DIARY

DIARY
5



Pusyi, kucing putih berbulu tebal dan lebat menghampiriku. Anak itu melompat keranjang dan ikut tidur di lenganku. Aku tersenyum. Manja sekali kucing kecil menggemaskan ini.   Aku langsung memeluknya erat saking gemasnya. Kutempatkan mukaku pada punggungnya dan mendusel ke tubuhnya. Kucing itu menggeliatkan tubuhnya. Sambil mengeong-ngeong. Yang paling membuatku gemas adalah tepukan pow imut kakinya yang bahkan tidak terasa. Pusyi hanya menepukkan pownya kearahku tanpa menunjukkan cakarnya. Itu membuatku sangat menyayanginya. Ah kucing kecilku yang manis.


Kali ini aku mengalah. Aku membiarkan pusyi melingkar di atas lenganku. Tidak lama pusyi mendengkur keras. Tanda anak itu telah tidur. Benar tidak sih. Aku usil lagi. Kali ini sasaranku adalah hidung segitinya yang berwarna merah muda. Aku toel-toel hidungnya berkali kali. Pada toelan terakhir Si pusyi langsung melahap telunjukku. Membuatku terpekik saking terkejutnya. Ha ha ha kucingku yang lucu. Maafkan aku yang telah mengganggu tidurmu.


Aku menyerah. Aku tidak ingin mengganggu tidurnya lagi. Jadi aku membiarkan pusyi mendengkur lagi. Aku mengeluskan telapak tanganku dengan lembut ke bulu tebalnya. Aku elus terus. Dan itu membuat dengkurannya semakin keras. Aku terkikik geli. Ya ya aku tau kau menyukainya sayang. Bulu pusyi begitu bersih dan putih. Begitu sehat dan jarang rontok. Pusyi terlihat nyaman saat ini. Kadang aku berfikir bagaimana rasanya menjadi seekor kucing. Bagaimanapun tingkah mereka dari yang suka mengeong - ngeong manja meminta makan, mengeluskan tubuhnya di kaki orang, menumpahkan atau menjatuhkan barang orang, mencuri ikan majikannya bahkan mencakar majikan juga, semua itu tetap berhasil membuat si majikan melting tanpa sebab. Apapun yang mereka lakukan entah itu baik atau pun buruk, mereka tetap terlihat lucu dan menggemaskan di mata majikan. Kenapa bisa seperti itu ya? Apa rahasianya? Apa karena bulu- bulu mereka yang lembut ini? Apa karena perut mereka yang menggembung ini? Apa karena hidung setiga yang mungil ini? Apa karena suara mengeong mereka yang menggemaskan ini? Atau karena pow empuk yang dimiliki kucing? Tapi anjing juga punya semua itu juga kan. Jadi apa rahasianya? Siapapun, ah jangan siapapun, aku tidak mau ada makhluk lain yang juga  ingin menjawabku, jadi tolong orang orang pencinta kucing seperti kalian beri tahu rahasianya padaku.


Mungkin saja aku bisa menjadi seekor kucing. Maksudku aku bisa berubah menjadi manja kepada semua orang seperti kucing. Aku bisa berubah menjadi gendut untuk terlihat lucu atau mengubah suaraku agar lebih terdengar lucu seperti kucing. Aku juga mau dong di sayang banyak orang. Setidaknya hanya berdiam diri didepan mereka itu tidak membuat mereka panas dingin ingin mencakar wajahku saja aku sudah senang.


Ha ha apa sih yang sedang aku bicarakan. Orang-orang yang bisa dengan mudah bersosialisasi dengan orang lain, orang-orang yang bisa dengan mudah cipika-cipiki dengan orang lain, mereka yang dengan mudah ketawa-ketiwi mengomentari setiap barang, hewan, orang, bahkan *** kucing yang biasa saja dan begitu menarik bagi mereka, tidak akan mengerti apa yang sedang aku bicarakan.


Apa cuma aku yang merasa itu sendiri disini?


Tidak. Tidak perlu di jawab. Toh aku juga tidak peduli dengan pendapat kalian. Sekali lagi, aku tidak peduli dengan pendapat kalian. Khususnya yang ingin mencela. Egois? Apa itu terlihat begitu egois dimata kalian? Dari mananya? Dari mananya hal itu dibilang egois? Apakah tidak menerima pendapat kalian aku bisa dibilang egois? Bagaimana dengan mereka yang aku sebutkan tadi? Berkomentar sana sini seakan dirinya adalah kebenaran tanpa berpikir bahwa sebenarnya dia adalah seorang badut dimata mereka yang menjadi korban. Apa itu juga bisa disebut egois?


Manusia itu dilahirkan dengan keegoisan dalam masing-masing individu. Apa aku benar? Cmiiw.