
Bocchan itu panggilan Sebastian Michaelis ke Ciel Phantomhive di anime Black Butler. Mungkin artinya 'Tuan Muda'.
Langit barat bersiap memeluk sang fajar yang berada di penghujung pertunjukan. Semilir angin musim gugur membelai tubuh telanjang dadanya. Gurat otot yang terbentuk karena latihan fisik menjadikannya objek tatapan dari berbagai penjuru. Pandangan memuja dari para anggota klub perempuan dan pandangan sengit iri dari para lelaki. Sylvaine membungkukkan badannya di starting platform, panjang kolam renang adalah lima puluh meter. Di samping kanannya lima anggota klub renang juga melakukan hal serupa.
Dirinya langsung meluncur begitu mendengar tiupan peluit pembina klub. Teriakan semangat dari anggota perempuan menggaung di udara. Setiap kali Sylvaine mengangkat kepalanya untuk mengambil nafas, teriakan mereka akan semakin heboh. Sorakan para gadis sedikitpun tak membuat semangat Sylvaine terbakar. Dia sampai di ujung satunya setelah dua puluh tujuh koma empat detik. Berada di posisi ketiga setelah Arase Zuelle dengan waktu dua puluh lima koma tiga detik, dan anggota laki-laki lainnya dengan catatan waktu dua puluh enam koma nol dua detik.
Selain waktu, satu lagi yang menjadi perbedaan adalah gerakan kembang kempis dada. Sylvaine tak mengalami masalah dengan kecepatan nafasnya, berbeda dengan lima perenang lain yang deru nafasnya memburu.
"Sengaja mengalah, huh? Kau bisa langsung populer jika finish pertama tadi." Arase beranjak dari kolam mendekati Sylvaine.
"Sayangnya satu milimeterpun aku tak berniat menjadi populer," sahutnya datar. Sylvaine duduk di salah satu bangku semen yang tersedia. Kali ini giliran anggota perempuan yang berlatih, matanya terarah pada Yuki yang mengenakan pakaian lateks putih dengan motif garis biru.
"Yuki Allain, ya? Namanya mirip dengan dia, kan?" tanya Arase sambil menyandarkan punggungnya pada bangku, dia memilih duduk di lantai keramik.
"Bukankah ini kebetulan? Apa dia menyeretmu untuk bergabung dengan klub renang?" lanjutnya bertanya.
Peluit panjang kembali terdengar. Lima perenang perempuan dengan cepat melompat dari starting platform. Pandangan Sylvaine belum teralih dari Yuki, dia berada di lintasan kedua urutan keempat. Mata Sylvaine menangkap kesalahan yang dilakukan Yuki. Kayuhan yang dia lakukan terlalu lemah, hingga cenderung membuatnya tak bergerak.
"Justru dia yang mengikutiku ke klub ini," jawabnya tanpa mengalihkan tatapan.
"Ah kukira kejadian di SMP terulang lagi," ujar Arase dibarengi tawa kecil.
Cukup mengejutkan ketika Yuki berhasil finish urutan pertama dengan waktu tiga puluh satu koma nol enam detik, unggul nol koma dua puluh delapan detik dari urutan kedua. Dirinya langsung menjadi sasaran pujian dari anggota laki-laki. Pakaian renang yang mengekspos paha serta memperlihatkan keindahan punggung menjadikannya pemandangan bagi anggota laki-laki. Pembina klub meniup peluit beberapa kali sebagai isyarat untuk berkumpul. Beberapa anggota yang berada di dek observasi segera mendekat ke lokasi pembina klub.
"Anggota baru tahun ini sepertinya cukup menjanjikan. Saya belum menentukan siapa yang akan berpartisipasi di kompetisi, tapi kita akan tetap latihan setiap hari. Jadi berusahalah yang terbaik!"
Setelah empat menit berdiskusi ria dengan anggota, pembina klub memperbolehkan untuk pulang ke rumah. Seluruh anggota mengambil tas mereka dan beranjak menuju kamar ganti untuk membersihkan diri. Arase yang melihat Sylvaine masih berdiri di starting platform berjalan mendekatinya.
"Ayo balapan, yang kalah mentraktir parfait," tawarnya menantang pada Sylvaine.
"Sepuluh miliyar persen kau akan bangkrut jika mentraktirku parfait." Ingatkan jika sombong adalah nama tengahnya.
Arase mengambil posisi di starting platform lintasan kedua. Sylvaine meminta Yuki untuk mencatat waktu mereka dengan stopwatch di ponselnya. Begitu Yuki memberi aba-aba, keduanya langsung meluncur dari starting platform. Lima puluh meter gaya bebas, Sylvaine tak perlu melakukan save energy karena hanya setengah putaran. Perbedaan kecepatan yang tipis antara keduanya, namun Sylvaine lebih unggul karena dia melakukan tarik nafas setelah lima kayuhan.
Dia berhasil mencapai ujung kolam satunya setelah dua puluh empat koma nol dua detik, unggul satu koma sembilan puluh dua detik dari Arase. Kali ini gerakan kembang kempis dadanya lebih cepat, agaknya Sylvaine benar-benar serius berbeda dari sebelumnya.
"Sial ... sepertinya aku benar-benar bangkrut hari ini," celetuk Arase yang berusaha mengatur nafasnya.
❄️❄️❄️
Yuki sedikit menundukkan badannya. Dia menoleh ke arah Sylvaine sembari memasang senyum sumringah. Kilauan mata coklatnya memantulkan sembarang cahaya lampu jalanan.
"Salahnya karena menantangku," jawab Sylvaine datar tak peduli. Namun mata Yuki menangkap samar ujung bibir Sylvaine yang tertarik kemudian lenyap begitu saja. Dia menengadahkan kepala melirik ke angkasa yang sepi tanpa penghuni. Mereka para penghuni langit menyembunyikan diri di balik gulungan kapas yang membentang tiada tepi. Hembusan angin malam menerpa sekujur tubuh Yuki, menusuk setiap incinya bak serpihan kaca.
Bulu kuduknya meremang saat itu juga. Dia mengelus-elus lengan kiri atasnya untuk menetralkan hawa dingin. Sylvaine berhenti sejenak, dia melepas blazer yang melapisi seragam dan melingkarkannya di leher belakang Yuki. Kedua tangannya masih memegangi bahu gadis berambut hitam ini. Dia memandangi lekat Yuki Allain yang berusaha menghindari kontak mata. Mati-matian dia berusaha menjaga kestabilan detak jantung di hadapan Sylvaine. Tangan pemuda itu bergerak membelai lembut daun telinganya. Rona panas di wajahnya kian memanas mengalahkan hawa dingin yang sempat mengusiknya.
Yuki menyerah. Biarlah jantungnya berdegup semakin tak karuan tatkala Sylvaine menyandarkan dahi di bahu kirinya. Rona merah menghiaskan wajahnya diiringi panas yang semakin menjalar.
"Tolong ... sebentar saja," ucap Sylvaine lirih.
Dia tidak menjawab. Di mulutnya sudah siap sejuta kalimat tapi tak satupun bisa keluar. Dia membiarkannya seperti itu selama beberapa menit. Jemarinya secara tak sadar bergerak mengelus kepala Sylvaine, menyibak setiap helai rambut pemuda yang menyimpan kesedihan dan kesendirian.
Sylvaine kembali menegakkan kepala, "Lain kali jangan lupakan sweatermu, bodoh. Ini sudah memasuki musim gugur." Diacak-acaknya rambut Yuki sejenak. Gadis itu masih memasang wajah memerah, dia memandangi punggung Sylvaine yang berjalan di depannya.
Parade awan menggulung semakin tebal. Angin risau dengan gemerisik daun mengawal turunnya butiran langit. Cahaya sang rembulan masih tak kuasa menembus tebalnya awan hitam.
"Yang benar saja ... ." keluh Sylvaine yang mengulurkan tangannya. Memeriksa intensitas hujan yang semakin deras. Dia mengeluarkan ponsel dari saku, ibu jarinya sesekali bergerak mengusap dan mengetuk layar. Setelahnya dia mendekatkan ponsel tersebut ke telinga kanan, hingga terdengar nada sambung.
"Halte Adazal B, aku tunggu."
Sesingkat dia membuang nafas, sesingkat itu pula dia bicara. Dimasukkannya kembali ponsel berwarna metalik tersebut ke saku celana. Dia tetap bersandar di tiang besi tak menghiraukan tempias hujan yang membasahi kemejanya. Ada dua orang lain yang berteduh di halte tersebut, siswa SMA sama sepertinya dengan seragam berbeda. Yuki meraih tasnya dan berdiri di dekat Sylvaine.
"Kau akan basah jika berdiri di sini."
"Itu lebih baik daripada mendapat tatapan mesum dari mereka," bisik Yuki setengah kesal. Dia merengkuh tubuh Yuki, mendekap gadis tersebut di bahunya. Di balik wajah datar tanpa ekspresinya, Sylvaine tersenyum sinis menyiratkan 'Dia milikku, sentuh dia dan aku akan membunuhmu' pada dua laki-laki di sana. Dia tetap mendekap Yuki tanpa menyadari wajah gadisnya itu sudah semerah kepiting rebus. Tujuh menit berselang sebuah mobil bertipe hatchback perak berhenti di halte mereka berteduh.
Begitu pintu terbuka, seorang pria yang mengenakan blazer hitam mengkilap keluar dengan payung hitam terbuka. Sepatu yang juga berwarna hitam memercikkan genangan air karena langkahnya, "Maaf saya sedikit terlambat, Sylvaine-sama," ujarnya hormat pada Sylvaine. Dia menerima payung hitam pemberian pria tersebut sembari melepaskan dekapannya pada Yuki.
"Tidak sedikitpun. Oh ya, Sebas, kau melupakan dasimu," sahutnya menepuk pelan pundak pria bernama Sebastian Rufinus tersebut.
Dia tersenyum menanggapi majikan kecilnya.
Note!
Di Jepang, penggunaan akhiran panggilan "-sama" itu digunakan pada orang yang derajatnya lebih tinggi.