
Populaire (French) : Popular (English)
Gugur daun telah terembus pertanda musim akan berganti. Riak sungai yang beradu dengan dinding paving menyambut bangunnya mentari di ujung timur. Angin lembut musim gugur membawa nyanyian burung di udara pagi. Netra hazelnya sesekali melirik sepasang insan yang saling menautkan tangan. Sepanjang jalan menuju sekolah dia sudah mendapati lebih dari selusin pasangan muda yang berangkat bersama. Sepanjang itu pula dia mendapati tatapan memuja dari para gadis yang sepertinya belum memiliki kekasih. Dia berharap parasnya tidak membuat dirinya menjadi populer, sedikitpun Sylvaine tidak berniat menjadi riajuu.
Dia meletakkan sepatunya di loker setelah sampai, diambilnya sepatu putih khusus yang disediakan sekolah. Eureka sangat menjunjung tinggi kebersihan, hukuman berat siap menanti siapapun yang melakukan pengotoran. Tujuh menit sebelum jam pertama di mulai. Sylvaine mengunci loker pribadinya , di sepanjang koridor lantai pertama dia masih mendapat tatapan. Kali ini tatapan aneh dari para murid laki-laki, peduli amat dengan mereka Sylvaine terus melangkahkan kaki jenjangnya. Dia sudah menduga ini, lelaki mana yang tanpa malu mengenakan jepit rambut silang berwarna cerah.
"Tahun pertama Sylvaine Delcroixe."
Langkahnya terhenti sebelum menaiki tangga, lehernya memutar mencari suara yang meneriakkan namanya. Seorang lelaki bertubuh lebih pendek berjalan cepat mendekati Sylvaine, dia memiliki potongan rambut quiff dengan tatapan dalam yang memberi kesan tegas.
"Setelah pelajaran selesai akan ada kegiatan klub. Seharusnya dimulai minggu depan, tapi aku memajukannya karena klub mengikuti kompetisi renang bulan depan. Jadi datanglah," jelasnya.
"Bukankah tahun kedua dan ketiga yang akan menjadi peserta?" tanya Sylvaine sambil beralih ke pinggir tangga.
"Memang benar. Tapi jika ada tahun pertama yang memenuhi kriteria, pembina klub mungkin akan mempertimbangkannya."
Sylvaine mengangguk takzim, "Yah nanti aku akan datang." Dia memandangi jam di lengan kirinya, LCD kecil yang terpasang menampilkan angka nol dan tujuh untuk bagian kiri, sementara sebelahnya menampilkan angka dua dan enam. Senior tahun ketiga yang juga ketua klub renang menepuk bahu Sylvaine sejenak, "Bagus. Bergegaslah, sebentar lagi bel."
❄️❄️❄️
Jemari kanannya terus menggoreskan ujung pena pada lembar buku, sesekali matanya melirik ke papan putih kemudian kembali lagi menatap buku. Sayup-sayup bisa ia dengar obrolan teman kelasnya yang sedang bebas. Bangku barisan belakang sudah pasti berisi siswa yang acuh tak acuh terhadap pelajaran. Sylvaine melemaskan otot-otot jari setelah merangkum materi Efek Doppler yang disampaikan guru pengajar. Dia berputar dan menyandarkan pinggangnya di tembok.
Seorang murid laki-laki yang duduk di belakangnya mencuri perhatian Sylvaine. Tubuhnya mungil terlihat dari lengan baju yang melebihi panjang tangannya. Dia memiliki rambut perak dengan mata sayu khas perempuan. Garis wajah serta bulu mata lentik menambah citra kewanitaannya.
"Ada apa, Sylvaine? Wajahmu memerah," ujarnya membuyarkan lamunan Sylvaine.
Sylvaine merundukkan kepala, dia melirik ke bawah meja teman di belakangnya ini. Nafasnya tercekat manakala ia melihat Caillen Varnhame memakai celana, bukan rok kembang seperti murid perempuan kebanyakan. Ternyata ada laki-laki berwajah perempuan batinnya.
"Ada apa?" ulangnya bertanya.
"Kau--laki-laki, kan?" Otak warasnya masih belum bisa menerima itu. Seorang lelaki enam belas tahun dengan paras cantik dan suara tinggi bak wanita tulen. Bagaimana mungkin ada yang seperti itu.
Bola mata merah amaranth Caillen berbinar dibarengi dengan senyum merekah di bibirnya, dia menekuk semua jari tangan kiri dan menyandarkan dagu padanya, "Iya."
Manis sekali, lebih manis dari semua murid perempuan di kelasnya. Sylvaine mengutuk jantungnya yang berdebar semakin tak stabil. Sylvaine sigap meraih buku tulis, dia mendekatkan benda itu pada wajah Caillen, "Jangan pernah menunjukkan senyum itu pada lainnya." Dirinya ingin memonopoli senyum manis itu sendiri, hanya dia seorang yang boleh melihatnya, tidak orang lain.
Bel listrik terdengar ketika kedua jarum jam tepat menunjuk angka dua belas. Siswa mulai mengeluarkan bekal makan siang dari tas masing-masing, mereka mulai menyusun meja dan bergerombol dengan kelompoknya. Sebagian memilih pergi ke kantin atau bermain dengan ponselnya. Sylvaine merapikan buku dan alat tulisnya, "Kau tidak membawa bekal, Silly Vaine?"
Dia mengerutkan sebelah alisnya, "Itu terlalu memberatkan dan juga siapa yang kau sebut bodoh?"
Sylvaine tidak menanggapi kawan barunya. Dia bangkit berdiri sambil merapikan jepit rambutnya agar mencegah rambutnya tidak jatuh menutupi penglihatan. Caillen memegangi seragamnya ketika ia hendak pergi, lelaki cantik itu juga tidak pernah membawa bekal dan ia terlalu malu jika pergi ke kantin sendirian. Mereka berbelok ke kiri setelah meninggalkan pintu kelas, jam istirahat yang cukup panjang membuat koridor sedikit lebih ramai.
"Fisika memang terlalu rumit, aku tidak menangkap sama sekali penjelasan guru tadi," celetuk Caillen yang berjalan di samping Sylvaine.
Berapa kalipun dia memandangi Caillen, temannya itu selalu membuat jantungnya berdetak tak stabil. Terkutuklah perasaannya yang ruwet ini.
"Fisika tidak akan terlalu sulit jika buah durian yang jatuh ke kepala Newton, bukannya apel," balasnya bercanda. Caillen tertawa mendengar candaan temannya.
Penglihatannya menangkap seseorang yang tak asing. Cahaya mentari yang menerobos jendela kaca menyiram setengah bagian tubuhnya. Pandangannya terpaku pada pohon cherry yang menggugurkan bunganya karena sapuan angin. Sylvaine mendatangi Yuki Allain yang duduk sendirian setelah memesan makanan. Dia menarik kursi di depannya begitu juga dengan Caillen.
Pandangan Yuki teralih ketika mendengar gesekan antara kaki kursi dengan lantai. Dia menatap Sylvaine sesaat, kemudian berganti ke arah Caillen Varnhame. Yuki memegangi pelipis kirinya, suasana hati yang melambung jatuh begitu saja manakala ia melihat seorang Sylvaine, "Astaga, apa kau berniat mengganggu jam makan siangku?"
"Hei apa aku boleh bergabung?"
Sylvaine yang sudah membuka mulut bersiap membalas pertanyaan sinis Yuki, menolehkan kepalanya. Arase Zuelle menyandarkan telapak tangan pada meja, pandangan matanya terarah bergantian pada mereka bertiga. Dia menarik satu kursi yang tersisa setelah Sylvaine mengangguk sebagai isyarat.
"Namaku Zuelle Arase dari kelas B, ah kau sangat imut. Siapa namamu?" Arase yang duduk di sebelah Yuki melipat kedua tangannya di atas meja persegi. Angin yang bertiup lembut melalu celah jendela menjahili rambut undercut merah gelapnya. Caillen yang berhadapan dengannya tersipu mendengar pujian lelaki tersebut. Dia meletakkan telapak tangan di antara kedua paha sembari sedikit menundukkan wajah.
"Te-terimakasih. Aku Caillen Varnhame, pacar sekelasnya Sylvaine ..."
Yuki yang sedang menatap keluar, dahinya terbentur jendela kaca mendengar pengakuan barusan. Lain dengan Yuki, lain pula dengan Sylvaine. Dia tersedak nafasnya sendiri kala telinganya merespon ucapan tadi. Hal yang tak lazim terjadi berikutnya, rona merah menjalar dari telinga hingga pipi Sylvaine.
"... hanya bercanda, lagipula aku ini laki-laki." Caillen mengangkat kedua tangannya setinggi wajah. Senyuman imut yang ingin dimonopoli Sylvaine sendirian kembali ia tunjukkan.
Kali ini giliran Arase yang tersedak ludahnya sendiri. Bola matanya membulat tak percaya menatap Caillen. Lebih ekstrem dari Sylvaine, tangannya langsung meraba dada rata Caillen. Refleks lelaki berparas imut itu menjerit yang langsung dibekap oleh Sylvaine. Dia memandangi Arase sengit, tak pelak wajahnya memerah seketika.
"Bodoh! Apa yang kau lakukan?" desis Sylvaine melotot.
"Apa, aku hanya memastikannya. Lagipula jika dia memang laki-laki tidak perlu sekaget itu, kan?" Sahutnya santai membela diri. Yuki yang menonton dalam diam hanya bisa memijat pelipisnya, tapi setidaknya dia tau kalau Sylvaine juga bisa marah. Perbincangan kecil terhenti ketika pelayan kantin mengantarkan pesanan mereka.
"Selalu nasi omelet, seleramu tidak pernah berubah ya, Arase?" Celetuk Sylvaine sambil mengaduk-aduk jus alpukat yang ia pesan.
Note!
Riajuu : Orang Populer (Good Life peep)
Silly : Bodoh