DIARY

DIARY
2



Aku masih berbaring diatas ranjangku. Melebarkan kedua lengan dengan gerakan gemulai. Menikmati lembutnya seprei yang baru saja aku ganti kemarin. Lembut, harum, tidak panas. Aku senang dengan pilihanku ketika membelinya di pasar loak. Pilihanku tepat. Tentunya aku bukan orang yang pintar memilih sedari dulu. Aku belajar. Aku mempelajarinya selama ini. Disetiap waktu hidupku. Aku mempelajarinya. Bagaimana ketika aku membeli bahan yang ini karena terlihat bagus. Yang pada kenyataannya aku mendapatkan bahan yang kasar. Bagaimana ketika aku membeli bahan yang lembut, yang setelah aku mencobanya ternyata bahannya begitu panas. Aku membeli barang mahal agar aku bisa mendapatkan bahan yang lembut, tidak panas, dan tidak cepat rusak ataupun luntur dengan berbagai macam corak dan warna. Dan semua itu tidak cocok dengan tema kamarku. Aku tipe yang susah untuk memilih sesuatu yang benar. Aku mempelajarinya. Aku mempelajari semua yang aku lakukan dan aku terima hingga aku mengerti dengan kekurangan dan kelebihan dari apa yang kuterima. Apa kalian mengerti maksudku? Yah aku pun juga tidak peduli dengan ketidak mengertian kalian. Aku hanya ingin mengatakannya atau disini aku hanya ingin menulisnya saja. Aku bahkan tidak tahu apa yang sedang aku ceritakan saat ini. Ha ha ha . . .


Aku hanya ingin mengatakan bahwa ada kalanya ketika kita mencari sesuatu barang yang diharapkan bisa membuat kita nyaman, jawabannya bukan dari kualitas bahan, kualitas tampilan, ataupun harga mahal. Tidak semua dari itu pasti bisa membuat kalian nyaman. Tidak.


Aku mendapatkan seprei ini dari pasar loak dekat rumah baruku yang baru saja aku dapatkan ini. Seprei yang kuharapkan. Nyaman, harum, tidak panas, lembut dan juga murah. Suatu hal yang luar biasa bagiku. Bisa mendapatkan ini adalah suatu kebahagiaan yang tidak tertandingi. Mungkin suatu hal yang berlebihan bagi kalian. Karena bagiku, dengan ini aku tidak perlu menunggu kantuk menyerang hingga pagi menjelang. Ini suatu hal yang luar biasa bagiku selama bertahun-tahun dalam hidup. Inilah yang selama ini aku cari.


Aku menatap cahaya mentari yang merembes masuk ke dalam kamar melewati celah-celah tirai jendela. Terasa hangat dan menakjubkan. Mungkin bagi kalian yang membaca ini akan berpikir, apa yang ingin ku tulis sebenarnya. Cerita ini hanyalah sebuah omong kosong belaka. Tidak ada niat didalamnya. Atau cerita menarik apapun yang bisa dibaca. Sekali lagi, aku tidak peduli dengan apa yang kalian pikirkan. Aku hanya ingin menulisnya. Aku hanya ingin bercerita. Membicarakan hal-hal kecil lainnya. Yang mungkin itu suatu hal yang terlalu kecil hingga tidak begitu penting untuk kalian. Entah kalian akan menyukainya, atau tetap membacanya, sekali lagi aku tidak peduli. Anggap saja aku sedang berlatih mendongeng untuk seorang anak kecil yang akan pergi tidur. Karena aku tau ceritaku adalah cerita yang membosankan. Sangat membosankan. Dan sekali lagi, aku tidak peduli dengan pendapat kalian.


Itu suatu hal yang sangat biasa bagi kalian, bagi orang-orang seperti kalian.


Itu juga suatu hal yang menakjubkan bagiku, bagi orang-orang sepertiku.