
"dia akan terbunuh! aku tidak akan mengampuni Susan" kata Sindy dengan penuh gairah
"em...aku..." Denis ragu
mem...membunuh Susan?
"Denis, apa kau takut?" tanya Sindy
"ehm... aku...ehm...ya" jawab Denis dengan gemetar
"tidak apa-apa, aku juga takut. tidak bisakah kau merasakan tangan ku gemetar" Sindy memegang tangan Denis
"juga detak jantungku..."
lalu Sindy pun mengarahkan tangan Denis untuk memegang dadanya, dan Denis pun terkejut dengan tindakan Sindy tersebut karena tidak menyangka akan terjadi adegan tersebut
"berdetak sangat kencang... Denis"
tiba-tiba Sindy memeluk Denis dengan sangat erat, yang bertujuan untuk membuat menenangkan diri mereka masing-masing namun tetap hal tersebut membuat Denis diam membatu karena tindakan yang dibuat oleh Sindy.
"meski bertingkah seperti pemimpin yang tidak pantas... menyaksikan wanita diperkosa seperti itu... aku marah tapi disaat bersamaan aku ketakutan. meski aku ketakutan, aku tetap mencari kenyamanan dari seorang pria didepan ku. bagaimana pun juga aku ini wanita biasa, Denis tolong bantu aku melakukannya" Sindy yang masih memeluk Denis
"tapi...tapi..." Denis yang gugup
"apa jangan-jangan kau menyukai Susan?" potong Sindy
"tidak bukan begitu! bagaimana bisa? dia itu wanita gila" bantah Denis
"lalu kenapa kau ragu-ragu? bukankah kau marah dia melakukan itu pada teman-temanmu" jelas Sindy
"tentu...aku marah"
"atau jangan-jangan... kau membenciku?" tanya Sindy
"itu..." Denis pun kembali bingung
"itu tidak mungkin, aku... selalu memiliki... ketua" kata Denis
"benarkah? terima kasih Denis, apakah itu berarti kau akan... tetap didekatku?" tanya Sindy yang masih memeluk Denis
"iya" jelas Denis
...
dirumah Denis pun hanya berdiam diri mengurung dirinya di kamar dengan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut, karena saat ini batin Denis sedang bimbang apa yang sebenarnya terjadi karena dia tidak mungkin tidak berpihak pada ketua karena selama ini ketua adalah orang yang sangat baik untuk Denis bahkan ketua selalu membantu Denis saat diganggu oleh teman-temannya yang lain. dan Denis pun memikirkan rencana yang telah di buat oleh Sindy kepada Denis apakah rencana tersebut akan berjalan lancar, rencana mereka itu adalah memancing Susan untuk datang dan Denis bersembunyi di balik pintu. tapi karena orang yang bertanggung jawab untuk mengedit video tersebut adalah Bimo maka terpaksa rencananya jadi membiarkan Sindy untuk loncat dari atas gedung sekolah untuk melakukan bunuh diri. lalu saat Susan telah naik keatas gedung maka Denis harus menghantamkan pemukul baseball ke kepala Susan sampai tewas ditempat dan ketakutan Denis bukan hanya tentang rencana tersebut melainkan Denis juga memikirkan bahwa dirinya akan menjadi seorang pembunuh, karena dalam kebimbangan tersebut Denis sebenarnya berpikir bahwa salah satu dari dua orang tersebut itu sudah membohongi dirinya.
disaat sedang merenung itu ponsel Denis berdering, diapun mengangkat telepon tersebut
"ha...halo?"
"hei Denis"
"suara ini...ini... Su... Susan? Denis terkejut
"hei...hei... dimana kau sekarang? tidak tidak sebelum itu kenapa kau melakukan ini?" tanya Denis
"memangnya aku melakukan apa? ah...maaf aku sendiri sedang berada ditengah-tengah D-Tube jadi aku tidak bisa ngobrol, aku ceritakan pendeknya nanti." kata Susan
"D-Tube apa itu?" Denis yang bingung
"eh? belom ada yang memberitahu mu? lain kali aku akan ceritakan kalau bertemu, tapi Denis aku akan memberitahu satu hal dengarkan baik-baik... orang yang harus kau percaya hanya aku. karena aku satu-satunya orang yang mengenal siapa kau."
"apa..."
telepon Susan dimatikan oleh Susan sendiri, lalu kembali lah Denis memikirkan lagi siapa yang membohongi dirinya, Susan atau ketua alias Sindy siapa yang harus dipercaya oleh Denis.
...
akhirnya ini adalah satu hari sebelum festival sekolah dimulai, dan waktu sekolah sudah pulang. sementara Denis dan Sindy sudah bersembunyi didalam ruangan kelas agar tidak dicurigai oleh murid yang belum pulang karena masih harus mengurus keperluan festival sekolah besok.
"Denis, kau sudah siap?" kata Sindy
"eh? iya...". Denis
lalu Denis dan Sindy pun mulai naik tangga keatas gedung sekolah, dan Sindy pun memanjat pagar pembatas atas gedung sekolah. jadi atas gedung sekolah ini di jaga oleh pagar untuk menghindari terjatuhnya murid saat jam istirahat atau menghindari murid yang nakal.
"ketua apa kau baik-baik saja?" tanya Denis
"iya...aku baik-baik saja" kata Sindy
"kau tidak perlu berbuat sejauh ini" Denis yang khawatir
"kalau aku tidak berbuat sejauh ini, maka dia tidak akan mengambil umpannya" Sindy yang fokus berhati-hati melangkah
"eh...ada benernya juga sih"
"ada sedikit banyak ruang untuk pijakan antara pembatas dengan pagar dari yang aku duga, rasanya akan berakhir buruk kalau salah langkah sedikit saja" Sindy yang melihat kebawah
"maaf kan aku Denis, membuat mu melakukan hal berat ini"
"itu..."
"aku sudah menetapkan keputusanku, terlebih lagi aku ingin kau berjanji kalau kita berhasil membebaskan teman-teman dari insiden, ayo kita buat lebih banyak film" kata Denis
"tentu saja, kita akan membuat lebih banyak film bersama dengan teman-teman" Sindy yang tersenyum ceria kepada Denis
"aku minta maaf mengatakan itu diwaktu seperti ini, hanya saja aku merasa lebih baik melakukan apa yang sudah hatiku siapkan" Denis sedih
"haha...itu mungkin benar" kata Sindy
"Denis mendekatlah..."
Denis pun mendekati Sindy
"sedikit... sedikit lagi"
tiba-tiba Sindy pun mencium bibir Denis, Denis pun kaget mendapatkan ciuman dari Sindy. karena ia tidak menduga hal tersebut jadi dia hanya terdiam tidak berkata apa-apa
"ketua?"
itu perasaan hati Denis yang merasa bahwa ia memang harus percaya kepada Sindy karena ternyata Sindy melakukan hal yang selama ini Denis harapkan.
"eh! ehm...aku..." pipi Denis merah
"Jangan... jangan katakan, aku tau apa yang mau kau katakan!" Sindy yang menahan Denis untuk jangan bicara lagi
"aku juga punya sesuatu yang mau dikatakan juga, tapi aku tidak mau mengatakannya" Sindy yang berusaha tetap tenang walaupun pipinya juga merah
"seperti kau, aku sudah menyiapkan sesuatu apa yang sudah hatiku siapkan, itulah kenapa kita harus memastikan ini berakhir, benarkan? setelah ini berakhir kita akan habiskan waktu untuk ngobrol, Denis."
"o... oke"
akhirnya mereka pun bersiap-siap, Denis sudah ada diposisi yaitu dibalik pintu masuk atap gedung sekolah, dan Sindy sudah berada di balik pagar bersiap untuk melompat. dan Susan pun mulai menaiki anak tangga menuju atap sekolah saat sampai membuka pintu. dan dia berkata
"maaf menunggu, nona ketua" kata Susan dengan senyuman
"ahh... aku sudah menantikan mu, Susan. jadi kemarilah Susan aku akan bunuh diri seperti yang kau mau." kata Sindy
"ah... kedengarannya lucu." langkah Susan terhenti sebelum melewati pintu
"tapi sebelum itu. apa yang Denis lakukan disitu?" kata Susan dengan senyum lebar
Beduumm...
ternyata Susan menyadari kehadiran Denis, sontak itu membuat mereka berdua kaget. karena ini tidak seusai dengan rencana awal mereka, dan ekspresi Sindy pun berubah ketakutan karena rencana mereka gagal semua. sepertinya terpaksa Sindy harus melompat untuk melanjutkan proses karena semua sudah terlanjur berjalan.
"aku ingin Denis yang memvideokan. nah nona ketua aku akan memvideokan dari sini"
Susan yang diam tidak keluar dari area balik pintu sambil mengarahkan kamera kearah Sindy, nampaknya posisi Sindy sudah terpojok
"ayolah, kenapa kau diam? aku akan merekam semua dengan hati-hati, jadi perlu cemas. jadi mati saja sana" kata Susan
"ah..." Sindy yang cemas
"Denis, jangan buat gerakan tiba-tiba kau tidak bisa menang dengan serangan mengejutkan di tempat terbuka" kata Susan sambil tersenyum dibalik pintu
tiba-tiba dari belakang Susan muncullah Hanna
Hanna pun berlari sangat kencang, dan menjatuhkan Susan dengan menabraknya hingga Susan jatuh tersungkur.
"HANNA" mereka berdua terkejut
"aku satu-satunya yang berhasil melepaskan diri dengan teman-teman saat dia berbalik" kata Hanna
"ayo Denis... dia... bunuh Susan sekarang juga" kata Hanna
"eh...ah..." Denis gugup
lalu Susan pun berusaha bangun
"aww...ini sakit, ayolah kau ngapain sih lacur kacamata?" Susan yang mulai berdiri
"lacur?" tanya Hanna
"AKU SUDAH BENCI KAU SEJAK AWAL, DENIS TERLALU BAIK UNTUK WANITA SINTING SEPERTI KAU!!!" teriak Hanna
"ap...apa?"
Susan pun bangkit lalu melempar Hanna dengan sangat kenceng kearah pagar pembatas
"Denis dan aku adalah pasangan serasi yang sempurna!" sambil melempar Hanna
akibat dari lemparan tubuh Hanna yang mengarah ke pagar kawat pembatas, membuat pegangan Susan terlepas
"AH..." teriak Denis
"Ohh..." sementara Susan merekam
dan Sindy pun terjatuh, dan Susan merekam bagaimana terkejutnya wajah Sindy dikamera
"tun...ap... de... Den...nis"
Sindy pun terjun bebas dari lantai paling atas gedung sekolah.
"KETUA!!!!"
Denis pun mendekat kearah pagar dan melihat jasad Sindy sudah tergeletak dihalaman sekolah
"ha...ha..." Denis mengambil nafas
disini Denis pun terpukul dengan jatuhnya Sindy, semua rencananya gagal dan ketua jatuh juga. dan Susan mendapatkan apa yang dia butuhkan.
"keren, aku mendapatkan adegan dia jatuh dengan sempurna, ini berarti kita sudah menang lagi Denis" kata Susan dengan tertawa lebar
"MENJIJIKAN... DIA MATI! KAU... APA YANG KAU LAKUKAN?! TIDAK BISA DIMAAFKAN, INI TIDAK BISA DIAMPUNI" kata Hanna yang masih tersungkur
"DENIS, MUSUH HABISI MUSUH KETUA" kata Hanna
"sepertinya kau tidak tau apa-apa soal Denis, dia tidak bisa melakukan hal seperti itu yang dia bisa lakukan hanya memvideokan, selain itu dia tidak bisa berbuat apa-apa. benar?"
"Yah! seperti apa yang dia katakan, aku tidak bisa apa-apa selain buat video. jangan berharap apa-apa dari seorang seperti itu..." kata Denis
"Denis" Hanna
"AKU MEMBUAT FILM KARENA MENYUKAINYA, TIDAK ADA KEPERCAYAAN DIRI DIDALAMNYA.... MESKI...MESKI..."
tangan Denis gemetar memegang pemukul baseball, lalu Denis pun mengayunkan pemukul tersebut
BLETAAAANGGG...!!!
ternyata Denis mengayunkan pemukul tersebut ke kepala Susan.
"eh?"
Susan yang terkejut dengan tindakan Denis tanpa sadar darah sudah mengalir keluar dari ke kepala.
"MESKI BENAR... KETUA TETAP SAJA MEMUJI KU KALAU AKU ADALAH ORANG YANG MENGAGUMKAN"
Denis mengangkat pemukulnya lebih tinggi lagi.
"tungg...tungg...DENIS" pinta Susan
"DIAM!!!"
Denis pun menghantamkan pemukul tersebut lagi sampai tubuh Susan jatuh tersungkur ke tanah
"tapi...tapi...aku sekutumu"
Susan yang berusaha bangkit dengan kepala yang sudah banyak mengeluarkan darah
"DIAM!! AKU TIDAK INGIN MENDENGARKAN!!! SEMUANYA SALAHMU!!! KARENA AKU BERTEMU KAU KEHIDUPAN NORMAL KU HANCUR!!"
Denis kembali memukul kepala Susan dengan sangat keras
"LENYAPLAH!!!" teriak Denis
"Huh...ahh!!... hentikan..."
whuup...!!!
"LENYAPLAH!!!"
whuupp...!!!
"AHH!....DENIS!"
whupp... whupp
"KAU AKAN LENYAP DARI PANDANGANKU!!"
Denis berhenti memukul kepala Susan kini hanya duduk dihadapan tubuh Susan, yang sudah tidak bergerak, sementara darah Susan mengenai hampir seluruh tubuh Denis. apakah Susan sudah benar-benar tewas?
"aku... sudah berhasil..."
"CUT!"
tiba-tiba muncul suara laki-laki yang tidak asing ditelinga Denis, saat Denis sadar ternyata dibalik tempat dia bersembunyi ada Dimas dan Tio. yang merekam semua adegan tersebut,
"Ka Tio bagaimana acting ku?" tanya Hanna dengan gembira
"sempurna" kata Tio
"aktris hebat kita" kata Dimas
"Denis acting mu juga mantap" kata Hanna dengan bahagia
"apa yang kau bicarakan? motivasinya sungguhan, itu bukan acting" kata Tio yang sedikit mengomentari ucapan Hanna
"ah, benar juga!" Hanna yang tertawa lebar
"apa judul kita kali ini?" tanya Tio
"ah, oh iya" kata Hanna
"benar... bagaimana dengan penyesalan murid sma membunuh kekasihnya" kata Tio
"eh? mereka berdua pacaran?" tanya Dimas
"Terserahlah, dengan ini pasti kita ranting nomor satu, yay! hadiah uang kami datang!" kata Hanna dengan bahagia
ternyata semua ini adalah skenario ynag dibuat oleh anggota yang lain tanpa sepengetahuan Denis, dan Denis sudah dipermainkan oleh anggota yang lain.
"a...apa...apa yang kalian bicarakan?" Denis yang bingung
pada saat itu akhirnya Denis baru sadar dengan semua yang terjadi selama ini.
"tentu saja kami membicarakan D-Tube, seperti Susan kami ini peserta juga tau" jelas Hanna
saat mengetahui itu ternyata kehidupan normal Denis sudah lama hancur bahkan sebelum bertemu dengan Sindy. lalu bagaimana kelanjutan ceritanya apa yang akan dilakukan oleh Denis?
Bersambung...