
Kersamanah, 06 Mei 1996
Di sebuah ruang tamu, tampak seorang pria paruh baya bersama dengan istrinya sedang menunggu harap-harap cemas. Ditemani dengan sepasang anaknya yang juga tidak kalah cemasnya.
“Semoga Kak Ina baik-baik saja.” Mohon Wati.
“Aamiin…” Sambung Iwan.
Suasana berubah menjadi hening beberapa saat.
“Eaaaaa… eeeaaaa…” 😭
Suara tangis bayi yang baru lahir memecahkan keheningan, berhasil mengubah perasaan cemas menjadi lega.
“Alhamdulillah, anaknya sehat dan ganteng.” Ucap Mak Paraji yang membantu persalinan.
Wajah Ina tampak murung mendengar perkataan Mak Paraji yang menyebutkan bahwa anak yang baru saja ia lahirkan berjenis kelamin laki-laki. Ia pun hanya bisa terdiam kelu.
“Astagfirulloh, maaf sayang. Ternyata bayinya cantik. Maafin Emak ya, enggak teliti.” Ucap Mak Paraji kepada bayi tersebut.
Ina pun merasa lega. Bukan apa-apa, tapi jika seandainya memang bayi itu laki-laki, sudah pasti bayi tersebut tidak akan tinggal bersamanya.
Pak Rusman dan Bu Tari yang sejak tadi menunggu diluar langsung masuk ke dalam kamar ketika mendengar tangisan bayi tersebut.
“Silahkan, Pak. Diadzani dulu cucunya.” Pinta Mak Paraji.
Pak Rusman terdiam membisu mendengar permintaan Mak Paraji itu. Ditatapnya wajah polos bayi itu, bersih tak berdosa. Sekalipun rambutnya tinggi ke atas seperti laki-laki, tapi bayi itu memiliki mata yang indah dan senyum yang sangat manis. Sebuah mata ketulusan yang jarang sekali orang memilikinya. Ingin rasanya dia mengumandangkan adzan ditelingi bayi itu, tapi…
“Maaf, Mak. Saya tidak bisa adzan.” Ucap Pak Rusman kelu.
Semua yang ada di ruangan itu pun terdiam.
“Allohu akbar, allohu akbar…”
Seolah memecah keheningan, gema suara adzan di mesjid menjawab pernyataan Pak
Rusman yang cukup menyayat hati beberapa orang yang ada disana. Bayi itu menggerakan kepalanya pelan ke kanan dan ke kiri seolah sedang mencari sesuatu, ASI. Tapi ia tidak menangis, seolah ia paham bahwa ia sedang diadzani oleh seseorang dari jauh sana. Ia hanya menggerakkan tangannya, dan menghentakan kakinya sambil mendengarkan kumandang adzan dengan seksama.
***
Matahari menyambut pagi dengan semangat, membantu menghangatkan tubuh bayi yang baru lahir. Bayi itu kini tengah berada dalam dekapan ibunya. Kicauan burung bersautan ikut menyambut kehadirannya dibumi ini.
Tanya Pak Rusman menghampiri Ina yang
sedang berjemur di teras depan rumah. Disusul Bu Tari dari belakang sambil membawakan sarapan untuk Ina.
“Sudah, Pak. Aku mau memberinya nama Deannisa.”
“Nama lengkapnya?”
“Deannisa Andini Makmur.”
“Baiklah…”
Setelah itu Pak Rusman kembali ke dalam rumah untuk melanjutkan pekerjaannya
memperbaiki tembok kamar mandi yang ambruk. Pak Rusman adalah seorang pegawai bangunan, maka dari itu setiap ada kerusakan di rumah pasti beliau sendiri yang memperbaikinya. Sedang istrinya, Bu Tari merupakan seorang ibu rumah tangga biasa. Mereka berdua dikaruniai anak sebanyak 7 orang, seharusnya 9. Tapi ke 2 anaknya harus kembali kepada Yang Maha Kuasa ketika keduanya masih bayi.
Membesarkan ke 7 anaknya dalam kondisi ekonomi yang bisa dibilang kurang memang bukanlah hal yang mudah. Ina sendiri merupakan anak kedua, kakaknya sudah menikah dan tinggal bersama dengan suaminya. Meskipun rumahnya disebelah rumah kedua orang tuanya. Adiknya yang ke 3, 4, dan 5 sudah memutuskan untuk bekerja di Bandung. Sedang adiknya yang ke 6 dan ke 7 masih sekolah.
Pak Rusman memiliki 4 anak perempuan, dan 3 anak laki-laki. Karena kondisi ekonomi yang minim mengharuskan setiap anak hanya mampu di sekolahkan sampai Sekolah Menengah Pertama. Ina dan kakaknya sendiri hanya tamatan Sekolah Dasar, tapi keduanya harus langsung bekerja. Sedang ketiga adik Ina, beruntung mereka bisa mencicipi bangku sekolah menengah.
“Apa rencanamu selanjutnya, Ina?” tanya Bu Tari.
Mendengar pertanyaan dari ibunya tersebut Ina sangat sedih. Dia baru saja melahirkan seorang anak, tanpa adanya suami yang menemaninya. Bahkan luka pasca melahirkan pun belum kering, sudah ditanya tentang rencana kedepannya. Ina paham maksud dari
pertanyaannya itu adalah “Bagaimana kamu membiayai keluarga dan anak ini?”
“Setelah kondisi membaik, aku akan pergi ke Bandung untuk kembali bekerja, Mah.”
“Kalau begitu, biarkan anakmu tetap disini. Kamu fokus saja bekerja.” Sambung Pak Rusman tiba-tiba.
Ina menghela nafas panjang. Sesak sekali rasanya. Tapi anak ini. Ina menatap lekat-lekat bayi perempuan yang tengah berada dalam dekapannya itu. Anak ini harus memiliki kebahagiaan dalam hidupnya.
“Ina, jangan pernah kamu hubungi laki-laki itu lagi. Suami macam apa dia? Tega menelantarkan istri dan anak yang masih ada dalam kandungan hanya demi perempuan lain.” Ucap Pak Rusman penuh dengan kegeraman.
Bu Tari hanya diam kemudian masuk ke dalam menyiapkan makan untuk Wati dan Iwan, kedua adik Ina yang masih bersekolah. Sedang Ina, tetap duduk di teras depan sambil mengawang jauh, ada perasaan sakit yang sangat sulit sekali dijelaskan. Tapi sesekali ia menatap wajah anaknya yang masih polos itu sembari mengusap air mata yang berkali-kali jatuh tak tertahan lagi.
Rasanya paket komplit. Ditinggalkan suami berselingkuh, dan hidup dalam keluarga yang kurang mengerti kondisi hati dirinya dikarenakan kondisi ekonomi yang semakin menjepit. Terlebih tahun-tahun ini merupakan awal tahun krisis moneter. Tapi tidak ada yang bisa Ina lakukan selain bersabar.
“Kamu harus bahagia sayang…”