
Pagi ini aku dan Mamah akan pergi ke pasar. Mamah bilang aku boleh jajan apa saja sebagai pengganti sepeda aku yang hilang, karena dijual Bapak. Aku senang sekali, akhirnya aku bisa main. Seperti biasa, pergi jauh dari rumah adalah definisi dari main versi aku.
Sesampainya di pasar, aku ingin sekali membeli boneka Barbie. Tapi Mamahku tidak mempunyai cukup uang untuk membelinya. Aku sangat kesal, Mamah bilang aku boleh jajan apa saja. Tapi kenapa ketika aku ingin membeli boneka, Mamah malah memarahiku? Mungkin karena membeli boneka judulnya bukan jajan. Tapi belanja.
Aku menangis dengan kerasnya dan menjatuhkan diriku di jalanan pasar yang sangat becek. Seketika itu juga, Mamah marah dan menarikku pulang dengan paksa. Atau lebih tepatnya lagi menyeretku. Sepanjang perjalanan menuju rumah Bapak aku terus menangis. Sehingga aku tidak bisa menikmati perjalanan naik angkot hingga delman. Dasar aku.
Jujur. Aku sangat kesal sekali. Bukan karena tidak dibelikan boneka Barbie sama Mamah. Tapi terlepas dari itu, aku memang merasa sangat kesal. Entah kesal dengan apa ataupun siapa? Aku tidak pernah tahu. Hanya saja aku sama sekali tidak mau hidupku seperti ini. Ini sangat tidak nyaman dan membuatku tidak betah.
***
“Kenapa ibu tidak bilang kalau A Dayat sudah menikah lagi?” jerit Mamahku.
“Kenapa Bapak tidak melarangnya?” lanjut Mamah.
“Kamu seperti yang tidak tahu saja bagaimana watak suamimu.” Jawab Nenek.
“Maafkan kami, Ina.” Tambah Kakek.
Dengan lemas Mamah meninggalkan Nenek dan Kakek di ruang keluarga, kemudian membawaku ke kamar. Aku yang menyaksikan itu hanya diam. Kesal, perih, entah apa yang dirasakan oleh Mamahku kala itu. Yang aku lihat hanyalah betapa derasnya air mata yang membasahi Mamahku yang sepertinya tidak bisa lagi tertahan.
Hari itu juga Mamah membawaku pergi, jauh dari rumah itu. Aku naik angkot lagi. Sekarang naik angkot bukan untuk main versiku lagi. Tapi untuk meninggalkan rumah itu selama-lamanya. Ada perasaan sedikit lega direlung hatiku yang paling dalam. Aku tidak tahu kenapa aku merasa lega? Rasanya seperti aku sudah terlepas dari belenggu yang selama ini tengah menjeratku. Dan mendengar Mamah mengajakku untuk meninggalkan rumah, aku bahagia. Dan aku dengar kedua orang tuaku memutuskan untuk bercerai kembali.
Aku pergi meninggalkan rumah dan sedikit meninggalkan kenangan kecil yang pernah aku lalui disana. Karena aku tinggal disana hanya sebentar. Kebanyakkannya aku tinggal di rumah Bu Foni, hanya waktu weekand saja aku menghabiskan waktuku di rumah Bapak. Itupun dipenuhi dengan pertengkaran. Dan mulai hari ini, pertengkaran itu tidak akan pernah terjadi lagi.
Aku pergi sambil mengingat lagi bagaimana aku begitu keras berusaha untuk belajar sepeda disini, aku ingat bagaimana aku bermain dengan teman tetanggaku, aku ingat ketika di marahi Umi gara-gara main di kebun kopi. Aku bahkan sampai dilempar pake sandal kala itu. Aku ingat ketika bermain peran jadi pengantin bersama pasanganku, Arif. Bermain rumah-rumahan yang aku buat dengan menggunakan sarung, sampai Desi kakaknya Arif masuk puskesmas gara-gara tertimpa setrikaan. Karena setrikaan itu, kami pakai untuk menahan sarung yang kami jadikan sebagai rumah. Permainan yang membahayakan karena menimbulkan korban.
Hari ini, semua itu hanya akan menjadi kenangan dimasa kecilku. Dan terakhir, aku juga meninggalkan adikku. Meskipun umurnya baru 3 bulan, dan aku jarang sekali bertemu dengannya. Tapi aku sangat menyayangi adikku. Mamah bilang, adikku adalah anak yang sangat tampan.
Ahhh, andai adikku masih hidup. Mungkin aku punya teman untuk bercerita. Sayangnya, takdir berkata lain. Mungkin Sang Pemilik Takdir lebih menyayangi adikku, agar ia tidak terjebak dalam hubungan keluarga yang seperti ini. Makanya Ia mengambil adikku lebih dulu.
Kadang, aku juga sering meminta untuk bisa pergi menyusul adik. Tapi sayangnya, aku tidak tahu bagaimana cara menyusul adik. Baiklah, kehidupan masih tetap harus berjalan bukan? Entah kehidupan seperti apalagi ke depannya yang sudah menungguku? Padahal aku masih terlalu kecil untuk bisa mengalami semua ini.