EVERLASTING LOVE

EVERLASTING LOVE
Getrennt



Getrennt (Luxembourgish) : Separated (English)


Langit malam yang damai mempertunjukkan kecantikan rembulan purnama. Sang Dewi Malam tengah menjilati bumi dan segala makhluknya dengan sinar kuning keemasan. Gaduh sayup suara berbagai bahasa mengoyak tirai kerlip bintang. Lampu jalanan membasuh lembut susuran sungai yang alirannya begitu tenang.


Kedua netranya menatap air yang memantulkan serpih cahaya penghuni langit. Angin risau menyapu tengkuk membuatnya merinding, sesaat ia teringat akan ramalan--tidak--prediksi cuaca. Sepertinya angin kencang akan menyapa kota malam ini. Helaan nafasnya membuat asap yang menguar dari gelas pergi menjauh, ditenggaknya kopi susu yang masih panas itu. Sedikit disayangkan jika topan benar-benar melanda, agaknya festival penutupan musim panas akan dibatalkan.


Dia memunggungi pagar yang membatasi pinggiran sungai, disandarkannya lengan kiri dan pinggangnya pada besi-besi tua itu. Dia menatap malas jajaran bangku di sepanjang tepian jalan, mereka dipenuhi oleh pasangan yang sedang dimabuk asmara. Bukannya iri, dengan tampang membiusnya, Sylvaine Delcroixe bisa saja mengencani sepuluh gadis sekaligus. Tapi berurusan dengan perempuan selalu merepotkan; harus memberi kabar setiap hari, membelikan apa yang pacarnya minta, meluangkan waktu untuk kencan setidaknya seminggu sekali. Jika dipikir-pikir mereka hanyalah pleaser bagi pasangannya.


Dia melirik gelas kopi yang hanya tersisa residunya, dilemparkannya gelas styrofoam itu ke basket sampah. Bulu tubuhnya kembali meremang manakala sang angin berhasil menembus jaket berbulu yang melingkupi badannya. Sylvaine memasukkan kedua pergelangan tangan ke saku jaket, pemuda berambut pirang itu melangkah meninggalkan pinggiran sungai. Kepalanya mendongak memandangi parade awan yang mengusir kerlip bintang di awang-awang. Dia merasa kasihan pada pemilik stan yang sudah bersiap, tidak ada festival malam ini.


Dirinya sedikit terhenyak ketika merasa menabrak sesuatu, dia menyeimbangkan langkahnya agar tidak ikut tersungkur seperti perempuan di hadapannya ini. Buru-buru Sylvaine menghampiri perempuan tersebut, bungkusan yang berisi kentang goreng berhamburan di tanah beton, "Maaf aku tak memperhatikan jalan," ucapnya sambil membersihkan kentang yang berserakan--bukan untuk dikembalikan, tapi agar tidak mengotori jalanan.


Perempuan tadi berdiri dengan menyingkap rambut hitam terurainya. Manik mata coklatnya terkunci pada Sylvaine yang hendak memasukkan bungkusan ke tempat sampah. Dia menepuk pundak pemuda tersebut yang refleks menoleh.


"Ah ternyata kau, Nona Pemaksa." Nada ucapannya terdengar sinis, niatnya untuk membuang bungkusan kentang batal. Disodorkannya kembali bungkusan itu pada perempuan tersebut.


"Namaku Yuki, berhentilah menggunakan panggilan aneh!" Dia menepis bungkusan walau itu miliknya.


"Baiklah, sekarang namamu Nona Penguntit. Katakan, apa kau kemari untuk mengikutiku?" Pupil mata Yuki bergerak memutar diiringi helaan nafas. Dia lebih bersyukur jika yang ia tabrak adalah pria asing, bukan seorang Sylvaine Delcroixe. Lelaki expressionless dengan seribu satu pemikiran anehnya. Pertama kali mereka bertemu adalah di kolam renang ketika libur musim panas. Kala itu Sylvaine mengkritik gerakan lengannya yang terlalu melebar, sehingga malah membuat kecepatannya tidak maksimal.


"Aku kesini untuk menyaksikan Caelum Floss bersama keluargaku, tapi kami dengar festivalnya dibatalkan dan aku terpisah saat mau kembali ke stasiun," terangnya membela diri. Caelum Floss adalah puncak dari festival dimana puluhan kembang api yang ditembakkan akan memeriahkan langit berbintang.


Kekesalan Yuki Allain memuncak ketika Sylvaine melengos begitu saja tanpa menanggapi penjelasannya. Sialan dia tidak pernah belajar menghargai orang lain batinnya. Dia menarik tudung jaket Sylvaine yang tersampir, membuatnya berhenti karena lehernya tercekik, "Dengarkan ketika orang lain bicara, bodoh!" kesalnya pada Sylvaine.


"Apa pikirmu aku tidak mendengarkan? Kau hanya perlu menyusul keluargamu di stasiun," ketus Sylvaine yang menepis tangan Yuki dari tudung jaketnya. Dia kembali berpalis tak menghiraukan Yuki, tapi perempuan itu tetap menarik tudung jaketnya. Kali ini lebih kencang hingga ia harus melangkahkan kakinya mundur. Sylvaine yang mulai jengah membalikkan badan, ditariknya lengan kiri Yuki hingga dia terjerembab di dada Sylvaine. Rona merah menyelar di pipinya dibarengi rasa malu karena diperhatikan oleh sekitar mereka.


Dia melepaskan genggaman Sylvaine sambil mendorong pelan tubuh pemuda setinggi seratus delapan puluh tiga sentimeter itu, "Tolong antarkan ke stasiun, aku buta arah ketika malam," akunya lirih.


"Aku meminta bayaran atas ini." Sylvaine menoleh kanan kiri sebelum kembali melangkahkan kaki jenjangnya diikuti Yuki. Malam yang gelap semakin gelap tatkala arakan awan membentengi cahaya rembulan. Desir gelisah angin yang semakin kencang membelai kota Sal Sagev dengan segala penghuninya. Kedua sejoli itu tidak terlalu banyak berbincang, langkah mereka berubah menjadi lari kecil ketika rintik air mulai menghujam kulit. Delapan menit berlari--atau lebih tepatnya berjalan cepat--mereka tiba di stasiun yang dipadati calon penumpang. Ložu vilciens atau kereta peluru adalah transportasi yang paling umum digunakan, hanya beberapa orang yang memiliki motor atau mobil. Bukan karena tidak mampu membeli, hanya saja bahan bakar dan pajak yang amat memberatkan membuat mereka berpikir puluhan kali jika memutuskan untuk membelinya.


"Itu kakak!" Seorang bocah lelaki berteriak di tengah ramainya suasana. Bocah tersebut berlari kecil dengan pria paruh baya dan wanita di belakangnya. Raut muka keduanya menyiratkan cemas-cemas lega.


"Astaga Yuki kami mencarimu daritadi--ah apa kamu temannya Yuki? Maaf putri kami merepotkanmu," ujar wanita yang sudah bisa ditebak kalau dia ibunya Yuki Allain. Wajahnya masih kencang tanpa satu keriputpun dengan warna mata sama seperti putrinya. Dia mengenakan pakaian tradisional beraksen renda yang menjuntai hingga mata kaki. Sabuk kain melingkari pinggang rampingnya. Sementara sang ayah hanya memakai setelan kemeja bermotif awan.


Sylvaine memasang senyum tulus di bibirnya, Yuki yang berada di sampingnya mengernyitkan dahi. Itu pastinya senyum palsu. Bocah laki-laki tadi mendekati Sylvaine sembari menarik-narik jaketnya, dia berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan si bocah, "Kakak, apa kalian pacaran?" Yuki yang mendengar itu tersedak ludahnya sendiri. Entah darimana adiknya yang masih berusia empat setengah tahun itu tahu menahu tentang pacaran.


Sylvaine tertawa kecil sembari tangan kanannya mengelus lembut kepala bocah itu, "Kami hanya teman, lagipula aku tidak cocok dengan gadis yang suka memaksa." Manik mata hazelnya melirik ke arah Yuki, dua insan yang selalu bertolak belakang itu saling melempar pandangan sinis.


"Maaf saja kalau aku suka memaksa," rutuknya kesal.


Ibunya mencubit kecil pinggang Yuki membuatnya meringis, "Terimakasih sudah mengantar Yuki, dia buta arah saat malam hari."


Senyum indah kembali tersungging di bibir tipisnya, Sylvaine melambaikan tangannya sebagai isyarat 'tak masalah'. Dia berlagak sangat sopan dan Yuki tahu itu hanya satu dari sekian banyak topengnya, "Saya permisi kalau begitu," pamit Sylvaine.


Yuki kembali menarik tudung kepala Sylvaine yang tersampir di bahu. Dia meraih payung kecil yang dibawa adiknya, diserahkannya payung itu pada sang pemuda, "Itu bayaranmu. Kembalikan saat kita bertemu di taman air."


"Terimakasih Nona Tsundere."


Ayah Yuki tertawa kecil melihat tingkah keduanya. Putri sulungnya merupakan duplikat dari seseorang yang kini menjadi belahan jiwanya, "Kurasa kalian cocok."


""Tidak sama sekali,"" sahut mereka berbarengan.


Tsundere : Kepribadian yang malu2 tapi mau (sumpah di real life gak ada manis2nya orang kek gini)