
Sudah beberapa Minggu ini aku dan Mamah tidak pulang ke rumah Bapak. Aku masih ingat usiaku kala itu sekitar 3 tahun lebih, dan usia adikku sekarang sudah 3 bulan. Setelah mengetahui kabar perselingkuhan Bapak, Mamah sangat sedih sekali. Karena nyatanya kesempatan yang Mamah berikan untuk rujuk kembali malah disia-siakan. Dan sekarang, baik Mamah ataupun Bapak, keduanya sudah memutuskan untuk bercerai kembali. Sebuah kesepakatan yang mereka ambil adalah aku ikut dengan Mamah sedang Dek Fikri ikut dengan Bapak.
Meskipun Mamah dan Bapak akan bercerai, tetapi Mamah tetap memberikan biaya untuk Dek Fikri kepada Nenek. Karena perasaan Mamah bilang bahwa Bapaknya tidak akan bisa bertanggungjawab sepenuhnya.
***
Setelah beberapa Minggu tidak menengok Dek Fikri, Mamah mendengar kabar lewat sambungan telepon ke rumah Bu Foni bahwa Dek Fikri sudah meninggal dunia. Perasaan Mamahku kala itu benar-benar hancur dan merasa bersalah. Mamah ingat betapa ia memaksa melepaskan dengan paksa Dek Fikri yang ingin mengisap ASI. Itu adalah pertemuan terakhir Mamah dengan Dek Fikri. Aku juga mengingat terakhir kali Dek Fikri tidur dengan lelap hari itu, hari terakhir aku bisa melihatnya.
***
Pemakaman Dek Fikri dilaksanakan di tempat pemakaman keluarga, dekat rumah. Aku melihat wajah Mamah benar-benar diliputi dengan rasa bersalah, tapi tidak dengan Bapakku ataupun kedua orang tuanya. Kakek dan Nenekku. Kalau aku mengingatnya, rasanya keluarga itu benar-benar kejam. Mereka tidak mengakui adikku sebagai darah dagingnya, bahkan sampai adikku meninggal tidak sedikitpun mereka merasa iba.
Aku menjerit, menangis, ketika perlahan tanah mengubur jasad adikku. Saat itu aku sama sekali tidak mengerti makna dari sebuah kematian. Namun yang aku tahu, aku dan adikku akan berpisah jauh sekali. Dan aku sama sekali tidak akan pernah bisa memeluknya lagi.
“Sini, Mang Ayu gambarin.” Ucapnya mencoba menghiburku.
Mang Ayu adalah saudara jauhku. Aku tidak tahu nama aslinya siapa? Namun katanya aku selalu memanggilnya Mang Ayu sejak aku bertemu dengannya. Dia adalah seseorang yang sangat jago sekali menggambar, usianya jauh sekali diatasku. Tapi dibandingkan dengan teman-temanku, aku lebih suka bermain dengan Mang Ayu. Karena aku bisa melihatnya menggambar dan aku pun selalu diajarkan bagaimana cara meniru semua gambar buatannya.
Karena sudah agak lama menggambar, aku merasa bosan. Jauh dilubuk hatiku yang sangat kecil ini, aku masih merasa sedih atas kepergian adikku. Tapi mau bagaimana lagi? Aku pun tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
“Dean, mau kemana?” tanya Mang Ayu.
“Aku ingin naik sepeda.”
Aku langsung pulang ke rumah Bapak yang jaraknya sangat dekat dari rumah Mang Ayu, karena rumah kita memang tetanggaan. Setelah itu aku masuk menuju dapur dan membawa sepedaku.
“Kring… kring…”
Aku membunyikan sepeda. Saat hendak menaikinya, tiba-tiba Bapak datang menghampiriku.
“Kak, ban sepeda Kakak sepertinya kempes.” Ucap Bapak.
“Benarkah, Pak?”
“Sepedanya Bapak perbaiki dulu ya?”
Aku yang mendengar itu hanya mengangguk saja. Aku lihat Bapak memangku sepedanya dan berjalan menjauhiku.
“Nanti sore dikembalikan ya, sepedanya diperbaiki dulu.” Lanjut Bapak.
Aku diam. Kemudian duduk diteras mesjid. Kembali ingatanku pada sosok adikku, dan sekarang aku melihat rumah Bapak begitu sangat sepi. Ada yang hilang. Dan aku sangat sedih, tapi aku tidak bisa mengucapkannya kepada siapapun. Aku tidak mengerti, dan orang tuaku pun sama. Tidak ada yang mengerti.
“Kakak sedang apa?”
Mamah menghampiriku, kemudian duduk disampingku. Mamah membelai lembut rambutku.
“Katanya mau sepedaan? Tapi kok malah duduk disini? Sepedanya sekarang kemana?” tanya Mamah.
“Sepedanya dibawa Bapak, katanya ban sepedanya bocor, Mah. Nanti sore baru dikembaliin lagi. Kata Bapak sepedanya diperbaiki dulu.” Jelasku.
Mendengar itu, Mamahku sedikit kebingungan karena jelas-jelas tahu kalau ban sepedaku sama sekali tidak bocor. Tapi kemudian Mamah mencoba untuk menenangkanku dan memberikan saran kepadaku agar mau menunggu sampai sore.
Menjelang magrib, Bapak tidak kunjung datang. Padahal malam itu adalah malah terakhirnya tahlilan Dek Fikri. Selepas tahlilan, Bapak baru datang dengan keadaan matanya yang merah. Mungkin habis mabuk.
“Bapak, sepedaku mana?” Tagihku.
Tapi tidak ada jawaban.
“Pak, sepeda si Kakak dikemanain?” Mamah membantuku bertanya.
“Dijual.”
Bapak menjawab, sambil merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur. Aku yang mendengar itu sangat kesal sekali. Ingin rasanya aku memukul Bapak, tapi sebagai anak kecil aku sangat takut. Akhirnya aku hanya bisa diam dan memeluk Mamah. Aku sama sekali tidak bisa mengatakan apa yang aku rasakan saat itu kepada siapapun.