Broken Mind Eric's Diary

Broken Mind Eric's Diary
November 08th



...


"Dari dua belas bulan dalam setahun, hanya November bulan yang selalu aku nantikan."


"Apa alasan mu menantikan November? Itukan bukan bulan lahirmu, Hoonie."


"Karena November itu... dingin, dan selalu turun hujan."


Kupikir akan selamanya, bulan November menjadi bulan favorit ku dan Hoonie.


Entahlah... sebenarnya aku tak tertarik dengan bulan itu, selain dari namanya yang lebih estetik dari bulan lain.


Tapi hal apapun yang dia sukai, aku juga menyukainya.


Hoonie sangat menyukai hujan. Dia bilang di bulan November, hujan selalu turun lebih indah. Aku setuju akan hal itu saat melihatnya langsung. Mereka turun ke bumi dengan ritme yang konsisten. Hoonie terlihat tenang saat di tengah hujan November, padahal itu sangat dingin.


Melihatnya setenang itu, membuatku nyaman. Karena itulah, aku juga menyukai bulan November yang dia sukai.


Tapi sekarang, bulan 11 sudah menjadi bulan yang gelap bagiku. Selain dingin yang tak kusukai, di bulan ini pula separuh duniaku seolah runtuh. Air mataku seolah terkuras habis bersama dengan turunnya hujan.


Rintik-rintik kecil berjatuhan menerpa bumi mengiringi kepergiannya. Bahkan seharian penuh hujan seolah enggan untuk berhenti, seolah mereka sedang berusaha keras menyentuh raga yang terbaring kaku di bawah sana.


Walaupun aku telah kehilangan separuh duniaku, tapi aku tak sanggup mengatakan kalau November adalah bulan yang ku benci. Karena aku selalu ingat, dia begitu menyukai bulan 11 ini.


Mungkin di tahun yang akan datang, saat bertemu dengan November aku akan mengenangnya sambil tersenyum.


Sejujurnya bukan hanya masalah bulan November saja, karena dia sangat menyukai hujan maka, setiap melihat hujan turun rasanya aku ingin berteriak memanggil namanya.


Tapi lagi-lagi mulut ini tertahan, sebisa mungkin tak keluar satu nama itu dari mulut ku. Rasanya sesak dan sesakit ini.


"Kamu adalah malaikat tanpa sayap."


Kata-kata itu sempat membuatku senang, tanpa tau alasannya. Namun, andai dia tahu kalau dialah sayap ku.


Jika aku malaikat seperti yang dia katakan, maka aku takan bisa terbang tanpa sayap seperti dirinya.


Dan kini, malaikat kebanggaannya itu menjadi manusia biasa yang terpuruk dalam kesedihan yang tak berujung.


Sayap ku telah patah, harapanku untuk terbang tinggi sudah takan ada lagi.


Hujan yang mengguyur pun menjadi satu-satunya kelemahan yang membuatku enggan untuk melangkah pergi.


Dunia yang gelap, dunia yang sunyi.


Bagaimana caraku keluar dari kegelapan?


Semakin aku berusaha berjalan, aku semakin masuk ke palung yang lebih dalam, tersesat di kegelapan dan tak bisa menemukan jalan keluarnya.


Juyeon dan Hyunjae mungkin menjadi titik terang ku, namun duniaku terlalu gelap sampai meredupkan cahaya mereka.


Sesekali tangan yang hangat menggapai ku, menuntunku menuju jalan keluar. Namun aku terlalu lemah untuk melanjutkan langkah, hingga tangan itu memudar dan tak terlihat lagi.


Hoonie~


Sesulit inikah melangkah tanpamu?


Tak bisakah kau kembali dan mendorongku keluar?


Kau begitu mengenalku, yang selalu bergantung padamu. Lalu kenapa kau malah pergi?


KENAPA?


Apa kau begitu yakin, aku bisa menemukan jalan ku sendiri?


Apa kau tak sedikitpun merasa iba padaku?


Hujan kini sudah reda, tapi tidak dengan kesedihanku.


Sisa-sisanya masih tercium, bau hujan dan embun halus menyeruak menutupi bumi. Jalan ku tertutup, kegelapan yang takan pernah ada habisnya.


Aku tahu kau tak bisa melakukannya, tapi bisakah kau kembali Hoonie?


Menjadi sayap ku yang selalu terbentang.


Aku sangat membutuhkanmu, merindukanmu Hoonie.


.


.


...----------------...