Dawn

Dawn
Bab 4



Bulan pun berlalu, adikku lahir dengan selamat. Mamah memberinya nama Fikri Supriatna. Nama Supriatna itu pemberian dari Abah ku yang di kampung. Abah dan Emah sudah mengetahui apa yang sedang terjadi antara Mamah dan Bapak. Dan tentunya mereka sangat murka sekali.


Rencana perceraian antara Mamah dan Bapak tidak segera dilakukan, entah apa alasannya. Namun yang jelas Bapak tidak segera menceraikan Mamah. Tapi karena Mamah sudah terlanjur sakit hati, Mamah tetap bersikukuh untuk terus bekerja di rumah Bu Foni. Seperti sebelumnya, hari Senin sampai Jumat Mamah dan aku di rumah Bu Foni. Hari Sabtu siang kami berdua ke rumah Bapak. Sedangkan Dek Fikri disimpan di rumah Nenek.


Tujuan Mamahku melakukan itu adalah agar Nenekku juga ikut mengurus adikku. Dulu ketika aku kecil, aku diurus oleh Emah dan Abah sedang Mamah bekerja karena Bapak tidak bisa bertanggungjawab. Nah, sekarang keadaannya sama. Bapak masih tidak bisa bertanggungjawab. Jadi sehari-hari Dek Fikri diurus oleh Nenek selagi Mamah bekerja. Sedangkan aku ikut bersama Mamah.


Aku tidak tahu, mengapa Mamah memilihku untuk ikut. Sedang Dek Fikri ditinggal. Hanya saja kali ini aku berpikir mungkin karena Bapak dan keluarganya sama sekali tidak mengakui Dek Fikri sebagai darah dagingnya. Makanya Mamah ingin mendekatkan Dek Fikri dengan Neneknya. Agar Nenek juga bisa melihat Dek Fikri. Tapi dugaan Mamah ternyata salah, Nenek sama sekali tidak bisa merawat anak.


Mamah melihat banyaknya luka lecet disekujur tubuh Dek Fikri. Menurut sanak saudaranya yang dekat disana, Nenek memang tidak pandai merawat anak, bahkan mungkin tidak pandai juga mendidik anak.


“Kring… Kring….”


Aku membunyikan sepeda yang baru saja dibelikan oleh Mamah. Aku enggak tahu Mamah punya uang berapa? Namun yang jelas tiba-tiba saja Mamah membelikannya untukku. Mengingat dulu uang celengan aku yang tempo hari hilang bersamaan dengan cincin yang dipinjam oleh Bapak ternyata pelakunya adalah sama. Ya, Bapak aku sendiri. Tapi mungkin Mamah punya sedikit rezeki makanya Mamah membelikan aku sepeda. Sebuah sepeda berwarna pink. Aku masih ingat kala itu, setiap sore aku belajar mengendarai sepeda. Sepeda roda dua, dibantu dengan 2 roda kecil dibawah roda belakangnya.


Setelah kelahiran Dek Fikri, ada sedikit perubahan dari sikap Bapak. Bapak jadi lebih ramah lingkungan, terutama sama aku. Setiap pulang ngojek, Bapak selalu membawa makanan kesukaan aku, entah itu stik agar yang berhadiah satu cangkir, atau bawa sayap fried chicken.


Saat itu aku merasa kalau aku sudah memiliki keluarga yang lengkap, ada Bapak, Mamah, aku, dan Dek Fikri. Hari-hariku masih seperti jadwal biasa pulang-pergi dari rumah Bu Foni tempat Mamah bekerja, kemudian menghabiskan hari Minggu di rumah Bapak.


“Kakak, anak siapa?” Tanya Bapak.


“Anak Bapak, kalau Dek Fikri anak Mamah.”


Jelasku saat itu. Mungkin karena aku baru merasakan kasih sayang Bapak, jadinya aku dan Bapak terasa sangat dekat. Aku merasa bahagia sekali. Mamahku pun sekarang jadi jarang terlihat menangis. Bahkan mungkin tidak pernah menangis lagi. Tapi, entah memang menyembunyikan tangisannya dari ku. Yang jelas Mamah selalu terlihat bahagia didepanku.


“Kak, mau ikut jalan-jalan sore enggak sama Bapak?”


“Mau ikut!”


Aku yang saat itu baru berumur 3 tahun begitu sangat antusias, karena Bapak akan mengajakku jalan-jalan menggunakan motor. Setelah berpamitan pada Mamah, Nenek, dan Kakek aku dan Bapak pun pergi.


Kami berdua pergi ke suatu tempat yang cukup asing, tapi aku masih terbayang jalannya. Bahkan sampai detik ini. Setelah sampai diperempatan jalan, Bapak mengajakku ke suatu rumah, atau mungkin lebih tepatnya bisa disebut gubuk. Bukan gubuk reyot. Ini hanya karena bangunannya terbuat dari anyaman bambu. Jadi aku sebut gubuk.


Ucap seorang perempuan yang melihatku datang dengan pakaian yang rapi, dan wangi bedak bayi pertanda bahwa aku sudah mandi.


“Nah, Kakak ini Mamah baru. Ayo salam!”


Mendengar perkataan Bapak aku malah bingung, kenapa Bapak menyebut perempuan itu dengan Mamah baru? Memang Mamahku ada berapa? Aku yang masih berumur 3 tahun itu sangat kebingungan. Ketika Bapak menyuruhku untuk mencium tangan, aku menurut. Tapi ketika Bapak menyuruhku untuk memanggil perempuan itu dengan sebutan ‘Mamah’ tentu saja aku tidak mau. Apalagi aku lihat ketika perempuan itu dekat-dekat dengan Bapak. Aku kesal sekali. Akhirnya aku meminta pulang.


Sepanjang perjalanan aku diliputi kebingungan, tentang siapa perempuan itu? Kenapa aku harus memanggilnya dengan sebutan Mamah? Tapi daripada bingung, aku berniat untuk menanyakan itu pada Mamahku.


Sesampainya di rumah, aku langsung bercerita pada Mamah dengan sangat antusias dan dipenuhi dengan kebingungan. Aku lihat Mamah seperti yang kecewa, tapi Mamah bilang kalau perempuan itu hanyalah temannya Bapak.


“Sama kayak Kakak memanggil Mamah Uu. Maka mungkin Bapak juga meminta Kakak untuk memanggil nya Mamah Teteh.” Jelas Mamah.


Aku yang kala itu seolah mendapatkan jawaban dari segala kebingunganku akhirnya lega juga. Mungkin memang seperti itu. Jadi aku memanggil Uwaku dengan panggilan Mamah Uu. Uwa adalah kakak perempuan Mamah aku. Dan kepada suaminya Mamah Uu aku pun memanggil beliau dengan sebutan Bapak Uu. Jadi ketika Mamah aku menjelaskan hal demikian, aku langsung mengerti.


Tapi aku tidak menyangka, jikalau gara-gara itu pertengkaran antara Mamah dan Bapak terjadi lagi. Bapak kembali lagi seperti dulu, sering marah-marah dan bertengkar. Sampai pada hari itu, Mamah memutuskan untuk pergi membawaku tinggal di rumah Bu Foni. Mamah mengemasi barang-barang bawaannya. Saat itu Dek Fikri menangis seharian, dan ingin ASI Mamah. Padahal Mamah sudah tidak punya ASI lagi.


Mendengar Dek Fikri yang saat itu berusia 3 bulan menangis, aku juga ikutan sedih. Aku meminta Mamah agar Dek Fikri ikut dibawa ke rumah Bu Foni. Karena aku yakin Bu Foni akan senang dengan Dek Fikri, daripada adik aku disini nangis terus.


Tapi permintaanku ditolak, Mamah bilang Dek Fikri disini saja. Agar Nenek mengurusnya. Melihat Dek Fikri yang sudah tertidur rasanya sedih sekali. Harus berpisah lagi dengan adikku. Terlihat adikku tidak mau melepaskan diri menyedot ASI Mamah. Tapi Mamah berusaha agar adikku melepaskannya dan tertidur pulas.


Aku dan Mamahpun kembali ke rumah Bu Foni. Ditengah perjalanan aku dan Mamah melihat Bapak sedang dipeluk oleh seorang perempuan yang tempo hari harus aku panggil Mamah.


“Mamah, itu Mamah Teteh yang waktu itu ketemu aku. Itu Mah, lagi meluk Bapak.”


“Kak, itu hanya penumpang sayang.”


Aku melihat Mamah menyembunyikan tangisannya. Mungkin Mamah tahu sesuatu. Tapi aku tidak berani menanyakannya.


Ya, Mamah tahu kalau perempuan itu adalah selingkuhan Bapak. Perempuan yang aku panggil Mamah Teteh, adalah perempuan yang jadi bahan omongan para tetangga saat ini sebagai selingkuhannya Bapak aku. Dan Mamah tahu itu.