
Setelah 12 tahun menghilang, Skaayla kembali pulang ke rumahnya dan melihat Lucy, ibu angkatnya yang penuh kasih, duduk di sofa. Pada saat pertama kali melihat Skaayla, Lucy mengira Skaayla adalah seorang yang ingin mencuri rumah mereka.
Tapi Skaayla berhasil meyakinkan mereka kalau dia adalah Skaayla yang hilang tahun lalu.
Lucy terlihat sangat kaget dan bahagia saat melihat Skaayla kembali. Dengan penuh kegembiraan, ia memeluk Skaayla dengan erat, tak percaya bahwa anaknya benar-benar telah kembali. Sementara itu, Skaayla melihat betapa besar rindu Lucy padanya dan merasa senang bisa bersama lagi.
Eve yang berada disebelah Lucy tidak merasa begitu senang, karena ia mengetahui bahwa Skaayla lah yang selalu memburu manusia di malam hari. Dengan hati-hati, Eve terus memperhatikan setiap gerakan Skaayla, membuat Skaayla merasa tidak nyaman dengan kehadirannya.
"Jangan khawatir, Eve. Skaayla adalah bagian dari keluarga kita," kata Lucy dengan harapan dapat meredakan ketegangan yang terjadi."
"Eve tahu Skaayla adalah bagian dari keluarga kita, tapi bagaimana caranya agar kita dapat memastikan kalau ia tidak akan menjadikan kita sebagai korban berikutnya?" tegas Eve.
Skaayla menjawab dengan suara rendah, sambil menatap tajam Eve yang berdiri di hadapannya, "Tentu saja aku tidak akan melukai ibuku sendiri. Tapi aku tidak akan segan untuk melukaimu manusia."
"Skaay, jangan ikut-ikutan. Berdamai saja, ya?" Ucap Lucy dengan nada lembut.
"Iya ma, Skaayla janji ga akan ngelukai manusia lagi. Tapi, jangan mengira kalau ini karena Skaayla takut atau tidak sanggup mengalahkan ksatria yang sudah merasa hebat ini ma. Tapi Skaayla hanya memberi kesempatan pada makhluk lemah sepertinya untuk bertahan hidup dan demi mama juga." Balas Skaayla sambil mengeluarkan auranya untuk menekan Eve.
"Padahal dulu kamu sangat imut pas masih kecil. Tapi kenapa sekarang kamu jadi seram begini?" ucap Lucy sambil mengelus kepala Skaayla.
Tiba-tiba, terdengar suara dentingan pedang dari luar rumah. Tanpa ragu, semua orang di dalam rumah segera berdiri dan mengambil posisi siap tempur. Skaayla, yang terbiasa mendengar suara seperti itu, dengan sigap bergerak menuju pintu dan membukanya.
Meskipun mereka sudah siap untuk bertarung, ketika pintu rumah dibuka, ternyata yang datang adalah seorang ksatria yang bertugas sebagai pengawal kerajaan.
"Eve, apa kabarmu? Aku datang membawa kabar penting dari kerajaan untukmu," kata ksatria itu sambil menarik napas.
Eve menyarungkan pedangnya kembali dan menghampiri ksatria yang datang. Sementara itu, Skaayla merasa penasaran dengan kabar penting yang dibawa oleh ksatria itu. Dia menanti dengan tak sabar untuk mengetahui apa yang sedang terjadi. Mereka berdua menatap ksatria itu dengan wajah penuh harap, siap untuk menerima kabar apa pun yang akan dibagikan oleh ksatria tersebut.
"Ada sebuah wilayah di kerajaan kita yang sedang diserang oleh pasukan iblis. Duke Orseas, yang memerintah wilayah tersebut, meminta bantuan dari ibukota kerajaan untuk mengusir pasukan iblis," ucap ksatria itu dengan serius.
"Aku akan pergi dan membantu wilayah Duke Orseas," ucap Eve dengan tegas.
"Bolehkah aku ikut? Ini adalah kesempatan yang bagus untuk membuktikan janjiku bukan?" tanya Skaayla
Eve menatap Skaayla tajam, namun Lucy segera merespons, "Tentu saja, Sky. Kamu adalah keluarganya dan Eve membutuhkanmu untuk membantu melindungi kerajaan ini."
Eve akhirnya setuju untuk membawa Skaayla bersama mereka ke wilayah Duke yang meminta bantuan. Selama perjalanan menuju wilayah tersebut, Skaayla ingin membuktikan janjinya pada Eve dan menghilangkan keraguan yang masih ada di hati Eve.