
Semenjak kejadian Bapak menggebrak meja pada hari tersebut, jujur aku mulai tidak suka dengan Bapak. Sekalipun pada saat itu umurku baru 2 tahun, tapi aku masih mengingatnya dengan jelas.
Mamah masih bekerja di pabrik sumpiah, dengan ditemani aku setiap harinya. Setiap hari Senin sampai dengan Sabtu, pagi buta aku bangun, kemudian mandi dan pergi menemani Mamah bekerja. Sedangkan hari Minggu aku akan bermain dengan tetangga. Begitu pun Mamah. Ia akan selalu mengawasi ku bermain. Kehidupanku terasa sangat membosankan. Padahal kehidupan anak kecil seperti aku memang seperti itu pada umumnya. Tapi entahlah, aku rasa hidup aku tidak nyaman. Terlalu banyak hal yang tidak bisa aku mengerti.
Pada suatu malam, Bapak tiba-tiba pulang dengan langkah sempoyongan. Bapak mabuk. Terdengar dari luar Nenek dan Kakekku histeris menyambut kedatangan Bapak. Sedang Mamahku, yang menyadari bahwa aku terbangun berusaha untuk terlihat tenang.
Bapak lalu masuk ke kamar dan tidur di samping Mamah. Entah kenapa saat itu aku sangat membencinya, aku tidak mau berbagi tempat tidur dengan Bapak. Padahal seharusnya aku sadar, aku ini anak siapa? Tapi entahlah, aku tidak pernah sayang dengan Bapak. Aku selalu memperhatikan gerak-geriknya. Tiba-tiba perasaan tidak suka itu muncul dengan sendirinya.
Bagiku, Bapak adalah sosok yang pemarah, suka berteriak, sering membuat Mamah nangis. Dan aku sangat tidak suka.
Setelah hari itu, kata Mamah aku harus mulai belajar mengaji ke mesjid depan rumah. Akhirnya aku menurut. Yang namanya anak kecil pasti sering bertengkar dengan teman seusianya. Aku ingat, saat itu ada teman laki-lakiku yang mengerjaiku dengan mematahkan pensil milikku. Ketika aku hendak melawan, tiba-tiba Bapak datang memasuki pintu mesjid dan melihatku hendak memukul temanku. Seketika itu juga aku melihat Bapak melotot ke arahku. Dan aku sangat merasa takut, kalau Bapak akan memukulku. Aku jadi ingat adegan saat Bapak menggebrak meja. Aku urungkan untuk memukul dan menyimpan kekesalan sendiri.
“Aku hanya ingin memukul tangannya saja.” Batinku.
Aku menatap kesal, si Arif nama temanku itu. Dan membuang muka jauh-jauh. Aku tidak mengerti kenapa Bapak marah kepadaku? Padahal sudah jelas-jelas temanku yang nakal. Malah aku yang dipelototi. Bapak memang pemarah, dan aku sangat tidak suka.
***
Hari terus berganti, semakin hari rasanya orang tua ku lebih sering bertengkarnya. Entah apa yang mereka debatkan? Yang jelas semua itu membuat aku terus berpikir, mengapa orang tuaku seperti itu. Selalu ada saja tangisan Mamah setiap harinya.
Dan satu lagi, aku juga tidak suka kalau malam hari aku mendapati Mamahku tidur tanpa memakai baju. Mungkin waktu aku kecil, aku tidak mengerti bahwa Mamah melakukan itu adalah sedang menjalankan tugasnya sebagai seorang istri. Aku yang masih kecil hanya memiliki perasaan tidak suka saja. Pokoknya tidak suka. Titik. Mamah pokoknya kalau tidur sama Bapak harus pakai baju. Dasar aku.
“Dean, makan yuk!” Ajak Mamah membuyarkan lamunanku.
Aku tidak tahu kenapa Mamah selalu memaksaku untuk makan? Padahal aku tidak suka makan. Aku lebih suka main. Dan itu pun tidak dengan temanku, aku lebih suka main dengan boneka ku dan mulai bercerita. Tapi entahlah, Mamah selalu memaksaku untuk makan, disaat aku tidak lapar. Mamah selalu bilang, kalau waktu itu adalah jadwalnya aku makan. Jadi aku harus makan. Daripada kena pelototan Mamah aku pun menurut.
Mamah adalah tipe seorang ibu yang sangat disiplin. Semua yang aku harus lakukan setiap hari seolah sudah terjadwal. Kapan aku harus makan? Harus mandi? Harus tidur? Harus nonton tv? Bahkan dipaksa untuk harus bermain dengan anak tetangga? Sekalipun aku tidak suka. Ya, begitulah Mamahku.
Saat itu aku melihat wajah Mamah begitu pucat dan lesu, mungkin Mamah aku sakit. Pikirku. Tapi Bi Rani bilang bahwa aku akan segera mempunyai seorang adik. Itu tandanya Mamah bukannya sakit, tapi sedang hamil. Oh, iya. Bi Rani adalah tetangga terdekatku, tapi dia masih kerabat dekat dengan Bapak.
“Kalau begitu, mulai sekarang aku mau dipanggil Kakak.” Pintaku.
“Teteh aja ya…”
“Enggak pokoknya panggil aku Kakak.” Kataku sedikit memaksa.
Mamahku hanya tersenyum. Dan melihat itu aku jadi senang. Bagaimana kabar Bapak? Beberapa hari terakhir ini Bapak jarang pulang, kalau pulang pun pasti dalam keadaan mabuk. Dan aku sangat benci itu, karena setelah Bapak datang pasti akan menimbulkan pertengkaran dengan Mamah. Dan ketika Bapak sudah pergi lagi malam itu juga, pasti aku mendapati Mamah akan menangis.
Begitulah kehidupan sehari-hari aku. Aku tidak suka tinggal disini. Karena disini Mamah dan Bapak selalu bertengkar. Padahal dulu saat aku tinggal dengan Abah dan Emah, mereka berdua tidak pernah bertengkar. Lalu kenapa? Saat aku tinggal dengan Mamah dan Bapak, mereka hobi sekali bertengkar.
“Mamah kenapa?” tanyaku tempo hari.
“Kakak liat uang celengan Kakak yang disini enggak?”
Jadi, Mamah aku itu saking disiplinnya sampai mengajarkan aku untuk menabung. Misalkan setiap hari aku akan diberi jatah untuk jajan. Nah, kalau aku tidak jajan maka uangnya akan disimpan ke dalam celengan. Naasnya, sekarang uang di celengan itu sepertinya hilang. Mendengar Mamah yang menanyakan itu kepadaku, aku langsung menggelengkan kepala. Karena aku sama sekali tidak mengetahui keberadaannya. Oh, iya Mamah dan anggota keluargaku yang lain sekarang sudah terbiasa memanggilku Kakak sesuai dengan permintaanku. Dan aku sangat senang.
“Lah, cincin Kakak kemana?” tanya Mamah kembali.
Aku terdiam. Aku mengingat kembali kenapa cincin itu bisa tidak ada dijariku. Padahal kemarin aku sama sekali tidak bermain dengan siapapun. Apalagi saat Mamah hamil, Mamah lebih suka diam di rumah. Dan aku senang, karena bisa bermain dengan bonekaku.
“Hilang dimana?” Mamah kembali menanyakan.
“Mamah, cincinnya dipinjam Bapak.”
Aku menceritakan kepada Mamah saat aku mengingat, bahwa semalam setelah Bapak pulang dalam keadaan mabuk seperti biasa. Bapak bilang, mau meminjam cincin aku. Terus Bapak melepaskannya, setelah itu aku tidak ingat lagi. Karena aku meneruskan tidurku yang sedikit terganggu oleh Bapak. Mamah yang mendengar itu kemudian menangis. Aku merasa bersalah, karena hari itu sepertinya aku sudah melakukan kesalahan dengan meminjamkan cincinku kepada Bapak. Tapi aku kan tidak tahu. Mamah, maafkan aku.