Clarissa Be Mine

Clarissa Be Mine
Clarissa Be Mine eps 05



Clarissa dengan cepet menuruni ranjang, memungut pakaiannya yang berserakan dilantai lqlu mengenakannya kembali, sambil menangis lirih tersirat dibenaknya beberapa kepingan kejadian malam tadi, lalu Theo pun juga mulai membuka mata, Ia melihat Clarissa sudah siap untuk pergi,


"Tunggu" ucap Theo menghentikan pangkah Clarissa


namun wanita itu hanya diam membatu tanpa membalikkan badannya


"Pak tolong, anggap ini hanya kesalaha , saya berharap setelah ini sy dan bpk tidak akan pernah bertatapan lagi, sekalipun anda melihat saya tolong abaikan saya" ucap Clarissa dengan berlinang air mata


"Oke saya minta maaf, bukan maksud saya seperti ini sama kamu, tapi saya akui saya memang kehilangan akal saya tdk bisa mengintrol diri saya sendiri, tolong maafkan saya, saya akan bertanggung jawab" ucap Theo dengan penuh kehati hatian


"saya bilang, ini hanya salah paham, bapak tdk salah, yg salah sy, saya mabuk, dan sy tidak tau ternyata akan ada orang yang mengambil keuntungan saar saya sedang tidak sadarkan diri, Permisi" Clarissa melangkah menuju pintu keluar, setelah diluar apartemen ia berlari dan menaiki taxi menuju rumahnya, sepanjang perjalanan ia mengangis


"Kenapa aku bodoh sekali, kenapa qku mabuk dan malah menyerahkan diri sama orang gila itu, kenapa.. " ucap Clarissa dalam hati dengan penuh penyesalan


lalu ia bergegas mengambil telpone di dalam saku ronya, dan menelpon managernya..


"Halo pak Dimas, hari ini mungkin saya ijin karna tidak enak badan, apa boleh saya meminta cuti beberapa hari kedepan" ucap clarissa


"tidak apa apa, tapi setelah kondisimu membaik cepat masuk lagi ke kantor, semoga lekas sembuh"


"Baik pak.."


Sementara disisi lain, Theo yang masih berbaring ditempat tidur diselimuti rasa bersalah, ia berfikir bagaimana caranya mendapatkan maaf dari Clarissa, sontak telphone nya pun berdering, teryata asistennya memberi tahukan akan adanya rapat beberapa jam lagi, lalu Theo bangun dari ranjang menuju kamar mandi, saat membuka selimut ia mendapati sececak darah segar di ranjangnya yg berwarna putih,


"darah apa ini.., apa jangan jangan..ini darah Clarissa" seru Theo dengan sedikit panik,


setelah itu Theo bergegas menuju kantor, sesampainya dikantor setelah menjalankan beberapa raat, tiba waktunya makan siang, Theo bergegas menuju divis style, namun harapannya sia sia karna Clarissa tidak ada,


" Maaf karyawan bungsu kami yang menyerahkan laporan tersebut hari ini ijin sakit dan tdk masuk kerja pak" jawab kepala tim Reno


Theo langsung meninggalkan tempat, Theo semakin merasa bersalah


"ada apa ya.. kok pak CEO kesini sendiri menanyakan laporan" ucap rey


"ah. sudahlah lagian kan cuma tanya Clarissa aja kok gak mempermasalahkan laporan" sambung tasya


sementara Clarissa masih tenggelam dalam rasa penyesalan, dirumahnya ia hanya diam dan termenung tanpa keluar kamar, tanpa makan ia hanya menangis tanpa henti, setelah itu hanpone nya berdering,


"halo..."


"Clarissa ini saya..


mata Clarissa terbelalak mendapati suara orang yg menelponnya, tanpa pikir panjang Clarissa langsung mengakhiri panggilan itu,


"Oke Cla, tenang..anggap semua yang udah terjadi adalah kesalah pahaman, km dan pak CEO tdk boleh ketemu lagi apapun yg terjadi kecuali hanya ursan pekerjaan" ucap Clarissa sembari meyakinkan dirinya untuk bangkit


sementara Theo yang saat ini di selimuti rasa bersalah juga emosi yang tak ujung henti, entah ia marah pada keadaan atau pada dirinya sendiri,


"Dia bahkan berani mematikan telponku!!!"


"Aaaaarrrgggghh..." ia melemparkan telephone genggam miliknya, Kemarahan theo sudah pada puncaknya, sambil melonggarkan dasi ia mengambil botol wine di meja kerjanya,