Deadly Plague

Deadly Plague
Merasa Bertanggung Jawab



“Aku ingin melihatnya dari dekat saja,” jawab Arthur dengan sangat polos.


“Jangan lakukan kebodohan itu. Lihat saja, mereka terlihat sangat kelaparan di sana,” ungkap Adam sekali lagi.


Arthur juga mulai mengurungkan niatnya. Entah kenapa semua perasaan takutnya semakin besar saat beberapa makhluk yang diduga sudah berubah berkeliaran dan memangsa semua hewan yang melintas di sana. Hingga, mereka berempat mencoba untuk menghubungi rekan yang masih berada di luar kota tersebut. Sayangnya, keempat ponsel mereka malah tertinggal di dalam ruangan laboratorium.


“Argh, bagaimana bisa tertinggal di sana? Kenapa kesialan ini terus terjadi kepada kita semua?” tanya Adam, ia memang yang paling emosian diantara yang lainnya.


“Ah, sudahlah. Kamu jangan banyak mengeluarkan energi dengan cara marah-marah seperti itu. Kita akan aman di sini. Kalau bisa, kita tidak mengeluarkan ucapan apa pun di dalam kediaman ini. Tampak dengan jelas bahwa mereka juga sangat agresif terhadap suara kebisingan,” sambung Arthur.


“Kita juga bisa mati di sini. Persediaan makanan juga tidak akan bertahan lama,” protes Adam sekali lagi.


“Itu sebabnya kita harus mengisi semua kebutuhan yang ada. Jangan kebanyakan mengeluh. Ini sudah menjadi ujian dari langit. Pertanyaanku sekarang adalah apakah penyakit yang sudah diidap orang-orang di sini juga akan terus menyebar ke tempat yang lain?” tanya Arthur, ia juga mulai melirik semua durja yang ada di sana.


“Mungkin saja. Namun, kita juga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di tempat ini. Semuanya tampak aman saja setelah kita sampai. Namun, keindahan itu terjadi pasca kita menciptakan rekayasa itu. Mungkinkah mereka semua terjangkit virus yang sudah kita ciptakan?” lontar Matteo, ia juga semakin menajamkan pandangannya.


Arthur kembali menatap durja teman dekatnya. Ia juga mulai mencurigai bahwa keanehan yang sudah terjadi karena ulah mereka sendiri. Tidak ingin ambil pusing, ia juga masih diam sambil memikirkan bagaimana caranya keluar dari sana. Ia juga membutuhkan sebuah kepastian untuk meneliti kejadian aneh tersebut.


“Bagaimana kalau kita kembali meneliti semua senyawa yang ada?” usul Arthur kemudian.


“Eh, jangan bercanda! Kita tidak bisa melakukan hal itu …,” ucapan Rich terhenti setelah matahari kembali bersinar sangat terang. “Bisakah kalian mendengar jeritan menyakitkan itu?”


Keempat pria dewasa itu segera berlari mendekati jendela. Tidak disangka semua manusia yang terinfeksi akan mengalami kejadian aneh setelah terkena cahaya matahari tubuh mereka seperti terbakar dan melemah. Melihat kejadian itu, Arthur memulai membuat sebuah rencana baik untuk bisa kembali meneliti di dalam laboratorium.


“Jangan ambil resiko besar ini sendirian. Kamu juga bisa mati karena hal ini, Thur,” sosor Rick, ia juga merasa resah dengan tindakan yang akan dilakukan oleh teman sekelompoknya.


Arthur kembali mengernyitkan dahi dan melebarkan senyumannya. “Semuanya akan aman saja. Kita juga tidak bisa berdiam diri di sini. Mau sampai kapan? Kita juga butuh kepastian. Apakah yang sudah diucapkan oleh Matteo benar? Aku hanya tidak ingin menciptakan virus berbahaya yang dapat mengancam kehidupan manusia.”


“Hal itu bukan kesalahan kita,” sosor Adam.


“Ya, kita mana tahu? Semua bisa dijelaskan setelah kita menyelesaikan percobaan itu.” Arthur kembali menatap serius pria yang sudah menyangkal tadi.


Keempat pria dewasa itu masih belum berani keluar dari sarangnya. Mereka juga tidak mengerti bagaimana caranya agar bisa masuk ke dalam laboratorium dengan selamat. Sore yang mendung tanpa sengaja Arthur menghidupkan siaran radio nasional. Semua berita jung mengenai masalah yang terjadi di tempat dirinya berdiri.


Arthur juga semakin terheran setelah mendengarkan siaran tersebut. “Mungkinkah virus yang menyerang mereka adalah virus yang sudah kita ciptakan?”


Terlihat dengan jelas bahwa keempat pria yang ada di sana mulai merasa semakin khawatir. Bahkan, mereka tidak saling berbicara setelah mengetahui dan menduga hal tersebut. Arthur juga mulai menghidupkan siaran televisi yang ada di sana. Ternyata, virus yang sudah terjadi menyerang sistem kekebalan tubuh beserta metabolisme manusia.


Belum diketahui pasti dari mana asalnya virus berbahaya tersebut. Namun, beberapa orang yang terinfeksi mulai menyerang dan mengkonsumsi daging sejenisnya. Mereka mengatakan bahwa para suspect seperti manusia kanibal yang sedang kelaparan. Kekacauan yang terjadi juga sudah hampir memasuki kota Vago bagian Selatan.


“Ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Kita harus mencegah semua ini sebelum terlambat,” batin Arthur seraya melirik ke arah teman dekatnya.


“Ada apa? Apakah kamu mau melakukan sesuatu hal?” tanya Matteo dengan serius.


“Bisakah kamu membantuku untuk melakukan hal itu? Kita harus menghentikan masalah yang ada sebelum semuanya terlambat,” ucap Arthur dengan sangat tegas.


“Ya, tetapi jangan menyiksa diri kita juga. Sebelum melakukan hal itu, ada sebaiknya kita melihat dulu bagaimana cara mereka beradaptasi dan menyerang musuhnya. Jangan asal lari dan bertindak ceroboh seperti yang sudah kamu katakan tadi,” senggak Adam sekali lagi.


“Mau sampai kapan kita berdiam diri di sini? Semua masalah juga bersumber dari kita,” ucap Arthur yang sudah merasa sangat bertanggung jawab atas kekacauan yang ada.


Rick mulai eny nuh bahu Arthur dengan sangat lembut. “Kita belum tahu pasti dari mana virus yang sudah menginfeksi manusia-manusia itu. semua masih dugaan semnetara. Namun, kita memang harus melakukan penyelidikan lebih lanjut terhadap hal ini. Semuanya akan jelas setelah kita berhasil untuk menelitinya,” jelasnya dengan sangat dewasa.


“Iya, tetapi apakah kamu mau membahayakan dirimu dengan cara mengorbankan diri seperti itu? Aku jujur saja tidak ingin hal buruk itu terjadi kepada kita semua. Bagaimanapun caranya. Kita harus mengidentifikasi pergerakan mereka terlebih dahulu.” Adam kembali duduk di sofa setelah mendapatkan tatapan tajam dari beberapa teman-temannya.


Arthur yang sudah pusing memikirkan semuanya juga mulai mengambil beberapa jarum suntik untuk mengambil sampel manusia yang sudah terkapar hangus di depan kediaman.


“Baiklah, kalau begitu gue akan mengambil cairan manusia yang sudah tidak berdaya itu sendirian. Kalian semua bisa di sini saja. Namun, berikan aku kode saat kalian melihat diserang dari berbagai arah!” tegas Arthur, ia memang sosok pemberani dan bertanggung jawab.


Matteo mulai menyentuh tangan teman dekatnya. “Arthur, jangan bahayakan─”


Arthur segera memotong ucapan temannya. “Jangan khawatir. Aku yang bertanggung jawab atas kekacauan ini. Kalian semua bisa berdiam diri di dalam. Aku akan segera bersiap mengambil cari itu.”


Arthur tidak gentar dan segera memakai peralatan perlindungan diri. Sebelum keluar dari sana, ia juga tidak lupa berdoa agar semuanya berjalan dengan lancar. Setelah pintu terbuka, ia juga merasa ada  hawa yang sangat menyengat di luar yang menembus alat perlindungan dirinya.


“Arthur! Hati-hati!” teriak Matteo dari dalam kediaman.