
Chionophobia (n.) : a person who has an intense fear of snow.
Mentari berada di penghujung pertunjukannya. Semburat oranye tumpah bak tinta di angkasa. Ufuk barat telah bersiap menyambut kepulangan sang surya. Kepak sayap burung sayup-sayup terdengar bersama sapuan sang angin. Derap langkah ringan memenuhi halaman SMA Eureka, binar wajah kebahagiaan terpaut di sudut pandang.
Dia menyandarkan tubuhnya di tepian jendela yang terbuka. Kedua lengannya menjadi tumpuan berat, dipandanginya gerombolan siswa yang mulai meninggalkan sekolah. Senyap menyapa dirinya yang hampa, hanya detik jam dinding menemani kesendiriannya. Dia merogoh saku celana hitamnya karena dirasa ada sesuatu yang bergetar. Lampu kecil di ujung ponselnya berkedip menandakan pesan masuk. Diketuknya layar dua kali menampilkan pesan dari akun bernama Avril Rain.
Aku menunggumu di gerbang, cepat keluar bodoh sebelum ada yang menggodaku 🖤
Sylvaine menekan tombol power dan kembali memasukkan ponsel ke sakunya. Kaki jenjangnya melangkah melewati koridor yang sudah sepi. Pandangannya terpaku pada seseorang yang juga keluar dari ruangan kelas, Sylvaine mengenali siapa dia dan mengapa bisa keluar paling telat.
"Biar kutebak, kau disuruh ketua kelasmu untuk mengisi piket hari ini kan, Nona Penguntit?"
Sifat angkuh dan arogannya kembali muncul. Yuki membuang nafas kesal, mata coklatnya menatap sengit si lelaki tanpa ekspresi. Dia membuang muka tak menghiraukan Sylvaine yang mendekatinya.
"Sombong," celetuk Sylvaine menyamakan langkahnya dengan Yuki.
"Salahkan dirimu karena mengajariku itu," sindirnya sebal.
"Karena sombong adalah nama tengahku," jawab Sylvaine santai.
Yuki menghela nafas panjang, percuma saja pemuda di sampingnya ini tak akan pernah bisa ia bungkam. Dia bertanya dalam hati apa semua lelaki tampan selalu bersikap arogan seperti ini. Berpikir soal tampan membuat pipi Yuki memerah, pemuda yang selalu bersikap angkuh di sampingnya ini sebenarnya memiliki paras rupawan andai ia sering menunjukkan senyumnya. Sylvaine yang dalam diam memperhatikan mengerutkan keningnya, perempuan waras mana yang tiba-tiba tersipu begitu saja.
Tepat di gerbang sekolah Sylvaine menghentikan langkahnya. Dia tahu apa yang kali ini akan terjadi. Seorang perempuan melompat dari samping dan memeluknya. Dia mengenakan seragam yang berbeda dengan Sylvaine dan Yuki. Rambut biru turqoisenya ia biarkan terurai dengan kepangan yang melekat di dekat garis kepala. Mata amber yang berkilauan dengan pesona menenggelamkan segalanya menghiaskan wajah cantik Averill Altenrhein. Dada Yuki berdebar aneh, bukan karena cemburu melihat keduanya. Ini pertama kali baginya melihat seorang Sylvaine tersenyum lepas, bukan senyum palsu melainkan benar-benar berasal dari hatinya.
"Ah apa dia pacar barumu? Jahatnya kau selingkuh dariku," rutuk Averill dengan memasang raut cemberut. Dia menengadahkan kepala menatap lekat Sylvaine.
Sylvaine menjentikkan jarinya di dahi Averill. Dia melepaskan pelukan kakaknya karena mendapat tatapan sengit dari murid yang masih berlalu lalang, "Bodoh."
"Hei aku pinjam pacarmu sebentar, ya!" Yuki ingin menyangkal kalau mereka tidak berpacaran. Tapi Averill sudah menarik lengan Sylvaine dan membawanya pergi. Dia tersenyum walau sesak terus bergemuruh di dadanya, pertama kali Yuki melihat Sylvaine Delcroixe yang selalu menyembunyikan emosinya bisa tersenyum seperti itu.
❄️❄️❄️
Mentari semakin miring di ufuk barat dibarengi menurunnya temperatur. Parade awan masih terlihat mondar-mandir mengikuti sapuan angin. Monumen-monumen batu setinggi pinggang berjajar rapi di tanah beton. Aksara tradisional terukir indah di setiap monumen, sebagian terdapat bunga segar menandakan monumen itu baru saja dikunjungi.
"Aku akan menunggu di luar." Averill memegangi kedua bahu Sylvaine, senyum tipis tersimpul di bibirnya. Dia mengambil tas sekolah dan berjalan menuju gapura meninggalkan Sylvaine.
Sylvaine berjongkok di depan salah satu nisan monumen. Terdapat kolom vertikal yang terbuat dari batu berwarna abu-abu, menampilkan ukiran aksara tradisional bertuliskan marga Altenrhein. Dia meletakkan beberapa tangkai bunga di dasar nisan tersebut. Tangannya merogoh dalam tas hitam putih di sampingnya, dia mengeluarkan dua jepit rambut bobby pin berwarna merah.
Terimakasih karena sudah hadir di kehidupanku. Ah kau pasti bosan ya karena aku selalu mengucapkan terimakasih. Tidak apa, karena aku tak akan pernah bosan. Kau tahu, dulu kupikir hidup itu hanya monokrom, hitam putih kelabu tanpa warna. Tapi sejak kau masuk ke hidupku--biar aku ralat, hatiku--, aku bisa melihat berbagai warna. Warna kebahagiaan, kesedihan, kekecewaan dan keputusasaan; aku bisa melihat itu semua. Kau ingat ketika malam natal? Saat kau menyeretku keluar hanya untuk menyembuhkan ketakutanku terhadap salju. Memalukan jika mengingat itu karena aku langsung panik dan menangis ketika melihat salju. Lalu kau malah memarahiku dan mengatakan bahwa ketakutan adalah sesuatu yang harus aku hadapi, bukan kuhindari. Sejak saat itu setiap malam selama musim dingin, aku selalu keluar untuk memandangi salju di halaman dan mengatasi fobiaku ini.
Aku rasa kau pasti tak menyangka ... bahwa hidupku terus berjalan karenamu. Sedikit demi sedikit kau merubah pandanganku. Aku selalu mengekorimu seperti anak ayam yang mengikuti induknya. Dan saat itu aku belum menyadari, bahwa ketakutan terbesarku adalah ketika kau pergi dari sisiku, ketika aku tak pernah bisa melihat senyum lembutmu lagi, ketika Tuhan memerintahkan Azrael untuk menjemputmu. Saat hari itu tiba, aku tidak tahu ekspresi apa yang harus kutunjukkan. Aku hanya bisa murung dan mengunci diri di kamar, bahkan aku tak hadir di hari pemakamanmu. Kau pasti marah, ya. Maaf. Hanya itu yang bisa aku katakan, aku tidak ingin menangis di depanmu karena kau tidak suka Sylvaine yang cengeng, kan.
Terimakasih karena sudah memberi warna di hidupku. Terimakasih karena sudah menyembuhkan ketakutanku. Terimakasih karena selalu tersenyum untukku. Terimakasih karena selalu meminjamkan bahu untukku bersandar. Terimakasih karena sudah menjadi detak dalam jantungku. Terimakasih ... terimakasih.
Matanya memanas dan Sylvaine tau apa yang akan terjadi jika ia melanjutkan ucapannya. Dia sudah berjanji pada seseorang untuk tidak lagi menjadi cengeng. Dilangkahkannya kaki meninggalkan nisan abu-abu yang di depannya terdapat satu bucket bunga. Dia menyusul Averill yang sudah menunggu di luar area pemakaman keluarga Altenrhein. Sesaat sebelum mencapai gapura, Sylvaine menghirup udara dalam-dalam berharap oksigen bisa mengusir sesak yang menusuk dadanya. Sesampainya dia di luar, Sylvaine sedikit terhenyak karena merasakan ada yang menempel di pipi kirinya. Dia mengambil sekaleng minuman yang diberikan Averill.
"Mama memintamu untuk ikut makan malam di rumah."
"Bibi yang meminta atau kau yang memaksanya?" tanya Sylvaine. Dia menarik penutup kaleng minumannya, bunyi desis gas terdengar sesaat. Ditempelkannya bibir pada lubang kaleng tersebut, jakunnya bergerak naik turun pertanda ada yang mengalir di tenggorokan.
Keduanya berjalan meninggalkan area pemakaman yang di sampingnya berdiri sebuah kuil.
❄️❄️❄️
"Kenapa malah membawaku ke sini?"
Sylvaine berdiri di dekat pagar pembatas. Kedua netranya menangkap pemandangan jajaran bangunan yang tersiram cahaya jingga mentari. Averill duduk di sebuah bangku semen panjang, membiarkan sang angin menjahili dirinya. Sesekali dia menyingkap rambut ke belakang telinga kirinya, manik mata ambernya terkunci pada punggung Sylvaine yang berdiri beberapa langkah di depannya. Pemuda berambut pirang itu berbalik, siluet terbentuk karena tubuh jangkungnya tepat menutupi matahari sore. Dia menepuk-nepuk bangku beton memberi isyarat pada Sylvaine agar ikut duduk.
"Mau bersandar? Aku bisa meminjamkan bahuku?" tawarnya sambil memasang senyum kecil.
Averill sedikit terkejut ketika Sylvaine tiba-tiba bersimpuh di hadapannya. Pemuda itu membenamkan wajahnya di paha Averill, kedua tangannya masing-masing memegangi seragam Averill bagian pinggang. Panas mulai menggerayangi mata Sylvaine, bening kristal perlahan terbentuk di kedua ujungnya. Tubuhnya serasa lunglai tak bertulang, sesak yang semakin menjadi memenuhi rongga dadanya. Averill mengelus lembut rambut pirangnya, mata kuning ambernya juga menumpahkan linangan air yang tak tertahan.
"Pasti sakit, ya? Tak usah ditahan, luapkan semuanya. Bagaimanapun juga kau tetaplah Sylvaine kecilku yang cengeng," ujarnya menahan isakan. Jemarinya bergerak membelai setiap helai rambut Sylvaine, mencoba mentransfer rasa nyaman kepadanya.
Ok ini pertama kalinya saya menulis sebuah novel. Untuk latar di cerita ini fiktif, tapi saya mengambil Jepang sebagai referensi. Mulai dari sistem kalender sekolah, musim, dan budaya saya samakan dengan sedikit pengubahan. Sementara itu dulu yg bisa saya sampaikan, kalau mau tanya silakan di komen ⬇️⬇️⬇️
FYI :
Ložu vilciens : Shinkansen/Bullet train
Caelum Floss : Sky Flowers/Fireworks
Sal Sagev : Las Vegas (dibalik lul 😜)