Celestia

Celestia
Chapter 05



Sudah setahun lamanya Skaayla dan Eriase terjebak di dalam dungeon ini dan kini mereka sudah sampai di lantai 1000. Namun, mereka masih belum menemukan jalan keluar dari sana. Setiap lantai yang mereka lalui terus menunjukkan kekuatan dan keberanian yang harus mereka miliki untuk terus bertahan hidup. Skaayla mempertahankan keberadaan mereka dengan mengandalkan kemampuan vampirenya, sedangkan Eriase mempergunakan kekuatannya sebagai makhluk dewata yang menemani dirinya. Namun, meski begitu mereka masih terus mencari cara untuk keluar dari dungeon ini. Seakan-akan dungeon ini tidak memiliki ujung yang jelas, dan setiap lantai yang mereka lewati seperti sedang memperlihatkan betapa kecilnya mereka di hadapan kekuatan alam yang lebih besar.


Setelah berhasil mengalahkan raja kuno, Areksis di lantai 1100. Skaayla merasa kekuatannya semakin bertambah. Dalam pertarungan itu, dia mampu mengendalikan insting vampirenya dengan lebih baik dan mampu menghisap darah musuhnya dengan efisien. Namun, meski mereka telah menang, jalan keluar dari dungeon masih belum terlihat.


Eriase yang selalu menjadi pendamping setia Skaayla pun merasakan ketidakpastian yang sama. Mereka kini sudah berada di lantai 1105, dan belum menemukan tanda-tanda bahwa mereka akan segera menemukan jalan keluar. Tetapi, mereka bertekad untuk terus maju dan berjuang hingga akhirnya bisa keluar dari dungeon yang misterius ini.


Setelah 2 tahun melewati berbagai rintangan dan menghadapi berbagai monster yang kuat, Skaayla dan Eriase akhirnya mencapai lantai 2000. Namun, keadaan yang mereka temukan di sana sama sekali tidak seperti yang mereka bayangkan. Lantai itu sepenuhnya kosong dan gelap, tidak ada tanda-tanda keberadaan siapa pun atau apapun di sana. Mereka berusaha mencari jalan keluar dengan berjalan kesana-kemari, tetapi tidak ada yang berhasil kami temukan. Skaayla merasa semakin putus asa dan bertanya-tanya apakah mereka akan pernah menemukan jalan keluar dari dungeon ini.


Setelah kemenangan dilantai 2100 melawan makhluk yang disebut sebagai Quenora. Skaayla merasakan ada yang berbeda dalam dirinya. Kekuatan baru yang didapatkannya membuat dirinya bisa memanipulasi kegelapan dan mengendalikan bayangan-bayangan di sekitar dirinya.


Namun, kekuatan itu juga membawa dampak pada dirinya sendiri, Skaayla merasa semakin kesepian dan terasing dari dunia luar. Untung Eriase senantiasa menemani nya.


Skaayla takut jika mereka terus berada dalam dungeon ini, dia akan kehilangan jati dirinya yang sebenarnya. Namun, setiap lantai yang mereka lewati semakin sulit dan menantang, membuatnya semakin terjebak dalam kegelapan yang dia ciptakan sendiri.


Skaayla hanya bisa berharap bahwa mereka akan menemukan jalan keluar dari dungeon ini secepatnya.


Setelah tiga tahun terjebak dalam dungeon, Skaayla dan Eriase semakin merasa putus asa untuk menemukan jalan keluar. Namun, mereka tidak menyerah dan terus berjuang dengan semua kekuatan yang mereka miliki. Di lantai 3000, mereka melawan monster-monster yang semakin ganas dan sulit dikalahkan.


Setelah pertarungan yang melelahkan di lantai 3100, Skaayla merasa ada kekuatan yang baru terbangun di dalam dirinya, suatu kemampuan untuk memanipulasi energi yang disebut "mana". Skaayla merasa terkesima dengan kekuatan barunya dan berjanji untuk terus melatih dirinya agar dapat menguasai kemampuan ini dengan baik. Namun, meskipun mereka berhasil mengalahkan penyihir agung Fyhrian, mereka tetap belum menemukan jalan keluar dari dungeon yang misterius ini. Mereka terus berjuang dan berharap bisa menemukan cara untuk keluar dari sana.


Telah 4 tahun berlalu, Skaayla dan Eriase berhasil mencapai lantai 4000. Namun keadaan lantai ini terasa lebih aman dari lantai sebelumnya. Kemudian Skaayla dan Eriase terus menelusuri setiap sudut dungeon di lantai 4000 dengan hati-hati. Mereka telah bertemu dengan banyak monster dan makhluk mengerikan selama empat tahun terjebak di dalam dungeon ini. Namun, semakin tinggi lantai yang mereka eksplor, semakin kuat dan berbahaya makhluk-makhluk yang mereka hadapi.


Mereka berjalan-jalan di lorong gelap yang sunyi ketika tiba-tiba tanah di bawah mereka mulai bergetar. Skaayla dan Eriase siap untuk bertempur, tetapi ternyata itu bukan monster yang muncul, melainkan sebuah pesan misterius dari sebuah artefak kuno. Pesan tersebut mengatakan bahwa jalan keluar dari dungeon terletak di lantai 5000 dan hanya dapat dicapai dengan mengalahkan penjaga terakhir dungeon, sang Raja para monster, yaitu Hydra. Tanpa ragu, Skaayla dan Eriase melanjutkan perjalanan mereka ke lantai selanjutnya, siap untuk menghadapi tantangan terakhir.


Setelah lima tahun terjebak di dalam dungeon, Skaayla dan Eriase terus berjuang untuk mencapai lantai terakhir dan keluar dari sana. Mereka sudah mencapai lantai 5000, tetapi pintu keluar tampaknya tak kunjung muncul.


"Uwaaaaa, kita sudah lama terjebak di sini, tapi belum muncul juga pintu keluarnya" keluh Skaayla sambil menatap ke langit-langit dungeon. "Tapi aku yakin kita pasti bisa keluar dari sini."


Eriase menatap Skaayla dengan tajam. "Kita bisa keluar dari sini dengan cara apa, Skaayla? Setiap lantai semakin berbahaya dan monster-monster semakin kuat. Kita butuh strategi yang lebih baik untuk bertahan hidup."


Skaayla tersenyum "Aku selalu punya strategi. Kita tinggal mencari cara untuk mengalahkan monster-monster itu dengan mudah."


"Ey, Skaayla. Aku akan melindungimu hingga kau menjadi lebih kuat," kata Eriase sambil menunjukkan taring-taringnya yang tajam. "Ketika kau siap untuk bertarung sendiri, aku akan mengajarkanmu cara bertahan hidup dan melindungi dirimu sendiri."


Skaayla merasa malu dengan tawaran Eriase, namun ia merasa terharu dengan kebaikan hati Eriase. "Terima kasih, Eriase. Aku akan berusaha menjadi lebih kuat dan melindungi diriku sendiri."


Keduanya berjalan terus dalam kegelapan dungeon, mencari jalan keluar yang belum mereka temukan. Meskipun dalam kondisi yang sulit, Skaayla belajar untuk menjadi lebih sabar dan berusaha seperti Eriase. Ia juga belajar untuk mengendalikan sifatnya dan mulai menghargai pertolongan Eriase.


Walaupun perjalanan mereka di dalam dungeon penuh dengan rintangan dan bahaya, mereka terus berjuang bersama-sama. Mereka tumbuh lebih dekat satu sama lain, dan bersama-sama mereka siap untuk menghadapi lantai terakhir dan mencari jalan keluar dari dungeon yang misterius dan berbahaya.


Skaayla dan Eriase terus berjalan melalui koridor menuju lantai 5100. Dibalik pintu itu terdapat sang raja monster, tinggal. Begitu mereka membuka pintu itu, mereka disambut oleh Hydra yang mengangkat kepalanya dan menatap tajam ke arah mereka.


Hydra memiliki tubuh yang besar dan kuat, dengan sembilan kepala yang mengeluarkan napas yang membara. Tubuhnya dilapisi dengan sisik keras yang sekeras biji Damaskus. Saat Hydra mulai menggerakkan tubuhnya, langit-langit di atas mereka mulai runtuh dan tanah di bawah mereka mulai gemetar.


Skaayla siap melawan Hydra dengan senjata andalannya, pedang suci yang ia temukan dilantai 3213. Pedang tersebut berkilauan dan mengeluarkan aura yang mampu menembus kegelapan. Eriase berdiri di sampingnya, siap menyerang ketika kesempatan muncul.


Saat Hydra mendekat, Skaayla melompat ke udara dan memotong kepala pertama Hydra dengan satu serangan. Namun, sebelum ia bisa turun, Hydra menyerangnya dari belakang dengan salah satu kepala lainnya, melemparnya ke tanah dengan keras. Eriase segera menyerang kepala yang menyerang Skaayla, tetapi kepala lainnya segera menyerang Eriase dari samping, membuatnya terlempar beberapa meter jauh.


Skaayla cepat bangkit dan kembali berdiri. Kini ia lebih waspada dan siap melawan. Dia menggunakan kecepatannya untuk mengelak dari serangan-serangan kepala Hydra yang lain, sambil menyerang kepala yang lainnya dengan pedangnya. Eriase bergabung dengannya, menyerang kepala Hydra dari belakang.


Skaayla menatap wajah mengerikan dari Hydra dengan tatapan penuh ketakutan. Ia tahu betul bahwa ia belum siap untuk menghadapi monster sebesar ini.


Hydra menyerang dengan cepat, menggunakan salah satu kepalanya untuk menyerang Skaayla. Skaayla bergerak dengan cepat, menghindari serangan itu dengan lincah. Namun, Hydra terus menyerang dengan kepalanya yang lain, membuat Skaayla kesulitan untuk menghindari semua serangannya.


Skaayla merasa kekuatannya mulai terkuras karena harus menghindari serangan Hydra. Ia menyadari bahwa ia harus menemukan cara untuk melawan Hydra dan mengalahkannya.


Skaayla memfokuskan pikirannya dan memanggil kekuatan vampire-nya. Ia merasakan darahnya mengalir lebih cepat, memberikan kekuatan dan ketahanan yang lebih besar.


Skaayla merasakan adrenalinnya mengalir begitu deras, matanya memandang dengan seksama ke arah kepala-kepala Hydra yang menatapnya tajam. Dia merasa takut, tetapi dia harus bertahan dan memerangi makhluk mengerikan ini.


Hydra menggertakkan giginya, menunjukkan bahwa dia siap untuk menyerang. Skaayla memperhatikan pergerakan setiap kepala Hydra dan mempersiapkan diri untuk menghadapinya.


Hydra meluncur maju dengan kecepatan yang luar biasa, dan Skaayla langsung bereaksi dengan menghindar dengan gerakan yang gesit. Dia merasakan leher Hydra menyentuh tangannya, tetapi dia berhasil meloloskan diri dengan cepat.


Skaayla berlari mengelilingi Hydra, mencari kesempatan untuk menyerang. Dia melompat ke udara, mengejutkan Hydra dengan gerakan yang tak terduga. Dalam satu gerakan yang halus dan cepat, Skaayla menancapkan giginya ke leher Hydra dan mulai mengisap darahnya.


Setelah mengisap darah Hydra, Skaayla merasakan energi dari monster itu memasuki tubuhnya. Dengan kekuatan yang baru ditemukannya, ia merasa semakin kuat dan siap untuk mengakhiri pertarungan ini.


Skaayla mengangkat kedua tangannya dan mengepalkan tinjunya dengan kuat. Ia kemudian melompat menuju tubuh Hydra dan memberikan pukulan dahsyat ke arah kepalanya. Tubuh Hydra terlempar ke belakang dan menimbulkan guncangan yang hebat di sekitarnya.


Namun, pertarungan masih belum berakhir. Hydra bangkit kembali dengan dua kepala baru yang tumbuh dari bagian yang terpukul. Skaayla sadar bahwa ia harus mengambil tindakan cepat sebelum kekuatan monster itu semakin bertambah.


Ketika hanya tersisa dua kepala, Hydra semakin menjadi-jadi dan kekuatannya meningkat secara drastis. Kepala-kepalanya tumbuh lebih besar dan ganas, dan hembusan napasnya semakin panas. Setiap serangannya menjadi lebih cepat dan lebih mematikan, dan terlihat seperti Skaayla dan Eriase hampir tidak bisa lagi melawannya.


Skaayla juga menggunakan kemampuan vampire-nya untuk mempercepat penyembuhan dan meningkatkan kekuatan fisiknya. Dalam sekejap, Skaayla melompat ke udara dan melayangkan serangan dengan kekuatan yang sangat besar, tepat di atas dua kepala Hydra.


Serangan Skaayla dengan mudah menembus kepalanya dan menghancurkannya dengan satu kali pukulan. Tapi, hal ini justru memicu kekuatan regenerasi Hydra yang lebih kuat. Hydra segera beregenerasi dan kepalanya tumbuh kembali dalam hitungan detik, jauh lebih cepat daripada sebelumnya.


Skaayla dan Eriase kembali berhadapan dengan Hydra yang lebih kuat dan ganas daripada sebelumnya. Namun, mereka tidak menyerah dan terus melawan dengan gigih. Akhirnya, dengan memanfaatkan kecepatan dan kekuatan mereka, Skaayla dan Eriase berhasil melemahkan Hydra dengan pukulan terakhir yang menghancurkan tubuhnya dan membuat dimensi dungeon retak.


Tapi hal itu tidak membunuh Hydra, Hydra kembali beregenerasi dan Hydra semakin kuat dengan kepala yang tersisa hanya 1.


Skaayla tau kalau dia harus membunuh nya sebelum kekuatan Hydra semakin bertambah besar dari sebelum-sebelumnya, dengan kekuatan penuh dan dari insting vampirnya, memukul tubuh Hydra dengan kekuatan yang sangat kuat.


Setiap pukulan membuat tubuh Hydra bergoyang dan membuatnya semakin lemah. Ketika hanya tersisa satu kepala, tubuh Hydra menjadi lebih kuat dan regenerasinya yang tidak masuk akal semakin cepat.


Namun, Skaayla tidak menyerah dan terus menyerang dengan pukulan beruntun yang semakin kuat. Akhirnya, pukulannya yang terakhir membuat dimensi dalam dungeon hancur dan membuka pintu menuju jalan keluar. Saat dimensi dalam dungeon hancur, Hydra jatuh kedalam sebuah lubang dimensi yang hancur dan hawanya tidak lagi terasa.


Sebelum dimensi dalam dungeon semakin hancur berantakan, Eriase mengorbankan sebagian kekuatannya untuk menutup retakan tersebut.


"Kamu menang, Skaayla!!. Akhirnya kita berhasil menemukan jalan keluar yang kita cari selama ini!!" kata Eriase sambil tersenyum lega.


Skaayla tersenyum lemah, "Akhirnya kita bisa keluar dari sini."


Eriase membantu Skaayla berjalan pelan-pelan menuju luar dungeon. Ketika mereka keluar dari dungeon, mereka disambut dengan cahaya matahari yang cerah dan udara segar yang menenangkan. Mereka merasa sangat lega dan bahagia bisa melihat dunia luar lagi setelah terjebak selama 5 tahun di dalam dungeon.


Skaayla dan Eriase berjalan perlahan-lahan tanpa arah. Mereka mencari desa terdekat, untuk beristirahat dan memulihkan diri. Meskipun mereka masih lelah dan lemah, mereka merasa sangat bersyukur dan bahagia karena akhirnya berhasil keluar dari dungeon.