
Dua ribu tiga puluh satu (2031). Asia tenggara yang terletak di lautan Hindia dan Pasifik, kedatangan tamu tak terduga yang secara acak mengacaukan berbagai tempat di Indonesia.
Pada malam hari itu hampir seluruh provinsi di negeri ini hilang dari muka bumi, begitupula dengan nyawa manusia.
Walau sedikit lambat, penyerangan pada malam hari itu akhirnya telah dikonfirmasi oleh pemerintahan pusat adalah perbuatan makhluk-makhluk abnormal yang datang dari dalam sebuah pintu.
Total ada ratusan lebih hal serupa juga terjadi diberbagai negara lain. Spesies mereka juga bermacam-macam, dimulai dari ukurannya yang kecil hingga raksasa setinggi puluhan meter, telah lepas ke muka bumi.
Tidak lama setelah itu makhluk-makhluk abnormal tersebut mulai menyebrangi lautan Asia. Merambat seperti sel kanker, makhluk-makhluk abnormal dari dalam pintu nan masih misterius itu kini berada dimana-mana, dan berniat membinasakan umat manusia. Setelah melalui sebuah kesepakatan bersama, setiap kepala negara menembakkan nuklir ke Bumi. Kemudian sejak peristiwa naas itu terjadi, era tersebut dikenal sebagai awal kehancuran umat manusia.
..
Dua puluh tahun setelahnya, populasi manusia turun drastis. Namun, seiring berjalannya waktu akhirnya umat manusia mencoba tuk bangkit sekali lagi. Beberapa kota yang masih tersisa mulai dimodifikasi menjadi sebuah Benteng super raksasa.
Sebuah projects revolusi pun kala itu diciptakan demi melindungi umat manusia dari kepunahan. Selama periode ini, muncullah asosiasi yang mempekerjakan banyak orang menjadi Hunter yang dipersenjatai EXE, yang mana seseorang itu akan mendapatkan gift atau kemampuan khusus yang tidak dimiliki manusia biasa.
Kemudian pada tanggal 4 maret atau sekitar enam bulan setelah projects revolusi tersebut berhasil mengambil alih tanah air, pemerintahan dunia pun mengamankan setiap wilayah pintu misterius yang berada di bumi. Dan kemudian menyegelnya untuk waktu yang cukup lama.
Para Hunter pun seketika itu menjadi pengangguran.
Pada tanggal 9 Mei, segel pintu misterius tersebut dibuka.
Beberapa penjelajah pun dikirimkan masuk kedalam pintu bersama para Hunter, tuk mencari tahu seperti apa dunia dibalik sana, namun tindakan mereka teramat tergesa-gesa.
Merasa sudah lama tidak berburu, para Hunter menjadi naif dengan kemampuannya.
Tidak ada satupun yang tahu tentang pintu itu, maupun rahasia dunia dibalik sana, hingga peristiwa tak terduga terjadi kala itu.
Banyak Hunter yang terbunuh saat menjelajahi dunia yang ada dibalik pintu misterius tersebut. Diduga bahwa sesosok dewa telah muncul di dalam Dungeon, dan membantai seluruh kelompok penjelajah.
..
Sangat cantik, indah, dan penuh dengan sumberdaya alam yang melimpah, namun juga teramat mengerikan. Dunia yang ada dibalik pintu misterius itu mereka sebut dengan istilah Dungeon, dunia tanpa batas, yang bisa menyesatkan, hingga meregang nyawa.
Walaupun demikian para Hunter tidak sepenuhnya gentar tuk menghadapi tantangan dari dunia lain itu, sebab masa ini sudah terkenal menjadi masa ajang nya mencari nafkah dengan menjelajahi Dungeon.
Pemerintahan pusat akan membeli setiap informasi, material, atau apapun yang berharga dan langka dari dalam Dungeon yang mereka bawa.
Alhasil dari hari ke hari jumlah Hunter yang berkeinginan menjelajah dan menaklukkan Dungeon tersebut, kini terus bertambah.
Tidak hanya sampai disitu. Demi menguak misteri dan rahasia yang ada dibalik pintu misterius tersebut, sekaligus mencari tahu siapa dalang yang ada dibalik semua kehancuran ini, pemerintahan pusat pun membentuk Legiun Ilahi (pasukan pembasmi) yang keberadaannya diluar kuasa asosiasi.
..
Satu tahun kemudian, di sebuah pabrik beras yang beralokasi di pulau Sumatra. Didepan pintu masuk pabrik, terlihat seorang pemuda berpakaian kaus oblong tanpa lengan sedang mengangkat empat karung beras dipundaknya, teriknya sinar matahari hari ini membuat keringat yang membasahi lengannya terlihat seperti minyak, dan itu memperlihatkan jelas kedua lengan pemuda itu tampak berotot.
Menyandang beras-beras yang beratnya puluhan kilo lalu membawanya ke atas sebuah bak truk yang terparkir di luar pabrik, pemuda itu tampak sedikit kecapean dan berhenti sejenak.
Setelah menjatuhkan karung beras yang ke 109 di bak truk itu, Sayon nama pemuda tersebut, tiba-tiba menanyakan sesuatu nan sedikit menyinggung kepada seorang pengawas yang juga merupakan seorang Hunter.
"Hei, kemana kali ini beras-beras sebanyak ini kalian bawa? Apa kalian berniat untuk mengosongkan beras-beras di pulau ini?!" Sayon bertanya kepada pengawas tersebut dengan nada yang cukup lembut namun kata-katanya sedikit menyindir.
"Ha? Itu bukan urusanmu! Jangan melamun dan cepat lakukan tugasmu, cih.. berbicara dengan Lower Rank seperti kalian membuat leherku jadi gatal sekali!" Balas pengawas itu dengan nada yang cukup tinggi dan menghina.
Lower Rank (orang-orang yang statusnya rendah).
"Hei..? Namamu, siapa?" Sayon mencoba bertanya hal lain kepada pengawas itu namun mimik wajahnya seakan mengintimidasi, sontak saja pengawas itupun melakukan hal yang sama.
"Ha..!? Bocah tengil ini!!" Suara pengawas tersebut pun terdengar lantang sampai ke dalam pabrik, membuat beberapa orang berhamburan keluar dari dalam pabrik mencari tahu apa yang tengah terjadi.
Terlihat juga seorang gadis yang mengenakan topi dan jaket lusuh seketika berlari paling kencang dari yang lainnya, gadis itupun paling duluan menuju lokasi kejadian gaduh tadi.
Sesampainya didepan sana, gadis yang bernama Yona itu menutup mulutnya dengan kedua tangannya, iapun menunjukkan ekspresi terkejutnya melihat Sayon tengah dihajar oleh pengawas tersebut.
Seketika pengawas itu akan mencabut sebuah pedang besar yang sedari tadi disandangnya, Yona bergegas menghentikan si pengawas itu.
"Aku mohon tolong hentikan.." Ucap Yona memelas kasihan untuk Sayon sembari sujud dihadapan pengawas itu, pada akhirnya karena sudah cukup merasa puas dengan tindakannya, pengawas itupun berhenti memukul dan menendang Sayon.
"Cih, lain kali aku pastikan kau takkan pernah melihat langit lagi!" Ucap pengawas itu kemudian meninggalkan mereka berdua.
Setelah selesai berterimakasih Yona lekas menarik lengan Sayon lalu mengajaknya ke suatu tempat di dekat pabrik.
Di sana Yona tampak marah dan juga takut, yang dihadapi Sayon bukanlah orang biasa, dia adalah seorang Hunter, dan Yona berpikir bahwa Sayon bisa terbunuh.
Saat ini Sayon cuman bisa tercengang, perasaan khawatir Yona kali ini benar-benar nyata bagi Sayon, Sayon pun baru kali ini melihat ekspresi Yona yang seperti itu, hingga membuat Sayon untuk pertama kalinya juga terdiam sejenak mendengar ceramah kakaknya tersebut.
"Maaf.. maafkan aku kakak." Hanya kata-kata itu yang dapat keluar dari mulut Sayon.
Kemudian setelah itu Sayon tiba-tiba dipeluk oleh Yona dengan penuh kasih sayang.
"Kamu ini ternyata sudah tumbuh cukup besar yah, huhuhu.. aku jadi susah untuk memelukmu sekarang." Ucap Yona menatap mata Sayon sembari mengusap air matanya yang masih mengalir.
"Kakak bicara apa, tentu saja aku akan terus tumbuh besar." Saat tangan Yona masih sibuk mengusap air matanya, suara kekanak-kanakan dari Sayon terdengar olehnya. Sayon pun menggerakkan jemari kasarnya membantu menghapus air mata Yona yang ada di pipi.
Seketika itu Yona menjadi tersipu sesaat sebelum akhirnya momen itu menghilang oleh kata-kata Sayon, yang mengatakan bahwa Yona saja yang tidak tumbuh-tumbuh besar. Yona pun menjadi cemberut, ia membantah kata-kata itu dan kemudian membusungkan dadanya bahwa masih ada yang bisa tumbuh besar.
Sayon tidak mengerti maksud Yona dan hanya bisa tertawa kecil, kemudian Yona membentak Sayon, mengatakan bahwa Sayon tidak akan pernah bisa mengawini seorang gadis jika sifatnya masih seperti itu.
Namun Sayon malah merespon dengan kata-kata yang tidak terduga, Sayon tidak peduli dengan semua itu karena dia sudah cukup dengan selalu bersama kakaknya. Seketika itu wajah Yona tampak memerah dan berhenti menceramahi nya.
Seketika itu Sayon menjadi murung sesaat.
Begitupun dengan Yona, merasa dirinya telah mengatakan sesuatu yang buruk kepada Sayon, Yona tampak menyesal.
"Jika hari itu tiba, akan aku pastikan orang pertama yang merasakan kebahagiaan itu adalah aku." Ucap Sayon.
Yona pun tercengang mendengarnya. Padahal belum beberapa menit Sayon mengatakan tak sanggup jauh dari kakaknya, namun kata-katanya barusan sudah terdengar ikhlas tuk melepaskan Yona.
Sejenak Yona tiba-tiba memalingkan mukanya dari Sayon, dia tampak seperti memikirkan sesuatu.
"Ha-hari ini adalah ulang tahunmu bukan, ayo cepat selesaikan pekerjaan hari ini dan kemudian kita rayakan ulang tahunmu di rumah." Ajak Yona penuh semangat sembari menunjukkan senyum manisnya dihadapan Sayon.
Sayon pun hanya bisa mengangguk menyetujui ucapan kakaknya.
..
Kota Payakumbuh, sebuah kota yang dulunya megah dan penuh dengan bangunan-bangunan arsitekturalnya yang ramah lingkungan, kini berubah menjadi Benteng besi yang datarannya gersang. Diluar Benteng itu juga dikelilingi oleh tembok-tembok raksasa.
Sejauh 2 kilometer dari dinding luar kota, terdapat pemukiman para Lower Rank yang datang dari berbagai daerah tuk numpang tinggal, karena tempat tinggal mereka dulunya telah binasa.
Sebenarnya didalam benteng masih banyak lahan kosong dan hijau yang dapat ditinggali, namun karena suatu alasan, mereka yang telah dicap sebagai Lower Rank tidak diizinkan masuk. Dan mereka pun akhirnya numpang tinggal diluar tembok, namun masih dimintai syarat menjadi tenaga kerja kota ini.
Malam ini adalah malam yang indah, terlihat di langit banyak bintang-bintang muncul menghiasi gelapnya malam. Setelah menyantap hidangan ulangtahun bersama Sayon, Yona pun mengucapkan kata selamat.
"Selamat ulang tahun Sayon. Gimana? Makanannya enak-enak kan?" Ucap Yona girang.
Melihat ekspresi Yona yang ceria itu membuat Sayon sedikit tersipu malu dan mengalihkan pandangannya.
"Berbaringlah di tempatmu sendiri." Balas Sayon malu-malu, karena saat ini Yona tengah berbaring ditempat Sayon sembari menatap kearahnya. Detak jantung Sayon kini berdegup kencang.
Malam ini Yona terlihat begitu anggun, rambut panjang berwarna coklat yang selalu ia tutup dengan topi saat bekerja, kini tampak lebih bersinar, ditambah pakaian tipis yang dikenakannya saat ini menonjolkan seratus persen kefemininan Yona sebagai seorang wanita.
Sayon benar-benar sangat terpukau dengan versi Yona saat ini. Matanya pun tidak berhenti kagum melihat pesona kakaknya.
"Tidak apa-apa kan? Sudah lama kita tidak tidur barengan." Ucap Yona santai, namun disangkal Sayon karena tempat berbaringnya kini jadi sempit.
Mereka berdua tinggal didalam satu tenda yang sama, diluar benteng juga terlihat pemukiman para Lower Rank berumahkan tenda serba guna.
Yona tidak mau ngalah, sudah jelas tahu benar bahwa akan terasa sempit tapi malah menyalahkan Sayon yang telah tumbuh besar.
Akhirnya malah Sayon yang mengalah, Sayon kemudian membalikkan badannya menghadap ke sisi lain lalu memberi ruang lebih untuk kakaknya. Akan tetapi Yona tiba-tiba jadi sedikit cemberut, kemudian malah lebih dekat dan lengket kepunggung Sayon, hingga jantung Sayon kini berdegup lebih kencang.
"Tidak, tidak, tidak! Apa yang kakak lakukan?" Ucap Sayon begitu gugup, akan tetapi kegugupan itupun perlahan hilang, Sayon perlahan mencoba membalikkan badannya menghadap ke sisi Yona lagi.
Saat mendengar Yona yang tiba-tiba mengatakan bahwa Sayon tidak suka jika dipeluk olehnya, membuat Sayon khawatir.
Sayon pun mencoba mengatakan perasaannya, meski dirinya tidak suka juga, bukan berarti Sayon membencinya.
Setelah mendengar kata-kata itu, Yona akhirnya kembali tersenyum.
"Sayon, misalnya. Jika kakakmu ini benar-benar dinikahi oleh orang lain, bagaimana perasaanmu?" Ucap Yona lembut seakan terdengar seperti berbisik.
"Huh… ternyata ada pembicaraan tentang pernikahan ya." Balas Sayon datar dan mencoba membalikkan badannya kembali, namun dihentikan Yona seketika.
"Ini hanya misalnya. Terlebih, kenapa sih kamu? Marah?" Ucap Yona mencoba menjahili Sayon.
"Ya enggak lah, sudah cepatlah jadi istri sana!" Balas Sayon sedikit gugup.
"Kenapa sih kamu begitu?" Ucap Yona sembari memegangi pipi Sayon dengan kedua tangannya.
Kemudian Yona seketika menjadi senang melihat ekspresi lucunya Sayon, dan terlebih hari ini kakaknya sangat agresif, Yona bahkan tidak sungkan-sungkan memeluk Sayon penuh mesra.
Wajah Sayon pun tiba-tiba menjadi merah, ekspresinya juga tampak malu-malu saat melihat wajah kakaknya sedekat itu.
Pelukan yang dirasakan oleh Sayon juga benar-benar berbeda dari biasanya, posisi ini, panas ini, dan perasaan ini, pikiran Sayon seakan terbang kemana-mana.
..
Malam pun berlalu begitu saja, dan dalam beberapa jam sebelumnya Sayon akhirnya merasakan kebahagiaan itu, kebahagiaan yang dirasakan oleh orang-orang tertentu. Pada pagi harinya saat matahari mulai terbit Sayon keluar dari dalam tenda untuk menikmati sensasi pagi yang luar biasa.
Ekspresi wajah Sayon benar-benar terlihat sangat segar hari ini, sembari memandangi langit yang mulai menerangi keindahan Benteng Payakumbuh, Sayon merapikan rambutnya yang acak-acakan.
Akan tetapi pagi yang indah itu rupanya membawa sebuah petaka. Dari dalam benteng, sebuah sirine tiba-tiba berbunyi dengan nada yang panjang hingga terdengar lantang sampai ke tempat Sayon.
Sayon yang sedari tadi memandang kearah Benteng seketika berubah raut wajahnya.
Sudah 5 tahun sirine benteng Payakumbuh tidak pernah berbunyi, dan hari ini Sayon sangat terkejut. Suara sirine itu akhirnya berbunyi kembali setelah sekian lamanya.
Namun itu bukan berarti adalah sesuatu hal yang bagus. Jika bisa, semua orang berharap kalo sirine itu lebih baik tidak pernah berbunyi tuk selamanya.
Sayangnya suara sirine yang begitu bising itu telah berbunyi, dan membuat semua orang panik luar dan dalam. Benteng besi raksasa itupun kini sudah mulai bergerak dan mengeluarkan pertahanannya.
Kemudian, sebuah tembakan ekstrim diluncurkan ke arah timur dimana itu adalah kawasan para pengungsi. Saat sebuah benda yang tampak berapi-api mendarat dan menyentuh permukaan tanah, suara yang menggelegar pun terdengar lantang bersamaan dengan hancurnya dataran disekitarnya.
Awan gelap nan mengerikan dengan cepat menyelimuti seluruh tempat itu dan menghanguskan apapun yang ada didalamnya.