
Theo tersenyum, dan memegang tangan Clarissa, namun Clarissa dengan cepat menarik tangannya dari genggaman Theo,
"maaf pak jika tidak ada yg mau di diskusikan lagi, saya akan keluar" ucap Clarissa sambil mencoba melangkah pergi
Theo menarik tangan Clarissa dengan cepat dan Clarissa terhuyang dalam pelukan Theo, Theoeluk Clarissa dengan erat, DEG DEG DEG begitulah kira kira gejolak jantung Thelo yang Clarissqpun dapat mendengarnya, Clarissaencoba melepaskan diri tangannya mendorong tepat di dada theo, nun theo masih bersikeras untuk tidak melepaskannya
"lepaskan sy pak" ucap Clarissa
"tidak" jawab theo
"pak tolong, apa begini perlakuan CEO pd bawahannya" ucap Clarissa lagi sembari tetap mendorong theo
"seperti ini saja sebentar, saya mohon" jawab theo
lalu clarisa diam membatu mendengar pernyataan si boss yg angkuh dan dingin itu, tiba tiba memohon hanya untuk memeluknya, tangannya yang tadinya meronta ronta kinipun terkulai lemah tanpa perlawanan, setelah beberapa detik berlalu Theo pun melepaskan pelukannya,
"kamu boleh pergi" ucap theo
lalu clarissapun dengan sigap meninggalkan rauangan sang CEO, dan kembali ke ruangannya sendiri
sepanjang hari ia berfikir keras,
"seorang CEO besar yang ia tau adalah orang yang angkuh, dingin dam tidak punga hati bisa bisanya tidak mau melepaskan org yang bahkan tidak sengaja melakukan one ninght stand dengannya, bahkan dengan tampang dan kekayaan yg dia punya dia bisa memacari artis sejalipun, kenapa harus aku, kenapa dia tdk mau melepaskan gadia biasa, dari lingkungan biasa dengan kehidupan biasa dan jabatan yang bukan siapa siapa!!!" seru Clarissa dalam hati
Clarissa hanyit dalam lamunan hingga ia tidak sadar Rey berada disampingnya..
"Cla..Cla.." panggil rey beberapa kali
"eh iya,, maaf rey" jawab clarissa
"mikirin apa sih sampek bengong gitu, ?" tanya rey
"ah nggak apa" kok, hehe" jawab clarissa
"aku lembur rey, banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan, semoga aja bisa selesai cepet jadi sebelum jam 21.00 sudah bisa pulang" ucap Clarissa sembari menghela nafas panjang
"wah semangat cla, semoga cepet kelar ya" ucap rey
"Kamu lembur juga cla, aku juga kayaknya lembur, sekalian mau nemenin Reno juga" sambung tasya yang tiba tiba saja datang ditengah tengah mereka
"oh iya, haha" jawab clarisaa singkat
dia berfikir lagi, kenapa dia harus lembur dengan orang yang disukainya dan bahkan dengan pacar dari org yg disukainya itu, waktupun berlalu dengan cepat tiba saat jam 21.42 wib clarissa sedang bersiap siap untuk keluar dari ruangan, saat diluar kantor hujan deraspun datang dengan tiba tiba
"aaaaaakh kebiasaan saat genting gini aku palah lupa membawa payung, menyebalkan" seru clarissa sambil menendang batu di depannya sementara itu tasya dan reno pun juga terlihat di pintu lobi kantor,
"Eeeh Clarissa kamu belum pulang" tanya tasya
mata Clarissa hanya membatu tertuju pada tanyan tasya dan reno yang sedang bergandengan, rasanya ia tak kuat melihat dua orang itu bermesraan
"apa kamu bareng saya sm tasya aja, rumah kamu sm tasya kan searah dari pada naik bis lagian kan bis terakhir tinggal beberapa menit lagi" ucap reno
"ah gapapa kok pak, saya gapapa pulang sendiri" jawab tasya mencoba untuk tersenyum
"kamu yakin" tanya tasya
"iya gak papa sya, kamu pulang aja nanti keburu malem" ucap clarissa
lalu kemudian tasya dan reno meninggalkan Clarissa, clarissa pun seketika menjadi lemas, lalu ia duduk dan menangis dengan terseduh seduh, sementara di sebrang jalan, Theo yang sedang berada di dalam mobil melihat semua kejadian beberapa menit lalu dan terlintas dipikirannya ucapan Clarissa saat mabuk yg menyebutkan ia terluka melihat orang yang dicintainya justru memilih teman nya,
"jadi dia orangnya" ucap Theo dalam hati
sementara Clarissa yg terlalu hanyut dalam kesedihannya, melangkah berjalan menyusuri hujan, ditengah hujan tangisnya semakin menjadi jadi ia kerkulai lemas lagi dan jongkok ditengah jalan, lalu setelah dia menangis tersedu sedu hujanpun mulai tak terasa menetesi tubuhnya,
"apa hujannya sudah berhenti" seru Clarissa dalam hati, tp saat melihat pandangannya kedeoan hujan masih saja turun dengan derasnya, lalu dia melihat keatas, rupanya ada payung hitam yang mengalangi hujan menetesi wajahnya