Dawn

Dawn
Bab 1



Dalam bagian prolog, aku menggunakan sudut pandang orang ketiga. Dan untuk kedepannya aku menggunakan sudut pandang orang pertama, sebagai “Aku.” Semoga pembaca masih bisa memahami jalan ceritanya ya. Mohon maaf masih belajar.


Kersamanah, 1998


Aku melihat ibuku menangis, kemudian tanpa kata beliau langsung memelukku. Aku jadi sedikit bingung. Ketika ibu memelukku, ku lihat tatapan nenekku begitu marah. Aku jadi takut.


“Mamah kenapa? Dimarahin Emah ya?” tanyaku polos.


Mamah adalah panggilan untuk ibuku, sedangkan Emah adalah panggilan untuk nenekku.


“Kita ke Bandung yuk, sayang!” ajak Mamah.


“Gak usah bawa anak!” bentak Emah, aku kaget.


Aku tidak pernah melihat Emah semarah itu. Tapi kenapa hari ini Emah terlihat sangat murka sekali? Mamah tidak menghiraukan ucapan Emah. Mamah langsung mengemas baju-bajuku ke dalam tas, lalu menyeretku untuk ikut dengannya. Sedang Emah mengejar dan terus menahan kami berdua untuk tidak pergi.


Aku bingung. Mereka berdua kenapa? Kedua tanganku ditarik-tarik ke dalam dua arah yang berbeda.


“Biarkan saja dia pergi!” Bentak Abah dengan sangat kecewa.


Akhirnya Emah pun melepaskan genggaman tangannya dariku. Dan Mamah membawaku pergi naik angkutan umum. Sepanjang perjalanan Mamah menangis, aku yang tidak tahu apa-apa hanya diam.


“Mah, kita akan kemana? Abah sama Emah bagaimana? Nanti aku dicariin.” Ucapku sambil tersenyum.


“Nanti kamu akan tahu, sayang.”


Aku hanya mengangguk saja. Ini untuk pertama kalinya aku bepergian jauh sampai naik mobil. Sebelumnya paling jalan kaki ke pasar bareng Emah. Hari ini aku senang sekali bisa pergi, tapi entah kenapa Mamah malah menangis. Sebenarnya ini ada apa?


“Hoaammmm…”


“Sebentar lagi kita sampai, sayang.”


Mendengar perkataan Mamah aku diam saja. Aku baru sadar kalau ternyata sepanjang perjalanan aku malah ketiduran. Hehehe…


“Eh, cucu nenek udah sampai.” Ucap seorang perempuan agak tua.


“Salam dulu, sayang…”


Aku pun menuruti permintaan Mamah. Kemudian aku duduk. Tempat ini begitu asing. Aku jadi ingin pulang. Aku ingat Emah dan Abah.


“Mulai sekarang, kita akan tinggal disini.”


Aku langsung diam. Mendengar ucapan Mamah. Apa maksudnya dengan kata ‘tinggal disini?’ kenapa harus disini? Masih belum aku memahami situasi ini, tiba-tiba datang seorang pria mendekatiku, lalu mengelus dan mencium kepalaku.


“Sehat, sayang. Ini Bapak!”


Aku menatap bingung, aku pandangi wajah Mamah bergantian dengan pria ini. Mamah hanya mengangguk. Aku pun tersenyum. Saat itu aku tidak tahu harus bagaimana? Sebab sejak kecil, aku hanya tahu sosok Mamah, Emah, Abah, Guru, dan Amang. Guru adalah sebutan untuk Bi Wati sedang Amang adalah sebutan untuk pamanku. Keduanya merupakan adiknya Mamah yang selalu menemani aku main.


***


Kalau aku bosan di rumah, Mamah akan mengajakku main bersama tetangga di depan mesjid. Karena rumah nenekku yang disini sangat dekat dengan mesjid. Itu pun kalau Mamah tidak bekerja, baru mengajakku main.


Meskipun aku tinggal bersama Mamah dan Bapak, tapi Mamahku masih tetap bekerja. Tapi senangnya, kalau disini aku bisa ikut bekerja bareng Mamah.


Setiap subuh aku langsung bangun, dan mandi bareng Mamah kemudian siap-siap pergi ke tempat kerja Mamah. Aku sangat senang karena itu tandanya aku bisa naik mobil dan jalan-jalan. Oh, iya aku belum sempat cerita. Mamahku bekerja di sebuah pabrik sumpia. Sumpia merupakan makanan kering dari kulit terigu yang diisi ebi. Nah, ditempat Mamahku bekerja aku selalu bantuin bikin sumpia.


Kata teman-teman Mamah, pas aku masih dalam kandungan pun Mamah masih rajin


bekerja. Aku sebenarnya ingin bertanya, kenapa tidak hanya Bapak saja yang bekerja? Kenapa Mamah juga harus ikut bekerja? Tapi aku tidak berani menanyakan itu kepada Mamah. Karena takut Mamah bersedih.


“Satu suap lagi cepet! Aaaaaa…”


Mamah terus memaksaku untuk makan.


Haahhh… aku jadi kangen Emah dan Abah. Kalau aku tidak mau makan, mereka tidak pernah memaksaku seperti ini. Mamah orangnya memang agak cerewet. Tapi biarlah…


Lalu aku mendengar percakapan antara Mamah dan tetanggaku kalau ternyata Bapak ku bekerja sebagai tukang ojek pangkalan. Meskipun aku masih kecil, tapi aku cukup mengerti apa yang mereka bicarakan.


“Eh, itu A Dayat pulang.” Kata tetanggaku.


Aku lihat Bapak melangkah dengan sempoyongan. Bapak mungkin sakit, pikirku. Siang hari seperti ini, sakit?


“Tunggu dulu disini ya, sayang…”


Mamah kemudian melangkah menjauhiku. Mamah masuk ke dalam rumah, aku jadi khawatir. Semalam soalnya aku mendengar Mamah menangis, padahal Bapak tidak pulang.


Aku jadi bingung, Mamah menangis karena apa? Karena perasaanku enggak enak, aku pun langsung menyusul Mamah ke rumah.


“Dean sini…”


Aku tidak menghiraukan ucapannya. Aku terus melangkah mendekati pintu rumah. Pintunya sedikit terbuka jadi aku bisa sedikit melihat apa yang terjadi diantara kedua orang tuaku.


“Braaakkkk…!”


Tiba-tiba Bapak menggebrak meja. Aku jadi kaget. Dan aku lihat Mamah menangis, Bapak hendak mau memukul Mamah. Tapi tidak jadi, karena Bapak keburu melihatku terdiam dari


balik pintu. Aku menatap kosong, tapi mataku tidak pernah melepaskan bayangan Bapak. Bapak adalah sosok yang pemarah. Beliau sering membuat Mamahku menangis setiap malam. Tapi sayangnya, aku tidak begitu paham dengan situasi ini.


“Eh, kamu disini sayang? Mau makan lagi enggak?”


Aku hanya menggeleng. Beruntung Mamah tidak lagi memaksaku untuk makan kali ini.


Mamah mengambil handuk dan alat mandi. Alamat mau memandikanku. Aku hanya diam,


kemudian duduk di teras mesjid sedang Mamah sibuk mengisi bak air untuk aku mandi. Otak aku dipenuhi dengan pertanyaan Bapak dan Mamah sebenarnya kenapa?