Dawn

Dawn
Bab 3



Setelah beberapa hari tidak bekerja lagi di pabrik sumpiah, Mamah pagi itu mengajakku untuk mandi. Katanya aku harus ikut ke suatu tempat. Aku dengan girangnya menurut saja.


“Ye, akhirnya aku bisa main.” Seruku.


Ketika kecil, aku enggak tahu definisi main itu seperti apa? Karena main yang ada dipikiran aku dengan main yang ada dipikiran Mamah adalah suatu hal yang jauh berbeda. Menurut Mamah, main mengandung arti aku harus berbaur dengan tetangga, kemudian meminjamkan bonekaku dengan anak tetangga, lalu membagi makananku dengan anak tetangga. Ya, anak tetangga itu memang temanku. Tapi mereka mau ke rumahku hanya ketika ada makanan saja, atau sekedar meminjam bonekaku. Tanpa adanya kedua hal itu, maka tidak akan ada anak yang berani masuk ke dalam rumah. Makanya aku sangat tidak suka dengan mereka.


Sedangkan makna main versi pikiran aku adalah saat aku bisa pergi keluar rumah, naik kendaraan baik itu angkot maupun bus. Itulah yang dinamakan main. Pokoknya harus jauh dari rumah. Kalau masih dipekarangan rumah, itu namanya bukan main. Pikiran anak kecil seperti aku memang sudah sangat rumit seperti itu.


***


Siang hari di sebuah komplek.


“Assalamualaikum…” ucap Mamah.


Setelah beberapa kali mengucapkan salam, akhirnya pintu rumah itu pun terbuka. Terlihat seorang perempuan yang jika dilihat usianya hampir sama dengan Mamahku. Selain ibu itu, ada juga beberapa orang seperti anaknya. Yang dikemudian hari aku tahu nama mereka satu per satu yaitu Faisal, Fika, dan Fachmi. Mereka adalah adik-kakak.


Faisal, merupakan seorang pria tampan dan pintar, namun sangat bodoh dalam pelajaran Bahasa Inggris. Dia adalah anak tertua dari keluarga itu. Fika adalah seorang perempuan cantik, pintar, lembut, dan baik hati. Dia lebih senang dipanggil Kak Fika, merupakan anak kedua. Saat itu dia sedang melanjutkan kuliah sambil bekerja disebuah restoran cepat saji. Dan terakhir Fachmi, usianya tidak jauh denganku. Tapi dia sudah sekolah. Usiaku dan dia terpaut 5 tahun. Berbeda dengan kedua kakaknya. Fachmi adalah anak yang bodoh, tapi dia sangat tampan, dan senyumnya manis.


Setelah dibukakan pintu, Mamahku pun masuk ke rumah itu. Kami dipersilahkan minum, kemudian mereka berbincang-bincang. Lalu setelah itu, ibu pemilik rumah mengajak aku dan Mamah menaiki suatu tangga. Ibu itu namanya, ibu Foni.


“Ini kamar Teteh ya…” ucap Bu Foni.


Aku menatap heran Mamah, menuntut penjelasan atas segala kondisi yang tidak aku mengerti. Kenapa aku sekarang berada di rumah ini?


“Kakak sayang, sekarang kita akan tinggal disini ya.”


“Kenapa, Mah?”


“Iya, nanti setiap minggu kita akan pulang ke rumah Bapak.”


Dibandingkan dengan saat Mamah bekerja di pabrik sumpiah dulu, aku lebih suka Mamah kerja disini. Karena rumahnya bagus, dan kerjaan Mamah hanya memasak dan beres-beres. Seperti apa yang selalu Mamah kerjakan di rumah setiap hari. Hanya bedanya, sekarang Mamah beres-beresnya di rumah orang.


Daripada di pabrik sumpiah kan? Mamah seharian diam didepan kompor yang panas, karena Mamahku bagian mencetak kulit sumpiahnya.


Aku menikmati setiap hariku. Aku mulai merasa nyaman tinggal di keluarga ini karena Bu Foni dengan keluarganya sangat baik terhadap aku maupun Mamah. Aku sering makan di meja yang sama bersama mereka. Aku senang. Karena disini aku merasa seperti tinggal di rumah Emah dan Abah di kampung. Disini aku memiliki keluarga yang lengkap. Ada Bang Faisal, Kak Fika, dan Bang Fachmi. Aku paling dekat dengan Bang Fachmi, karena usia kita yang memang tidaklah jauh.


Hari Senin sampai Jumat, aku dan Mamah menginap di rumah ini. Sedang hari Sabtu siang aku akan pulang ke rumah Bapak. Dan Minggu sore balik lagi ke rumah Bu Foni. Begitulah kehidupan aku sehari-harinya, aku yang kala itu berumur 2,5 tahun. Sampai detik ini pun rasanya masih jelas bagaimana rasanya? Aku tidak pernah memimpikan punya kehidupan seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi? Semua ini sudah suratan.


Bagi kalian yang membaca ceritaku pasti agak sedikit bingung dengan jalan ceritanya. Jadi mari kita sedikit review. Mamah dan Bapak menikah pada tahun 1995, setahun setelahnya aku pun lahir ke dunia ini. Ketika aku bayi entah berapa bulan kedua orang tuaku bercerai, 2 tahun kemudian (1998) Mamah dan Bapak pun akhirnya memutuskan untuk rujuk.


Jadi bisa dipahami kan jikalau aku memang cukup asing dengan sosok Bapak dari kecil? Dari usia berapa bulan, baru bertemu lagi ketika aku berumur 2 tahun. Setelah itu aku tinggal bersama Bapak. Sudah awal mulanya asing dengan sosok Bapak, ditambah lagi ketika tinggal bersama Bapak yang mengisi hari-hariku adalah pertengkaran. Maka dari itulah aku tidak suka dengan Bapak. Entah kenapa, perasaan itu tiba-tiba saja muncul. Sebuah perasaan yang tidak bisa dijelaskan oleh seorang aku yang hanya anak kecil.


“Sudahlah, lagi pula itu bukan anakku.” Teriak Bapak tempo hari.


Lagi-lagi kepulanganku Minggu ini disambut dengan pertengkaran. Aku tidak mengerti mengapa aku harus memiliki seorang Bapak yang seperti itu. Samar-samar aku mendengar bahwa Bapak tidak mengakui anak yang saat ini tengah berada di dalam kandungan Mamah. Untuk aku yang kala itu hanyalah seorang anak kecil sama sekali bingung dengan pertengkaran yang terjadi.


Tapi saat ini aku mulai paham. Kenapa Bapak harus memiliki pemikiran seperti itu? Sedang aku tahu bahwa Mamah adalah seorang ibu yang sangat baik? Tapi sudahlah, begitulah sifat Bapakku.


Hari itu aku dengar samar, bahwa Mamah dan Bapak akan bercerai lagi. Tapi tidak sekarang, karena Mamah sedang mengandung. Selama sisa masa kandungan Mamah memutuskan untuk tinggal di tempat kerja dan membawaku. Barang-barangku yang ada di kamar beberapa ada yang disumbangkan kepada para tetangga. Termasuk boneka kesayanganku. Aku yang menyaksikan itu semua hanya bisa diam saja. Tanpa ingin menanyakan apapun? Karena aku tahu, baik Mamah ataupun Bapak atau siapapun tidak akan pernah mau menjawab pertanyaanku.


Setiap malam aku selalu mendengar Mamahku menangis. Aku yang melihat itu, hanya bisa memeluk Mamah dan mengusap-ngusap punggung Mamah. Sebenarnya aku ingin sekali berbuat sesuatu? Tapi aku tidak bisa. Dan aku juga tidak tahu harus berbuat apa Aku hanya bisa memeluk Mamah, dan bilang :


“Mamah jangan nangis, ada Kakak. Kalau Mamah nangis, nanti adek yang di dalam perut juga ikut menangis.”


Aku tidak sadar pernah mengatakan itu.