
...
Hari ini, hari ke-6 aku harus berjalan dengan satu kaki.
Duduk termenung menatap foto Hoonie membuatku semakin gila, dan tak bisa muncul ke permukaan.
Hoonie~
Aku mencoba mengalihkan perhatianku darimu, tapi inilah yang terjadi.
Setelah langkah pertamaku ke luar dari kegelapan, kaki kiri ku harus merasakan cedera yang membuatku kini kembali terkurung dalam palung gelap.
Di saat seperti ini, lagi-lagi bantal mu yang bisa ku peluk di dada.
Mungkin aku terlalu memaksakan diri ke luar dari kegelapan ini, tapi mungkin rasa rinduku akan terobati jika melihat dirimu dalam versi lain.
Avatar dari salah satu game yang sering kita mainkan juga terdiam karena pemiliknya tak lagi login untuk memainkannya.
Aku tersenyum saat melihat avatar mu melambaikan tangannya, dia seolah digerakkan dan sedang menyapaku.
Tunggu!....dia bergerak?
Aku cek kembali beberapa kali, sempat tak percaya tapi memang tak salah lagi. Ada yang login di akun mu.
Kami saling bertukar chat di ruang obrolan, aku tau itu bukan dirimu. Beberapa kali aku mengancamnya agar berterus-terang. Namun dia sangat jahil dan terus mempermainkan ku.
Sebelum memberitahukan identitasnya, dia memberiku petunjuk yang mengarah ke pada satu orang yaitu Wooseok. Tapi setelah aku menelpon Wooseok untuk memastikan, ternyata bukan dia.
Lalu siapa?
Tiba-tiba jantungku berdegup kencang tak seperti biasanya, karena Hyunjae dan Juyeon sedang pergi belanja keperluan untuk menyambut tahun baru, dan mereka takan sempat login di game ini.
Cara dia memanggilku, dan caranya mengetik setiap kata di ruang obrolan itu persis seperti mu Hoonie.
Entah dari mana dia dapat informasi kalau kaki ku sedang sakit, kali ini perhatiannya yang membuatku ketakutan. Dia sangat mirip dengan mu. Aku takut akal sehatku hilang, karena berharap itu dirimu.
"Kau membuatku hampir menangis, karena mengingatkanku pada Hoonie-ku. Siapa dirimu sebenarnya?"
Aku tulis seperti itu, agar dia bisa membacanya.
Namun hampir 30 menit berlalu dia tak membalas chat-ku lagi. Ah kupikir ini hanya halusinasi, karena avatar nya juga berhenti bergerak.
Aku mulai menenggelamkan wajahku di bantal mu, mataku terpejam untuk beberapa saat.
Mungkin sekitar 15 menit aku berhasil tertidur, tiba-tiba mataku menjadi segar dan segera kembali menatap layar ponsel yang masih berada di bandara game.
Kali ini kubulatkan mata lebar-lebar, chat yang tadinya kupikir takan ada balasan ternyata sudah muncul saja di layar.
"Aku Haru, kau pernah mendengar namaku?"
Haru?
Aku buru-buru membalas chat-nya, karena kulihat dia mengirim beberapa menit yang lalu, mungkin saja masih online.
Aku tak yakin dengan nama Haru, seperti pernah mendengarnya di satu tempat. Namun jika aku melihat wajahnya secara langsung, mungkin aku bisa mengenalinya.
Belum rampung aku mengetik, sebuah chat kembali dia kirim padaku.
"Kau mau, aku menjenguk mu ke sana?"
Seketika, kalimat yang sedang kuketik tadi kuhapus begitu saja. Kali ini aku bingung harus membalasnya seperti apa.
Tapi seperti yang kau tau Hoonie, rasa penasaran ku tak berkurang sedikitpun, aku mengiyakan tawarannya agar dia datang memperlihatkan sosok aslinya di hadapanku.
Sambil menunggunya datang, aku bertanya pada kak Jihye soal orang yang bernama Haru ini. Kak Jihye bilang dia mengenali orang ini, karena dia sering datang menemui mu sebelum kau pergi ke London.
Aku jadi semakin penasaran dengan orang ini, sedekat apa hubungannya dengan mu, sampai dia tahu kalau aku sangat menyukaimu Hoonie.
Aku menunggu kedatangannya, sambil terus berada di beranda game tadi. Aku memang menunggu chat darinya karena dia tak memberitahukan nomor ponsel yang bisa ku hubungi.
Selang beberapa menit, terdengar notifikasi chat dari aplikasi game tadi. Aku buru-buru menggapai ponsel yang ku simpan di meja.
Aku tahu, kak Jihye kaget saat melihatku begitu antusias menyambut chat tersebut. Namun aku hanya bisa nyengir sambil menenggelamkan setengah wajahku di bantal.
Kak Jihye hanya menggelengkan kepalanya, melihat tingkahku yang spontan serta tak mau lepas dari bantal mu ini.
Lalu aku dan Haru bertukar pesan di aplikasi game. Dia menawariku untuk dibawakan makanan, namun tak ada yang kuinginkan saat itu, entah kenapa tiba-tiba saja terbersit 'Dakkochi' di pikiranku.
Sial... ini kan masih jam 12 siang.
Makanan yang ku sebutkan tadi, penjualnya hanya ada di malam hari. Mungkin saat itu Haru berpikir aku sedang mengerjainya. Ah entahlah, aku hanya asal menjawab saja.
Satu jam kemudian, dia benar-benar datang.
Cepat sekali.
"Apa rumah mu di dekat sini?"
Dia tak menjawab.
Yang dia lakukan hanya tersenyum hangat ke arahku. Untuk beberapa saat, aku sempat terpesona dengan senyumannya itu.
Sial, wajahnya itu benar-benar tidak manusiawi. Alisnya yang tebal membuat matanya terlihat lebih tajam, namun dia selalu menatapku dengan sayu.
Tulang hidungnya yang mancung, membuat wajah ovalnya terlihat seperti ukiran masterpiece dari pemahat profesional.
Gila... dia benar-benar manusia?
"Maaf... aku tak membawa pesanan mu."
Kalimat pertama yang dia ucapkan padaku, adalah kata maaf. Dia datang membawa sekotak donat dari brand ternama, dengan potongan besar 12 biji di dalamnya.
Tapi sekeras mungkin, aku berusaha membuat ekspresi wajahku tetap seimbang.
"Kalau mau menemuiku, setidaknya kau membawakan apa yang ku pesan!"
Mungkin saat itu dia menganggapku manja atau entahlah, yang jelas aku memang banyak maunya hehe.
Dia memberikan kotak donat itu padaku, lalu dia berbalik seolah akan pergi dari sana.
"Hey, ku mau kemana?"
"Aku akan kembali nanti malam, sambil membawakan pesanan mu."
Haahh... benar-benar tidak terduga, dia menganggap serius kata-kata ku.
"Aku hanya bercanda, masuklah!"
Lagi-lagi dia tersenyum, sambil mengikuti ku dari belakang.
Sialnya aku belum bisa berjalan dengan benar, satu-satunya yang bisa kulakukan hanya melompat-lompat. Aku yakin, dia tertawa seperti kak Jihye.
Tapi, dia menghentikan ku.
"Kau sampai tidak bisa berjalan?"
"Menurut mu?"
Aku tak suka ditanya dalam kondisi yang sudah jelas bisa dia lihat, sedikit membuat ku kesal dan mengembalikan sekotak donat tadi, agar dia yang membawanya.
Langkah kami berhenti di ruang tengah. Aku membiarkan dia menaruh kotak tadi di atas meja, lalu mempersilahkannya duduk.
Adabnya ketika duduk, sangat mirip dengan mu. Mengusap kedua lututnya sebelum duduk, setelah itu tangan kanannya memegang dada sambil membungkuk, dan yang kiri meraba sofa yang akan didudukinya.
Hoonie?
Sekilas saat dia membungkukkan punggungnya sangat mirip denganmu, dan akupun mulai memperhatikan setiap gerakannya yang lain.
Tanpa basa-basi, aku langsung menanyakan apa yang ingin kuketahui darinya tentang mu. Dari mana dia bisa mengenalmu, dan seberapa sering dia menemuimu.
Dia menjawabnya dengan santai, nada bicaranya yang lembut, bahasanya yang halus terdengar seolah sedang berbicara dengan mu.
Tak lupa dia juga menyelipkan senyum tipis di sela-sela kalimatnya. Itu membuatku nyaman dan mudah memahami penjelasannya.
"Kau tidak bisa mengingatku?"
Satu pertanyaan yang keluar dari mulutnya membuatku terhenyak.
Kenapa dia bertanya seperti itu, apa sebelumnya kami pernah bertemu?
Aku menjawabnya dengan menggelengkan kepala.
"Coba kau ingat-ingat, kita sering berpapasan di depan sekolah."
Kalimatnya yang satu itu, membuat telingaku berdenging. Itu sering terjadi, saat aku berusaha mengingat sesuatu dengan keras.
"Apa nama aslimu Haruto?"
Dia mengangguk kecil saat menjawab pertanyaan ku, kami memang pernah bertemu. Bukan hanya itu, kami juga saling menyapa saat berpapasan.
Ah, ingatan ku benar-benar kacau setelah kecelakaan tahun lalu.
Aku tidak tahu, kalau dia sedekat ini dengan mu. Bahkan kebiasaan kalian juga sangat mirip. Setiap dia tertawa sangat sopan seperti mu, berusaha menutup mulut walaupun tawanya terbahak-bahak.
Ah Hoonie~ aku jadi semakin merindukanmu.
Tak terasa, percakapan kami menghabiskan waktu beberapa jam. Semua yang ingin kuketahui, sudah dia jawab dengan jelas.
Apa lagi yang harus kutanya.
"Apa kau punya pacar?"
Mulut sialan ku ini, memang tidak bisa direm. Pertanyaan ku terlalu pribadi, kupikir dia akan tersinggung atau menolak untuk menjawab. Tapi diluar dugaan, dia menjawabnya juga.
Dia bilang, saat ini dia sedang kosong tapi ada seseorang yang dia sukai.
Sebenarnya aku tak se penasaran itu, hanya saja... melihat Haru bicara membuatku betah. Bahkan sampai lupa waktu.
Waktu menunjukkan hampir jam 5 sore, dia pamit pulang dan berjanji akan kembali membawa Dakkochi pesanan ku.
"Kau... benar-benar akan kembali?"
Pasti terlihat jelas di wajahku, kalau aku tak rela dia pergi secepat itu. Haru tersenyum dan mengangguk.
"Kau bilang, kalau mau menemuimu aku harus membawakan apa yang kau pesan."
"Aku hanya bercanda, percayalah!"
Lagi-lagi Haru hanya tersenyum dan pergi sambil mengacak rambutku.
Seketika, prilakunya itu seolah membuat waktuku berhenti berputar. Dadaku rasanya sesak, dia melakukan apa yang selalu kau lakukan padaku, Hoonie.
Kau yang selalu memperlakukan ku seperti anak kecil, memanjakan ku seperti saudara kandung mu sendiri. Tiba-tiba ada orang lain, yang melakukan itu padaku. Bagaimana menurut mu?
.
.
...----------------...