DUNGEON ZONE

DUNGEON ZONE
Chapter 6. HERO (Pahlawan)



Ayem Yas merangkak cukup jauh. Sesuatu didalam dirinya terus-menerus mengatakan bahwa ia harus secepat mungkin kembali. Sayangnya hanya beberapa langkah saja Garudan sudah bisa mengejarnya. Tubuh Ayem Yas menggigil, terasa sangat jelas kalau nafas Garudan sudah berhembus dari arah belakangnya, dan itu terasa sangat amat dekat sekali.


Merasakan hawa tersebut Ayem Yas langsung menyadarinya, kalau malaikat maut sudah siap menjemputnya.


Wajah Ayem Yas seketika terlihat sangat jelek dari biasanya, sembari melihat kearah depan, Ayem Yas teringat akan seorang wanita tua. Wanita tersebut tidak lain adalah neneknya, yang kini sedang menunggu kepulangan Ayem Yas.


..


Dia tengah sedang berputus asa, bahkan bayang-bayang sang nenek tampak bermunculan dimana-mana. Seketika lidah Garudan menyentuh pundak Ayem Yas, seketika itu pula Ayem Yas langsung kehilangan kesadarannya.


Saking takutnya Ayem Yas tiba-tiba pingsan ditempat.


Tanpa perlawanan, tubuh Ayem Yas kemudian mulai diangkat keatas dan berangsur memasukkannya kedalam mulut yang sudah menganga lebar.


Namun sebelum tubuh Ayem Yas akan menghilang dari pandangan, tiba-tiba mata Garudan tampak terbelalak.


Garudan kemudian melepaskan Ayem Yas hingga terjatuh ke aspal. Bersamaan dengan itu Garudan mulai bertingkah aneh, dia berulang kali menembakkan bola api kesana-kemari tak tahu apa tujuannya.


Sepertinya ada sesuatu yang tengah mengganggu Garudan. Beberapa kali tubuh yang besar itu dihantamkannya ke gedung-gedung dan kembali lagi menembakkan bola apinya.


Walau serangan itu tidak terlalu besar dan kuat, akan tetapi tetap saja kekuatan raksasa tersebut akan menimbulkan kerusakan yang parah.


Garudan tampak kesakitan, dari dalam perutnya ada sesuatu yang mencoba mengacaukan keseimbangan energinya.


Perlahan tubuh Garudan beralih ke mode mengamuk. Dari belakang kepala hingga ujung ekornya mulai mengeluarkan percikan api dan terbakarlah tubuhnya.


Warna kemerah-merahan menyala dengan terang. Akan tetapi mode mengamuk tersebut tak dapat dikendalikan oleh Garudan.


Garudan pun menjerit keras hingga terdengar diseluruh tempat yang ada didalam Benteng. Orang-orang yang mendengar jeritan itu seketika terhenti geraknya.


Kekuatan itu mulai menyakiti Garudan, menggerogoti tubuh keras Garudan menjadi sebuah arang.


Itu semua karena sesuatu yang ada didalam tubuh Garudan. Didalam ruangan yang tampak gelap dan terasa sangat sempit sekali, Sayon tidak berhenti mengunyah sesuatu yang hendak mengunyahnya pula.


"Kau ingin ******* tubuhku bukan?! Kalau begitu ayo berlomba dan lihat siapa yang duluan *****!" ujar Sayon yang mulutnya tampak terisi.


"Aku akan memakanmu karena kau memakanku!" ucap Sayon menambahkan analoginya.


Akibat ulahnya Sayon, Garudan jadi tidak bisa menggunakan energi es untuk memadamkan api ditubuhnya. Walau Garudan memulihkan bagian yang sudah terbakar parah, api itu akan membakarnya kembali.


Kemampuan regenerasinya pun tiba-tiba menjadi lamban, itu dikarenakan Garudan menfokuskan seluruh kemampuannya untuk memulihkan sistem pencernaan yang telah dimakan Sayon.


Akan tetapi Garudan tidak bisa memulihkan sistem pencernaannya. Nafsu makan Sayon lebih cepat ketimbang pemulihan Garudan. Sampai-sampai energi yang disalurkan Garudan untuk memulihkan diri malah beralih ke tubuh Sayon.


Tubuh Sayon kembali tampak kencang dan bugar seperti sedia kala.


"Sial… sempit sekali." ujar Sayon sembari menggerakkan tangannya yang sedang menggenggam pedang.


Tidak disengaja Sayon sepertinya menarik sebuah pemicu yang ada dibawah gagang pedang tersebut. Sayon pun tiba-tiba melepaskan pedang yang sedari tadi digenggam itu hingga pedang itupun meluncur jauh ke bagian anus Garudan.


Rasanya seperti disengat listrik, sakit sekali dan Sayon spontan melepaskan pedang tersebut.


Dalam sekejap pedang itu berubah bentuknya. Dari ujung hingga ke penahan baja itu menimbulkan banyak retakan berwarna kuning.


Pedang tersebut tampak akan hancur, namun yang terjadi malah lebih menakjubkan. Sesuatu yang menggeliat tampak keluar dari dalam baja itu, berwarna hitam, seperti urat nadi yang kemudian menjalar keluar hingga menyatu dengan dinding daging didalam tubuh Garudan.


Setelah itu urat-urat tersebut tiba-tiba menghilang.


Selang beberapa detik kemudian pada bagian kaki Garudan, mendadak kaki besar dan kuat itu terpisah dari tubuhnya dan lalu mengeluarkan banyak darah.


Garudan langsung kehilangan keseimbangannya, kemudian menghantam aspal dengan keras. Bersamaan dengan itu, pundak Garudan yang berlapiskan sisik-sisik nan keras mulai terkoyak-koyak dan memuncratkan cairan merah yang menyembur bagai air mancur.


Garudan mengerang kesakitan tak tahu apa yang sedang terjadi pada tubuhnya.


Ruang sempit dimana Sayon sedang dicerna kemudian seketika terasa lebar, kini dirinya bisa menggerakkan tangan, kaki dan bagian-bagian sistem gerak tubuh lainnya, namun dalam sekejap tiba-tiba tubuhnya terasa didorong oleh sesuatu nan kuat, dan berakhir dengan terpental nya Sayon keluar dari dalam perut Garudan.


Sayon tampak terbang di udara dan melayang jauh ke Selatan Benteng, kemudian berakhir dengan tubuhnya menghantam sebuah bangunan megah seperti sebuah istana.


Sebuah jendela yang berlapiskan kaca seketika pecah setelah terhantam tubuh Sayon, kemudian iapun pingsan seketika didalam ruangan itu.


"Kakak…" ucap pelan Sayon sebelum kesadarannya hilang.


..


Dijalanan pusat kota, dimana saat ini Garudan berada. Urat-urat nadi yang mengerikan memenuhi tubuh Garudan, hingga beberapa menit kemudian keberadaan urat-urat tersebut seketika lenyap tak tersisa.


Tubuh raksasa itu kini tampak tidak bergerak lagi, sepertinya Garudan telah mati.


Setelah bala bantuan dari pemerintah pusat datang, orang-orang di Benteng Payakumbuh dapat keluar dengan aman dari dalam tempat persembunyiannya.


Bantuan evakuasi korban dan pengobatan dengan sigap mereka lakukan.


Banyak sekali Hunter-hunter dari pusat yang dikerahkan untuk menangani kasus berat ini, beberapa dari mereka juga didampingi oleh seorang Elder (petinggi dari asosiasi Hunter), soalnya lawannya adalah monster sekelas Artefak.


"Wah, gawat-gawat… aku merasa tegang sekali." ujar seorang Hunter bernama Mia, saat ini Mia tengah duduk didalam sebuah helikopter bersama salah seorang Elder dan beberapa Hunter-hunter lainnya.


"Huh… kamu gugup karena monster itu atau gugup karena dihadapan Kapten." ujar Figon pada Mia sembari menghela nafas panjang.


"Aku memang sedikit gugup dihadapan Kapten, habis dia keren sekali. Huhuhu… tapi aku pun gugup karena monster itu, iya tidak. Habis lawan kita adalah dewa loh!"


"Huh…" Figon hanya bisa menghela nafas panjangnya kembali. Lalu kembali menyambung kata-kata Mia.


"Dewa yang menguasai Dungeon, kah."


Didalam sebuah helikopter nan canggih itu terlihat beberapa Hunter meluncur cepat kebawah tanpa dilengkapi satupun alat pengaman, mereka lompat dari ketinggian 25 meter itu dengan santainya dan mendarat penuh gaya.


Dipimpin oleh seorang Elder bernama Danop Melware, 8 Hunter yang barusan turun dari helikopter kemudian bergerak serentak menuju lokasi Garudan, yang lokasinya sudah ditandai didalam sebuah alat pelacak canggih yang dibawa Danop.


Namun setelah mereka sampai di lokasi tujuan, mereka mendapati monster yang akan mereka lawan itu telah mati.


Danop Melware bersama 8 Hunter sangat kebingungan dan terperangah melihat tubuh Garudan tergeletak sudah tak bernyawa. Kemudian setelah Danop Melware memerintahkan dua Hunter untuk siaga, selebihnya mulai memeriksa area disekitar monster itu.


Tidak jauh dari tempat Garudan mati Mia dan Figon menemukan sesosok jasad yang tak sadarkan diri.


"Dia…" ucap Mia menerka.


"Wah, parah sekali. Bajunya keliatan habis terbakar. Kamu mengenalnya?" tanya Figon penasaran.


"Tidak, tapi sepertinya Kapten Danop mungkin tahu." ujar Mia.


"Eh, coba lihat?! Dia seorang Hunter dengan pin Silver. Mungkinkah…" ucap Figon dengan ekspresi terkejut setelah melihat pin Silver masih melekat di sisa-sisa pakaian jasad tersebut.


"Dia yang mengalahkan monster itu?!" ujar mereka berdua serentak sembari serentak pula melihat kearah Garudan. Namun mereka masih kurang yakin tuk mempercayai hal yang tampak mustahil tersebut.


Sebab mereka berdua juga seorang Hunter yang memiliki pin Silver, namun menilai kemampuan mereka takkan sanggup menghadapi kelas Artefak. Hal tersebut tersebut dirasa sangat tidak masuk di akal.


Akan tetapi, semua itu kemudian jadi masuk akal hanya dengan satu bukti.


"Oi… aku menemukan ini menancap pada tubuh monster itu, bukankah ini senjata milik seorang Hunter." Seseorang berjalan dengan lirih sembari mendekati Mia dan Figon lalu menunjukkan sesuatu.


Seketika itu mereka berdua pun seketika terperanjat karena terkejut.


"Hooaa!!" Teriak Mia dan Figon terkejut.


"Ha? Kenapa dengan kalian berdua? ucap Desril kaget. Seseorang yang membawa barang bukti barusan.


"Heroik ini mah." ujar Mia kagum.


"Sudah jelas sekali…" sambung Figon.


"Apa, apa… kenapa?" ucap Desril menatap mereka heran.


"Dia adalah Hero." Kembali mereka berdua serentak mengucapkan kalimat yang sama.


..


Tiga hari kemudian pascakrisis penyerangan Garudan dijalan pusat kota.


Disebuah bangunan nan megah, didalam ruangan yang ada di lantai paling atas, terdapat satu kamar termewah di Payakumbuh, yang artinya cuman hanya ada satu-satunya di tempat itu.


Ruang itu tertata rapi dengan nuansa budaya Melayu. Dekorasi dinding dan langit-langit ruangan tersebut penuh warna biru, ornamen-ornamennya pun berasal dari tempat-tempat nan jauh. Jika melihatnya dari luar pintu, kamar itu terlihat bagai surganya para ratu.


Harum dan nyaman buat ditinggali sampai akhir waktu.


Dari arah balkon kamar itu berhembus lembut angin segar yang membawa aroma pagi sampai ke tempat tidur. Diatas ranjang terempuk itu Sayon mulai tersadar dari tidurnya. Ia tersentak seperti habis bermimpi buruk, wajahnya tampak ketakutan, kedua tangannya bergetar hebat.


Seketika itu tangan lembut dari seorang gadis cantik tiba-tiba meraih dan memegangi kedua tangan Sayon.


Sayon melirik pelan kearah wajah gadis cantik tersebut dan tiba-tiba meneteskan airmata.


"Kamu tidak apa-apa? Syukurlah kamu akhirnya bangun." ucap legah gadis cantik itu.