EVERLASTING LOVE

EVERLASTING LOVE
Humiliatusque



Humiliatusque (Latin) : Humbled (English)


Cicit burung yang bersenandung dengan bahasa mereka sendiri menyapa tiga lusin manusia bermuka malas. Pendar cahaya mentari mengintip melalui celah korden yang tersingkap. Beberapa pasang mata bolak-balik melirik gelisah ke arah jam dinding, ketukan meja yang semakin cepat menandakan ketidaksabaran mereka. Telapak tangan kirinya ia gunakan untuk menopang pipi sementara jari-jari kanannya sibuk menggoreskan grafit pensil.


Tak ia pedulikan ocehan guru yang menjelaskan materi pelajaran. Sejarah adalah sesuatu yang tak ia sukai bersama dengan pendidikan kewarganegaraan. Terlalu banyak teori sampah dan omong kosong yang tercetak di buku modul menurutnya. Gerakan pensil berhenti dibarengi dengan bunyi bel istirahat pertama, Sylvaine segera melemaskan jari-jarinya setelah tiga jam pelajaran menggambar mata. Terlihat cukup realistis untuk seseorang yang belajar menggambar secara otodidak.


Suara derit kursi segera mengisi ruangan kelasnya, pukul sembilan limapuluh lima menit merupakan waktu istirahat pertama. Sebagian pergi ke kantin untuk mengisi lambung, sementara sisanya berkumpul dengan kelompok yang mereka sendiri bentuk.


"Wah apa kau ikut klub seni lukis?"


Perhatiannya dari gambaran teralih pada seorang laki-laki di belakang bangkunya. Dia memiliki rambut bowlcut hitam dengan kulit kuning langsat, tingginya mungkin mendekati seratus tujuh puluh.


"Tidak juga, aku hanya bosan tadi. Lagipula aku ingin bergabung ke klub renang." Sylvaine menjawab tanpa ekspresi. Dia memutar posisi duduknya sembilan puluh derajat, disandarkannya punggung pada tembok. Bangku paling pinggir baris keempat selalu menjadi pilihannya dari SMP. Adalric Geissler meraih tas yang tergeletak di samping kursi, kedua tangannya sibuk menyibak isi tas bermotif loreng miliknya. Pandangannya lesu menyiratkan tak menemukan apa yang ia cari.


"Aku punya kontak ketua klub renang, tapi ponselku tertinggal," ujar Adalric yang sekarang sibuk membereskan buku di atas mejanya.


"Tak apa, lebih baik aku bicara langsung." Sylvaine melambaikan pergelangan tangan sebagai isyarat. Tidak wajib sebenarnya bergabung dengan sebuah klub, tapi jika itu klub renang Sylvaine tak perlu datang ke taman air setiap kali. Dia bergabung bukan karena ingin melihat murid perempuan dengan pakaian renang mereka, Sylvaine memang menyukai renang dari kecil.


"Mau kutemani? Aku juga punya perihal dengan klub pecinta alam," tawar Aldaric.


"Jika kau tak keberatan," sahutnya datar masih tanpa ekspresi. Terkesan sombong, tapi memang itulah Sylvaine. Dia adalah dia, tak peduli apa yang orang lain pikirkan.


Dari pintu kelas mereka berdua berbelok ke kanan melewati koridor yang ramai lalu lalang siswa. Beberapa tenaga pengajar juga terlihat dengan stopmap di tangan mereka. Tatapan Adalric yang tertuju padanya membuat Sylvaine bergidik.


"Ada apa? Kau jatuh cinta padaku? Daritadi matamu memandangiku." Dia menanyakan itu tanpa ada perubahan ekspresi. Adalric menggerakkan kedua pergelangan tangannya sambil mengerutkan dahi. Batinnya mengatakan otot wajah teman kelasnya ini sudah mati.


"Hei aku masih normal. Hanya saja kukira kau orangnya sombong karena jarang bicara," tepisnya.


Sylvaine sesaat tak menanggapi opini temannya. Dia terus berjalan sambil sesekali menghindari tabrakan dengan siswa lain. Dia tidak terganggu dengan anggapan orang lain selama tak mengusik kehidupan kecilnya. Mereka menuruni tangga setelah melewati tiga ruangan kelas, sedikit banyak Sylvaine sudah mengingat denah sekolahnya. Di tengah tangga seorang senior dari klub pecinta alam menghentikan Adalric, Sylvaine mengatakan dia tak keberatan datang ke ruangan klub renang sendiri.


"Sombong, ya," ujarnya membatin.


Koridor lantai pertama lebih padat. Sylvaine terus melangkah sambil sesekali melirik papan motivasi yang menggantung di dinding pastel. Selama beberapa detik kedua netranya terpaku pada papan bertuliskan 'Tetaplah Hidup Walau Itu Membunuhmu'. Sebentar, apa yang seperti ini disebut motivasi? Pikirannya buyar manakala ia menabrak seseorang. Selalu saja mengulangi kecerobohan yang sama, jika Averill Altenrhein disampingnya mungkin Sylvaine terpaksa mendengar omelan kakaknya itu. Lagi-lagi korbannya perempuan dan dia terjatuh. Cepat-cepat Sylvaine mengganti 'topengnya' dan menghampiri perempuan tersebut.


Secepat dia bergerak, secepat itu pula ekspresinya kembali datar ketika mengetahui Yuki Allain yang ia tabrak. Bukannya minta maaf apalagi menolong, malahan sindiran halus keluar dari pita suaranya.


"Ternyata kau sekolah di sini juga, Nona Penguntit."


Bola mata Yuki membulat mendengar suara barusan. Dia mengutuk dalam hati, dari sekian ratus siswa laki-laki kenapa harus Sylvaine yang menabraknya. Dia bangkit sembari menepuk-nepuk seragam putih dengan rok kembang di atas paha. Dia ingin membalas sindiran Sylvaine namun sebuah tangan yang tiba-tiba menariknya menghentikan hal itu. Yuki menatap sebal laki-laki yang menarik tangannya.


"Ayolah Yuki, jika kau bergabung dengan klub bulutangkis aku akan berhenti mengejarmu," pinta seorang murid laki-laki yang menahan lengan Yuki.


"Apa kau teman sekelasnya Yuki?" tanya senior tadi.


Sylvaine menggeleng pelan, "Bukan, kami hanya tidak sengaja bertabrakan." Perdebatan kecil terjadi di hadapan Sylvaine. Apapun argumen yang dikeluarkan Yuki, seniornya selalu bisa menyangkal itu.


"Permisi, kalian menghalangi jalan. Aku mau ke ruangan klub renang." Sebenarnya Sylvaine tidak ingin mengatakan tujuannya. Itu karena mulutnya berinisiatif sendiri. Si senior sedikit mundur dan melepaskan tangannya dari Yuki. Sylvaine melengos begitu saja, waktunya terbuang karena dua orang bodoh ini. Tubuh jangkungnya lenyap ditelan tembok setelah berbelok dari koridor.


Senyum miring yang sedikit dipaksakan terbit di bibir Yuki Allain, "Aku memutuskan untuk bergabung dengan klub renang. Jadi, berhentilah menghantuiku setiap hari, sialan!" Dia berlari kecil menyusul Sylvaine meninggalkan senior yang bermuka sebal.


❄️❄️❄️


Koridor lantai pertama mulai senyap karena bel masuk sudah berbunyi. Hanya satu dua murid yang berlarian takut didahului guru.


"Kau memang berniat mengikutiku ya, Nona Penguntit?"


Yuki memutar bola matanya jengah, entah apa masalahnya Sylvaine tak pernah sekalipun bersikap ramah padanya. Kenapalah juga dia harus satu sekolahan dengan pemuda aneh ini. Matanya membulat setelah melirik jam di lengan kanannya. Kedua jarumnya menunjukkan sudut seratus dua puluh derajat koma sekian.


"Aku akan dimarahi ketua kelas!"


Sylvaine menarik lengannya ketika dia hendak berlari, "Berlari di koridor termasuk larangan nomor empat belas." Hampir saja. Reputasi kelasnya akan jatuh jika kamera CCTV merekam Yuki yang berlarian di area koridor. Sylvaine memperlebar langkahnya, sementara Yuki hanya bisa berjalan cepat. Kakinya tak sepanjang milik Sylvaine.


Seorang lelaki menghentikan mereka ketika sampai di depan pintu ruangan kelas. Papan plastik mengkilap bertuliskan 1-A menggantung di atas pintu. Sekali lihat Sylvaine bisa menebak bagaimana karakter laki-laki ini. Tatapan tajamnya mengintimidasi bak calon diktator.


"Yuki Allain, kau terlambat dua menit tiga puluh tujuh detik," ujarnya dingin.


Sylvaine menahan Yuki yang sudah pasti ingin mengucapkan maaf. Dia memberi isyarat mata untuk masuk saja ke kelas. Jawabannya tentu saja menolak, laki-laki yang menegurnya tadi adalah ketua kelas yang memiliki ego teramat. Jika keduanya berdebat, Yuki bisa membayangkan pertikaian mereka tak akan menemui ujung.


"Maaf, tapi aku yang membuat Allain terlambat."


Menghadapi orang berego tinggi Sylvaine hanya bisa merendah. Merendah sampai tidak ada yang bisa merendahkannya. Tak lupa ia kembali memasang topengnya. Sesuai dugaan Sylvaine, ketua kelas 1-A menatapnya merendahkan.


"Namamu Sylvaine Delcroixe, kan?"


"Aku tersanjung ada murid kelas A yang mengenalku," jawabnya santai.


"Sampah kasta rendahan sepertimu tak pantas bergaul dengan kami." Dia tersenyum sinis kemudian meninggalkan mereka berdua tanpa berdosa. Begitu halnya dengan Sylvaine yang langsung berpalis muka. Batinnya geli karena berlagak menjadi ksatria putih. Dia berjalan cepat menuju kelas 1-E. Eureka selain menjadi SMA paling favorit di kota Sal Sagev, sekolah ini juga menyembunyikan sisi gelap yang tak terliput media. Diskriminasi antar rombel yang tak pernah menemui penyelesaian. Wajar jika mengingat sistem yang diterapkan demi menjaga reputasinya.


"Kelas A, ya." Senyum miring yang menyimpan makna tersungging di bibir Sylvaine. Kali ini bukan senyum palsu yang biasa ia gunakan.