
Kedua pria yang sempat masuk juga segera keluar dan melupakan beberapa hewan yang sudah mereka tangkap dengan susah payah. Mereka juga terlihat sangat cemas akan teriakan tersebut. Dengan langkah tergesa-gesa keduanya mulai keluar dari ruangan yang tidak dilengkapi dengan penerangan.
“Apakah kamu mendengar suara tadi?” tanya Arthur dengan wajah yang sudah terlihat sangat resah.
“Ya, suaranya begitu besar. Mana mungkin aku tidak mendengarnya? Huft, suara itu berasal dari mana? Apakah itu sura monsters yang ada di sini?” tanya Matteo dengan wajah yang sudah berkeringat secara berlebihan.
“Mungkin saja itu teriakan dari sekumpulan tikus-tikus yang sedang kelaparan. Huft, menyeramkan sekali. Eh, di mana tikus-tikus tangkapan kita?” tanya Arthur yang sudah mulai tersadar akan keadaannya.
“Waduh, pasti sudah terlepas di dalam sana! Argh, akan sangat sulit untuk menangkapnya kembali,” keluh Matteo seraya kembali masuk ke dalam sana.
Arthur juga enggan kembali mendapatkan ketakutan. Ia pun segera menyusul temannya untuk segera pergi dari sana. Dengan tindakan yang sadar, pria berwajah tegas itu segera menarik teman untuk keluar dari ruangan menyeramkan tersebut. Hari yang semakin gelap juga sangat membuat hatinya merasa resah.
“Sebaiknya, kita pulang saja. Besok akan kita cari kembali tikus-tikus itu untuk dijadikan bahan percobaan. Hm, besok juga akan ada beberapa teknis dan pengawas laboratorium di tempat ini. Kalau saat ini kita hanya berdua, resiko terjadinya hal buruk akan semakin memakan rasa takutku.” Arthur masih terus berjalan mendekati mobil gunungnya.
“Ya, tetapi aku masih merasa sangat penasaran dengan suara tadi,” sahut Matteo.
“Tidak peduli itu suara apa. Namun, yang pasti kita harus segera keluar dari tempat ini. Cuaca mendung yang ada di atas sana juga semakin memperkeruh keadaan di ladang percobaan. Huft, ini salah satu alasan kenapa aku juga enggan menerima proyek ini. Selain memiliki masalah pada hama tempat ini juga memiliki cuaca yang sangat buruk,” jelas Arthur setelah masuk ke dalam mobilnya.
Rasa kecemasan sejak awal observasi juga sudah mengganggu pikiran Arthur. Bagaimana saat mereka melakukan aktivitas di sana selama beberapa bulan di sana? Ia hanya berharap semuanya akan berjalan dengan lancar seperti pada proyek yang sudah ia selesaikan. Besok paginya, ia sudah bersiap untuk melakukan aktivitas baru di dalam ladang percobaan. Ia memang tidak ingin berlama-lama menunda pekerjaannya. Setelah sampai di sana, ia sudah dihadapkan dengan wajah-wajah yang menjadi rekan terdekatnya.
“Bagaimana? Apakah kalian sudah melihat keanehan di dalam ladang ini?” tanya Arthur setelah turun dari kendaraannya.
“Aku tidak menyangka tempat ini akan menjadi seperti sarang makhluk aneh. Kenapa jumlah mereka sangat banyak?” tanya Adam yang kebetulan menjadi wakil dari tim tersebut.
“Ya, inilah yang sudah aku katakan kemarin. Namun, aku belum pernah ke sini setelah proyek itu. Jadi, aku tidak bisa memberitahukannya secara detail. Belakangan ini aku hanya melihatnya dari televisi saja. Sebaiknya, kita masuk ke dalam ruangan untuk kembali meneliti.” Arthur sudah bersiap untuk segalanya.
Beberapa teknisi juga mulai berdatangan dan memperbaiki semua fasilitas yang sudah rusak di dalam ruangan tersebut. Arthur bersama dengan teman-temannya juga sudah melakukan pengujian pertama pada hewan yang kebetulan tertinggal di dalam sana. Untungnya, laboratorium utama memang memiliki keamanan yang baik, sehingga masih terlihat sangat bersih.
Ruangan yang memang dilengkapi dengan pembersih ruangan otomatis sudah pasti akan selalu menjaga suasananya tetap steril. Dengan wajah yang tidak meyakinkan, Arthur mulai menjepit setiap kaki pada hewan pengerat itu. Ia juga mulai membelah beberapa bagian untuk mengambil asam nukleat yang erat kaitannya dengan pewarisan sifat (Hereditas), terdapat dalam inti (Nukleoplasma) pada hewan tersebut.
Beberapa cairan yang guna untuk memperbanyak jumlah sel DNA juga mulai diteteskan ke dalam kaca objek. Sebelum melanjutkan langkah selanjutnya, Arthur ingin melihat perkembangan itu di dalam mikroskop. Setelah terlihat adanya perkembangan, ia mulai menambahkan beberapa senyawa lainnya. Pengujian yang dilakukannya untuk melemahkan sel yang berfungsi sebagai perkembangbiakan pada tikus tersebut.
Arthur mulai menganggukan kepalanya secara pelan. “Sel DNA-nya terlihat mengerucut. Sepertinya hal ini akan berhasil kita kembangkan. Baiklah, kalau begitu kalian bisa melanjutkan penelitian selanjutnya. virus yang akan kita ciptakan akan berkembang secara baik kalau semua komposisinya diberikan sesuai takaran. Jangan salah melihat semua petunjuknya, ya!” ucap Arthur dengan sangat hati-hati.
Dengan raut cemas, Arthur pun segera mengikuti pria itu untuk melakukan penelitian selanjutnya. tidak lupa juga mereka memberikan bakteri Staphylococcus Digestorium buatan ke dalam cairan berwarna bening itu. setelah selesai mengujinya, mereka semua saling bertatapan dengan serius. Seperti ada keraguan yang terjadi. Namun, saat ingin memasukkan cairan buatan ke dalam spuit, mereka mendapatkan panggilan dari teknisi yang sedang bertugas.
Keempatnya juga mulai berlalu dari sana secara bersama. Tanpa mereka sadar ada seekor tikus yang melintas di atas meja kerja dan menyenggol beberapa senyawa yang diduga sebagai cairan rekombinan. Terlihat dengan jelas kalau cairan itu sedikit menimbulkan reaksi yang sang aneh saat bertemu dengan senyawa lain. Setelah kembali, sungguh terkejutnya Rick saat melihat beberapa cairan penting tumpah tanpa sengaja.
“Kenapa bisa tumpah seperti ini? Ah, gawat kalau ada satu cairan yang masuk ke dalam cairan pengujian,” batin Rick, ia pun segera membersihkan kekacauan itu dengan menggunakan tisu bersih.
“Hm, bagaimana? Kamu sudah memastikan bahwa semuanya aman?” tanya Arthur yang juga sudah datang dengan tergesa-gesa.
Rick masih menyembunyikan masalah yang sudah terjadi lantaran tidak ingin membuat atasannya murka. “Sudah aman semuanya, Thur. jadi, sekarang mau bagaimana?” tanyanya dengan wajah yang masih terlihat sangat tegang.
Arthur mulai mengambil spuit berukuran sepuluh cc. “Cairan ini sudah selesai diuji. Sebaiknya, kamu suntikan setiap satu cc kepada hewan-hewan berukuran besar itu. Hati-hati juga, jangan sampai cairan itu tersuntik di tubuhmu,” jelasnya dengan sangat serius.
Arthur masih terus menatap semua tindakan bahannya. Namun, ada hal yang mengganjal penglihatannya di sana. Ia tanpa sengaja melihat adanya tetesan cairan bening di dekat meja kerja. Ia pun kembali menatap durja pria yang sudah bekerja sesuatu arahannya.
“Apakah tadi ada senyawa yang tumpah di dekat cairan penguji?” tanya Arthur lantaran merasa sangat penasaran.
Rick menggeleng pelan. “Tadi aku yang tidak sengaja menumpahkannya,” jawabnya tergagap.
“Jangan sampai ada senyawa tambahan yang masuk ke dalam cairan itu,” ucap Arthur seraya mulai melihat semua reaksi dari hewan-hewan yang sudah diberikan vaksin. “Mereka terlihat sangat lemas dan tidak berdaya,” batinnya kemudian.
“Sepertinya vaksin ini bekerja dengan baik,” ucap Rick dengan wajah yang terlihat sangat senang.
“Kita harus menunggu reaksinya lima belas menit lagi. Setelah itu kita akan tahu bahwa cairan ini berfungsi dengan baik atau tidak,” sambung Arthur dengan dingin.