Broken Mind Eric's Diary

Broken Mind Eric's Diary
January 5th



Semakin hari, setiap hari orang bernama Haru itu terlihat familiar di mataku.


Hoonie~


Semakin sering aku melihatnya, aku jadi semakin merindukanmu. Bagaimana bisa ada orang yang semirip itu dengan mu Hoonie.


Apa kau sengaja mengirmnya padaku, agar aku tak merasa kesepian. Kau tahu kan, tidak ada yang bisa menggantikanmu dari hidup ku.


Tapi Haru seolah benar-benar dikirim untuk ku.


Hari ini aku bersikap kasar padanya. Aku tidak tahu pasti kenapa aku melakukannya, yang jelas dia sangat sakit hati dengan ucapanku.


"Haru, bisakah kau berhenti?"


"Berhenti, apa maksudmu Eric?"


"Berhenti seolah-olah kau itu Younghoon!"


Haru mengerutkan alisnya, sangat terlihat jelas dia terganggu dengan perkataan ku itu.


Mungkin saja dia memang mempunyai sifat yang sama persis denganmu, tapi akulah yang tak bisa menerimanya.


Menerima perlakuannya yang sangat baik, perhatian dan lembut seperti mu.


"Eric, apa kau tidak mau aku di sini. Kau terganggu dengan kehadiranku?"


Aku hanya bisa diam saat dia bertanya seperti itu. Aku terlalu bingung harus menjawab pertanyaannya seperti apa.


Sikapnya yang sangat baik padaku, seolah selama beberapa hari ini kau berada di sini, seolah dia sedang berusaha menggantikanmu, dan aku tidak nyaman dengan itu.


Tapi di sisi lain, aku tak ingin dia pergi.


"Baiklah, karena kau diam aku anggap jawabannya iya. Aku hanya ingin berteman. Tapi jika kau merasa tidak nyaman dengan kehadiranku, aku tidak akan kembali untuk menemuimu lagi."


Kata-kata Haru seperti paku berkarat yang sengaja ditancapkan ke dadaku, dan dipalu dengan perlahan. Sangat sakit.


Kami baru saja saling mengenal, tapi entah kenapa rasanya kami sudah lama berteman. Lalu dia pergi sambil mengatakan tidak akan kembali, menurut ku itu menyakitkan.


Haru jangan pergi. Aku senang berteman dengan mu, tapi aku hanya tidak ingin kau datang untuk menggantikan Hoonie.


Ingin sekali aku mengatakannya, tapi mulutku rasanya terkunci.


Aku hanya bisa melihat punggungnya, yang berlalu begitu saja.


Rasa sesal terus menghantuiku. Seandainya aku mencegahnya pergi lalu mengatakan isi kepalaku. Tapi semua terlambat, Haru tidak akan kembali.


Dengan kondisi kakiku yang masih terasa ngilu, aku malah memaksakan diri pergi ke bar dengan minibus merah kesayangan ku.


Berharap alkohol bisa menenangkan pikiran, dan menghapus rasa sesal ku. Aku teguk beberapa gelas, namun lubang di dada ini malah semakin membesar.


Sakit karena merindukanmu, sakit karena ditinggal orang yang mirip dengan mu. Dua lubang di dadaku kini menjadi satu, dan membesar.


Kepalaku semakin lama semakin terasa berat, telingaku mulai berdengung.


Sebelum kehilangan kesadaran, aku sempat melihat tangan yang membopongku keluar dari bar. Jemarinya sangat familiar dengan cincin hitam yang melingkar di jari telunjuknya.


Juyeon?


Aku berharap demikian. Jika orang yang membawaku pergi ini adalah Juyeon, maka aku akan tidur dengan lepas setelah mabuk.


Keesokan paginya aku terbangun di sebuah kamar yang asing dengan aksen retro yang hangat.


"Kau sudah bangun?"


"Syukurlah kau tidak demam."


Dia tersenyum.


"Juyeon, kaki ku sakit sekali."


Aku merengek pada orang yang sudah menjagaku semalaman. Kaki ku semakin membengkak akibat memaksakan diri mengendarai mobil sendirian.


Tak lama seseorang masuk ke kamar itu.


"Haru?"


"Ini rumah Haru. Aku tidak mungkin membawamu ke rumah Younghoon dalam keadaan mabuk. Aku takut kak Jihye marah besar."


Juyeon berusaha menjelaskan keadaan semalam. Dia juga tidak bisa membawaku ke rumahnya di jam 3 pagi.


Hanya rumah Haru yang bisa menampung orang mabuk sepertiku.


"Tapi kenapa ke sini?"


Aku masih saja mencari jawaban, padahal Juyeon sudah menjelaskannya panjang lebar.


Ternyata Haru lah yang semalaman mencari keberadaan ku, dia meminta bantuan Juyeon sampai akhirnya menemukan ku dalam keadaan terkapar, seperti paus terdampar di sebuah bar.


Juyeon dan Haru membawaku ke klinik untuk mengobati kaki bengkak ku ini. Penuh drama dan teriakan yang berakhir dengan pemasangan gipsum.


"Eric aku sangat sibuk, ada saudara di rumahku. Minggu depan, aku juga sudah harus kembali kuliah."


Aku hanya bisa menunduk dan diam. Sekarang rasanya perhatian Juyeon sangat kurang padaku. Dia sibuk dengan dunianya, dan lupa pada sahabat kecilnya yang butuh perhatian ini.


"Tidak apa-apa Juyeon, aku yang akan menjaga Eric."


Begitu kata Haru di depan Juyeon.


Aku sempat kaget, karena sehari sebelumnya dia bilang tidak akan kembali menemuiku. Tapi ucapannya tak sesuai dengan tindakannya, dia mencariku, dia merawatku dan menemuiku lagi.


Setelah sampai di rumahmu, Juyeon benar-benar pergi. Aku tidak bisa percaya, dia meninggalkanku bersama Haru lagi.


"Kau terlihat kesal. Tapi maaf aku tidak jadi pergi, aku harus merawatmu sampai sembuh."


Senyum Haru yang manis kembali membuatku kesal.


"Gara-gara ada kau, Juyeon jadi kurang memperhatikan ku."


"Salahkan saja aku. Jika itu memang bisa membuatku lega."


"Bukan itu maksudku!"


"Lalu apa. Sudah jelas kan, Juyeon mempercayakan mu padaku. Tapi kau malah menyalakan ku?"


Kali ini perasaan ku campur aduk, antara senang dia kembali tapi kesal karena Juyeon tak menemaniku karena sudah ada Haru.


Aku benar-benar bingung Hoonie...


Sebenarnya kenapa harus Haru orangnya. Dia selalu hadir disetiap aku membutuhkan seseorang, seolah dikirim untuk menggantikanmu.


.


.


...----------------...