DIARY

DIARY
3



Aku sudah bercerita tentang apa saja ya? Ha ha aku lupa. Maafkan aku.


Nah, aku sudah menceritakan tentang seprei putihku bukan. Bercerita tentang kedua jendelaku, lalu tirai jendela berwarna putih dengan lapisan kain lembut. Aku lupa nama jenis kain itu. Mafkan aku.


Lalu aku akan bercerita tentang lemari. Lemari kecilku. Kalian tau aku baru kemarin selesai mengecat lemariku berwarna putih. Lemariku itu terdiri dari satu pintu. Hanya itu.


Hemh, apa yang harus aku ceritakan dari sebuah lemari kecil ya. Aku bingung apa yang harus aku ceritakan tentang sebuah almari biasa dengan ukuran kecil yang kosong. Ya kosong. Aku belum mengisinya sama sekali. Paketanku belum tiba. Aku hanya membawa sebuah koper kecil yang berisi pakaian santai biasa beserta dalaman saja. Aku belum mengisi almariku yang kosong itu dengan sesuatu.


Aku sengaja melakukannya. Aku masih menikmati kekosongan itu.


Almari yang baru dan masih belum terisi barang apapun akan tercium wangi. Aku yakin kalian pasti tau maksudku. Dan mungkin saja kalian juga menyukai wangi dari sebuah almari yang kosong bukan. Seperti aku. Aroma Almari yang kosong itu sungguh menggoda penciumanku. Aku ingin menjaganya untuk tetap membuatnya kosong. Tapi seperti yang kalian tahu. Almari tetap saja almari. Tempat menampung dan menyimpan barang-barang kita bukan. Yah pada akhirnya almari itu akan terisi juga nantinya.


Aku mendapatkan rumah minimalis ini setelah menabung begitu lamanya. Aku puas. Aku puas bisa menemukan rumah ini di tempat yang kuinginkan. Aku begitu semangat membersihkan rumah ini terlebih kamar pribadiku. Aku membeli berbagai macam barang untuk mengisinya. Seperti ranjang, lemari, dan table set. Mirip seperti kamar anak kos bukan. Ya, memang. Tapi aku suka. Gimana dong. Ini begitu cocok untukku. Tidak begitu luas dan tidak begitu sempit. Yang paling penting bagiku adalah aku bisa bernafas di dalamnya.


Sekali lagi. Aku tidak peduli dengan pendapat kalian.


Aku hanya akan memberi komentar pada kalian yang ingin mengetahui bagaimana bentuk mejaku ini, bahan apa yang digunakannya, warna dan ukuran dari mejaku ini. Aku akan mengatakannya pada kalian. Aku merasa kasihan pada kalian. Aku merasa bersalah karena tidak bisa menunjukkan bagaimana rupa mejaku ini dengan baik untuk kalian yang ingin mengetahuinya. Karena itu, aku akan mengatakannya. Untuk membantu kalian melihat. Membantu kalian meraba dan memberi gambaran meja yang aku lihat saat ini.


Jadi, mejaku berbentuk persegi dengan sebuah kaca yang memanjang dengan bentuk lonjong di puncaknya. Kaca itu berbingkai dengan ukiran abstrak yang aku tidak tau namanya. Tapi kurasa itu seperti sebuah pentolah tusuk konde yang biasa dipakai pengantin. Selebihnya mejaku seperti meja rias biasa dengan satu kursi kecil. Mereka berbahan kayu biasa. Berwarna putih seperti yang aku katakan di awal. Dan berukuran kecil kurang lebih setinggi pahaku.


Apa kalian sudah bisa mendapatkan gambaran dengan benar? Apa kalian bisa melihat meja riasku seperti apa yang aku lihat saat ini? Aku rasa tidak. Meskipun imajinasi kalian mendekati apa yang telah aku gambarkan.


Kalian tidak akan bisa melihatnya seperti apa yang aku lihat saat ini.


Kalian tidak akan bisa melihat dengan pasti bagaimana rupa meja riasku. Seperti aku yang tidak bisa melihat rupa meja rias kalian. Apa kalian mengerti artinya itu?