DIARY

DIARY
4



Aku seseorang yang hangat. Dulu. Aku begitu polosnya seperti anak gadis kebanyakan. Aku tumbuh dengan percaya dirinya bersama teman-teman seangkatan yang ikut tumbuh dewasa bersamaku. Aku yang kecil ini suka bermain bersama mereka. Aku suka mengajak bermain bersama. Dan bahkan aku termasuk seseorang yang akan dicari ketika kumpulan itu sedang bersama. Mereka mencariku. Aku yang polos ini, mereka mencariku.


Aku dengan berbangga diri menunjukkan tawaku. Aku berbangga diri menunjukkan rambut panjangku yang lain dari pada yang lain. Coba tebak apa maksud dari yang lain dari pada yang lain? Ya. Rambutku keriting. Bukan ikal tapi benar-benar keriting. Mengembang. Yah seperti rambut dari pulau lain. Di usiaku yang kecil mereka sangat suka melihatnya. Rambut ikalku yang dibiarkan terurai semakin mengembang karena tertimpa angin. Teman-temanku sempat mengejekku di awal cerita. Mereka begitu aneh melihat rambutku yang tidak seperti milik mereka yang mayoritas panjang, lurus, rapi dan tergerai indah. Mereka merasa aneh melihatku. Aku yang kecil waktu itu sempat merasa terkucilkan. Kenapa aku berbeda? Aku iri melihat rambut indah mereka. Bagaimana mereka bisa mendapatkan rambut seindah itu. Coba lihat anak-anak rambut yang  jatuh membingkai wajah chubby masing-masing dari mereka. Terlihat lembut sekali dan keren dimataku. Itu terlihat manis dan semakin mmbuat mereka terlihat cantik nan imut. Seperti tokoh anime. Aku selalu bertanya tanya bagaimana cara mereka merawat rambut lurusnya. Aku tidak habis pikir bagaimana meteka tetap kesulitan menyisir rambut yang sudah lurus dari sononya. Bahkan rambut itu tidak akan menjadi jelek karena telah mengembang sedikit.


Aku iri. Iri sekali hingga merasa ini tidak adil. Aku selalu mencoba menarik rambut keritingku sesering mungkin. Berharap dengan itu bisa membuat rambutku menjadi tegak lurus. Namun jatuhnya mereka seperti pegas. Akan kembali seperti semula setelah tarikan terlepas. Aku sempat menangis karenanya. Dan menolak bermain karena aku merasa buruk.


Lalu suatu hari ketika akhirnya kami mulai bermain lagi. Seseorang menatapku. Lebih tepatnya menatap rambutku. Lalu dia mencoba memegangnya. Dan seakan takjub dengan rambutku.


"Oh rambutmu halus." aku terkejut karena menurutnya rambutku yang seperti ini dibilang halus. Aku tidak percaya. Sampai teman yang lain juga ikut menyentuhnya.


Aku mulai merasa percaya diri kembali. Dengan bangganya aku mengibarkan rambut keriting panjangku tiap kali kami bermain. Yah dulu aku memang sempat terpuruk dengan hal sekecil itu. Dan ajaibnya aku juga bisa bangkit kembali dengan hal kecil juga. Itu terasa mudah untukku tertawa lagi. Dulu bagiku terasa mudah mencari dan menjalin sebuah pertemanan lagi. Hari ini kami bertengkar. Besok mendapat teman yang lainnya. Lusa kita akan kembali berteman seperti sebelumnya. Itu sungguh mudah. Tidak pernah kubayangkan itu adalah suatu hal yang begitu mahal untuk kudapatkan saat ini.


Yah itu sebuah cerita atau pengalaman yang berharga.


Aku mengingat masa itu sambil menatap langit langit kamarku yang telah aku hias dengan hiasan berbentuk bulan bintang dan seisi alam semesta yang akan terlihat terang dimalam hari. Saat gelap. Ya semua akan terlihat terang dan terlihat indah bahkan mewah disaat keadaan disekitar kita telah menggelap.