Can I Choose?

Can I Choose?
9- Hurt



JANGAN LUPA VOTE & COMENT NYAA


Hanna terbangun di pagi hari yang cerah seperti biasanya. Dia mengerjapkan matanya guna mengumpulkan nyawanya yang baru saja bangun tidur. Tiba-tiba dia mendengar nada dering dari ponsel nya,yang menandakan bahwa ada panggilan masuk.


"Halo.."


"NONA! ADA SESEORANG MENCARI ANDA!"


Suara milik Yeo Jin Goo di seberang sana memenuhi telinga Hana di pagi hari


"Astaga Manager Yeo,kalau ada yang mencari ya tolong kau layani dulu. Jangan membuat telinga ku pecah gara gara suaramu"


"Maaf Nona,tapi dia terlihat sangat tergesa-gesa. Sangat ingin bertemu anda. Seperti pelanggan yang kecewa dan marah.saya tidak pernah menenui pelanggan yang kecewa,maka dari itu saya tidak tahu harus berbuat apa"


"Kecewa? Seperti marah? Memangnya ada apa?"


"Saya pun tidak tahu Nona,dia tidak mau menjelaskan apa permasalahan nya."


Hanna mengernyitkan dahi lalu memijat pelipisnya.


"Baiklah baiklah tunggu aku sebentar. Aku akan kesana"


"Baik Nona"


Hanna segera beranjak dari tempat tidurnya,lalu dia memulai aktivitas nya dengan tergesa-gesa. Astaga,ada masalah apa ini? Hanna tidak meraaa melakukan kesalahan apapun saat melayani customer nya. Dia juga tidak menerima komplain dari siapapun mengenai pelayanan salonnya.


Hanna selesai mandi 10 menit kemudian. Shit! Mandi tercepat yang pernah dilakukan Hanna. Dia merias sedikit wajahnya dan memecahkan rekor makeup tercepatnya hanya dengan 10 menit! Persetan dengan Makeup ia harus segera ke Salon sekarang!


Tepat pada parkiran,ia melihat pintu salon masih bertuliskan CLOSE . Baiklah. Siapa juga yang akan membuka salon pada jam setengah tujuh pagi?


Hanna memasuki salonnya dan mendapati wajah yang tak asing baginya.



Hanna sedikit terkejut dengan seseorang didepannya kini. Siapa yang tidak terkejut bertemu dengan calon suami,yang ia tidak pernah berkenalan sama sekali dengannya? Hanna memantapkan diri untuk menemuinya. Sebenarnya,hatinya lumayan senang ketika dia mendapati wajah tampan itu yang sebentar lagi akan menjadi suaminya.


Tapi ia memiliki firasat buruk. Pasalnya,Manager Yeo tadi berbicara bahwa ada seseorang yang mencarinya dengan marah-marah. Itu berarti niat Sehun kesini,sembilan puluh persen bukan niat baik bukan?


"Kau Nona Lee bukan?" Tanya lelaki itu tanpa basa basi


"Ya. Mari ikut aku" jawab Hanna mendahului Sehun


Sial! Hanna setengah mati menahan kegugupan itu dengan cara mendahului Sehun.


Sedangkan harga diri Sehun sedikit terluka, gadis ini mengabaikannya. sangat tenang seperti tidak terjadi apa-apa. Bahkan dia tidak berkata panjang untuk membujuknya atau apa. Apakah begini yang Yuri bilang Ramah?


Mereka telah sampai di pintu bertuliskan SAJANGNIM. Yang artinya ruangan Hanna.


"Mari Masuk,Tuan Park" tawar Hanna membukakan pintu dan mendahului Sehun


Baiklah. Sehun bisa mengambil kesimpulan bahwa Hanna telah mengetahui namanya,bahkan ia mungkin sudah tahu bahwa ia akan dijodohkan dengannya. Sehun duduk di bangku berhadapan dengan Hanna


"Nona Lee. Kau sudah tau bukan?"


Hanna mengambil nafas sedikit lalu tersenyum terpaksa.


"Ya."


"LALU KENAPA KAU TIDAK MENOLAK NYA?" tanya Sehun antusias


Oh jadi begini? Begini reaksi Sehun saat mengetahui ia akan berjodoh dengan Hanna? Hanna yang berpikir seperti itu tersenyum kecut. Cerita di novel memang sebagian ada fakta nya


"Kenapa aku harus menolak nya?"


"Kita tidak saling kenal! Tidak pula saling cinta!"


"Kau tau namaku,dan aku tau namamu Tuan Park. Dan apakah ada kewajiban saling mencintai sebelum menikah?"


Park Sehun memang cari gara-gara dengan orang yang salah. Lee Hanna,gadis cantik yang meraih gelar sarjana di usia muda dan lulus dari universitas ternama,Harvard University.


"Ku jelaskan sekali lagi Nona. Aku menerima ini karena aku tidak ingin dicoret dari nama keluarga. Aku pun tidak ingin karirku hancur gara-gara perjodohan konyol ini"


Apa katanya tadi? Konyol?. Hanna tidak menjawab,menunggu kata kata dari Sehun yang akan keluar lagi dari mulut kecilnya itu.


"Jadi,jujur. Aku tidak ingin berpura-pura baik didepanmu. Aku tidak mencintaimu dan aku sangat terpaksa menerima kenyataan ini. Jadi kita menikah atas dasar keterpaksaan. Jangan berharap kita akan menjadi suami istri pada umumnya. Aku tidak ingin siapapun tau pernikahan ini,aku harap kau bisa menutupi fakta ini dari publik"


Entah mengapa,hati Hanna berdenyut nyeri. Sakit rasanya saat Sehun berkata seperti itu. Ingin membatalkan pun,ia sudah terlanjur menerimanya. Ia menatap Sehun tak percaya, laki-laki didepannya ini terlihat sungguh-sungguh terpaksa menerimanya



"Baiklah. Aku tidak keberatan" jawab Hanna mencoba mentralkan nafasnya. Ingin sekali rasanya menangis sekarang juga.


"Tapi Park Sehun,aku harap kau juga berlaku baik dihadapan keluargaku. Walaupun itu hanya pura-pura"


Sehun mengangguk dan menatap Hanna mantap. Sebenarnya ia bingung,gadis ini tidak banyak bicara. Apakah sebenarnya ia juga terpaksa? Masa bodoh dengan hal itu. Yang terpenting ia sudah mengutarakan apa yang ingin disampaikan nya pada Hanna.


"Yaa. Kau tenang saja. Kalau begitu aku pergi dulu. Seperti nya,keluarga kita akan bertemu dalam waktu dekat ini. Jadi persiapkan dirimu. Aku pergi dulu" kata Sehun langsung beranjak pergi dari ruangan Hanna.


Bahu Hanna merosot ke punggung kursi. Pikirannya berat sekali mengingat ucapan Sehun beberapa saat yang lalu. Sehun nampak jelas memperlihatkan keterpaksaan nya dihadapan Hanna. Bahkan Sehun secara terang-terangan mengutarakan bahwa ia tidak mencintai Hanna. Seakan-akan ia tidak ingin berusaha membangun istana cinta mereka


Hanna jadi teringat kata-kata ibunya


Jadilah istri yang baik walaupun suamimu tidak membalas apa yang kau perbuat


Sekiranya itu yang ia ucapkan beberapa hari sebelum kejadian buruk itu merenggut nyawanya. Hanna harus mengalah. Ia tidak boleh egois untuk membatalkan pernikahan itu. Yuri, tampak senang saat Hanna menerima perjodohan itu. Hanna tidak boleh mengecewakannya. Hanna pun harus menerima Sehun yang sebenarnya tidak mencintainya sama sekali.


"Kau harus kuat Hanna. Dia akan mencintaimu seiring berjalannya waktu"


Setidaknya itu yang bisa ia ucapkan saat ini,berharap perkataanya bisa menjadi Doa. Semoga Tuhan mendengar apa yang ia ucapkan barusan.


Tak terasa,ada cairan bening mengalir dari pelupuk matanya. Ia menangis,sekian lamanya ia tidak menangis. Kini ia pertama kali menangis kembali setelah terakhir menangis saat orang tua nya meninggal. Entah apa yang ia rasakan saat ini,semua bercampur menjadi satu sehingga yang ia rasakan hanyalah pedih. Biarkan cairan ini menetes membasahi wajahnya,sebagai obat sementara penyembuh sakit hatinya


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


Sehun dengan langkah sedikit tergesa memasuki mansion nya,mengabaikan semua maid yang menatap aneh kepadanya. Seakan berkata kenapa tuan muda semakin aneh setiap harinya?. Persetan dengan itu semua,kini Sehun masih dilanda rasa emosi karena gadis bernama Lee Hanna menanggapinya dengan santai seolah tidak terjadi apa-apa.


Tapi yasudahlah,masa bodo dengan itu semua. Mungkin kini Hanna bisa mempertimbangkan lagi keputusannya. Kalau Sehun tidak bisa menolak ataupun membatalkan perjodohan ini,bukan berarti Hanna juga tidak bisa bukan?


Sehun melemparkan kacamata nya asal,dan dia mendapat pesan dari Kai beberapa saat kemudian


From : Kedelai Hitam Pilihan


Aku ingin minum,temani aku ya?


Baiklah, mungkin Sehun butuh minum. Untuk melupakan segala masalahnya yang membuatnya pusing tujuh keliling. Kepalanya berat hatinya penat,semua itu menguras tenaga nya.


To : Kedelai Hitam Pilihan


Ok


Sehun melempar ponselnya asal. Sehun terdiam beberapa saat sembari menutup matanya. Tak berapa lama, Sehun tertidur di soffa kingsize yang ada di mansion tersebut. Sungguh ini semua melelahkan. Biarlah tubuh tegap Sehun beristirahat sejenak dari semua pelik yang terjadi pada dirinya saat ini.


Beberapa jam kemudian,Sehun merasa ada yang risih di hidung nya sewaktu dia tidur. Dan akhirnya Sehun bersin karena tidak bisa menahan risih dari hidungnya. Terpaksa Sehun bangun dari tidurnya dan menggaruk hidung yang sejak tadi risih.


"YAK PARK SEHUN! INGUSMU KEMANA-MANA!"


Sehun tidak menggubris suara milik sahabatnya itu, tentu saja Kai. Siapa lagi sahabatnya yang kurang ajar selain si hitam itu?


"Salah sendiri kenapa kau menggelitiki hidungku dengan bulu burung itu"


Kai mencibir sembari mengambil tissue yang tersedia di meja dekat sofa. Membersihkan segala cairan ingus Sehun yang mengotori wajah dan jemarinya.


"Untung aku tidak memakai bulu burungku"cibir Kai


Sehun melotot besar ke arah Kai. Laki laki hitam itu memang sangat menyebalkan dan jahil. Sehun sebenarnya sangat kesal dengan tingkah Kai yang menganggu tidurnya. Namun ia teringat akan rencana mereka yang akan minum hari ini


"Hei. Kau jadi minum tidak?" Tanya Sehun


"Ah iya! Sebentar aku ambil di mobil dulu"


Sehun menahan tangan Kai yang hendak beranjak dari tempatnya.


"Udah suruh maid aja." Kata Sehun.


"Tolong ambilkan Soju di mobil saya ya. Ada beberapa,ambilkan semua. Tempatnya di kursi kemudi bagian depan" kata Kai memberikan kunci mobilnya


Maid yang diperintahkan menundukkan kepala guna memberikan hormat kepada mereka. Tak lama kemudian,mereka bertiga membawa tiga tas plastik sedang berisi botol Soju merk Chamisul. Soju terkenal di Korea Selatan.



"Ini tuan Muda"


"Terimakasih"


Sehun membuka sebotol soju yang diberikan Kai dan meminumnya langsung tanpa alat apapun.


"Astaga Park Sehun,aku baru saja ingin menuangkan nya ke dalam gelas"


"Biarlah. Biar rasa penatku langsung hilang setelah meminum langsung Soju ini"


"Mck. Bukan hanya penat yang hilang,nyawamu juga akan hilang jika meminum soju dengan cara begitu"


Oke. Sehun juga mempunyai hobi melototi Kai tentu saja.


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


Chanyeol sudah selesai dengan pekerjaannya hari ini. Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Arloji Chanyeol menunjukkan Pukul delapan Malam waktu Korea Setempat. Belum begitu larut,namun Chanyeol merasakan lapar melanda perutnya kini. Dia ingat,tadi siang dia melewatkan jam makan siangnya. Alhasil ini dia akibatnya,perutnya menjadi lapar


Seketika Chanyeol ingat,makanan di warung dekat Hanqueen itu sangat enak. Chanyeol jadi tambah lapar ketika mengingat citarasa dari makanan warung itu. Sungguh menggugah selera. Chanyeol tak ingin mengingat lebih banyak,segera ia beberes dan beranjak dari ruangan kantornya.


Tak butuh waktu lama,pria jangkung ini memarkirkan dengan baik limosin nya di parkiran warung itu. Ia memesan makanan yang sama dengan makanan yang kemarin Hanna pesan kepada pramusaji


"Baiklah Tuan,mohon tunggu sebentar. Tapi maaf Tuan kursi bawah telah penuh dipesan oleh orang lain untuk merayakan pesta Soju. Apakah anda bersedia duduk di lantai dua?"


"Ahh.ย  Iya tidak apa-apa"


"Baiklah Tuan,mohon tunggu sebentar"


Chanyeol menaiki tangga menuju lantai dua. Pelanggan dilantai dua ada beberapa orang tetapi tidak terlalu banyak. Mungkin karena warung ini sudah dipesan oleh orang lain sehingga pengunjung warung pada hari ini sedikit sepi. Lantai dua memiliki ventilasi yang lumayan terbuka. Mungkin karena ini lah tidak banyak yang suka suasana di lantai dua saat malam hari. Jika siang,suasana disini akan terlihat sangat estetik.


Chanyeol melihat punggung gadis yang sangat ia kenali. Siapa lagi kalau bukan Hanna? Bahkan Hanna sangat mudah dikenali dariย  belakangan. Chanyeol tersenyum,ia berencana mengageti Hanna dari belakang. Namun ia membatalkan rencana itu,karena punggung gadis itu terlihat bergetar. Chanyeol mendekati Hanna dengan perlahan.


"Hiks.." isakan kecil terdengar dari mulut gadis itu


Chanyeol mengerutkan kening lalu langsung duduk didepan Hanna.


"HANNA?"


Hanna sontak terkejut atas kedatangan Chanyeol dihadapannya. Ia langsung saja mengahapus air mata yang masih mengalir dari pipi gadis itu. Lalu tersenyum kepada Chanyeol


"Bagaimana kau bisa disini?" Tanya Chanyeol


"Kau mengenali ku ya? Padahal aku sudah mengenakan pakaian lain supaya jika ada orang yang aku kenal seperti teman tidak mengenali ku"


Chanyeol mengerutkan kening


"Ahh iyaa,aku tidak begitu memiliki banyak teman"


"Hanna... Apa kau ingat kita sudah bersahabat?" Tanya Chanyeol


"Tentu" jawab hanna tersenyum


"Kau tidak perlu menutupi apapun dariku"


Hanna tersenyum. Berusaha tetap tersenyum. Tapi semua berbanding terbalik dengan hatinya. Ia tetap tidak bisa menyembunyikan itu. Semua itu terasa sangat sakit sampai-sampai Hanna tidak bisa sedikitpun menutupinya. Ia kembali mengeluarkan air matanya dihadapan Chanyeol. Menebalkan wajahnya tidak peduli seperti apa malunya dia menangis di hadapan Chanyeol



Chanyeol memegang pundak Hanna. Gadis itu nampak terlihat rapuh,sedih, kecewa,marah namun ia tidak bisa berbuat apa-apa. Chanyeol baru pertama kali melihat Hanna seperti ini. Ya walaupun Hanna dan ia belum lama mengenal. Setahu Chanyeol,ia gadis yang kuat.


"Kau tidak perlu bercerita,aku yakin kau masih tidak ingin"


"Chanyeol.." kata Hanna di sela tangisannya


"Hmm?"


"Aku ingin meminjam bahumu sebentar,bolehkah?"


Chanyeol sedikit terkejut,namun ia mengangguk. Mempersilahkan Hanna bersandar padanya. Ia beralih duduk disamping Hanna membiarkan Hanna meminjam bahu tegapnya. Chanyeol hanya berniat membantu Hanna sebagai sahabatnya,tidak lebih. Ia juga tahu,ia harus benar-benar menjaga calon adik ipar nya ini. Bagaimana pun,gadis ini adalah masa depan adiknya. Apapun yang berhubungan dengan adiknya,Chanyeol harus menjaganya dan harus merawatnya sebaik mungkin. Ia tidak ingin Sehun kecewa.


Pramusaji datang membawakan makanan Chanyeol dengan nampannya. Chanyeol melihatnya sedikit memberikan senyuman


"Tolong bungkus saja ya. Adik saya sedang tidur" kata Chanyeol pelan menunjuk Hanna yang tertidur dibahunya


"Ooo jadi Nona ini adik anda? Dia sudah sejak tadi pukul enam kemari Tuan. Dia nampak sangat sedih. Seperti orang patah hati" jawab pramusaji tadi sedikit tersenyum lalu meninggalkan Chanyeol untuk membungkus makanan Chanyeol.


Patah hati katanya tadi? Mungkinkah itu semua karena Sehun? Tapi tidak mungkin,bagaimana bisa patah hati sedangkan mereka belum begitu kenal? Yang harus Chanyeol pikirkan, bagaimana sekarang ia membawa Hanna ke dalam mobilnya?


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


Mau tidak mau Chanyeol menggendong Hanna ke mobilnya. Ia tidak tahu harus kemana,ke mansion pun tidak mungkin. Jelas sekali ada Sehun disana. Bisa-bisa semakin rumit masalah nya. Ahh! Chanyeol punya kartu nama Hanna,disana ada nomor telepon salonnya.


"Selamat Malam. Dengan Salon Hanqueen,ada yang bisa saya bantu?"


"Malam. Saya Park Chanyeol. Dengan siapa saya bicara?"


"Saya Yeo Jin Goo. Manager Hanqueen. Ada keperluan apa Tuan kalau boleh saya tahu?"


"Saya sahabat Nona Lee . Jadi ceritanya panjang. Singkatnya,Nona Lee bersama saya dia tertidur di mobil saya. Bisakah anda membantu saya? Jujur saya tidak tahu rumah Nona Lee"


"Tertidur?!"


"Ahh maaf tuan. Pasalnya Nona Lee tidak pernah memiliki sahabat sampai tertidur di mobilnya."


"Iyaa saya paham. Tenang saja,dia aman masih utuh"


"Begini saja tuan,anda ke HanQueen saja. Disini ada ruangan Nona Lee. Biar Nona Lee beristirahat disini saja,saya juga tidak tahu password apartemen dari Nona Lee"


"Baiklah. Lima menit saya sampai. Terimakasih Tuan Yeo".


"Sama-sama Tuan"


Akhirnya Chanyeol mengemudikan limosin nya menuju HanQueen. Ia tidak ingat akan rasa laparnya, kini ia fokus terhadap gadis disampingnya. Calon adik iparnya. Ia tidak boleh membuat gadis itu terluka.


Tak butuh waktu lama,Chanyeol telah sampai dan disambut oleh Yeo Jin Goo yang tersenyum kepadanya. Chanyeol tersenyum membalas senyuman Jin Goo.


"Apa salon sudah sepi?" Tanya Chanyeol


"Sudah Tuan,hanya ada beberapa karyawan saja. Salon sudah tutup pukul tujuh tadi"


"Apa perlu saya bangunkan Nona Lee?"


"Tidak Tuan Yeo. Saya... Emm saya gendong saja,kau bisa antar? Supaya tidak ada kesalahpahaman"


Yeo Jin Goo sedikit terkejut,namun apa boleh buat? Pria dihadapan nya ini juga bukan pria brengsek. Terbukti sajangnim nya masih utuh tidak tampak lusuh,dan juga ia tidak ingin ada masalah yang tidak pantas antara dirinya dan Sajnagnim nya


"Tentu. Mari Tuan" jawab Jin Goo


Chanyeol menggendong Hanna dengan bridalstyle tanpa membuat Hanna bangun. Bersusah payah ia melakukan nya dengn hati-hati supaya Hanna tidak terbangun. Diantarnya Hanna sampai keruangannya tak lupa ia mengajak Jin Goo. Memposisikan nya di ranjang besar yang ada pada ruangannya. Hanna tertidur pulas, matanya sedikit sembab karena tangisannya tadi.


"Tuan Yeo,apa tidak apa-apa jika kita meninggalkan nya?"


"Tenang saja Tuan,saya sudah memerintah Bu Choi untuk menjaganya"


"Ahh. Baiklah. Terimakasih atas bantuannya ya Tuan Yeo.ย  Saya pamit dulu"


"Saya juga berterima kasih kepada anda Tuan Park,telah menjaga Sajangnim"


Chanyeol tersenyum menepuk pundak JinGoo lalu berpamitan pulang. Semakin langkah Chanyeol menjauh,Jin Goo masih tetap memandangnya dari belakang. Jin Goo sungguh berharap,bahwa Nona Lee akan mendapatkan jodoh sebaik dan seramah Chanyeol. Bahkan jika itu Chanyeol,Jin Goo sangat berterimakasih. Dia sangat menyukai kesantunan dari Chanyeol. Padahal dia adalah seorang CEO yang sangat terkenal,wanita bukanlah hal yang sulit baginya. Tapi ini,dia terlihat sangat menghormati wanita. Dia ramah dan juga baik. Semoga keinginannya didengar semua oleh tuhan.


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


to be continued....