
Mereka berdua jalan keluar dari kuil dan memutuskan untuk pergi ke toko baju sebentar sebelum pulang.
"Mama tau, ga tadi? Skaayla merasa seperti ada sesuatu yang mengusik pikiran Skaayla tadi saat berdoa," ucap Skaayla pada Lucy
"Oh, apa itu?" tanya Lucy, menunjukkan minatnya.
"Skaayla ga yakin ma, tapi tadi sepertinya ada kekuatan yang memanggil Skaayla dari alam bawah sadar," jelas Skaayla.
"Kamu yakin?" tanya Lucy, agak khawatir.
Saat Skaayla ingin menjelaskan tentang hal yang terjadi di kuil kepada Lucy. Dia melihat seorang anak perempuan dengan rambut pirang dan mata hitam pekat yang duduk di bawah pohon besar di dekat jalan setapak. Anak itu terlihat seumuran dengan Skaayla.
Skaayla merasa penasaran dan mendekati anak perempuan itu. "Hai, apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Skaayla sambil tersenyum ramah.
Anak perempuan itu menoleh ke arah Skaayla dan Lucy, dan terlihat agak kaget. "Oh, hai," katanya dengan suara kecil. "Aku hanya menikmati udara segar di sini."
"Aku Skaayla, siapa namamu?" tanya Skaayla lagi.
"Aku Eve," jawab anak perempuan itu sambil tersenyum.
"Eve, kamu tinggal di sini?" tanya Lucy.
Eve menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak, aku hanya lewat dan memutuskan untuk istirahat sebentar di sini," jawabnya.
Skaayla merasa ada yang aneh dengan Eve. Dia terlihat gelisah dan takut. "Apakah ada yang salah, Eve? Kamu terlihat khawatir," tanya Skaayla dengan suara lembut.
Eve menggigit bibirnya dan menggelengkan kepalanya. "Tidak, tidak ada yang salah. Aku hanya merasa sedikit lelah dan lapar," jawabnya.
Skaayla merasa tidak yakin dengan jawaban Eve, tetapi dia tidak ingin memaksanya. Dia menawarkan bantuan kepada Eve, "Apakah kamu ingin makan sesuatu atau minum? Kami akan membantumu mencarinya."
Eve mengangguk dan tersenyum kecil. "Terima kasih, aku akan menghargainya."
Mereka berjalan bersama ke makanan dan membeli beberapa makanan dan minuman untuk Eve.
Skaayla masih merasa penasaran dengan Eve, tetapi dia tidak ingin membuatnya tidak nyaman. Dia hanya berharap Eve akan merasa lebih baik dan tidak khawatir lagi.
Setelah mereka selesai membeli makanan, mereka melanjutkan perjalanan pulang ke rumah. Eve masih bergabung dengan mereka dan terlihat lebih rileks setelah makan. Namun, Skaayla masih merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan Eve.
"Skaayla, kamu masih terlihat khawatir. Apa yang kamu pikirkan?" tanya Lucy.
Skaayla merasa ragu untuk berbicara, tetapi dia akhirnya mengungkapkan kekhawatirannya tentang Eve. "Aku tidak tahu, tapi ada sesuatu yang aneh dengan Eve. Dia terlihat sangat gelisah dan takut tadi di bawah pohon. Aku merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan dia."
Lucy merenung sejenak, lalu menatap Eve dengan perhatian. "Eve, apa yang sebenarnya terjadi? Apakah kamu baik-baik saja?" tanyanya dengan lembut.
Eve menggigit bibirnya dan menundukkan kepala. "Aku tidak tahu. Aku hanya merasa sedikit takut dan tidak nyaman di kota ini," jawabnya.
"Eve, apakah kamu memiliki orang tua di sini?" tanya Lucy lagi.
Eve menggelengkan kepalanya, "Aku tidak punya ayah dan ibu. Mereka meninggal ketika aku masih kecil," jawabnya dengan suara lembut.
Skaayla menganggukkan kepala setuju dan tersenyum kecil pada Eve. "Kamu bisa tinggal bersama kami, jika kamu mau. Kami memiliki tempat untukmu di rumah kami."
Eve terlihat terkejut dengan tawaran itu, namun dia merasa sangat berterima kasih. "Terima kasih banyak. Aku sangat menghargainya," ucapnya dengan suara lirih.
Lucy dan Skaayla merasa senang bisa membantu Eve dan membawanya ke rumah mereka. Didalam perjalanan memakai Erys, mereka berbincang-bincang tentang kehidupan mereka. Eve terlihat bahagia dan gembira, karena akhirnya ia menemukan tempat yang aman dan orang-orang yang peduli padanya.
Ketika mereka tiba di rumah, Lucy menunjukkan kamar yang telah disiapkan untuk Eve. Dia memperkenalkan Eve pada kucing mereka yang lucu dan ramah, serta menunjukkan kepadanya di mana dapur dan kamar mandi.
Eve merasa sangat terharu dengan sambutan hangat yang diberikan oleh Lucy dan Skaayla. Dia merasa bahwa dia telah menemukan keluarga baru yang peduli padanya. Setelah Eve menempati kamar yang disiapkan, Lucy dan Skaayla mempersilahkan Eve untuk bergabung dengan mereka di ruang tamu.
Di ruang tamu, Lucy menawarkan beberapa camilan dan minuman untuk Eve. Mereka berbicara tentang segala hal, mulai dari kehidupan di kota hingga kehidupan di hutan. Eve merasa sangat senang bisa berbicara dengan Lucy dan Skaayla.
Saat hari mulai gelap, Lucy menunjukkan Eve ke kamar mandi untuk mandi dan mengganti pakaian. Setelah itu, mereka makan malam bersama di ruang makan. Makan malam yang enak dan suasana yang hangat membuat Eve merasa sangat bahagia.
Setelah makan malam, Lucy menunjukkan kepada Eve di mana kamar tidurnya berada.
Lucy memperhatikan bahwa Eve tampak canggung di kamarnya sendiri. "Eve, jika kamu merasa tidak nyaman tidur sendirian, kamu bisa tidur di kamar dengan Skaayla. Dia pasti senang memiliki teman tidur malam ini."
Skaayla tersenyum dan menganggukkan kepalanya, "Ya, kita bisa berbicara dan berbagi cerita sebelum tidur."
Eve tersenyum dan merasa lega. "Terima kasih, itu akan sangat menyenangkan," ucapnya.
Lucy tersenyum, "Baiklah, kalian berdua bisa tidur di kamar itu. Jika ada yang kalian butuhkan, jangan ragu untuk memanggilku atau suara yang lain."
Eve dan Skaayla saling menatap dan tersenyum. Mereka berjalan ke kamar Skaayla sambil berbicara tentang segala hal yang mereka sukai dan tidak sukai. Tidak butuh waktu lama, mereka berdua tertidur dengan nyenyak dan bahagia.
Lucy mengamati mereka dari luar kamar, senang melihat bahwa Eve dan Skaayla merasa nyaman satu sama lain. Dia mengucapkan doa ringan untuk mereka berdua, berharap mereka akan merasa aman dan bahagia di rumahnya.
Skaayla terbangun dengan kantuk yang masih menghantui pikirannya. Dia memejamkan matanya beberapa saat lagi sebelum akhirnya membuka matanya sepenuhnya. Setelah menggosok mata dan merapikan rambutnya, Skaayla merasa sedikit heran karena ia tidak melihat Lucy di kamarnya.
Skaayla bangkit dari tempat tidur dan memeriksa seluruh rumah untuk mencari Lucy. Dia mencari di dapur, ruang tamu, dan ruang makan, tetapi tidak menemukannya. Skaayla semakin khawatir saat dia tidak bisa menemukan Lucy di mana pun.
Tiba-tiba, pintu depan terbuka dan masuklah seorang pria misterius dengan aura gelap yang sangat kuat. "Hai, anak kecil. Apa yang sedang kamu cari?" ujarnya dengan suara yang berat dan angkuh.
Skaayla menatap pria itu dengan takut, namun dia mencoba untuk tetap tenang dan menjawab dengan suara gemetar, "A-aku mencari Lucy. Dia tiba-tiba menghilang."
Pria itu tersenyum sinis, "Oh, dia? Ah aku paham sekarang tapi sayangnya, kamu tidak akan pernah bisa menemukannya lagi." Seketika itu juga, Skaayla merasakan tubuhnya dipindahkan secara instant ke dalam sebuah tempat yang sangat dalam. Dia terjatuh di lantai dingin dan berkabut.
Skaayla merasa terperangkap dan tidak bisa keluar dari sana, dan dia merasa takut dan kebingungan. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan dan merindukan Lucy serta teman-temannya yang lain. Dia terus menangis dan berdoa agar bisa keluar dari sana dan bertemu dengan orang-orang yang ia sayangi kembali.
Doanya terjawab, perlindungan yang diberikan oleh dewa yang mereinkarnasikan nya berubah menjadi sebuah cahaya kehangatan, cahaya itu menghilangkan rasa takut Skaayla.
Cahaya itu kemudian berubah menjadi sebuah makhluk kecil imut, dan dapat berbicara dengannya menggunakan bahasa para dewa.
"Aku datang menjawab panggilan mu. Aku adalah Eriase, makhluk yang melayani Dewa Xerxes yang mereinkarnasikanmu."
"Aku harap kehadiran ku dapat mengurangi kesedihan dan rasa takutmu."