
...
Hari mulai gelap.
Besok sudah mau berganti tahun saja.
Aku hanya duduk termenung, sambil meratapi nasib kaki ku yang berharga ini. Tahun lalu, aku masih bisa merayakan malam tahun baru di London. Sekarang untuk pergi ke kamar kecil saja kesulitan. Ah... nasib sungguh nasib.
Walaupun begitu, asal ada Juyeon dan Hyunjae saja sudah cukup bagiku.
"Apa yang kau lakukan seharian ini. Masih memeluk bantalnya Younghoon?".
Hyunjae dengan mulut ngengatnya itu selalu berhasil membuat moodku tersengat. Wajahnya yang dingin membuatnya terlihat tidak ramah, padahal dia adalah orang yang sangat perhatian.
Juyeon hanya bisa mentertawakan ku. Dia seolah berkata, "Eric, kapan kau berhenti membuat masalah?"
Hoonie~
Mereka berdua sangat jahat, bukan. Semua akan lebih mudah jika kau ada di sini. Kau selalu menjadi tameng dan jubah jirahku saat mereka berdua menindas ku. Hehe.
Aku memberitahu mereka, tentang kedatangan orang yang bernama Haruto. Caraku bicara sangat bersemangat, namun Juyeon dan Hyunjae malah memberikan reaksi yang tak ingin kulihat.
Apa ini, apa mereka sudah tahu soal Haru.
"Jadi hanya aku, yang tidak tahu?"
"Bukan hanya Younghoon, aku juga lumayan sangat dekat dengan Haruto. Kami home schooling bersama di sini. Kalau saja dia juga ikut masuk SMP di luar kota, mungkin kami akan bersahabat sampai sekarang. Seperti kalian berdua."
"Jadi kalian kembali bertemu, saat masuk SMA?"
Andai kau mengetahuinya Hoonie, penjelasan Hyunjae yang panjang lebar itu membuatku semakin iri pada Haruto.
Namun aku masih saja tidak tahu diri, dan merasa akulah satu-satunya yang menjadi pemenang di antara mereka.
Untuk pertama kalinya sejak kau pergi, aku sangat bersemangat saat bercerita. Dan aku yakin, Hyunjae dan Juyeon juga melihat perubahanku saat ini. Itu semua berkat kedatangan anak ini.
Untuk itu, mereka berdua memintaku agar memastikan Haru kembali lagi ke sini nanti malam. Tapi bagaimana caranya, kami bahkan belum sempat bertukar nomor ponsel.
Satu-satunya media yang bisa mengubunginya hanya ruang obrolan di game tadi. Sungguh merepotkan.
Beberapa jam kemudian, Haru benar-benar datang sambil membawakan ku Dakkochi. Dia bahkan membelinya dua porsi. Sangat berlebihan, padahal sudah kubilang tidak perlu.
Selain datang memenuhi persyaratan dariku, dia juga menerima ajakan Hyunjae untuk menghabiskan malam tahun baru bersama kami.
Yang tadinya nyaman, aku jadi sedikit cemburu pada Haru. Hanya karena kau lebih dulu mengenalnya, dibandingkan dengan ku yang bertemu beberapa tahun lalu.
Mungkin aku kekanak-kanakan, tapi entah kenapa rasanya tidak rela saja. Mungkin ada sesuatu yang belum aku ketahui, tentang kedekatan kalian di masalalu.
"Kau mau ke rooftop?"
Pertanyaannya dengan nada yang sopan, membuatku kembali teringat padamu.
Saat ini kami hanya berdua di ruang tengah, sedangkan Hyunjae dan Juyeon memanggang jagung dan BBQ di lantai atas.
Aku melihat ke luar jendela, di luar sana pasti sangat dingin apalagi di rooftop yang letaknya di lantai tiga.
Namun, tiba-tiba sebuah tangan terbuka ke hadapanku, seolah menungguku untuk menyambut dan menggapainya.
"Kalau kau mau, aku akan memapahmu sampai ke rooftop."
Begitu ajaknya.
Alih-alih menggapai tangannya, aku lebih memilih mengalungkan lenganku di bahunya. Itu akan lebih nyaman saat membantuku melangkah.
Dia bukan hanya memapahku saat menaiki tangga, namun dia juga benar-benar menjaga tubuhku agar tak kehilangan keseimbangan.
Dan untuk pertama kalinya, aku berpisah dengan bantalmu Hoonie.
Dengan perjuangan yang melelahkan, akhirnya kami sampai di lantai tiga, tepatnya di rooftop. Kedua sejoli Hyunjae dan Juyeon sibuk dengan keahlian mereka masing-masing. Yang satu sedang membolak-balikan jagung bakar di atas perapian, dan yang satu sedang membumbui BBQ. Dengan mencium aroma makanan saja aku jadi lapar.
Aku hanya duduk di atas bean-bag yang empuk, sambil membuka bungkusan mencurigakan di dalam kantong plastik.
"Sial, apa ini?"
Aku membuka bungkusan itu dan menarik sesuatu dari dalamnya keluar. Sebuah kembang api yang siap untuk dinyalakan.
"Kalian gila, ini benda yang diharamkan kak Jihye!"
Aku pukulkan benda itu ke arah kaki Juyeon yang tak jauh berdiri di dekatku. Aku juga mengacungkannya ke arah Hyunjae.
"Hyunjae bilang, hanya menonton saja tidak akan seru. Akan lebih meriah jika kita juga ikut menyalakan kembang api."
"Aku hanya berkata seperti itu. Aku tidak menyuruh mu membelinya!"
Seperti biasa, kedua makhluk astral itu hanya bisa saling menyalahkan.
Bagaimana tidak, benda yang meletus saat ditembakkan ke langit ini diharamkan oleh kak Jihye. Benda ini menjadi salah satu alasan, yang membuatmu tersiksa di awal tahun baru sebelumnya.
Tahun ini aku merasakannya sendiri, bagaimana kau tidak bisa berjalan dengan menggunakan kedua kakimu itu. Itu pasti akan menjadi kenangan buruk, yang pernah kau alami.
Haaahh....
Tapi karena hanya terkilir, aku harap minggu depan kaki kiriku ini sudah bisa digunakan untuk berjalan. Dan aku bisa berlari lagi di lapangan hijau. Hehe.
Semakin lama aku berdiam diri di luar, angin yang berhembus malah terasa semakin menusuk ke dalam tulang. Kau tahu kan, kalau aku paling tidak tahan dengan udara dingin. Rasanya ingin kembali ke kamar dan tidur di bawah selimut mu.
Tunggu! Dimana aku meninggalkan bantalmu ya?
Aku baru ingat, aku menyimpan bantalmu di atas sofa di ruang tengah, itu jauh sekali jika harus mengambilnya kemari. Bisa-bisanya aku meninggalkan benda keramat itu, di sembarang tempat.
Rasanya aku akan dimarahi, jika meminta bantuan pada salah satu makhluk astral, yang sedang sibuk menyiapkan hidangan wajib malam tahun baru ini.
Haru sedang asik mengobrol dengan Hyunjae di ujung sana, hanya dia yang bisa kumintai tolong. Tapi sepertinya, aku tidak boleh terlihat manja di depan orang yang baru kukenal itu.
Untuk menghindari semua kekhawatiran itu, akhirnya aku memutuskan untuk berjuang sendirian, menuruni setiap anak tangga dengan satu kaki ku ini. Ini semua demi menjemput bantal keramat mu Hoonie.
Belum sampai di ruang tengah, kaki ku sudah mulai terasa ngilu. Tinggal beberapa anak tangga lagi, langkahku sampai di lantai dua. Aku tidak sanggup lagi jika harus melopat satu lantai ke ruang tengah.
Yang bisa kulakukan saat ini, hanya duduk di sofa sambil mengatur napas. Tak lupa aku juga memijat kaki kananku, dia sudah bekerja keras menahan beban tubuhku sendirian.
Selain itu, sesekali aku juga bertukar chat dengan seorang teman di ruang mengobrol di sebuah game. Kami belum pernah bertemu, tapi aku yakin dia akan langsung mengenaliku saat kami bertemu suatu saat nanti. Itu karena aku kebalikan darimu, berisik dan sangat aktif.
"Kenapa kau di sini?"
Suara Haru yang tiba-tiba datang, membuat jantungku hampir melompat keluar. Sialnya dia menahan tawa saat tahu, kalah aku kaget setengah mati.
"Kenapa kau tidak bilang padaku, kalau mau turun?"
"Aku tidak kuat, di luar dingin sekali."
Mana mungkin aku berterus-terang karena ingin mengambil bantalmu. Iya kan Hoonie.
"Tapi kau bisa minta tolong padaku, kan. Kau tidak enak karena aku sedang mengobrol dengan Hyunjae? Kami tidak seserius itu kok, jadi lain kali panggil saja aku!"
Hah?
Aku sempat membeku untuk sepersekian detik. Bagaimana bisa, orang yang baru kutemui tadi siang memberikan perhatian yang selalu kau berikan kepadaku.
Apa sekarang ini, aku telah menemukan dirimu dari diri orang lain?
Ya... kenapa tidak, setiap melihatnya aku selalu melihat sosokmu dalam dirinya. Apa kau sedang berusaha mempertemukan kami, karena dia mirip dengan mu?
Apa kau sedang berusaha menghibur ku lewat orang ini?
Tiba-tiba suara kembang api dari arah rooftop, mulai ditembakan ke langit di atas sana. Entah jantungku ini mulai melemah, atau pikiranku yang sedang kacau, rasanya akhir-akhir ini aku sering mengalami jump scare.
"Dasar Hyunjae-Juyeon sialan!!"
Aku hanya bisa mengumpat tanpa peduli siapa yang ada di hadapanku saat ini. Yang jelas dia mentertawakan reaksiku saat ini.
Letusan kembang api mulai bersahutan di mana-mana. Itu artinya hari ini sudah masuk tanggal satu, bulan ke-satu di awal tahun baru.
"Selamat tahun baru Eric."
Ini pertama kalinya dalam hidupku, menghabiskan detik-detik pergantian tahun baru bersama orang asing. Selain itu, aku juga menerima ucapan selamat tahun baru darinya secara pribadi.
Mungkin kau berpikir, itu akan menjadi kenangan?
Tidak Hoonie. Bagiku tidak akan ada lagi momen yang harus kukenang tanpa adanya dirimu di dalamnya. Ditambah karena saat ini, aku merasa sebal pada Hyunjae dan Juyeon. Bisa-bisanya mereka menyalakan kembang api di atas rumah ini.
Selang beberapa waktu, akhirnya kedua makhluk astral itu turun ke lantai dua, sambil membawa hidangan yang tadi mereka siapkan.
Ingin sekali aku mengumpat pada mereka, tapi semua itu sirna saat melihat kedua wajah mereka yang tertawa lepas dan bahagia.
Tawa itu, sudah lama aku tak melihatnya sejak kepergianmu. Bisa dibilang ini adalah awal yang baru untuk kami. Memulai kehidupan baru tanpamu.
Sorot mata Hyunjae saat menantapku, sudah menggambarkan segalanya. Selama ini dia yang paling terluka dan kehilangan, tapi aku yakin dia akan berusaha melupakan kepedihan di tahun lalu. Tanpa melupakan kenangannya sedikitpun.
Bantal Hoonie akhirnya kembali ke pelukanku. Juyeon memang paling pengertian dan membawakannya untuk ku.
Sebenarnya dia turun ke lantai satu hanya untuk membawa alat makan di dapur, tapi karena melihat bantalmu yang biasa kupeluk, dia sekalian membawakannya ke lantai dua.
Malam itupun kami makan bersama.
Posisi tempat duduk kita tidak pernah berubah sejak dulu. Walaupun pemiliknya sudah tidak ada, tapi posisi di sebelah kananku selalu dikosongkan. Sekarang aku mengisinya dengan bantal, hehe.
Di sebelah kiriku duduk seorang pria atletis yang sering meledekku, siapa lagi kalau bukan Juyeon si jail. Di sebelahnya duduk seorang pria jangkung, yang pandai menyayat hati orang dengan mulut beracunnya itu. Itulah Hyunjae si julid.
Dan di sebelahnya, kini duduk seorang pria yang tampan dengan muka putihnya sepucat vampir. Haruto, untuk sementara ini aku menyebutnya duplikat karena sikapnya sangat mirip denganmu.
Setelah semua makanan kami habiskan bersama, dan sisa piring kotornya juga sedang dibersihkan oleh Juyeon dan Haru di dapur.
Hyunjae duduk mendekat ke arahku.
"Bagaimana menurut mu. Sikapnya bukankah sangat mirip dengan Younghoon kita?"
Aku hanya mengangguk menjawab pertanyaan Hyunjae. Matanya berkaca-kaca seolah siap untuk meneteskan air matanya keluar.
"Haruto bilang padaku, dia datang bukan untuk menggantikan posisi mendiang. Jadi kita tidak perlu repot-repot berusaha menerimanya. Aku merasa jahat saat mendengar kata-katanya itu. Padahal dia punya tempat khusus di kehidupan Younghoon."
Air mata Hyunjae akhirnya menetes juga. Aku berusaha mengusap pipinya yang basah itu, namun dia buru-buru menyekanya sendiri.
"Dia datang ke sini untuk mu."
"Kenapa aku?"
Hyunjae tidak menjawab, dia hanya memberikan senyumannya yang mahal itu padaku.
Aku tidak mengerti, dengan apa yang baru saja dia katakan. Yang jelas, aku tidak akan sedekat itu dengan Haru hanya karena dia mirip dengan mu Hoonie.
Hyunjae buru-buru pergi untuk menyiapkan tempat tidur untuk kami, entah untuk bersembunyi agar tidak ada seorangpun yang bisa melihatnya menangis.
Di tengah malampun, saat kami tertidur Hyunjae menangis sesegukan. Aku terbangun karena mendengar suaranya. Saat aku membuka mata, ada Juyeon di sisinya yang berusaha menenangkan Hyunjae.
Aku tahu ini sangat berat untuknya, ini adalah tahun pertama Hyunjae tanpa kehadiran mu. Tahun lalu dia juga seperti ini saat kau pergi ke London, tapi kali ini berbeda. Pasti sakit dan perih seolah ada anak panah yang menancap di dadanya. Sekalipun anak panah itu dicabut, pasti akan ada lubang yang membekas dan sangat sulit untuk dihilangkan.
Kepergian mu memang sangat berat untuk kami. Adakalanya kami tenang, tapi ada kalanya juga kami merasa rindu akan kehadiranmu.
Mungkin ini yang membuat kami sulit menerima kepergian mu, karena hampir setiap hari kau mengisi hari-hari kami dengan kenangan.
Sekalipun jarak kita berjauhan, kau selalu menyempatkan diri untuk sekedar memberi kabar atau mengirim kata-kata ajaib sebagai penyemangat.
*Hoonie~
Kami sedang merindukanmu*.
.
.
...----------------...