DUNGEON ZONE

DUNGEON ZONE
Chapter 3. Aku Ingin Melindungimu



Luka bakar serius yang diderita oleh Sayon tidak dapat dirasakannya lagi, fokus Sayon sudah sepenuhnya teralihkan oleh kondisi Yona. Karena keselamatan Yona adalah prioritas tertinggi yang saat ini terpikir dibenaknya.


Sayon lekas menggendong Yona lalu memungut kaki kiri Yona, kemudian berangsur-angsur berjalan kaki kearah Benteng.


Merasakan momen saat ini, sekilas Sayon teringat akan masa lalu.


Sebenarnya Yona dan Sayon bukanlah kakak dan adik kandung, Yona adalah anak yatim, sepuluh tahun lalu saat dalam perjalanan mengungsi ke Payakumbuh ia menemukan Sayon yang kala itu berumur 10 tahun.


Yona melihat Sayon termenung ditepi jalan sembari terus memegangi lengan kiri ibunya, menyedihkannya lagi anak ini diduga sudah berhari-hari membawa lengan nan tampak membusuk itu kemana-mana.


Orang-orang yang lewat didepannya terus mengabaikan keberadaan anak kecil itu karena tampak sedikit menjijikkan.


Yona yang prihatin dengan kondisi Sayon kemudian menghampirinya dan mengajak anak kecil itu ikut bersamanya ke Payakumbuh.


Sayon yang kakinya saat itu tampak cidera dan tidak bisa berjalan dengan baik, dibopong Yona hingga ke Payakumbuh.


"Ingat tidak.. dulu kakak pernah menggendongku seperti ini, haha.. jadi nostalgia, walau posisi kita kini menjadi kebalik." Sayon mencoba mengajak Yona bicara walau tahu tidak akan ada respon, sesekali wajah Sayon memperlihatkan tampang yang bersalah.


"Jadi kakak, kumohon tetaplah bersamaku.. jangan tinggalkan aku, aku tidak mau sendirian lagi." Ucap Sayon nan seketika menjadi iba hatinya.


Setelah beberapa menit Sayon berjalan, dirinya menemukan sebuah minibus yang terparkir tanpa sebuah sistem pengaman. Sayon tahu minibus itu adalah sarana transportasi yang biasanya mengangkut para Lower Rank tuk bekerja di dalam Benteng.


Setelah memeriksanya Sayon tampak senang. Sistem pengaman minibus itu telah rusak, diduga mungkin rusak karena dampak bom sebelumnya. Terlihat juga badan minibus tersebut sedikit mengalami kerusakan namun mesinnya masih bisa dinyalakan.


Sayon sangat senang dengan alat transportasi yang ditemukannya tersebut, menurutnya dengan adanya minibus tersebut langkahnya akan menjadi cepat menuju Benteng. Meletakkan tangannya diatas sebuah layar dan kemudian dipindai, Sayon terdaftar sebagai pengemudi mobil yang berizin, setelah itu mesin minibus mulai berbunyi nyaring dan dapat dikendarai.


Menginjak pedal gas dengan terburu-buru, Sayon pun melesat dengan kecepatan tinggi menuju kearah Benteng.


..


Tembok besar dan gerbang baja yang melindungi Benteng dari serangan luar telah luluh lantak. Biasanya jika ada orang luar yang ingin memasuki Benteng, butuh pemeriksaan ketat dan bermacam-macam syarat lainnya, namun Berkat Garudan, minibus yang dikendarai Sayon dengan mudah memasuki Benteng tanpa syarat apapun dan terus melesat menuju kearah Barat dimana sebuah rumah sakit seingat Sayon ada disekitar wilayah tersebut.


 "Jangan khawatir kakak.. kita sebentar lagi akan sampai." Ucap Sayon sembari terus menginjak pedal gas hingga batas maksimum.


Kurang dari dua menit minibus yang dikendarai Sayon akhirnya sampai jua ditempat tujuan, asal-asalan memarkirkan kendaraannya Sayon lekas keluar dari minibus penyok itu, dan lalu membawa Yona kedalam rumah sakit megah nan tampak besar.


Suasana diluar tampak begitu sepi, biasanya didepan rumah sakit itu banyak sekali orang-orang yang lalu lalang. Tidak peduli amat dengan situasi tersebut, Sayon terus berlari sembari menggendong Yona masuk kedalam rumah sakit.


Saat berada didalam alangkah terkejutnya Sayon dengan keberadaan orang-orang didalam sana, hampir semua ruang didalam gedung itu dipadati oleh orang-orang yang ingin berlindung, tampak juga mereka sungguh ketakutan sembari menundukkan kepala dan badannya seperti bersembunyi dari sesuatu.


Sayon hanya bisa berteriak tolong, tolong, dan minta tolong kepada siapapun yang bisa menolongnya. Namun sekian banyaknya orang-orang yang ada didalam ruangan itu tidak ada satupun yang mau menolong mereka berdua.


Tatapan jijik dan hina seketika tertuju pada luka-luka dan pakaian mereka berdua, terlebih melihat kondisi Yona mereka sungguh enggan berempati, dan kemudian ada yang seketika itu muntah setelah mencium bau gosong tubuh Yona.


Orang-orang didalam ruangan itu kini mulai memaki Sayon dan mengusirnya, tatapan mata yang beringas seketika mulai mengelilingi mereka berdua. 


Sayon benar-benar sangat terkejut dan terpukul.


"Yang benar saja, segini, kah. Nilai manusia." Ucap batin Sayon kecewa.


Sayon terus meminta belas kasihan mereka.


Namun tindakannya malah menambah ketakutan orang-orang didalam ruangan itu, dan bahkan menuduh Sayon tengah membawa wabah ganas.


"Kakakku bukanlah wabah!" Ujar Sayon marah.


"Lihat! Sifatnya yang ganas itu, kita semua bisa celaka jika membiarkan orang sepertinya terus berada di sini." Salah satu orang yang ada didalam ruangan itu mencoba memprovokasi rasa takut orang-orang.


Alhasil rasa ketakutan itupun akhirnya berhasil menyebar.


"Keluar dari sini!!" Teriak banyak sekali orang-orang yang ingin mengusir Sayon.


"Tolong.. anakku tidak berhenti muntah. Ini semua salahmu! Semua makanan dari dalam perutnya jadi terbuang karena bau kakakmu itu!"


..


Setelah itu mereka berdua dipaksa keluar dari dalam rumah sakit tersebut oleh sekelompok dokter dan perawat sembari menodongkan pisau bedah kearahnya.


Sayon mundur satu langkah demi langkah dan berakhir di luar gedung tanpa ada perawatan intensif untuk tubuh Yona.


Sayon sudah kehabisan akal, dirinya tidak tahu harus bagaimana lagi. Berjalan beberapa langkah dari halaman rumah sakit itu Sayon seketika berhenti sejenak, dia mulai berpikir apa yang harus dilakukan selanjutnya.


Yona pun tampak sudah mencapai batasnya, seketika itu air mata Sayon bercucuran keluar dan membasahi pipinya.


Dari belakang sebuah jemari yang terasa amat kasar tiba-tiba menyentuh pipi Sayon sekali, Sayon tahu itu adalah tangan Yona yang mencoba tuk menghapus air matanya namun tak sampai.


Hati Sayon kemudian serasa sakit, emosinya kini menjadi tak terkendali, diapun berniat ingin kembali lagi kedalam tuk mencuri obat-obatan yang ada didalam sana.


Akan tetapi saat Sayon mencoba membalikkan badannya menuju kearah rumah sakit, tiba-tiba bangunan setinggi lima puluh meter itu runtuh, akibatnya embusan angin nan kencang tercipta dan membuat Sayon yang berada didepan halaman rumah sakit itu seketika terpental beberapa meter.


Semua jadi kacau balau, suasana yang tadinya tampak sepi kini diramaikan oleh jeritan orang-orang yang terluka akibat tertimpa puing-puing bangunan yang roboh.


Tapi yang lebih mengkhawatirkan, tampak beberapa tubuh manusia sedang diangkat oleh sesuatu nan nampak panjang berwarna merah, sesuatu itu juga tampak lengket dan berlendir.


Mereka yang ada didalam rumah sakit itu ditarik satu persatu dan kemudian menghilang setelah masuk kedalam sesuatu nan tampak seperti sebuah goa yang ada dibalik kabut.


Setelah kabut yang menyelimuti bangunan itu perlahan menghilang, Sayon tiba-tiba merinding dan terbelalak matanya menatap ke atas.


Saat ini Garudan menatap kearah Sayon dengan rasa lapar, mata hijau nan tampak menyala itu kini beradu tatap dengan mata Sayon.


Tubuh Sayon pun seketika menjadi berat akan rasa takutnya, tapi karena naluri Sayon berkata lari akhirnya dia berhasil menggerakkan kakinya dan lari terbirit-birit dari area amukan monster itu.


Minibus sebelumnya sudah tak dapat digunakan lagi, mobil itu akhirnya hancur sepenuhnya setelah puing-puing besar bangun rumah sakit menimpa bagian depan minibus tersebut. Akhirnya Sayon hanya bisa kabur dengan kedua kakinya.


Sayangnya Garudan telah menaruh perhatian pada Sayon, saat Sayon mulai berlari Garudan pun mulai memburunya.