
“Sial, apa yang sudah terjadi di sini? Siapa yang sudah menghidupkan lampunya?” teriak Arthur dengan wajah yang sudah terlihat sangat resah.
Dengan pandangan berkaca-kaca, ia mulai melihat beberapa tempat penyimpanan hewan percobaan yang sudah hancur lebur. Hanya tersisa empat hewan saja yang masih berada di dalam ruangannya.
“Ini kenapa? Oh, tidak! Ada apa ini? Kenapa semua kaca percobaan hancur berantakan?” teriak Rick saat melihat kekacauan di dalam ruangan laboratorium.
“Enam dari sepuluh hewan percobaan terlepas. Bagaimana ini? Siapa yang sudah menaikan curah cahayanya?” tanya Arthur dengan tatapan terlihat sangat resah.
“Aku tidak tahu. Mungkin saja teknisi yang ada di sini yang sudah menaikan curhat cahayanya,” ucap Rick seraya melihat setiap kata yang sudah hancur di dalam ruangan tersebut. “Apakah kehancuran ini terjadi dari hewan-hewan yang sudah disuntikkan?” tanyanya dengan heran.
“Ah, aku tidak tahu. Namun, kalau memang hewan-hewan itu yang bertindak, sungguh luar bisa menembus tebalnya kaca penguji ini,” jawab Arthur dengan wajah yang masih terus melihat ke arah temannya.
Rick juga mulai mengambil beberapa spuit. Tentunya tidnakan yangs udah ia lakukan membuat Arthur heran dan penasaran. Setelah mendengar banyak pertanyaan, pria yang sudah bertindak itu segera mengambil beberapa sampel cairan yang ada di dalam tubuh hewan yang tersisah.
“Sampel cairan mereka sangat penting. Kita harus menyimpannya di dalam tabung ini untuk mengamankan segalanya.” Rick juga dengan sengaja mengambil sebanyak mungkin sampel cairan dari hewan tersebut.
Setelah itu, ia mulai membalas hewan-hewan yang tersisa di dalam ruangan khusus. Dengan tatapan tegas, ia juga memberikan dua sampel lainnya kepada Arthur untuk disimpan.
“Simpan dua sampel ini. Aku akan menyimpan yang lainnya di dalam ruangan. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya,” ucap Rick dengan wajah yang sudah terlihat sangat tegas.
“Tumben sekali kamu bertindak cekatan. Biasanya juga seperti tidak mempunyai gairah hidup,” ledek Arthur dengans senyuman sinisnya.
“Ah, jangan mencoba meledekku, ya! Aku melakukan hal ini karena sudah mera sangat terancam dengan segalanya. Sebaiknya, kita pergi dari ruangan yang belum tentu terjamin keamananya ini,” jelas pria berambut pirang itu.
Arthur juga segera mengangguk dan mengikuti perjalan pria itu. Ia pun segera memberitahu kejadian yang sudah terjadi setelah sampai di dalam kediaman yang memang dikhususkan untuk tempat beristirahat para peneliti. Tentang kabar buruk membuat kedua temannya yang lain merak terkejut. Makan yang ada di tangan mereka sampai terjatuh lantern mera sangat terperangah.
“Ah, yang benar saja. Mana mungkin hewan-hewan pengerat itu bisa menghancurkan kaca tebal yang ada di sana. Mungkin saja ada yang sengaja menghancurkannya,” sosor Adam dengan wajah yang masih terlihat sangat tegas.
“Aku tidak tahu apa yang sudah terjadi di sana. Kita semua berada di dalam ruangan yang sama setiap waktu. Huft, tetapi siapa yang sudah tega melakukan hal itu di dalam sana?” tanya Arthur dengan wajah yang sudah terlihat sangat resah.
“Kalau kami tahu, sudah pasti kami mengatkannya kepada kamu, Thur. Ah, sudahlah. Sebaiknya kita tidur saja. Hari sudah semakin larut. Mau sampai kapan kita memikirkan hal ini secara terus menerus?” sosor Matteo dengan selimut yang sudah mengelilingi tubuhnya.
Arthur juga tidak membalas ucapan temannya. Ia juga segera mengunci pintu ruangan itu dengan tatapan yang masih terus melihat ke arah luar kediaman. Entah kenapa hatinya merasa sangat resah dengan hal tersebut.
“Semoga saja tidak ada hal buruk yang terjadi setelah kekacauan tadi,” batangnya kemudian.
Entah kenapa sepanjang malam ia mera seperti mendengar ada suara erangan dari luar kediaman itu. suara-suara yang sangat mengganggu pikiran itu sudah pasti menyita waktu istirahatnya. Dengan wajah yang yang masih terlihat resah, ia mulai keluar dari kamarnya. Tampak dengan jelas bahwa tiga kamar lainnya sudah tertutup dengan rapat.
Ia mulai menyeka tirai yang masih menutupi ruangan tersebut. Kedua matanya yang masih sangat berat untuk dibuka juga seger aia paksa untuk melihat dengan jelas. Memang tidak ada keanehan di luar sana. Namun, ia masih terus mendengar suara teriak seperti orang merasakan kesakitan yang sangat luar biasa.
“Ada apa?” tanya Matteo yang hadir secara mendadak di belakang Arthur.
Arthur yang mendengarkan hal itu sudah pasti segera berteriak histeris. “Huft, kenapa muncul seperti hantu seperti ini? Membuat jantungku hampir copot!” erang Arthur sembari memukul bahu teman akrabnya.
Matteo mulai tertawa gila. Ia merasa sangat resah dengan tatapan temannya. “Hei, ada apa? Kenapa kamu berdiri di sinis sembari melihat ke arah luar kediaman. Apakah ada sesuatu hal yang aneh di luar sana?” tanya pria tampan itu serat kembali melirik ke arah kaca rumah.
“Apakah kamu mendengar suara teriak itu? Aku mendengarkannya terus-menerus,” ucap Arthur dengan sangat sadar.
“Ya, aku juga mendengarkannya. Mungkinkah itu teriakan dari hewan-hewan raksasa yang ada di sini? Eh, kita juga pernah mendengarnya sekali saat ingin mengambil beberapa sampel.” Matteo mulai duduk di sofa.
“Benar, tetapi teriakan yang pernah kita dengar memang terlihat aneh. Kalau yang ini terdengar sangat jelas bahwa itu merupakan teriakan dari seorang manusia. Apakah ada perkelahian sesama pria di ruangan lain?” tanya Arthur sembari mulai mengambil jaket kulitnya.
“Kamu mau ke mana?” tanya Matteo dengan serius.
“Mau melihat kekacauan yang ada di sana.” Arthur segera membuat kunci kediaman.
Kedua pria tampan itu terlihat sangat nekat mencari sumber suara yang sangat mengganggu pendengarannya. Jarak kediaman dengan laboratorium hanya berkisar lima puluh meter saja. Setelah sampai di sana, beberapa ruangan memang terlihat sangat gelap. Beberapa lampu gantung yang ada juga terlihat sangat menyeramkan. Hingga, mereka bertemu dengan seorang yang tidak asing di dalam ruangan kebersihan.
“Bukankah itu teknisi yang sedang bekerja di sini?” tanya Matteo dengan serius.
“Ya, benar. Namun, kenapa dia berjongkok seperti itu? Apa yang sedang ia cari di bawah sana?” tanya Arthur setelah melihat ada beberapa pergerakan aneh dari pria tersebut.
Matteo juga segera mengambil besi yang biasa digunakan untuk menarik sisa batang padi. Dengan tindakan yang sangat sadar, ia mulai menyentuh pria itu dari belakang. Namun, keduanya hanya bisa mendengarkan suara erangan aneh dari pria tersebut.
“Hei, kenapa kamu berteriak seperti kelaparan begitu?” tanya Arthur seraya mulai mendorong tubuh pria tersebut.
Mereka berdua juga tidak mengerti dengan bentuk tubuh dari pria yang bekerja menjadi teknisi. Wajah pria itu terlihat seperti mayat dan memiliki beberapa keanehan pada ruas kulitnya. Kedua mata pria yang sebelumnya tertutup juga mulai terbuka secara kasar. Percikan darah yang menghiasi mulut pria asing juga terlihat semakin banyak.
“Woah, kamu kenapa?” tanya Arthur dengan sangat polos
Jangan lupa tinggalkan komentar, like, dan dukungannya, ya.