Celestia

Celestia
Chapter 02



Setelah timeskip 5 tahun, skaayla tumbuh menjadi seorang vampire kecil yang imut dengan rambut putih dan mata merahnya yang menawan. Lucy menjaga skaayla dengan penuh kasih sayang seperti seorang ibu yang merawat anaknya sendiri.


Didalam sebuah rumah diantara pepohonan.


Skaayla : "Haaaa sungguh bosan hidup ini.."


Lucy : "Apa yang kamu maksud membosankan?" Ucap Lucy yang tiba-tiba muncul didalam kamar.


Skaayla : "Ah, mama. Hehe, maksudnya membosankan karena hari ini hari dimana orang-orang sangat sibuk. Teman teman skaayla mulai pergi ke sekolah jadi skaayla tidak ada teman bermain hehe."


Skaayla: "Jadi, Ma. Skaayla ingin sekolah juga!!!! Skaayla ingin belajar banyak hal dan bertemu dengan teman-teman baru."


Lucy: "Ah aku mengerti. Tentu saja, sayangku. Aku akan menyekolahkan mu tahun depan."


Skaayla: "Yeaaayyyy."


"Tapi Skaayla, kamu harus belajar dengan serius dan mengendalikan kekuatanmu dengan baik sebelum kamu memulai sekolah loh," kata Lucy serius.


Skaayla mengangguk-angguk, "Skaayla pasti akan berusaha, Ma! Skaayla tidak sabar untuk belajar dan bertemu dengan teman-teman baru!"


Lucy tersenyum dan merangkul Skaayla erat-erat. "Aku tahu kamu pasti akan menjadi anak yang cerdas dan baik, sayangku. Dan aku akan selalu mendukungmu."


Skaayla merasa hangat di hatinya. Ia merasa sangat beruntung memiliki ibu seperti Lucy yang selalu ada untuknya. Ia berjanji akan melakukan yang terbaik dan membuat ibunya bangga.


"Skaayla akan melakukan yang terbaik, Ma! Skaayla akan belajar dengan serius dan mengendalikan kekuatan Skaayla dengan baik!" kata Skaayla semangat.


Lucy tersenyum bahagia. "Aku tahu kamu pasti bisa, sayangku. Dan kamu tidak sendirian, aku akan selalu mendukungmu"


Beberapa hari kemudian, pada hari Sezell (Senin), Lucy dan Skaayla bersiap-siap untuk pergi ke ibu kota Aurasel. Setiap hari Sezell, mereka pergi ke sana untuk mengucapkan terima kasih kepada Dewi Sezia Aurasel yang menjaga wilayah utara dari bahaya.


Karena ini adalah usianya yang ke-5 (didunia baru) Skaayla sudah diwajibkan untuk ikut.


Lucy mengambil tangan Skaayla. "Ayo, sayangku. Kita harus pergi sekarang agar kita tidak terlambat."


Skaayla merasa senang dan bersemangat untuk pergi ke ibu kota. Ia bertanya-tanya apakah ia akan bertemu dengan teman-teman baru di sana.


Skaayla merasa kebingungan karena menyadari jika jarak ibukota dan rumahnya itu jauh.


"Ma, bukannya jarak rumah kita dan ibukota itu jauh dan membutuhkan 2 hari perjalanan? Bagaimana bisa kita sampai dalam satu hari?" Tanya Skaayla yang bingung.


Lucy menjawab sambil mengelus kepala Skaayla "Tentu saja dengan Erys sayang. Ini perjalanan mu yang pertama ke ibukota, jadi pasti belum pernah melihat Erys."


Skaayla tampak bingung "Erys??"


Lucy tersenyum dan menjelaskan, "Erys adalah makhluk magis yang dapat membawa kita terbang dengan kecepatan tinggi. Kita akan naik Erys untuk pergi ke ibu kota."


Skaayla terkejut dan senang mendengarnya. "Wooaahh, Skaayla tidak sabar untuk merasakan terbang dengan Erys!" ucap Skaayla dengan antusias.


Lucy mengangkat bahu dan tersenyum, "Tentu saja, sayangku. Erys juga akan membawa kita kembali ke rumah dengan cepat dan aman setelah kita selesai di ibu kota."


Skaayla tersenyum dan merasa semakin bersemangat untuk pergi ke ibu kota. Ia merasa senang karena bisa naik Erys dan juga berharap bisa bertemu dengan teman-teman baru di sekolah nanti.


Lucy menutup matanya dan mengalirkan energi sihir disekitar tangan sambil mengucapkan beberapa kata untuk memanggil Erys.


Dalam kedipan mata, Erys tiba-tiba muncul dihadapan mereka.


Skaayla terkejut dan kagum sekaligus.


Lucy membantu Skaayla naik ke punggung Erys, dan mereka berangkat menuju ibu kota Aurasel dengan kecepatan yang sangat tinggi. Skaayla merasa terbang bebas dan merasa senang melihat pemandangan yang indah dari udara.


"Wow, kota ini benar-benar besar dan sibuk!" ucap Skaayla dengan kagum.


Lucy tersenyum dan mengelus kepala Skaayla, "Iya, sayang. Ini adalah kota terbesar di wilayah utara."


Kemudian, Lucy dan Skaayla menuju kuil Dewi Sezia Aurasel untuk mengucapkan terima kasih karena melindungi wilayah utara dari bahaya. Mereka berjalan melewati pasar yang ramai dan tiba di kuil setelah beberapa saat.


Saat mereka tiba, Skaayla terpesona dengan keindahan kuil itu. Kuil itu terbuat dari batu putih yang indah dan dihiasi dengan patung-patung yang memukau.


"Mama, kuil ini benar-benar indah!" ucap Skaayla kagum.


Lucy tersenyum dan menggandeng tangan Skaayla, "Ya, sayang. Ini adalah kuil yang sangat penting bagi orang-orang di wilayah utara."


Sesampainya di kuil Dewi Sezia Aurasel, Lucy membimbing Skaayla untuk berlutut dan berdoa. Skaayla memejamkan matanya dan berdoa dengan sungguh-sungguh, memohon agar Dewi Sezia selalu melindungi mereka dan memberikan keberuntungan dalam hidup mereka.


Skaayla mengucapkan permohonannya kepada Dewi Sezia Aurasel dengan penuh kesungguhan. Namun, saat dia mengucapkan doanya, alam bawah sadarnya tiba-tiba dipanggil oleh sebuah kekuatan yang kuat dan tak terkendali. Skaayla merasa ada sesuatu yang mengusik pikirannya, membuatnya merasa tidak nyaman.


"Skaayla...," suara yang halus dan tidak asing tiba-tiba terdengar di kepalanya. "Apa kabarmu skaayla?."


Skaayla terkejut. Dia merasa seolah-olah ada seseorang yang memasuki pikirannya. Dan dia merasa jengkel karena suara itu mengingat kan pada sosok yang mengesalkan baginya.


"Ah, dewa yang mereinkarnasikan ku sebagai bayi?" tanya Skaayla dengan suara dingin.


"Jangan begitu dong, harusnya kamu bersyukur karena aku telah memberikanmu hidup baru." jawab dewa itu.


"Ah iya, apa yang kau lakukan disini? Kukira kau akan menyembahku ternyata kau lebih memilih si dingin itu." Ucap Dewa itu dengan nada kecewa.


"Mungkin karena dirinya lebih cocok dibandingkan denganmu." Jawab Skaayla.


"Hahaha, jadi apa yang kau lakukan?" Tanya dewa itu.


"Sedikit mengucapkan terima kasih karena telah memberikan ibu seperti Lucy." Jawab Skaayla lagi.


"Betapa jahatnya, padahal aku yang mempertemukan Lucy dengan mu."


"Hehe, maaf hanya bercanda. Terima kasih, walau aku masih membenci dirimu karena mereinkarnasikan ku sebagai bayi."


"Bukannya itu sangat beruntung? Karena jika kamu tidak menjadi bayi, kamu tidak akan bertemu dengan Lucy."


"Hmm, ya terserah. Aku masih membencimu."


"Jadi ada urusan apa menemuiku didalam alam bawah sadarku??"


"Hanya ingin memberikan mu perlindungan saja. Karena dewi kematian mulai tertarik kepadamu." Ucap dewa itu.


"Apa itu buruk?" Tanya skaayla


"Itu tergantung bagaimana kamu memandangnya," jawab dewa itu dengan bijak. "Tapi yang pasti, kamu harus selalu berhati-hati dan berusaha menjaga dirimu sendiri. Dewi kematian bisa menjadi kekuatan yang sangat kuat dan berbahaya jika tidak diatur dengan baik."


Skaayla mengangguk, mengerti bahwa dia harus berhati-hati dengan kekuatan yang bisa membahayakan dirinya. Dia mengucapkan terima kasih kepada dewa itu karena telah memberikan peringatan tersebut.


"Terima kasih atas perlindungannya. Aku akan berusaha menjaga diri dengan baik," ucap Skaayla dengan hormat.


Dewa itu hanya tersenyum dan mengangguk puas. "Baiklah, aku akan kembali ke alamku. Jaga dirimu dengan baik, Skaayla."


Dengan itu, suara dewa itu lenyap dari pikiran Skaayla dan dia kembali fokus pada doanya kepada Dewi Sezia Aurasel. Setelah selesai berdoa, Lucy dan Skaayla keluar dari kuil dengan perasaan tenang dan penuh harapan.