DUNGEON ZONE

DUNGEON ZONE
Chapter 7. Sidang



Benteng super besar dan kuat, Jakarta. Merupakan pusat pemerintahan atas semua Benteng-benteng yang ada diseluruh Indonesia.


Didalam Benteng super besar itu disebuah wilayah bernama Page H, wilayah bagian Utara kota yang juga dikenal sebagai wilayah amat bersih dan kental bersusila.


Akan tetapi tidak banyak orang-orang yang mau tinggal di wilayah tersebut lantaran takut akan satu kesalahan.


Peraturan diwilayah tersebut sedikit berbeda dengan wilayah-wilayah lainnya, jika kedapatan melanggar peraturan wilayah tersebut, hukumannya dapat menghancurkan kehidupan seseorang.


Kini wilayah tersebut juga menjadi tempat untuk menentukan nasib orang-orang yang berharga, dan orang-orang yang bermasalah.


Sebuah gedung paling besar dan megah di wilayah Page H, berwarna cerah seperti awan di langit, berlambangkan timbangan yang terbuat dari emas, dan bertuliskan Keadilan dari batu yang paling menkilap dari sebuah permata.


Orang-orang biasanya menyebut gedung tersebut dengan sebutan gedung Nirwana. Didalam gedung itu, saat ini tengah berlangsung suatu sidang nan serius terkait mengenai kasus di Benteng Payakumbuh.


Banyak orang-orang penting berstatus tinggi hadir di sana, dan juga orang-orang hebat lainnya turut diundang kedalam sidang tersebut. Tak terkecuali dengan pemimpin kota Payakumbuh, Tamuli Syejohan turut dihadirkan.


Kehadiran para Dewan tertinggi sudah cukup membuat suasana menjadi tegang, belum lagi soal pembahasan mereka yang akan mengguncang dunia.


Benar-benar ruangan yang terasa sangat berat dengan tekanan-tekanan yang meluap-luap.


"Kepada pemimpin asosiasi Hunter, tolong silahkan memulai laporannya." Salah satu dari 4 Dewan tertinggi yang duduk di kursi khusus dalam ruangan tersebut seketika mulai berbicara.


Setelah suaranya hilang, tampak seorang wanita berpakaian rapi maju ke tengah-tengah ruangan sidang dan memberi hormat kepada keempat Dewan tertinggi.


"Apa maksudnya ini! Dimana Septya Arya!?" ucap salah satu Dewan tertinggi lainnya dengan lantang. Suaranya terdengar geram sampai-sampai membuat beberapa orang yang hadir mengeluarkan keringat dingin.


Tidak ada satupun yang berani berkomentar di sana dan ruangan tersebut kembali terasa berat.


Seorang wanita yang berada ditengah-tengah mereka itu merupakan perwakilan dari Septya Arya, namanya Mesha Dumai. Sekretarisnya Septya Arya.


"Cih, karena orang-orang yang berlindung dibawah nama besar seperti kalian, yang membuatku malas kesini!" ucap Mesha Dumai lirih. Saking pelannya ucapan Mesha itu, tak ada satupun orang yang tampak mendengarnya.


Dengan ketenangan yang luar biasa, Mesha mulai berbicara dengan lantang.


"Mohon maaf sekali kepada para Dewan-dewan tertinggi. Orang bodoh itu akan mati setelah rapat ini selesai. Dan terlebih lagi, izinkan saya Mesha Dumai, yang menjadi perwakilan asosiasi untuk menjelaskan laporan tersebut." ujar Mesha Dumai tegas.


Setelah penjelasan singkat itu, keempat Dewan tertinggi memberikan izinnya.


Walau izin tersebut bukanlah untuk yang pertama kalinya.


..


Kemudian Mesha mulai menjelaskan perihal Garudan yang lepas ke bumi, semua itu berasal dari dalam Dungeon yang ada di Surabaya, dan kemudian menyerang Benteng Payakumbuh.


Mesha juga menerima sebuah laporan bahwa kelas Artefak tersebut tidak datang dengan sendirinya, asosiasi menduga bahwa seseorang dari luar ikut terlibat dalam kasus ini.


Empat Dewan tertinggi seketika terkejut mendengarnya, begitupula dengan semua orang-orang yang hadir.


"Bawa dia masuk!" ucap Mesha lantang pada dua orang Hunter yang sedari tadi berdiri di luar pintu. Mereka berdua pun seketika masuk setelah diperintahkan Mesha sembari mendorong seseorang didepan mereka.


Seseorang itu mulai berjalan masuk menuju ketempat Mesha sembari kedua tangannya tampak terikat rantai kebelakang. Seketika itu orang-orang mulai riuh suaranya membicarakan tentang perihal orang tersebut.


Setelah suara Dewan terdengar lantang untuk menyuruh para hadirin diam, suasana riuh yang memenuhi ruangan tersebut mulai menjadi hening.


Seseorang yang berpenampilan ala malaikat pencabut nyawa itu perlahan dibuka penutup wajahnya oleh Mesha, dan tampaklah rupanya seperti apa.


Bima adalah seorang pelarian, Bima terjerat kasus pembunuhan terhadap temannya sendiri didalam Dungeon level 2 yang terjadi dua tahun lalu. Setelah melakukan penyelidikan soal Garudan kedalam Dungeon yang ada di Surabaya, Bima ditemukan oleh legiun ilahi dilevel 9 Dungeon tersebut, bersama dengan beberapa alat-alat aneh seperti habis mengadakan ritual.


Bukti kuat pun seketika dikeluarkan oleh Mesha yang menduga Bima yang menjadi dalangnya.


Belum habis Mesha berkata-kata, spontan Bima mulai tertawa terbahak-bahak. Semua orang pun menjadi terheran-heran.


"Haha... ahh, benar sekali. Akulah pelakunya. Coba deh aku ingat-ingat kembali, ah. Pemuda malang itu, aku sekarang ingat. Ah… lucu sekali waktu itu, aku jadi geli karena membayangkannya lagi, dimana aku mencoba menarik sebuah pisau keluar dari tubuhnya dan memasukkannya lagi ketitik yang sama. Ahahaha.." ucap Bima dengan santainya.


"Tolong hentikan, tolong hentikan. Kita bukannya teman. Ahaha… lucu sekali bukan, kata-kata itu terus ia ucapkan hingga akhir hidupnya." sambung Bima yang menceritakan kembali kenangannya.


Selang beberapa detik kemudian sebuah ayunan kaki tiba-tiba menerjang wajah Bima, tubuh Bima pun seketika terbang menghantam tempat duduk hadirin sidang dan kemudian tersungkurlah dirinya ke lantai.


"Siapa yang mengizinkanmu untuk bicara! Dasar serangga yang lebih hina dari serangga." ucap Mesha setelah menendang raut wajah yang tampak menjengkelkan itu. Perlahan Mesha menyeret Bima kembali ke tengah-tengah ruangan sidang.


Mesha mulai meminta maaf atas ketidak nyamanan yang barusan diperbuatnya, setelah itu Mesha kembali melanjutkan laporannya.


Raut wajah Mesha tampak serius, dan membuat seluruh hadirin yang hadir seketika bergeming dari tempat duduknya, karena melihat ekspresi wajah wanita cantik itu tiba-tiba berubah.


Mesha mulai menyebutkan sebuah nama, sebuah nama yang digunakan oleh sekelompok orang-orang kriminal yang menyebut diri mereka dengan sebutan HOM.


Nama HOM baru kali ini terdengar ditelinga para hadirin sidang, tapi hanya mendengar nama saja orang-orang seketika tampak gelisah.


Tidak ada informasi lain selain hanya nama itu, Mesha memperingati semua orang dan lalu mengajak untuk berkerja sama dengan asosiasi. Mesha mengharapkan banyak petunjuk agar HOM segera ditangkap.


HOM kini ditetapkan sebagai musuh Dunia. Mesha pun memperingatkan bahwa musuh umat manusia tidak hanya para monster-monster didalam Dungeon, kini umat manusia juga telah menjadi musuh mereka.


Ekspresi wajah seluruh hadirin yang hadir dalam ruangan itu termasuk para empat Dewan tertinggi tampak khawatir. Mereka takut akan menjadi target teror.


Namun Mesha sudah menduga hal tersebut akan terjadi, perasaan yang tak nyaman karena adanya ancaman baru.


Sudah jelas itu tentu saja bakal memengaruhi pikiran orang-orang. Tapi Mesha sudah mempersiapkan penawarnya, yang akan membalikkan situasi dengan cepat.


"Takut!? Kenapa begitu takut dengan mereka? Mereka hanya manusia seperti kita, tidak lebih. Tidak seperti monster-monster ganas didalam Dungeon, kan."


"Ingatlah seberapa banyak pertaruhan nyawa yang dilakukan oleh kami para Hunter, untuk menaklukkan Dungeon dan melindungi umat manusia."


"Lantas apa rasa ketakutan dalam hati kami masih ada, tentu saja tidak! Beberapa hari yang lalu sekelas Artefak telah muncul dan menyerang Benteng Payakumbuh. Tapi umat manusia masih bisa menang, monster sekelas Artefak itu telah berhasil dikalahkan oleh seorang Hunter."


"Kini kuperkenalkan pada kalian, sang pembunuh di Benteng Payakumbuh."


Seseorang nan tampak gagah dan berani seketika berjalan maju menuju ke tengah-tengah ruang sidang itu.


Ekspresi wajahnya tampak serius sembari menunjukkan sedikit senyumannya. Akan tetapi isi kepalanya penuh dengan pertanyaan dan rasa kegelisahan.


"Kenapa aku bisa disini? Membunuh!? Siapa yang telah aku bunuh…" ujar Ayem Yas dalam hati yang dipenuhi rasa cemas. 


"Dialah yang berhasil membunuh Garudan dan melindungi Benteng Payakumbuh." ujar Mesha seketika setelah Ayem berhasil sampai ditengah-tengah ruangan tersebut.


Orang-orang seketika berubah ekspresinya dan mulai bersorak gembira sembari memberikan tepuk tangan meriah atas pencapaian Hunter tersebut.


Termasuk keempat Dewan tertinggi, mereka terlihat takjub dengan Ayem Yas. Tapi tidak dengan Ayem Yas, dia satu-satunya orang yang tampak kebingungan di sana.


Mata Ayem Yas seketika membulat sembari diiringi mulut yang tampak ternganga.