Deadly Plague

Deadly Plague
Tawaran Rumit



Wajah tegas seorang pria sempurna mulai melebar saat seorang wanita datang memberikan sebuah kabar baik.. Keduanya juga sempat berciuman mesra setelah tidak bertemu beberapa pekan.


“Hei, ada apa? Kenapa kamu enggan melepaskan aku seperti ini?” tanya Arthur Ellios dengan sangat hangat.


Clora mulai tersenyum merekah. “Kamu beberapa hari ini sudah bekerja sangat keras di kantor. Kamu sampai melupakan aku,” jawabnya dengan manja.


Arthur kembali berjalan mendekati pintu masuk. Ia juga segera mengunci pintu itu agar tidak ada yang masuk ke dalam ruangan pribadinya.


“Clora, hentikan tindakanmu ini. Kita bisa mendapatkan masalah yang lebih serius apabila ada yang melihatmu seperti ini.” Arthur tampaknya sangat resah dengan tindakan teman mesranya.


Clora mulai menghentikan tindakannya. “Hm, kamu selalu menyembunyikan aku dari semua orang. Kenapa kamu tidak berterus terang dengan segalanya?”


“Memangnya kamu mau salah satu dari kita keluar dari perusahaan ini? Huft, kalau aku jujur tidak mau hal itu terjadi. Sekarang kamu sebaiknya kembali bekerja saja. Jangan buang waktumu hanya untuk menemuiku di sini, Clo,” lontar Arthur, ia masih merasa sangat resah dengan karirnya.


Setelah wanita itu pergi, ia mendapatkan panggilan dari dewan direksi. Ia pun kembali menjadi penanggung jawab di dalam sebuah proyek penting perusahaan Alliance Biotek Corporation yang bergerak pada rekayasa makhluk hidup. Demi menunjang karir yang lebih baik, Arthur mulai mempertimbangkan tawaran itu dengan baik sebelum mengatakan kepada anggotanya.


“Hm, Tuan. Saya akan kembali mempertimbangkannya. Saya juga tidak bisa memutuskannya sendiri. Saya membutuhkan waktu dan membicarakannya dengan rekan anggota yang lain,” jelas Arthur dengan sopan santun yang tinggi.


“Baiklah, tetapi sayang sekali kalau kalian menolak tugas yang bagus ini. Kalian semua bisa mendapatkan kompensasi yang tinggi beserta dengan promosi jabatan yang lebih baik lagi,” papar pria dengan manik mata berwarna biru tersebut.


Arthur juga merasa sangat tergiur dengan keuntungan yang sudah diberikan oleh dewan direksi utama. Seharian itu, ia masih terus memikirkan tawaran kerja yang akan ia lakukan bersama dengan rekan tim. Namun, ia akan menghabiskan banyak waktu untuk menyelesaikan proyek tersebut. Di satu sisi, ia juga ingin sekali menghabiskan masa mudanya bersama dengan wanita yang dicintai.


Sore yang indah menghiasi perjalanan pulang ke kediaman yang ada di Okville barat. Setelah memarkirkan kendaraan, ia tanpa sengaja mendengarkan beberapa berita kurang baik di daerah Vago Barat. Wilayah yang sangat makmur, kini mengalami kerugian besar akibat hama dan beberapa hewan pengerat yang dengan leluasa menghancurkan tanaman padi. Tentunya berita yang sudah ia dengar membuat batinnya merasa sangat iba.


Dengan tatapan yang miris, ia mulai melangkah kakinya di dalam kediaman bernuansa modern. Hampir lima tahun juga ia tinggal sendirian di dalam kediaman mewah yang sudah ditinggalkan oleh keluarganya. Rasa kesepian dan kehampaan terus mengiringi setiap pori-pori pikirannya. Namun, ia juga bertekad untuk bertahan hidup tanpa siapapun di dalam sana.


“Mereka semua sudah pergi jauh dan tenang di alam baka. Aku tidak mungkin terus meminta kepada Tuhan untuk mengembalikan mereka agar bisa melihat kesuksesanmu ini.” Arthur mulai merebahkan tubuhnya diatas sofa empuk yang ada di dalam ruangan keluarga.


Niat hati ingin beristirahat, tetapi tangannya terlalu gatal untuk menekan pengendali televisi yang ada di hadapannya. Hampir semua berita mengenai kekacauan yang terjadi di daerah kota Vago. Tampaknya masalah yang terjadi memang sangat besar. Ia juga mulai mempertimbangkan kembali tawaran yang sudah dilontarkan oleh atasannya.


[“Tumben sekali menghubungiku. Ada hal apa? Apakah ada masalah di dalam kantor?”] tanya Matteo, pria tampan yang sangat dekat dengan Arthur di kantor.


[“Ada tugas penting. Keuntungannya juga sangat menggiurkan. Namun, tugas yang diberikan juga tidak mudah. Apakah kita harus menerima proyek ini demi menunjang kehidupan yang lebih layak?”] tanya Arthur dengan senyuman yang masih mengiringi bibir tipisnya.


[“Ah, terima saja. Kenapa harus bertanya hal itu kepadaku? Kita bisa membicarakannya besok dengan tim. Jujur saja, aku akan menerima tawaran itu tanpa berpikir panjang.”]


Arthur mulai mengganti posisi duduknya. [“Kita harus melawan hama  yang menjadi titik utama pada kekacauan yang ada di kota Vago. Awalnya aku berpikir bahwa menciptakan varietas unggul akan sangat mudah lantaran tempat itu memiliki tanah yang sangat subur. Namun, masalahnya bukan semudah yang kita pikirkan.’’]


Matteo juga mulai mengernyitkan dahinya setelah mendengarkan penjelasan dari pria berwajah tegas dan dingin itu. [“Hm, begitu, ya. Ya, tidak ada salahnya mencoba. Haha, lagi-lagi berurusan dengan hama . Huft, kita harus bekerja lebih keras lagi untuk melemahkannya. Proyek sebelumnya juga berhasil, ‘kan?”]


Arthur mulai mengendus napasnya dengan panjang. [“Proyek itu sangat berbahaya. Kita tidak bisa melakukan rekayasa terhadap hewan dan melawan kinerja Tuhan.”]


Arthur mengerti dengan tindakan yang ia lakukan akan berdampak buruk untuk rantai makanan. Namun, ucapan temannya juga ada benarnya. Mereka harus melakukan rekayasa terhadap genetika terhadap hewan penegrat untuk melumpuhkan sistem pada tubuh hewan yang menjadi masalah utama. Hanya dengan cara yaitu proyek mereka akan berhasil dengan sempurna tanpa hambatan apa pun juga.


Besok paginya, ia kembali mendapatkan kabar dari dewan direksi utama. Langkah santainya juga kembali terlihat tergesa-gesa setelah mendapatkan panggilan tersebut. Tidak disangka, pemimpin dari perusahaan juga ikut turun tangan dalam mengajukan proyek penting ini kepada kelompoknya. Saat masuk ke dalam ruangan, semua tatapan langsung tertuju kepada dirinya.


“Maaf, saya sedikit terlambat,” ucap pria yang berdiri di belakang Arthur.


“Mat, kenapa selalu hadir seperti ini dan mengejutkan aku?” lontar Arthur dengan sangat lembut.


“Ah, jangan banyak bertanya karena semua orang yang ada di sini sedang melihat aktivitas kita. Sebaiknya, kita masuk dalam waktu duduk di dalam rapat ini.” Matteo segera menarik tangan temannya untuk masuk ke dalam sana.


Selama rapat, Arthur masih terus fokus kepada moderator yang sedang menjelaskan semua proyek tersebut. Ada beberapa keuntungan yang sangat menggiurkan. Namun, ada juga hambatan yang harus mereka lewati di sana. Setelah selesai, mereka mulai saling menatap. Ingin menerima, tetapi merasa tidak yakin dengan tindakan yang akan mereka lakukan ke depannya. Mereka yang berada di tim pertama memang sudah sangat tahu bagaimana kinerja dari rekayasa yang sudah mereka ciptakan sebelumnya. 


“Tidak ada yang menjawab pertanyaan saya. Jadi, bagaimana? Untuk tim pertama? Apakah kalian akan menerima proyek ini atau sebaliknya? Jangan khawatir dengan keuntungan yang akan kalian miliki setelah menyelesaikan tugas ini,” ucap Clora yang kebetulan menjadi pemateri di dalam rapat tersebut.