
Berusaha keluar dari area itu, Sayon lari secepat mungkin karena Garudan kini mencoba tuk menangkapnya. Masuk gang dan keluar gang, Sayon berharap bisa lolos dari kejaran monster raksasa itu, namun hal itu sama sekali tidak menghambat perburuan Garudan, walau banyak tempat sempit bagi Sayon untuk bersembunyi, Garudan tetap bisa menghancurkannya.
Dimana pun Sayon berlari, tempat itupun akan berakhir rata setelah dilewatinya.
Hingga berakhirlah main kejar-kejaran mereka saat Sayon berada di jalanan pusat kota. Areanya terlalu luas dan terbuka, tidak ada jalur sempit lagi tuk meloloskan diri dari pandangan Garudan.
Perlahan Sayon melihat kearah belakang dan menjadi ketakutan, dalam sekejap kini Garudan berada tepat dibelakangnya dan mulai menunjukkan rahangnya yang lebar.
Dalam sekejap mata, lidah Garudan nan panjang langsung menancap pada tubuh Yona dan menariknya lepas dari punggung Sayon.
Sayon yang tengah fokus berlari seketika itu tampak tercengang dan kemudian bertekuk lutut akibat syok berat, Yona telah dimakan. Setelah itu Sayon mulai berteriak histeris memanggil nama Yona.
Tidak lama setelah itu lidah nan panjang tadi juga mulai menargetkan Sayon, dengan cepat lidah panjang itu mengarah ke wajahnya. Sayon sadar akan serangan selanjutnya, tapi dia tidak mampu tuk merespon karena serangan itu terlalu cepat menurutnya. Namun sesaat sebelum benda lengket itu menyentuh Sayon, tiba-tiba ayunan sebuah baja yang terlihat ringan melesat lebih cepat dari gerakan lidah itu dan terpotong rapi.
Kemudian sebuah potongan lidah sebesar minibus terjatuh dan tergeletak didepan Sayon, potongan lidah itu mengeluarkan banyak darah. Sementara itu Garudan tiba-tiba tampak terdiam sejenak dan menarik sisa lidahnya kembali.
Seketika itu seseorang datang dari arah belakang Sayon, dia juga tampak sangat misterius, tubuhnya berkilau karena dipenuhi oleh satu set perangkat pelindung disetiap titik vitalnya. Laki-laki yang memiliki gaya rambut pompadour yang disisir rapi kebelakang itu kemudian menarik lengan Sayon membantunya untuk bangkit.
"Wah… kebetulan, kah. Pasti… ini kebetulan, hmm… benar sekali. Seranganku ini jelas bukanlah sebuah kebetulan. Huahaha…" ucap seorang laki-laki yang barusan menebas lidah Garudan tersebut dalam hati, tubuhnya juga tampak sedikit gemetar.
Sebenarnya serangan tersebut murni 100 persen kebetulan.
"Huu… wah, mengerikan." Kembali laki-laki yang berpenampilan kurang menarik itu mengungkapkan perasaannya.
Setelah melihat sebuah simbol yang ada diseragam laki-laki itu, Sayon tahu bahwa dia adalah seorang Hunter.
"Namaku adalah Ayem Yas, seorang Hunter nan hebat." Ucap Ayem Yas jelas.
"Seorang pemuda yang hebat." Ayem Yas mengulang kembali kalimatnya.
"Kamu, kamu tidak apa-apa, kan?" Tanya Ayem Yas dengan ekspresi wajah yang tampak cemas, sebab dihadapannya terlihat pemandangan yang lebih mengerikan daripada wajah Garudan.
"Sungguh monster yang sangat keji!" Ucap Ayem Yas mendalam.
"Ha, ah, aku baik-"
"Tidak, bukan itu. Tolong jangan pedulikan aku. Tolong, tolong... tolong kakakku."
"Kakak?! Dimana kakakmu?"
Sayon menggerakkan tangannya dan menunjuk kearah Garudan. Sontak saja Ayem Yas menjadi tercengang. Setelah itu Ayem Yas menjelaskan sesingkat mungkin tentang situasi saat ini, bahwa kalau cuman dirinya saja, dia tidak akan bisa menghadapi monster itu, dan lalu mengatakan pada Sayon bahwa menyerah saja soal kakaknya, karena kakaknya tersebut pasti telah mati.
"Tidak… itu tidak mungkin, kan. Habisnya… tadi dia masih ada didekatku. Soalnya-" ucap Sayon melototi telapak tangannya seakan membayangkan jemari Yona masih menyentuh tangannya.
"Terimalah kenyataan! Dasar makhluk bodoh. Pikirkan tentang hidupmu saja."
"Aku harus membawa dia pergi dari sini, dan memasukkan namanya kedalam daftar orang-orang yang telah aku selamatkan, setidaknya aku butuh dua nama lagi agar bisa menerima komisi dan naik peringkat. Tapi, tapi kenapa monster ini bisa disini!? Aku sengaja memilih area ini karena seharusnya monster itu sedang mengamuk di Timur Benteng. Sial, sial sekali… pokoknya aku tidak boleh menghadapi monster ini, pokoknya tidak boleh. Cepatlah mengerti dan ikutilah prosedur evakuasi bersamaku dasar bocah bodoh!" Ujar Ayem Yas dalam hati.
Ayem Yas kemudian menyuruh Sayon kabur dan mengajaknya mengungsi ke Selatan Benteng. Namun Sayon menolaknya, tidak lama kemudian tiba-tiba Garudan mulai menyerang.
Wajah Ayem Yas tampak ketakutan dan super panik.
Semburan api itu benar-benar serangan nan mematikan, sekali sembur saja beberapa meter luas jalan tiba-tiba menjadi kolam magma. Beberapa gedung yang cuman terkena cipratan nya, roboh seketika.
Namun mereka berdua berhasil selamat, sembari menarik Sayon, Ayem Yas berhasil menyingkir dari serangan itu disaat detik-detik terakhir dan mendarat diatas sebuah gedung.
Mendapati dirinya bisa terbang, raut wajah Sayon menunjukkan rasa terkejutnya, tubuhnya terlihat seakan menjadi ringan sekali. Sayon tak menyangka ternyata manusia bisa melakukan hal seperti ini.
Dirinya pun bertanya-tanya apakah semua Hunter bisa lompat setinggi ini? Jawabannya tentu saja iya. Semua Hunter memiliki kekuatan fisik yang melebihi manusia biasa, dan akan semakin hebat lagi tergantung seberapa pesat perkembangan mereka.
Sayangnya Ayem Yas tidak sehebat yang dipikirkan Sayon. Situasi kian menjadi rumit, Ayem Yas benar-benar terlihat kesulitan, wajah paniknya pun tidak berhenti muncul. Seperti yang tertulis didalam laporan asosiasi, monster sekelas Artefak tersebut tidak bisa dikalahkan.
Lidah yang tadinya putus setelah ditebas Ayem Yas kini kembali pulih. Regenerasi monster itu benar-benar cepat sekali, jika ditebas beberapa kali pun, monster itu mungkin tidak akan mati.
Tidak seperti monster-monster lainnya, monster itu abadi.
Tiba-tiba Ayem Yas terlihat cemas setelah melihat kearah pedang yang sedari tadi digenggamnya, nampaknya Ayem Yas sangat ketakutan melebihi ketakutannya pada Garudan.
"Aku tidak mau berlama-lama di sini sembari terus memakai EXE yang sudah sekarat ini." Ucap Ayem Yas cemas.
"Kita harus kabur!" Seru Ayem Yas pada Sayon.
Saat Ayem Yas mencoba menarik lengan Sayon, tiba-tiba Sayon menepisnya dan memaki Ayem Yas. Sayon sangat terkejut dan marah, dia memarahi Ayem Yas karena mencoba kabur, sontak saja Ayem Yas tercengang setelah mendengarnya.
"Hah!? Kamu, kamu bodoh sekali yah. Tidak ada senjata yang mampu melukainya, walaupun aku seorang Hunter tentu ada batasnya, dengan siapa dan apa yang tengah aku hadapi."
Mendengar ujaran laki-laki yang terlihat beberapa tahun lebih tua darinya itu, Sayon tiba-tiba tersadar akan sesuatu.
"Aku sudah menghadapi monster itu dari tadi! Dan kamu tahu berapa banyak para Hunter yang tewas karena mencoba menahannya. Aku pun ingin sekali membalas dendam demi Hunter-hunter yang telah dikalahkannya, tapi apa boleh buat, kan. Senjataku saja tidak bisa."
"Jika aku gunakan satu serangan lagi, maka senjata ini akan mengamuk-"
"Apa?!" Tanya Sayon tiba-tiba.
"Kita harus melarikan diri." Balas Ayem Yas cepat.
"Bukan itu."
"Apanya?"
"Yang barusan, apa yang akan terjadi jika pedang itu mengamuk?"
"Apa kamu tidak tahu!? Tentu saja aku juga tidak tahu! Aku belum pernah melihat ada Hunter yang menggunakan EXE nya hingga batas akhir. Karena itu adalah suatu larangan serius."
Setelah mendengar penjelasan Ayem Yas, mendadak Sayon kemudian meminta Ayem Yas tuk menyerahkan senjata tersebut kepadanya.
"Jika kamu takut, biar aku yang memakainya." Ucap Sayon sembari melototi Ayem Yas.
Ayem Yas menjadi terheran-heran, baru kali ini ada orang bodoh yang ingin memegang senjata seorang Hunter yang bukan miliknya, apalagi orang yang meminta tersebut bukan seorang Hunter.
Ayem Yas mengerti maksud Sayon, dia tidak ingin kabur dan ingin melawan Garudan. Akan tetapi sesuatu yang dimintanya itu sama saja dengan menggali kuburannya sendiri.