat jendela luar sambil memandangi kilauan cahaya hasil pantulan dari gedung disebrang sembari bertopang dagu, hari itu sangat cerah dan sepertinya lumayan panas jika dikelasnya tidak ada pendingin ruangan, tapi entah kenapa dari jauh tampak awan aneh yang bergerak cepat menggusur cahaya sehingga dengan singkat membuat keadaan jadi mendung. Semua orang masih belum menyadari apa apa karena mereka sibuk, Bang memang tau sesuatu akantetapi mungkin itu hanya awan mendung biasa. Tatapan suramnya yang konyol itu kelihatannya mulai tertarik dengan suatu hal setelah beberapa saat memandangi langit


"Benda apa itu ya? Pesawat kah? Ehh sayapnya bergerak, berarti itu burung" keadaan mulai aneh tatkala batin Bang mengatalan ada burung hitam berputar putar mengiringi awan mendung besar, ditambah lagi ternyata burung itu tidak sendirian, bahkan bisa dibilang itu grombolan burung yang banyak


"Burung burung itu kelihatannya aneh, jika dibilang gagak sepertinya bukan, lagipula mereka besar sekali" orang orang dikelas mulai tertarik melihat luar jendela karena mendengar suara aneh, mereka semua terkejut dan mulai berspekulasi yang tidak tidak. Seperti biasanya, Bang tidak terlalu banyak bertingkah, namun dalam hatinya juga penasaran melihat hal aneh yang dengan jelas terjadi didepan matanya.


Sesosok manusia berjubah muncul dari belakang kawanan burung burung dengan perlahan menembus awan, tampangnya sangat mengerikan karena tampak aura aura gelap menyelimuti tubuhnya dan ditambah lagi dirinya bisa melayang seperti hantu


"Coba lihat! Ada hantu...!!" Triak salah seorang penghuni kelas yang seketika meresahkan teman temannya


"Yang benar saja, mana ada hantu siang siang, tapi,,, apa itu ya?" Bang mencoba untuk temang dqn berusaha untuk tidak melewatkan fenomena langka itu, padahal ia tau bahwasannya mungkin saja mereka sedang dalam bahaya. Kemunculan makhluk menyerupai manusia berjubah itu seakan membawa instruksi bagi kawanan burung birung raksaksa, mata makhluk itu menyala terang bahkan seperti gagak yang ada di film film namun yang ini sangat besar seperti burung elang raksaksa yang terbang bebas kegiarangan seakan akan menumukan santapan mereka. Mulut besar mereka terbuka memuntahkan batu batu berapi sehingga menghujani kota dengan dasyat, semua orang panik setelah mendengar ledakan, merasakan gempa, dan melihat bangunan bangunan beton mulai runtuh, tak terkecuali semua siswa yang berada di kelas Bang berusaha berlari menyelamatkan diri karna ledakan bertubi tubi itu menciptakan gempa yang sangat kuat, Kali ini Bang benar benar ketakutan dan berlari keluar menyusul teman  temannya ke lantai bawah


"Apa apaan barusan itu, aku tidak ingin mati konyol seperti ini, hidupku sudah sangat membosankan dan alu mati begitu saja tanpa merasakan kebahagiaan sedikitpun? Tidakk, aku tiak terimaa!" Batin Bang mulai ketakutan, kakinya yang cekatan mulai melangkah dan melompat dengan cepat, dari atas kepalanya mulai jatuh material material kecil yang membuat jantungnya berdebar debar, karna termasuk keluar terakhir Bang sangat berharap bisa selamat dari mala petaka ini, semua orang berhamburan pergi ketempat lapang untuk memghindari keruntuhan bangunan, dengan nafas terengah engah Bang melihat Jery berlari kearah utara bersama beberapa orang lain, dengan bergegas ia mulai menyusulnya sambil berharap selzmat karna sepertinya serangan burung gila itu belum usai


"Jery tunggu! Jangan tinggalkan aku!"


"Cepatlah nak kita harus mencari tempat selamat!"


"Mau lari kemana kita?"


"Jangan bercandaa! Kita bisa mati jika pergi ke gedung parkir, apa kau tau itu? Heyy!!"


"Masih sempat kalau kita cepat, lqlau aku mendapatkan motorku, aku akan membantumu kabur!"


Jery berlari dengan bangga sambil memegangi kepalanya, tangan tangannya mulai tergores serpihan seprihan reruntuhan yang mulsi berjatuhan, terdengar gemuruh mengerikan dari belakang Jery dan Bang yang kemudian disusul jatuhnya atap atap gedung parkir yang membuat suasananya benar benar dramatia


"Ini gawat sekali Bang, untuk sekarang kita lari dulu sejauh mungkin!"


"Jadi begini akhir hidupku yang membosankan? Mati tertimpa bangunan ya? Benar benar tidak lucu!" batin Bang merengek sangat sedih melihat keadaan yang benar benar ia benci, ditengah lari putus asanya ia kembali berfikir apakah setelah mati dirinya akan jauh lebih baik dari hodupnya atau tidak, disiai lain takdir telah mempertemukan mereka dengan kecelakaan, pilar besar penyangga gedung tiba tiba ambruk dari samping kemudian menuju arah mereka bersama atap atap yang setidaknya membuat tangan mereka berdarah. Bang tersungkur dengan keras kearah samping dengan bagian bawah tubuhnya tertimpa patahan pilar dan perlahan mulai yerkubur terkubur diantara reruntuhan atap.


Cahayau mulai menghilang dari matanya, kepalanya tidak terluka namun tubuhnya mati rasa, Bang tersenyum ringan ditengah tengah perjalanan menuju kematiannya, hatinya yakin bahwa mungkin ia takkan kebosanan di alam lain dan mungkin bisa kembali bertemu Ayah dan Ibunya. Matanya mulai terpejam pasrah, nafasnya mulai tak beraturan yang membuatnya yakin hidupmya akan segera berakhir namun, ditengah pejaman matanya dirinya masih bisa melihat cahaya terang dari suatu tempat, seorang manusia bercahaya mengangkat semua reruntuhan yang menimpamya yang jistru membuat Bang bingung


"Jadi perpindahan ke dunia lainku sepwrti ini ya, kukira akan sakit tapi aku diselamatkan Malaikat, apakah aku akan dibimbing ke surga" kata katanya itu mengejutkan Makhluk bercahaya yang dikiranya malaikat heran


"Kenapa kau bicara begitu, berterimakasihlah karna sudah kuselamatkan, aku ada urusan penting, jadi cepat katakan!"


Bang sama sekali tidak mendengar dan menghiraukan kata kata makhluk itu, dirinya masih tertunduk lemah tanpa menoleh kearah lawan bicaranya


"Heyyy, kau dengar aku tidakk!"


"Haa?"


"Manusia benar benar menyebalkan!"


"Haa? Kenapa aku masih ada disini?"


"Kau ini ngomong apa sih?"


"Aku baru saja menyelamatkanmu, kau belum mati!"


"Jadi begitu ya"


"Aku baru saja menyelamatkan hidupmu, dan kau cuma bilang jadi begitu ya? siallan! Brengsekk!"


" Aa, terimakasih?"


"Payahh!" makhluk itu kelihatan marah namun kelihatan konyol, tiba tiba sebuah bola api datang kearahnya dengan kecepatan tinggi, dengan satu tangan tanpa berbalik badan ia menangkis serangan itu semudah memukul balon


"Bagaimana manusia? bumi kalian dalam bahaya, tapi aku akan menyelamatkan kalian, kalau begitu aku pergi dulu, jangan sampai mati!"


Makluh cahaya itu tiba tiba berubah menjadi sangar dari yang tadinya tampak konyol, ia melesat kelangit kemudian menghabisa birung burung raksaksa itu seperti menepuk lalat, kekuatannya sangat dasyat dan tanpa waktu lama ia berhasil menghabisi semua teror langit yang ada


Bang merasa sangat bingung, namun ia teringat dengan Jery yang sepertinya juga tertimpa reruntuhan, ia kembali menoleh belakang lalu menerikanan nama Jery dengan kencang


"Jery...!!"


"Ada apa?


"Haa?"


"Kenapa?"


"Sejak kapan kau disitu?" Bang coba menanyakan sesuatu pada Jery yang terduduk manis diatas reruntuhan bangunan


"Yaa, sebelum kau, makhluk itu sudah menyelamatkanku duluan, ini gawat juga ya, apa tujuan mereka ya?"


"Begitu ya?" Bang hanya bisa kembali memandangi langit yang tampak seorang manusia cahaya melayang dan baru saja menghabiai monster monster aneh.