DUNGEON ZONE

DUNGEON ZONE
Chapter 2. MALAIKAT MAUT



"Luar biasa, sungguh luar biasa." Ucap seorang pria tua mengenakan jas mewah berwarna coklat. Sembari memberikan sebuah tepuk tangan untuk senjata penghancur itu, dia tersenyum haru. Pria tua yang telah berusia 57 tahun ini adalah seorang pejabat tertinggi yang bertanggung jawab atas Benteng Payakumbuh.


Pak tua itu bernama Rahman Putro Nuswendra. Tidak lama lagi dia juga akan segara naik jabatan dan menjadi orang nomor satu di Payakumbuh.


"Mengerikan.. ini sangat mengerikan pak menteri. Bagaimana mungkin kamu tidak memikirkan nasib orang-orang yang ada di sana! Ini pembunuhan! Tindakan keji!" Seorang gadis cantik bergaya rambut ponytail berjalan dengan amat tergesa-gesa menghampiri pak tua itu. Gadis tersebut pun terlihat sangat kecewa dan mengkritik tindakan pak tua yang dirasa berlebihan.


"Oh, walah.. ada nona Diana rupanya. Maaf atas ketidak nyamanan ini nona Diana. Seharusnya ini bukan waktu yang tepat untuk nona Diana melihat pemandangan kala pagi ini. Tapi sayangnya kita juga tidak bisa berbuat apa-apa, jika kita tidak bisa mengambil langkah nan cerdas, ratusan ribu orang-orang kita akan terancam. Begitupula dengan nyawa nona dan pemimpin kota Payakumbuh." Ujar Rahman pada Diana dengan ekspresi wajah penuh penyesalan.


"Tapi.. mereka? Seharusnya kita peringatkan, mereka juga orang-orang kita." Bantah Diana Syejohan.


"Mereka bukan orang-orang kita! Maaf, nona Diana.. tidak ada waktu untuk memberitahu mereka, kita memiliki sesuatu yang harus dilindungi, di dunia yang kejam ini kita musti memilih melindungi yang bisa kita lindungi." Bentak Rahman sesaat dan kembali bersikap bijak seperti biasanya.


Tidak lama kemudian tiba-tiba terdengar jeritan yang amat keras hingga terdengar sampai ke atas Benteng. Rahman, Diana, dan beberapa tentara yang telah siap siaga seketika tercengang setelah bersamaan melihat kearah Timur.


Asalnya telah dipastikan berasal dari dalam Awan gelap yang tercipta oleh ledakan nuklir sebelumnya. Dan pekikan itu adalah pekikan seekor monster, lebih tepatnya suara keras tersebut adalah aumannya.


Tidak dapat terdeteksi oleh radar. Makhluk yang hampir berukuran sebesar Benteng Payakumbuh ini tiba-tiba saja datang dari Timur, dan kini masih terus menghadang meski telah ditembak dengan nuklir.


Makhluk itu bernama Garudan, monster sekelas Artefak yang beratnya mencapai puluhan ton, juga dikenal sebagai Red God Dragon yang berasal dari dalam Dungeon. Rupanya saja sungguh membuat tubuh menggigil, tubuh raksasanya pun memiliki pertahanan yang diselimuti oleh sisik-sisik berwarna merah tua nan sekuat baja.


Rahangnya bagaikan seekor buaya, nafasnya sungguh dingin padahal tubuhnya terlihat terbakar. Dia juga memiliki dua sayap yang lebarnya bisa mencapai puluhan meter, namun salah satunya sudah tampak rusak sebelumnya entah bagaimana.


Jika diperhatikan dari jarak dekat, monster bernama Garudan itu terlihat seperti perpaduan antara buaya dan naga.


"Didalam berkas profil Dungeon, aku tidak pernah dengar ada monster yang bisa bertahan dari serangan berat ini. Sebenarnya, makhluk kelas apa dia itu?! Naga? Raja? Tidak, mungkinkah.. yang lebih tinggi. Artefak?!" Rahman mengerutkan keningnya menyebut kata Artefak untuk monster itu.


"Mustahil!" Ucap Rahman panik. Seketika itu Rahman terduduk di lantai memandangi kengerian dari wajah makhluk yang diduga adalah jelmaan dewa.


Dengan suara yang berat Rahman memerintahkan kepada semua unit yang mengoperasikan senjata Benteng, untuk melakukan serangkaian serangan ekstrim kearah Garudan. Jauhkan makhluk itu dari hadapanku, begitulah kata-kata terakhir Rahman sebelum ia meninggalkan pos dan kemudian lari terbirit-birit menuju ke kamarnya untuk bersembunyi.


Merangkak ke bawah tempat tidur nan sempit, tampak Rahman terus melantunkan doa kepada Tuhan untuk keselamatannya.


Sementara itu di pos, tanpa ada seorangpun yang mengkomandoi Benteng, pertahanan pertama akhirnya hancur dengan mudah. Dinding luar Benteng yang terbuat dari bahan baja terkuat di bumi pun dengan mudahnya dikoyak Garudan menggunakan rahangnya yang lebar.


Sekarang Garudan berada didepan gerbang utama, dan kemudian menyemburkan nafas api yang membakar sesuatu yang ada dihadapannya menjadi bara api.


Setelah itu nafas Garudan kembali mengeluarkan asap nan dingin hingga bara api yang menyala disekitarnya padam, tekanan udara mulai terasa sedingin batu es, lima puluh meter dari posisi Garudan tampak banyak sekali orang-orang terbelalak matanya, tercengang melihat kearah Garudan.


Seketika itu sebuah teriakan histeris pecah ditengah kerumunan, kemudian orang-orang mulai berhamburan kemana-mana tuk menyelamatkan dirinya masing-masing.


Saat ini pemandangan yang amat tragis terlihat di kota Payakumbuh dan kepanikan itupun menjalar ke seluruh tempat hingga pusat kota. Orang-orang yang statusnya berwibawa itu kini menjadi liar dan tidak peduli dengan sekitarnya, keadaan yang berdesakan dan saling dorong hingga terinjak-injak pun menimbulkan banyak korban jiwa.


Setiap kali perutnya terisi puluhan organ manusia, Garudan mengeluarkan pekikan suara yang terdengar aneh, suaranya terdengar seperti tertawa ala rubah.


Sementara itu di area tempat permukiman para Lower Rank, tempat tinggal itu kini menjadi hancur. Semua orang tewas mengenaskan, jika adapun yang berhasil selamat sudah dipastikan luka bakar yang serius takkan membuatnya bertahan lebih lama.


..


Perlahan mencoba merasakan kaki dan kemudian tangan, Sayon perlahan bangkit dari tempat terbaringnya namun tertahan sebongkahan tanah yang terkelupas dari permukaan bumi dan menghimpitnya.


Sepertinya bongkahan tanah itu tercipta oleh terjangan bom sebelumnya dan menimpa Sayon.


Apa itu keberuntungan atau bukan, yang jelas berkat bongkahan tanah tersebut Sayon cuma menderita luka bakar 65 persen.


Setelah merasakan tubuhnya dapat kembali digerakkan, Sayon lekas berupaya menyingkirkan bongkahan tanah itu, sayangnya ada sesuatu yang mencoba menahannya kembali. Sayon sempat beberapa kali menjerit keras karena terasa amat menyakitkan disekitar wajahnya.


Sembari terus menggeser bongkahan tanah yang berat itu, Sayon juga menahan perihnya akibat kulit wajah yang meleleh dan menempel pada bongkahan tanah tersebut.


Tidak hanya wajahnya, sepertinya separuh tubuh Sayon tampak meleleh atau terkelupas kulitnya dari dagingnya.


Sayon berupaya menahan rasa sakit itu lalu fokus melepaskan diri dari bongkahan tanah itu, kulitnya pun seketika itu langsung terkelupas parah dan mengeluarkan banyak darah.


Tapi yang terpenting Sayon akhirnya berhasil menyingkirkan bongkahan tanah tersebut dari tubuhnya.


"Sakit, ah! Sakit sekali." Ucap Sayon bersujud di tanah sembari memukul-mukul tanah.


"Yona?! Kakak, dimana kakak." Sayon perlahan bangkit dan kemudian mencari-cari Yona.


Tidak jauh dari tempat Sayon yang dihempaskan oleh angin panas sebelumnya, di sebuah tempat yang masih tampak terbakar areanya, tubuh Yona ditemukan.


Kondisi Yona sungguh tampak kritis, tubuhnya mengalami luka yang amat serius. Tak disangka gadis cantik ini telah kehilangan pesonanya dan kini menjadi manusia gosong tanpa busana.


Sulit untuk mengenali wajah Yona yang sudah terlihat gosong itu, namun Sayon tahu hanya dengan melihat bola mata gadis itu, jasad tersebut Sayon identifikasi adalah Yona.


Sayon memeluk tubuh Yona erat dan meratapi nasibnya, isak tangis sudah tak terbendung dan air matanya pun mulai bercucuran jatuh membasahi pipi Yona.


Seketika itu terdengar suara yang amat lemah dari dalam mulut Yona, sontak saja Sayon tercengang mendengarnya, karena tidak tahu apa yang barusan diucapkan Yona, Sayon hanya bisa membalas kata-kata Yona dengan berkata bahwa Yona akan baik-baik saja.


Sayon terus mencoba menyemangati Yona dalam setiap kata-katanya, dia pun berjanji akan membawa Yona ke dokter dan memulihkan kondisi Yona kembali.


Hanya ada satu tempat yang terpikir olehnya, Sayon kemudian lekas menggendong Yona lalu membawanya kedalam Benteng.