EVERLASTING LOVE

EVERLASTING LOVE
Treffen



Treffen (Deutsch) : Meeting (English)


Yuki Allain terperangah dengan apa yang ia lihat di sudut matanya. Bola matanya membulat sempurna dengan mulut menganga bak Gua Gouffre Mirolda. Dia berdiri kaku tak memedulikan tetes hujan yang menghujam setiap inci tubuhnya laksana serpihan kaca. Lain dengan Sylvaine yang santainya melangkah masuk setelah Sebastian sang pelayan membukakan pintu bergaya Rumania selebar dua meter. Pikirannya kembali sadar ketika Sebastian berdehem disertai senyum ramah, dia menundukkan badannya seraya mempersilakan Yuki masuk.


Alasan mengapa dia dibawa ke kediaman Sylvaine tidak lain karena ambruknya pohon beringin raksasa--berusia ratusan tahun--yang merusak akses jalan menuju rumahnya. Keterkejutannya seakan masih berlanjut tatkala ia berhasil melewati pintu masuk--yang bahkan sebuah mobil Jeep bisa melaluinya tanpa khawatir tergores. Kaca-kaca mozaik bermotifkan lukisan yang menempel di dinding memanjakan penglihatannya. Lampu-lampu antik khas era renaisans menggantung rapi di atap bercat pastel dengan ornamen tak kalah cantiknya. Bangunan yang disebut rumah ini lebih layak dijadikan istana raja Inggris kuno ketimbang tempat tinggal seorang pelajar SMA.


"Apa tidak masalah kalau aku masuk? Maksudku lihatlah," Yuki mengangkat sebelah kaki menunjukkan sepatu hitamnya yang basah pada bagian telapak, "sepatuku bisa mengotori lantai."


"Membersihkan rumah adalah kewajiban saya, Mademoissele ... ." Sebastian kembali menunjukkan senyumnya yang mampu menghipnotis gadis perawan manapun.


"Yuki. Namaku Yuki Allain."


"Baiklah, Mademoissele Yuki. Masuk saja biar saya carikan baju ganti untuk Anda," tawar Sebastian santun.


Pelayan keluarga Delcroixe itu berusia belum genap kepala tiga. Dia mengenakan setelan hitam putih di balik blazer mengkilapnya. Rambut bergaya pompadour ditata sedemikian rupa dengan gel yang membuatnya terlihat klimis. Yeah, dengan penampilannya dia lebih cocok bekerja sebagai model atau aktor.


Yuki meletakkan tas di atas sofa setengah lingkaran berbahan beludru halus. Sekali lagi dia mengedarkan pandangannya ke setiap sudut rumah Sylvaine. Lukisan-lukisan bernilai seni tinggi menggantung di sisi dinding yang tak berjendela. Beberapa perabotan antik bergaya kuno juga mengisi setiap celah ruangan, dia berani bertaruh harga vas bunga di depannya ini setara dengan uang jajannya selama satu semester.


Sialan ... dia benar-benar kaya.


Suara sepatu yang beradu dengan karpet setebal hampir setengah senti membuyarkan lamunannya. Sebastian membawakannya pakaian serta sandal ruangan. Kali ini sandal biasa yang banyak terjual di swalayan.


"Kamar mandinya sudah siap, Mademoissele." Sebastian sudah terbiasa selalu tersenyum--walau pada awalnya dia merasa pegal di wajah terutama bagian pipi. Dia memakai krim khusus agar tidak terbentuk kerutan di wajah karena kebiasaannya itu. Yuki menerima pakaian tersebut setelah menanggalkan blazer milik Sylvaine. Dia berjalan di belakang Sebastian yang menunjukkan letak kamar mandi, sambil sesekali melirik lukisan yang seolah haus perhatian.


Merah tiba-tiba menjalari wajahnya mengingat kejadian beberapa ratus detik yang lalu. Dia merasa salah tingkah karena Sylvaine tak kunjung melepas dekapannya, tak ayal ia menginjak tali sepatunya sendiri. Mengakibatkannya tersungkur di genangan air, rasa malu yang teramat bertubi-tubi menghujam perasaannya.


❄️❄️❄️


Direbahkanya tubuh pada ranjang dengan sprei motif doodle berwarna campur. Belum sempat tangannya meraih ponsel yang tergeletak di atas laci dipan, terdengarnya suara ketukan pintu membuat Sylvaine menghembuskan nafas berat. Dia membukakan pintu setelah merapikan rambut basahnya dengan tangan.


"Delcroixe-sama menunggu Anda di bawah," terang Sebastian di ambang pintu.


Sylvaine melangkah keluar sembari menutup pintu geser berbahan kaca gelap. Seorang pria dengan setelan formal bersandar di sofa dengan menyilangkan kaki di atas meja. Blazer biru navy yang sedikit basah membalut kaos hitam polos di dalamnya. Kirchoff Delcroixe cepat-cepat menurunkan kedua kaki begitu melihat putranya turun dari tangga spiral--diikuti Sebastian di belakang.


"Saya akan menyiapkan makan malam kalau begitu." Sebastian menundukkan kepala sesaat, bersiap unsur diri.


"Apa menu malam ini, Sebas?"


"Karena cuaca sedang dingin, sup adalah yang terbaik, bukan?" jawabnya mengembalikan pertanyaan.


"Oh tapi jangan memasakkanku sup keju lengket menjijikkan itu," tukas Sylvaine yang mengambil posisi duduk di sebelah ayahnya. Dia merentangkan tangannya bersandarkan sofa.


Kirchoff menoleh menatap wajah putranya heran, hampir saja dia kembali menyilangkan kaki di atas meja sebelum Sylvaine memukul pelan lututnya, "Apa maksudmu menjijikkan? Keju dan crouton membuat sup itu menjadi sempurna." Perdebatan yang tidak akan kunjung berakhir bahkan sampai perang dunia ketiga dimulai. Pasangan ayah-anak itu selalu klop dalam hal apapun--kecuali masalah selera sup.


"Sempurna seperti muntahan kucing. Apapun selain bubur lengket itu," jelas Sylvaine mempertahankan argumennya.


"Muntahan kucing jauh lebih baik daripada sup semerah pantat b a b i kesukaanmu itu." Kirchoff yang mulai jengkel tak ingin kalah. Sebastian hanya bisa memijat pangkal hidung mancungnya menyaksikan adu argumen kedua majikannya. Silat lidah mereka senyap seketika manakala perhatian Kirchoff terpaku pada seorang gadis, yang berdiri di belakang Sebastian sambil mengusap rambutnya dengan handuk.


Dia kembali menatap Sylvaine tajam, "Sejak kapan kau menjadi g i g o l o? Ini sudah ke-tujuh puluh empat kalinya kau membawa pulang seorang gadis."


Yuki membekap mulut dengan tangannya sendiri karena kaget, lain dengan Sebastian yang sudah lenyap hawa keberadaannya. Pelayan yang sudah mengabdi selama bertahun-tahun itu selalu menghilang ketika kedua majikannya mulai berdebat.


"Huh, bukankah Ayah yang sering membawa pulang perempuan? Biar kuingat, setidaknya sudah empat puluh dua kali Ayah membawa perempuan yang berbeda setiap kali pulang ke rumah," sahut Sylvaine memojokkan Kirchoff. Pria dengan mata hijau hutan itu hening sesaat mencari-cari balasan argumen yang bisa membungkam putranya.


"Hei mereka hanya asisten kerja Ayah."


"Hm? Asisten kerja mana yang memperlihatkan dataran rata yang dia sebut dada di hadapan atasannya?" Checkmate. Bendera putih segera ia kibarkan. Putra sulung sekaligus bungsunya itu selalu mengungkit masalah--yang bahkan hampir membuat si Asisten melakukan Seppuku--empat tahun silam. Kemenangan Sylvaine menutup perdebatan yang panasnya mengalahkan neraka di mana Lucifer tinggal.


Deheman Yuki membuat mereka kompak mengalihkan pandangan padanya. Kirchoff beranjak dari duduknya, dia mendekati gadis setinggi dadanya tersebut. Pesona dan kharisma milik Sylvaine sepertinya berasal dari pria yang jika ditelisik, berusia tiga puluh dua tahun ini. Andaikan posisi mereka berada di dekat tembok, Kirchoff sudah melakukan kabe don dari tadi. Dimana ia memojokkan Yuki sampai gadis itu bersandar di tembok, lalu meletakkan tangannya di dinding agar Yuki tak bisa kabur. Setelahnya tinggal-lah langkah terakhir yang paling mematikan, saat dimana manik netra keduanya saling mengunci. Sepuluh miliyar persen gadis manapun akan mati kutu, mati gaya, mati semuanya dengan cara itu.


Belum sempat dia menyentuh rambut Yuki yang terurai basah, Sylvaine sudah meletakkan blazer sekolahnya di kepala gadis itu, "Jangan berpikiran untuk menggodanya. Terakhir kali Ayah membuat Averill trauma karena pesona mautmu itu." Tatapannya seakan menghunus tepat di jantung Kirchoff.


Dia menoleh ke arah putranya sembari mengangkat kedua bahu, "Yeah, setidaknya aku ingin berkenalan dengan gadis ini." Kirchoff mengulurkan sebelah tangan sebagai isyarat mengajak berkenalan, tak lupa ia memasang senyum yang bisa membuat lelaki normal menjadi ... ugh, miring.


"Umm, sa-saya Yuki Allain." Dia sedikit gugup. Bukan karena terkagum dengan pesona ketampanan Kirchoff Delcroixe, melainkan tatapan Sylvaine yang setajam pisau Nesmuk seolah mengatakan Abaikan saja kakek tua itu.


"Yuki?" tanyanya membeo, "Nama yang bagus, seindah salju saat pertama kali turun."


Note!


• Mademoissele : Nona (sama seperti Madame, hanya saja digunakan untuk wanita yang belum menikah)


• Seppuku : Bentuk ritual bunuh diri oleh samurai di Jepang sebagai bentuk pemulihan nama baik. Dengan cara merobek perut dan mengeluarkan ususnya.


• Miring (Italic), lawan dari straight. Artinya orientasi sek*sual yang miring. (baca : Gayy) Thanks buat salah satu reader yg udah jelasin.


• Kabe Don ; Hmm sepertinya tidak perlu saya jelaskan karena sudah jelas.