Broken Mind Eric's Diary

Broken Mind Eric's Diary
December 25th



...


Satu bulan lebih telah berlalu...


Aku masih terpuruk saja tanpamu.


Senyum tipis mungkin mulai terlihat di garis wajahku, namun saat di kesendirian rasa itu kembali menarik ku kedalam dunia yang sunyi.


Minggu lalu, ujian semester ku telah rampung. Aku memutuskan untuk berlibur di rumahmu, walaupun sendirian, setidaknya tidur di dalam kamar mu bisa mengobati rasa rinduku.


Selimut yang hangat, dan wangi rambut mu yang menempel di bantal ternyata membuatku bisa tidur dengan nyenyak.


Tapi aku tak mungkin terus memeluk bantal seharian, hanya karena baunya bisa membuatku nyaman. Aku harus keluar walaupun untuk beberapa menit tanpa bantal.


"Simpan bantal itu, lalu sirami tanaman di depan rumah!"


Kak Jihye juga sudah tak tahan, melihatku terus bergelut mendekap bantal mu ini.


Akhirnya aku menurut dan menyiramkan tanaman untuknya.


"Eric!"


Suara yang memanggil namaku itu, membuyarkan segala lamunanku tentang mu.


Itu adalah Haknyeon si pembuat onar, dia tau aku ada di sini lalu sengaja menghampiriku.


"Apa?" Sahut ku ketus tanpa melepaskan tatapanku, dari tanaman aglonema suksom yang indah.


Haknyeon mengajakku pergi ke clubs malam, awalnya aku menolak tapi akhirnya pergi juga.


Ternyata benar, minuman keras bisa mengalihkan pikiranku apalagi saat mabuk rasanya seolah dibawa terbang hingga langit ke tujuh. Sangat menyenangkan.


Malam itu aku pulang dini hari, kak Jihye terkantuk-kantuk menungguku didepan pintu.


Antara sadar dan tidak, aku duduk bersimpuh di lututnya lalu meminta maaf karena membuatnya menunggu.


Masih terasa panas, saat itu juga kak Jihye menyeret ku ke kamar sambil menjewer telingaku sampai memerah. Aku juga mendengarnya mengoceh menceramahiku, tapi keesokan paginya aku tak ingat apa yang dia katakan.


Siang ini Hyunjae datang, dia seperti buru-buru dan mencari sesuatu.


"Kau mencari apa, dan mau kemana?"


Tanyaku, dengan mata setengah terbuka. Kepalaku juga masih pengar dan berat.


"Semalam kau mabuk?", dia mengendus napas ku yang masih menyisakan aroma wiski yang khas.


"Sudah kubilang, berhenti minum minuman keras!", Hyunjae mengoceh sambil terus mencari sesuatu.


"Aku tak punya cara lain, aku harus mengalihkan pikiran ku dari Hoonie." Rengek ku pada Hyunjae.


Tangannya yang sedang sibuk itu tiba-tiba berhenti, lalu dia menoleh ke arah ku.


Hyunjae terlihat khawatir, karena ini bukan pertama kalinya aku mabuk setelah ditinggal dirimu.


Lalu dia pamit pergi ke suatu tempat. Lagi-lagi aku merengek padanya, dan ingin ikut bersamanya.


Hyunjae sempat menolak ku karena kondisi ku yang belum fit, tapi akhirnya dia mengalah saat aku pura-pura menangis.


Kami menuju lapangan sepak bola, rumput yang hijau dan stadion luas itu mengingatkan pada masa kecilku di LA. Rindu kampung halaman.


Untuk kesekian kalinya, aku merengek lagi pada Hyunjae dan memaksanya agar mengizinkan ku ikut serta bermain sepak bola di lapangan.


Berkaki-kali dia memperingatkan ku, dan akhirnya aku kena batunya. Saat lawan berusaha merebut bola dari ku, keseimbangan ku terganggu lalu terjatuh dengan satu kaki sebagai penahannya.


Tulang kaki ku terkilir, dan saat itu juga aku mengerang kesakitan. Hyunjae hanya bisa memarahiku, tanpa tau betapa ngilu nya saat kucoba menapakkan kaki ke tanah.


Dia membawaku ke tempat pengobatan alternatif, untuk membenarkan posisi tulang kaki ku yang bergeser ke atas. Saaangat sakit, saat jemari itu mengurut tulang ku ke posisi awalnya.


Hyunjae tak sanggup menemaniku di sana, dia juga harus pergi karena bos di tempat kerja part time-nya mendadak menelpon.


Belum sampai di situ, penderitaan ku masih berlanjut ketika pulang ke rumah. Kak Jihye kembali menyambut ku dengan omelan nya yang pedas.


Tapi pada akhirnya dia tertawa saat melihatku mencoba berjalan. Seperti kangguru katanya.


Akhirnya kamar ku pindah ke lantai satu, karena tak sanggup menaiki tangga menuju kamar mu lagi di lantai dua.


Kak Jihye membawakan ku bantal dan selimut milik mu, agar aku bisa tidur nyenyak di kamar Kak Bomin yang seluas lapangan tenis ini.


Walaupun kaki ku berdenyut ngilu, asalkan ada bantal mu aku bisa tidur nyenyak malam ini.


.


.


...----------------...