
Setelah berjalan selama beberapa jam, mereka akhirnya sampai di sebuah desa kecil yang terletak di tepi hutan. Desa tersebut terlihat aman dan damai, dengan rumah-rumah kecil yang terbuat dari kayu dan tanah liat. Tapi tampaknya tidak ada tanda-tanda kehidupan didesa itu.
Eriase membantu Skaayla duduk di bawah pohon di dekat desa sambil mencari sumber air untuk diminum. Beberapa saat kemudian, Eriase kembali dengan membawa air segar dari sebuah sumur di dekat desa.
Mereka menghirup air segar itu dengan lahap, merasakan sensasi segar dan dingin di tenggorokan mereka. Setelah minum, mereka merasa lebih segar dan energik.
Eriase memutuskan untuk mencari tempat untuk tinggal di desa tersebut, sementara Skaayla tetap beristirahat di bawah pohon. Setelah mencari-cari, Eriase menemukan sebuah pondok kecil yang kosong dan cocok untuk mereka tinggali.
Mereka segera pindah ke pondok tersebut dan bersiap-siap untuk beristirahat dan memulihkan diri. Eriase membantu Skaayla tidur dengan nyaman di atas sebuah tempat tidur kayu, sementara dia sendiri tidur di lantai.
Malam itu mereka tidur dengan nyenyak, merasakan kedamaian yang lama mereka rindukan. Mereka merasa sangat bersyukur atas keberhasilan mereka keluar dari dungeon dan menikmati kebebasan mereka yang baru ditemukan.
Keesokan harinya, setelah beristirahat yang cukup, mereka pergi dari desa itu dan melanjutkan perjalanan untuk menuju sebuah kota.
Namun, perjalanan mereka menuju kota tidaklah aman. Mereka bertemu dengan seseorang yang misterius di tengah hutan, yang menyebut dirinya sebagai pengikut dewa kehancuran.
Skaayla merasakan napasnya terengah-engah ketika dia melihat Orthell, pengikut dewa kehancuran, di hadapannya. Wajah Orthell yang menakutkan menunjukkan ekspresi yang tak terbaca, dan tubuhnya yang besar terlihat kuat dan berotot. Skaayla tahu dia tidak akan bisa melawan Orthell sendirian, tapi dia tidak bisa membiarkan Eriase berjuang sendirian.
Eriase siap untuk bertarung, meskipun dia kehilangan sebagian kekuatannya. Dia berubah menjadi bentuk manusia, tetapi masih mempertahankan kecepatan dan ketangkasan yang luar biasa. Dia maju dengan pedangnya yang berkilauan dan siap untuk bertarung melawan Orthell.
(Eriase. Sc : ArtStation, Mineo)
Namun, Orthell terlalu kuat untuk Eriase. Setiap serangan Eriase dihadang dengan mudah oleh Orthell, dan setiap serangan Orthell sangat kuat dan menghancurkan. Skaayla melihat Eriase terdesak dan berusaha membantu, tetapi Orthell dengan mudah menghentikan serangan Skaayla.
Akhirnya, Skaayla jatuh terluka dan tak berdaya, Eriase berusaha melindungi Skaayla. Namun, Orthell dengan mudah mengalahkan Eriase dengan membuat lubang di jantungnya dan menarik jantungnya keluar.
Saat itu, Skaayla tahu dia tak bisa berbuat banyak lagi. Dia hanya bisa menatap Eriase yang tergeletak di tanah dengan penuh kekhawatiran dan rasa sedih.
Orthell melihat Skaayla dan Eriase dengan pandangan merendahkan. "Sangat lemah," katanya dengan suara tegas. "Kurasa goblin saja bisa mengalahkan kalian dengan mata yang tertutup." Dia tertawa sinis. "Aku tidak mengerti apa yang tuan harapkan dari kalian. Tapi ini jelas-jelas sia-sia. Kalian tidak akan pernah bisa mengalahkan monster yang lebih kuat dariku, apalagi dewa yang sebenarnya."
Orthell lalu menatap Skaayla dengan tatapan tajam dan menghancurkan jantung Eriase yang diambilnya "Kau, Skaayla, tidak ada gunanya kau hidup. Kau hanya membuang-buang nafas. Jangan harap kau bisa mengalahkanku atau melindungi temanmu yang akan mati tanganku."
Ketika Orthell menghancurkan jantung Eriase, suasananya disana seakan berubah menjadi sangat menekan. Skaayla merasakan kemarahan yang menyala-nyala di dalam dirinya dan ia merasa seperti insting vampirnya menguasai dirinya. Namun, ia masih mencoba untuk mengendalikan dirinya.
Tiba-tiba, ketika Skaayla ingin mengamuk lebih jauh, waktu terasa berhenti sejenak dan ia merasakan kehadiran Orthell di depannya. Tanpa memberikan kesempatan bagi Skaayla untuk bereaksi, Orthell dengan sangat cepat memukulnya dengan pukulan yang begitu kuat sehingga Skaayla terlempar jauh ke udara.
Setelah Skaayla terlempar dengan keras dia ditarik kembali oleh Orthell, ia terjatuh ke tanah dengan sangat keras. Tubuhnya terasa sakit setelah mengalami tekanan yang begitu besar. Ia berusaha bangkit namun merasa sangat lemah dan tak berdaya. Kemudian, Skaayla merasakan pandangan mata yang kabur dan kesadaran yang semakin memudar.
Tubuhnya terkulai lemas di tanah dan akhirnya Skaayla tidak sadarkan diri. Ia benar-benar kehilangan kendali atas kekuatannya dan emosinya, terlalu lelah untuk melanjutkan pertarungan dan terlalu terluka untuk melawan.
Orthell melihat Skaayla yang tak sadarkan diri dan tersenyum sinis. Ia merasa sangat senang telah bermain dengan dua peliharaan baginya. Ia kemudian meninggalkan Skaayla yang tergeletak di tanah dan tiba-tiba menghilang.
Saat Skaayla sadar kembali, dia merasa sedih dan marah karena Eriase mengorbankan dirinya untuk melindunginya. Namun, tiba-tiba suara misterius yang memprovokasi dia muncul di kepalanya.
"Kamu terlalu lemah, Skaayla. Kamu membiarkan Eriase mengorbankan dirinya untukmu. Tapi aku bisa membantumu menjadi lebih kuat. Blood, Power, Glory. Lakukan kontrak denganku dan kamu akan memiliki kekuatan yang lebih besar dalam bertarung," kata suara misterius itu.
Skaayla merasa tertarik dengan tawaran itu, terutama karena dia ingin membalas dendam pada Orthell atas kematian Eriase. Dia mempertimbangkan tawaran itu, meskipun dia merasa ada sesuatu yang tidak benar dengan suara itu.
"Power? Blood? Glory?" Skaayla mengulang-ulang kata-kata itu di kepalanya.
"Ya, Power untuk memperkuatmu, Blood untuk memuaskan insting vampirmu, dan Glory untuk memuliakan dirimu sendiri," jawab suara misterius itu.
Skaayla mengangguk tegas. "Ya, aku menerima kontrak ini. Aku akan melakukan apapun yang diperlukan untuk mendapatkan kekuatan yang lebih besar."
Suara misterius itu mengangguk puas. "Baiklah, maka kontrak kita telah terikat. Namun, untuk melakukan kontrak ini, kau harus melupakan masa lalu mu. Tapi, kamu tidak akan bisa melupakan kematian Eriase. Kematian Eriase akan menjadi kutukan bagimu dan kamu akan terus berjuang mendapatkan kekuatan demi membalas Eriase."
Skaayla terdiam sejenak, merenungkan kata-kata suara misterius itu. Namun, dia tidak bisa menahan diri untuk tidak berbicara. "Tapi aku tidak bisa melupakan orang pertama yang menemukan diriku di dalam hutan, yaitu ibuku Lucy. Walau aku bukan anak kandungnya, tapi dia menyayangi ku dengan tulus."
Suara misterius itu menghela nafas. "Ingatlah, Orthell bilang bahwa serangan dirinya hanyalah ancaman pertama yang akan terus meneror mu. Artinya, akan lebih banyak lagi orang yang akan menghancurkan hidupmu."
Skaayla merasa takut, tapi dia tidak bisa menyerah. "Tapi-"
Suara misterius itu memotong ucapan Skaayla. "Baiklah, aku akan mengembalikan ingatanmu ketika kau berhasil mengalahkan Orthell."
Sebagai langkah awal dari kontrak itu, Skaayla harus menghisap setidaknya darah 1500 makhluk yang kuat, seperti naga dan iblis. Tanpa ragu, Skaayla mulai mencari makhluk-makhluk kuat tersebut dan menghisap darah mereka.
Namun, semakin banyak darah yang dihisap oleh Skaayla, semakin terlihat perubahan pada dirinya. Rambutnya yang dulunya putih seperti cahaya, sekarang mulai menggelap. Kekuatan dan kebrutalan yang semakin kuat, serta keinginan untuk meraih kemuliaan dan kekuasaan yang semakin besar, membuat Skaayla kehilangan jati dirinya sendiri.
Skaayla yang dulu lembut dan penyayang kini telah berubah menjadi sosok yang kejam dan sombong. Dia tidak peduli dengan siapa pun selain dirinya sendiri dan kontrak yang dia jalani. Setiap kali dia berhasil mengalahkan makhluk yang lebih kuat, dia merasa semakin berkuasa dan keinginannya untuk meraih kekuatan semakin besar.
Ketika Orthell akhirnya muncul kembali di hadapannya, Skaayla merasa yakin bahwa dia sekarang memiliki kekuatan yang cukup untuk mengalahkannya. Namun, apa yang dia tidak tahu adalah bahwa Orthell bukanlah musuh yang mudah dihadapi.
Pertarungan mereka berlangsung sengit, namun akhirnya Skaayla harus menelan kekalahan karena kekuatannya yang ternyata tidak cukup untuk mengalahkan Orthell. Kekalahan ini membuat Skaayla semakin terpuruk dan keinginannya untuk mendapatkan kekuatan semakin besar.
Dia terus mencari makhluk-makhluk kuat untuk dihisap darahnya, bahkan jika itu berarti harus melewati batas dan mulai mengorbankan manusia. Dia tidak lagi peduli dengan siapa pun selain dirinya sendiri dan kontrak yang dia jalani.
Setelah 7 tahun meneror dunia dalam ketakutan. Skaayla dan Orthell akhirnya bertemu kembali, dan mereka saling menatap dengan tajam. Skaayla merasa adrenalinnya memuncak, ia telah siap untuk membalas dendam atas kematian Eriase. Orthell, di sisi lain, tampak tenang dan siap untuk menghadapi apa pun yang akan dilakukan oleh vampir itu.
"Tidak ada yang bisa menyelamatkanmu, Orthell. Aku akan membalaskan dendam Eriase!" seru Skaayla sambil menyiapkan diri untuk menyerang.
"Tentu saja, Skaayla. Aku tidak berharap kau akan mundur begitu saja," balas Orthell dengan tenang.
Skaayla melompat menuju Orthell dan melepaskan serangan balik yang cepat. Namun, Orthell mampu menghindari setiap serangan itu dengan kecepatan yang mengagumkan. Pertarungan itu berlanjut dengan kedua pihak saling serang dan bertahan dengan sengit. Skaayla terus mengeluarkan serangan balik yang kuat, namun Orthell mampu menghindarinya dengan mudah.
"Kau lambat, Skaayla. Kau membutuhkan lebih dari itu untuk mengalahkanku," ejek Orthell.
Skaayla tidak dapat membiarkan kata-kata Orthell meremehkannya. Ia berteriak dan mengeluarkan serangan liar yang sangat cepat. Namun, Orthell mampu menghindarinya dan menyerang balik dengan kecepatan yang sama.
"Kau terlalu lemah, Skaayla. Kau tidak cukup kuat untuk mengalahkanku," ujar Orthell dengan meremehkan.
Skaayla merasa marah dan frustasi. Ia terus mengeluarkan serangan balik yang kuat, namun semuanya sia-sia. Orthell terlalu cepat dan tangkas untuk dijangkau.
Kemudian dia menggunakan kekuatan yang mengalir dalam dirinya. Ia merasakan kekuatan yang sangat kuat dan insting vampirinya semakin kuat. Ia mengeluarkan serangan balik yang lebih cepat dan kuat, dan Orthell tidak dapat menghindarinya.
"Bagaimana ini bisa terjadi? Kekuatanmu meningkat dengan begitu cepat!" teriak Orthell terkejut.
Skaayla hanya tersenyum dan terus mengeluarkan serangan balik yang kuat. Akhirnya, ia berhasil menyerang Orthell dengan tepat, memukulnya keras di dada dan membuatnya terlempar ke belakang.
"Sudahlah, Orthell. Kau lemah dan tidak ada gunanya lagi," kata Skaayla dengan nada mengejek.
Orthell mencoba untuk bangkit, tetapi ia tidak mampu. Ia merasakan kekuatannya perlahan-lahan memudar.
"Kau tidak pantas hidup di dunia ini, Orthell. Kekuatanmu tidak sebanding dengan hinaan mu yang sebelumnya," ujar Skaayla dengan nada menghina.
Orthell mencoba untuk berkata-kata, tetapi ia terlalu lemah untuk berbicara. Ia hanya bisa menatap Skaayla dengan pandangan yang lemah.
"Akhirnya kamu menyadari betapa lemahnya dirimu. Terlambat, Orthell. Kekuatanku semakin bertambah, dan aku akan terus menghancurkan siapa saja yang menghalangi jalanku," kata Skaayla dengan sombong.
Orthell mencoba untuk meraih kekuatannya kembali, tetapi ia tidak bisa. Ia terpaksa menyerah pada Skaayla dan merasakan kekalahan yang memalukan.
"Baiklah Orthell, kau tidak mengira aku akan membiarkan mu hidup begitu saja kan?" Ucap Skaayla sambil mengangkat tangan Orthell dan tersenyum.
"Aku penasaran darahmu seperti apa, apa enak atau tidak ya." Skaayla mengeluarkan taringnya, dan menghisap darah Orthell.
Kemudian Skaayla menarik jantung Orthell dan menghancurkan nya tepat diatas mulutnya sehingga darah yang ada dijantung akan jatuh ke dalam mulutnya.
Sebelum menghilang menjadi debu, Orthell berusaha untuk mengatakan sesuatu kepada Skaayla dengan terbata-bata.
"Ha ha, w-walau kau berhasil membunuhku, itu tidak akan membuat rencana-nya rusak. Dan juga, misiku telah berhasil. Aku telah-"
Skaayla menatap Orthell dengan pandangan sinis, "Apa yang kamu bicarakan, Orthell? Rekayasa apapun yang kau buat tidak akan berhasil melawan kekuatanku."
Orthell mencoba untuk menarik napas, tetapi suaranya terdengar semakin melemah. "Jangan...terlalu percaya diri. Kekuatanmu...tidaklah segalanya."
Skaayla tersenyum sombong, "Kekuatanku jauh melebihi segalanya yang bisa kau bayangkan."
Orthell mencoba untuk berkata-kata lagi, tetapi suaranya semakin terdengar redup. "Ingatlah...aku telah m-meracuni...i-i-"
Kata-katanya terpotong dan Orthell menjadi debu. Skaayla merasa bingung dengan kata-kata terakhir Orthell, tetapi ia merasa tidak peduli. Kekuatannya semakin bertambah dan ia merasa semakin tak terkalahkan.
Namun tiba-tiba, suara misterius muncul dan membisikkan ke telinganya, "Baiklah sesuai janjiku, aku akan mengembalikan ingatanmu."
Skaayla merasa terkejut dan bingung. Ia tidak tahu siapa yang berbicara, tetapi ia merasa ada yang aneh.
"Siapa kamu? Apa maksudmu?" tanya Skaayla
Suara misterius itu tertawa, "Aku adalah kontrak yang kau buat tujuh tahun yang lalu, Skaayla. Kau sudah lupa?"
Skaayla merasa terkejut. Ia memang pernah membuat kontrak tujuh tahun yang lalu, tetapi ia lupa dengan detailnya.
"Ya, aku ingat sekarang. Apa yang harus aku lakukan?" tanya Skaayla.
Suara misterius itu menjawab, "Tidak ada, sekarang kau telah bebas. Apa kau tidak rindu dengan keluargamu?."
Skaayla terkejut, "Apa maksudmu dengan keluarga? Keluarga ku hanya Eriase, satu-satunya yang menyelamatkan hidupku."
Suara misterius itu menjawab, "Kau akan mengetahuinya nanti."
Tiba-tiba, Skaayla merasakan rasa sakit yang luar biasa di kepalanya. Semua ingatan masa lalunya tiba-tiba muncul kembali. Ia ingat bagaimana ia dulu memiliki keluarga yang mencintainya, tetapi kehilangan mereka dalam sebuah peristiwa tragis. Ia ingat bagaimana ia berakhir di dalam dungeon karena diteleport seseorang.
Kemudian Skaayla pergi ke rumahnya dengan sihir terbangnya. Berharap semuanya baik-baik saja setelah kedatangan pria misterius dirumahnya.