
"Jangan bercanda bodoh!" Ucap Ayem Yas lantang.
"Tidak, aku serius. Cepat serahkan padaku."
"Itu tidak akan berpengaruh, baik sekuat apapun senjata yang akan kita miliki saat ini, monster ini… tak bisa dikalahkan! Pertahanannya sungguh kuat, diapun akan terus memulihkan kondisinya walau kita berhasil memotongnya" Ujar Ayem Yas menyebutkan fakta.
"Memegang senjata ini cuma membuatmu mati sia-sia!" Kembali Ayem Yas menegaskan kata-katanya.
Disaat mereka berdua sedang berdebat satu sama lain, gedung yang ditempati oleh mereka berdua seketika ambruk setelah disundul Garudan.
Mereka berdua pun akhirnya terjatuh dari ketinggian tersebut hingga kelantai dasar, untungnya mereka masih hidup. Namun tindakan Garudan tidak hanya sampai disitu, tekanan udara seketika mulai naik dan setelah itu Garudan kembali menyemburkan api yang panas.
Berbeda dari sebelumnya, kali ini radius serangan itu sangat jauh, hingga beberapa gedung yang berjarak 100 meter jauhnya, terkena dampak nafas api Garudan.
Bahkan efeknya pun lebih besar, area jalanan pusat kota itu kini terlihat seperti dipenuhi lautan api.
Sungguh pemandangan yang mengerikan, tak ada satupun serangan-serangan yang dikeluarkan oleh monster itu menyisakan segala apapun yang ada disekitarnya.
Setelah mengeluarkan serangan yang nggak ngotak itu, Garudan mengambil nafas panjang dan mengeluarkannya pelan dari lubang-lubang yang berada dibawah lehernya. Total ada 19 lubang yang bentuknya sama dan secara serentak mengeluarkan udara sedingin es.
Mungkin saja itu adalah hidung-hidung Garudan, sebab makhluk itu selalu menghembuskan nafas dari sana.
Setelah menghembuskan nafas dinginnya, Garudan dengan pelan berjalan menghampiri sesosok jasad yang sudah tergeletak tak berdaya, posisi jasad tersebut berada tidak jauh dari reruntuhan bangunan yang telah hancur.
"Ahhrrkk! Apa ini?! Gawat. Nafasku terasa sesak…" ucap Ayem Yas yang suaranya tertahan-tahan.
Itu adalah sebuah keberuntungan, Ayem Yas benar-benar beruntung karena tidak terkena langsung semburan api itu. Namun satu set perangkat pelindung mahal yang dikenakannya mengalami rusak parah.
Setelah berada tiga meter dari kaki monster itu, Garudan kemudian merendahkan kepalanya lalu melihat kearah Ayem Yas dengan tatapan tajam.
"Perubahan udara yang mendadak ini… sial, aku akan mati." Ucap Ayem Yas dalam hati sembari menengadah menatap langit. Sepertinya Garudan akan menyemburkan nafas apinya lagi, dan dengan spontan Ayem Yas memejamkan matanya sekuat tenaga karena tak sanggup melihat kenyataan.
Namun Garudan sama sekali tidak menembak, sepertinya ada semacam jeda setelah Garudan mengeluarkan energi apinya, dan misteri dibalik bergantinya kemampuan Garudan ke energi es.
Hanya Sayon yang menyadarinya, iapun sudah mempelajari tentang pola Garudan tersebut beberapa menit yang lalu. Jadi saat ini Sayon tampak tengah bersembunyi dan menunggu sampai Garudan mengeluarkan nafas dinginnya lagi.
Setelah nafas dingin itu menyelimuti area disekitarnya, Sayon tiba-tiba keluar dari tempat persembunyiannya dan melompat dari ketinggian sebuah gedung.
Karena tidak terjadi apa-apa, Ayem Yas perlahan membuka matanya. Sontak saja saat matanya terbuka lebar menatap langit, tiba-tiba saja kedua mata Ayem Yas menjadi terbelalak.
Terlihat Sayon sedang terbang di langit dan mencoba mendarat diatas kepala Garudan sembari menghunuskan sebuah pedang.
Garudan yang tidak menyadari hal itu memutar-mutar badannya mencari tahu sesuatu yang telah hinggap ditubuhnya itu, hingga tubuh besar itu menubruk beberapa bangunan yang berdiri kokoh dibelakangnya.
Ayem Yas benar-benar tercengang melihat aksi nekat Sayon, namun yang lebih membuatnya tercengang lagi, ialah sebuah pedang yang sedang digenggam Sayon.
"Pedang itu… pedang itu punyaku kan!? Punyaku kan…" ujar Ayem Yas yang hanya dapat berbicara dalam hati, karena perubahan udara yang tiba-tiba tersebut membuat dirinya seakan susah untuk bernafas.
Tentu saja pedang tersebut adalah milik Ayem Yas, entah sejak kapan, dan bagaimana bisa. Ayem Yas bertanya-tanya kenapa pedang itu bisa ada ditangan Sayon.
Sebelumnya sesaat sebelum bangunan yang mereka tempati tadi ambruk, Sayon dengan lihai menarik pedang itu dari sarungnya tanpa disadari Ayem Yas, dan lalu dengan memanfaatkan sebuah pijakan yang masih utuh, Sayon melompat ke sisi kanan jendela gedung.
Sayon yang berhasil terpental ketempat yang lebih rendah, kemudian lari berlawanan arah dari Garudan.
Iapun kemudian melompat dari puncak gedung itu dan berakhirlah diatas kepala Garudan, tanpa membuang waktu Sayon langsung menancapkan pedang yang sedari awal tampak dimodif aneh itu, tepat dikepala Garudan.
Tapi… sungguh naif sekali, disangkanya dengan menusukkan pedang itu ke kepala monster tersebut, mungkin saja monster itu akan mati.
Namun sayangnya usaha yang dilakukan Sayon tidak berhasil, tebakan Sayon sangat salah. Sayon memang tidak lupa kalo Garudan memiliki pertahanan terkuat yang ada pada seluruh sisiknya, walau kepala Garudan tidak dilindungi oleh sisik tersebut, tapi satu hal yang tidak terduga, tengkorak kepala Garudan adalah bagian paling terkeras dari yang lainnya.
Monster itu tidak bisa dilukai.
Beberapa kali Sayon menghantamkan pedang itu ke kulit Garudan, selalu bakal dipantulkan kembali sembari mengeluarkan suara seperti dua besi yang saling beradu.
Sayon tampak kesulitan, dari wajahnya mulai bercucuran banyak keringat. Kedua kakinya yang saat ini berpijakan pada tubuh Garudan seketika terasa menyakitkan, dan mengeluarkan suara seperti setetes air yang jatuh kedalam kuali panas.
Waktu sudah mulai habis.
Tubuh Garudan mulai menyala kemerah-merahan, secara mendadak kobaran api itu menyala dari pundak Garudan hingga kebagian ekornya.
Energi api yang dikeluarkan Garudan tampak berbeda dari sebelumnya.
Garudan tampak kesal, iapun mulai menunjukkan keganasannya. Setelah berganti mode seperti itu, Garudan mengeluarkan pekikan suara yang terdengar seperti tertawa.
Sayon lantas merintih kesakitan dan kemudian kehilangan keseimbangannya lalu terjatuh dari tubuh Garudan, hingga berakhir dengan menghantam aspal.
Suara tubrukan pun terdengar cukup jelas.
Pedang yang sedari tadi digenggam oleh Sayon pun tiba-tiba terlepas dan menancap di aspal.
Mata Ayem Yas membulat setelah melihat perubahan Garudan, hawa panas dari tubuh terbakar monster itu terasa akan membakar kulit Ayem Yas.
Bicara soal terbakar, kedua telapak kaki Sayon tampak gosong karena menyicipi langsung hawa panas dari tubuh Garudan.
Sayon berguling-guling di aspal dan wajahnya tampak kesal, sembari menggigit bibir bawahnya, Sayon mencoba menahan rasa sakit tersebut.
Setelah dirasa sakitnya telah berkurang, Sayon perlahan bangkit kemudian berjalan sempoyongan kearah sebilah pedang yang telah menancap di aspal.
Sebenarnya rasa sakit tersebut sama sekali tidak berkurang, cuman saja kaki Sayon sudah mati rasa.
Sayon yang berjalan lambat seperti kura-kura tampak diiringi oleh Garudan yang ikut berjalan dibelakangnya, seperti seekor buaya yang perlahan-lahan mendekati mangsanya.
Seketika pedang itu dicabutnya, Garudan mengangkat kepalanya sedikit dan membuka lebar mulutnya, lalu gigi-gigi yang tajam terlihatlah memenuhi rongga mulut Garudan.
Mengangkat pedang tersebut keatas dan lalu menghunuskan pada Garudan yang ada dibelakangnya, seketika itu Sayon terbelalak matanya dan kemudian pemandangan yang dilihat Sayon selanjutnya adalah tempat yang gelap.
Garudan telah memakan Sayon, dan perhatian monster itu kini mengarah kepada Ayem Yas.
Seketika Garudan mulai memandangi tubuh berdaging didepannya, Ayem Yas pun mulai merangkak akibat rasa ketakutan yang sudah memenuhi tubuhnya, berkali-kali dirinya menggerutu karena berada di tempat yang salah.
"Hihhhh…!! Kenapa kau melihat kearah sini?! Aku belum ingin mati.." ucap Ayem Yas panik.
"Tolong aku.."
"Siapapun, tolong selamatkan aku."